{"id":22668,"date":"2026-01-08T20:35:53","date_gmt":"2026-01-08T12:35:53","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=22668"},"modified":"2026-01-08T20:35:53","modified_gmt":"2026-01-08T12:35:53","slug":"ai-menggantikan-programmer-pemula-ancaman-atau-kesempatan-bagi-mahasiswa-teknik-informatika","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/ai-menggantikan-programmer-pemula-ancaman-atau-kesempatan-bagi-mahasiswa-teknik-informatika\/22668\/","title":{"rendered":"AI Menggantikan Programmer Pemula: Ancaman atau Kesempatan bagi Mahasiswa Teknik Informatika?"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/AI-Menggantikan-Programmer.webp\" alt=\"AI Menggantikan Programmer\" width=\"1536\" height=\"1024\" class=\"aligncenter size-full wp-image-22669\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/AI-Menggantikan-Programmer.webp 1536w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/AI-Menggantikan-Programmer-300x200.webp 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/AI-Menggantikan-Programmer-1024x683.webp 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/AI-Menggantikan-Programmer-768x512.webp 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/AI-Menggantikan-Programmer-750x500.webp 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/AI-Menggantikan-Programmer-1140x760.webp 1140w\" sizes=\"(max-width: 1536px) 100vw, 1536px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>Faris Maulana Kusumah Putra<br \/>\nUniversitas Pamulang<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence\/AI) dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah wajah dunia teknologi secara signifikan. Berbagai alat berbasis AI kini mampu menulis kode program, memperbaiki bug, hingga memberikan solusi teknis hanya dalam hitungan detik. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di kalangan mahasiswa Teknik Informatika: apakah peran programmer pemula masih dibutuhkan, atau justru akan tergantikan sepenuhnya oleh AI?<\/p>\n<p>Kekhawatiran tersebut bukan tanpa dasar. Tugas-tugas yang sebelumnya menjadi ranah programmer junior seperti menulis kode sederhana, membuat fungsi dasar, atau melakukan debugging ringan kini dapat diselesaikan oleh AI dengan efisiensi tinggi. Jika mahasiswa Informatika hanya membekali diri dengan kemampuan teknis yang bersifat repetitif dan dangkal, maka posisi mereka memang berada dalam ancaman serius.<\/p>\n<p>Namun, menyimpulkan bahwa AI akan \u201cmenggantikan\u201d programmer pemula secara keseluruhan adalah pandangan yang terlalu sempit. AI tidak memiliki pemahaman kontekstual, intuisi logis, maupun kemampuan berpikir kritis seperti manusia. AI bekerja berdasarkan pola dan data yang ada, bukan pada pemahaman masalah yang kompleks dan dinamis. Di sinilah letak peran utama manusia, Khususnya mahasiswa Teknik Informatika yang seharusnya berfungsi sebagai perancang, pengarah, dan pengambil keputusan, bukan sekadar penulis kode.<\/p>\n<p>Masalah utama justru terletak pada pola belajar mahasiswa saat ini. Ketergantungan berlebihan terhadap AI berpotensi melahirkan generasi \u201cprogrammer instan\u201d yang mampu menghasilkan kode, tetapi tidak memahami cara kerjanya. Fenomena ini berbahaya, karena mengikis kemampuan fundamental seperti logika algoritmik, pemecahan masalah, dan pemahaman struktur data yang merupakan inti dari disiplin Teknik Informatika.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, AI seharusnya dipandang bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai alat bantu strategis. Mahasiswa yang mampu memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas, sambil tetap menguasai konsep dasar dan berpikir kritis, justru akan memiliki keunggulan kompetitif di dunia kerja. Sebaliknya, mereka yang menjadikan AI sebagai jalan pintas tanpa proses belajar yang mendalam akan semakin tertinggal.<\/p>\n<p>Kesimpulannya, AI tidak menggantikan programmer pemula, tetapi menggantikan pola belajar yang pasif dan tidak adaptif. Tantangan terbesar bagi mahasiswa Teknik Informatika bukanlah keberadaan AI itu sendiri, melainkan kesiapan mereka untuk bertransformasi. Di era digital menuju 2030, mahasiswa Informatika dituntut untuk tidak hanya mampu menulis kode, tetapi juga memahami masalah, berpikir kritis, dan bertanggung jawab atas solusi teknologi yang mereka ciptakan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Faris Maulana Kusumah Putra Universitas Pamulang JurnalPost.com &#8211; Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence\/AI) dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah wajah dunia teknologi secara signifikan. Berbagai alat berbasis AI kini mampu menulis kode program, memperbaiki bug, hingga memberikan solusi teknis hanya dalam hitungan detik. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di kalangan mahasiswa Teknik Informatika: apakah peran [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":22669,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[24],"tags":[],"class_list":["post-22668","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kolom-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22668","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22668"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22668\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22669"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22668"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22668"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22668"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}