{"id":22875,"date":"2026-01-12T01:23:04","date_gmt":"2026-01-11T17:23:04","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=22875"},"modified":"2026-01-12T01:23:04","modified_gmt":"2026-01-11T17:23:04","slug":"jejak-alam-di-kain-gerakan-ecoprint-desa-tamiajeng","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/jejak-alam-di-kain-gerakan-ecoprint-desa-tamiajeng\/22875\/","title":{"rendered":"Jejak Alam di Kain: Gerakan Ecoprint Desa Tamiajeng"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Gambar1-28.jpg\" alt=\"\" width=\"355\" height=\"200\" class=\"aligncenter size-full wp-image-22877\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Gambar1-28.jpg 355w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Gambar1-28-300x169.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 355px) 100vw, 355px\" \/><\/p>\n<p><strong>Trawas, JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Di kaki Gunung Penanggungan, Desa Tamiajeng dikenal dengan bentang alamnya yang subur dan asri. Pepohonan, dedaunan, dan tanaman liar tumbuh subur di sekitar rumah warga, sekolah dan area pesantren\/asrama. Selama ini, kekayaan alam tersebut hadir sebagai latar kehidupan sehari-hari, namun belum banyak dimanfaatkan sebagai media kegiatan edukatif dan kreatif bagi masyarakat. Keberadaan alam yang melimpah ini sesungguhnya menyimpan potensi besar untuk dikembangkan sebagai sarana pembelajaran kontekstual yang dekat dengan kehidupan warga desa.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut menunjukkan bahwa potensi lingkungan sering kali belum menjadi prioritas dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Padahal, alam sekitar desa dapat menjadi sumber pembelajaran yang murah, berkelanjutan, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan kreatif yang tidak hanya memanfaatkan potensi alam, tetapi juga melibatkan masyarakat secara aktif agar kesadaran lingkungan dapat tumbuh dari tingkat paling dasar. Pendekatan yang bersifat partisipatif menjadi kunci agar masyarakat merasa memiliki dan terlibat langsung dalam setiap proses kegiatan yang dilakukan.<\/p>\n<p>Di tengah keterbatasan aktivitas kreatif berbasis lingkungan, program Kuliah Kerja Nyata (KKN) ini menjadi cara yang sederhana namun bermakna untuk membantu Ibu-ibu PKK Desa Tamiajeng. Mahasiswa dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya melakukan pelatihan ecoprinting dasar menggunakan bahan-bahan alami sebagai bagian dari Kuliah Kerja Nyata (KKN) mereka untuk mendukung masyarakat Desa Tamiajeng. Kegiatan ini dirancang sebagai bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat dengan mengedepankan nilai edukasi, kolaborasi, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.<\/p>\n<p>Ecoprinting dipilih karena alasan yang tepat. Metode ini menggunakan daun dan tumbuhan lokal untuk mendapatkan warna alami untuk mencetak pada kain. Prosesnya mudah dipelajari, aman digunakan, dan ramah lingkungan. Bagi mitra dalam kelompok yang tidak memiliki banyak kesempatan ekonomi, ecoprinting menawarkan cara yang bermanfaat untuk mempelajari keterampilan baru. Tidak membutuhkan banyak uang atau peralatan yang rumit. Selain itu, ecoprinting juga memberikan pengalaman langsung dalam mengenali jenis tumbuhan dan karakter alami yang dimiliki oleh lingkungan desa.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Gambar2-14.jpg\" alt=\"\" width=\"729\" height=\"410\" class=\"aligncenter size-full wp-image-22876\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Gambar2-14.jpg 729w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Gambar2-14-300x169.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 729px) 100vw, 729px\" \/><\/p>\n<p>Pelatihan ini menggunakan contoh dan praktik langsung. Peserta mempelajari berbagai jenis daun, membuat desain pada kain, menumbuk kain, dan kemudian mengunci warna dengan melakukan perendaman pada air tawas. Setiap lembar kain yang dibuat memiliki desain khusus, yang menunjukkan tampilan alami Desa Tamiajeng. Proses praktik bersama ini menciptakan suasana belajar yang interaktif dan mendorong peserta untuk saling berbagi pengalaman serta ide kreatif.<\/p>\n<p>Lebih dari sekadar menghasilkan produk ecoprint sederhana, kegiatan ini menjadi sarana edukasi lingkungan. Mitra belajar bahwa hal-hal alami di sekitar mereka bukanlah sesuatu yang harus diabaikan, tetapi dapat digunakan secara kreatif. Pengetahuan ini membantu membangun sikap peduli terhadap lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran ini diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan baru yang lebih ramah lingkungan dalam aktivitas masyarakat desa.<\/p>\n<p>Ibu-ibu di Desa Tamiajeng memainkan peran penting dalam keberlangsungan program ini. Partisipasi mereka sejak awal membantu menjaga keberlangsungan kegiatan kreatif ramah lingkungan di dalam masyarakat. Bagi mahasiswa, pengabdian ini menjadi proses belajar sosial yang nyata. Mereka tidak datang sebagai pihak yang paling tahu, melainkan sebagai pendamping yang belajar bersama masyarakat. Interaksi, dialog, dan praktik bersama membentuk kolaborasi yang setara antara mahasiswa dan mitra. Hubungan yang terbangun melalui kegiatan ini menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam memahami dinamika sosial di tingkat desa.<\/p>\n<p>Gerakan ecoprinting di Desa Tamiajeng menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak selalu harus bergantung pada bantuan dana besar. Aktivitas sederhana berbasis lingkungan justru dapat menjadi sarana edukasi yang efektif dan berkelanjutan. Program seperti ini seharusnya tidak berhenti sebagai agenda sementara KKN, tetapi dapat dikembangkan dan direplikasi oleh pemerintah desa, lembaga pendidikan, maupun komunitas lokal. Dengan memanfaatkan sumber daya alam secara bijak, masyarakat tidak hanya belajar keterampilan baru, tetapi juga membangun kesadaran untuk menjaga lingkungan sebagai bagian dari kehidupan bersama. Melalui gerakan kecil seperti ecoprinting, Desa Tamiajeng membuktikan bahwa perubahan positif dapat dimulai dari langkah sederhana yang melibatkan alam dan masyarakat secara bersamaan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Trawas, JurnalPost.com &#8211; Di kaki Gunung Penanggungan, Desa Tamiajeng dikenal dengan bentang alamnya yang subur dan asri. Pepohonan, dedaunan, dan tanaman liar tumbuh subur di sekitar rumah warga, sekolah dan area pesantren\/asrama. Selama ini, kekayaan alam tersebut hadir sebagai latar kehidupan sehari-hari, namun belum banyak dimanfaatkan sebagai media kegiatan edukatif dan kreatif bagi masyarakat. Keberadaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":22877,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[244],"tags":[],"class_list":["post-22875","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22875","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22875"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22875\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22877"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22875"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22875"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22875"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}