{"id":22500,"date":"2025-12-18T22:56:32","date_gmt":"2025-12-18T14:56:32","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=22500"},"modified":"2026-01-01T11:56:06","modified_gmt":"2026-01-01T03:56:06","slug":"universitas-andalas-laksanakan-program-sakato-untuk-pemulihan-kesehatan-warga-pascabencana-di-padang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/universitas-andalas-laksanakan-program-sakato-untuk-pemulihan-kesehatan-warga-pascabencana-di-padang\/22500\/","title":{"rendered":"Universitas Andalas Laksanakan Program SAKATO untuk Pemulihan Kesehatan Warga Pascabencana di Padang"},"content":{"rendered":"<p>Penulis: <strong>Dr. dr. Tuti Lestari<\/strong><\/p>\n<p><strong>Padang, JurnalPost.com<\/strong> \u2014 Pascabencana hidrometeorologi yang melanda Kota Padang pada akhir November 2025, Universitas Andalas mengambil peran aktif dalam membantu pemulihan kesehatan masyarakat melalui pelaksanaan Program SAKATO (Sinergi Aksi Keluarga Tangguh dan Optimal). Program ini difokuskan pada wilayah Kecamatan Nanggalo dan Kecamatan Pauh, dua kawasan yang terdampak banjir, genangan, dan longsor akibat tingginya curah hujan dalam beberapa hari berturut-turut.<br \/>\nBencana tersebut tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan dan infrastruktur, tetapi juga menimbulkan persoalan kesehatan yang cukup serius. Sejumlah fasilitas kesehatan mencatat peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), gangguan pencernaan, serta penyakit kulit akibat kondisi lingkungan yang lembap dan sanitasi yang terganggu. Di sisi lain, warga yang menderita penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes melitus tetap membutuhkan pengobatan rutin yang berkelanjutan di tengah keterbatasan akses layanan kesehatan pascabencana.<\/p>\n<p>Kondisi ini paling dirasakan oleh kelompok rentan, terutama lansia, ibu hamil, dan balita. Keterbatasan mobilitas, kelelahan fisik, serta stres pascabencana membuat kelompok ini berisiko mengalami penurunan kondisi kesehatan apabila tidak mendapatkan pendampingan yang memadai. Melihat situasi tersebut, Universitas Andalas melalui tim dosen lintas disiplin merancang Program SAKATO dengan pendekatan berbasis keluarga dan penguatan layanan kesehatan primer.<br \/>\nPelaksanaan program melibatkan dosen, tenaga medis, tenaga kesehatan, serta mahasiswa. Kegiatan dilakukan melalui pelayanan kesehatan langsung di Puskesmas Nanggalo dan Puskesmas Pauh, pendirian posko kesehatan darurat, serta layanan kesehatan keliling yang menjangkau permukiman warga terdampak. Pendekatan ini bertujuan memastikan masyarakat tetap memperoleh layanan kesehatan dasar meskipun berada dalam situasi darurat.<\/p>\n<p>Selain pelayanan medis, tim Program SAKATO juga menyalurkan obat-obatan esensial untuk menangani penyakit infeksi, keluhan umum pascabencana, serta penyakit kronis. Berbagai alat kesehatan sederhana, seperti alat pengukur tekanan darah dan alat cek gula darah, digunakan untuk membantu pemantauan kondisi kesehatan warga, khususnya bagi penderita hipertensi dan diabetes. Langkah ini penting untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih serius.<br \/>\nKetua tim pelaksana Program SAKATO, Dr. dr. Tuti Lestari, menjelaskan bahwa program ini dirancang tidak hanya untuk merespons kondisi darurat, tetapi juga untuk membangun ketangguhan masyarakat dalam jangka menengah dan panjang. \u201cDalam situasi bencana, keluarga adalah garda terdepan dalam menjaga kesehatan. Karena itu, pendekatan berbasis keluarga menjadi sangat penting agar masyarakat mampu melakukan pencegahan dan pengelolaan kesehatan secara mandiri,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Program SAKATO juga menekankan aspek edukasi kesehatan. Masyarakat diberikan pemahaman mengenai perilaku hidup bersih dan sehat, pencegahan penyakit pascabencana, serta penggunaan obat yang tepat dan aman. Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah Tas Obat Siaga Keluarga, yang diharapkan dapat membantu keluarga menyimpan dan menggunakan obat secara rasional sesuai kebutuhan.<br \/>\nKegiatan ini dilaksanakan selama sekitar tiga minggu, dimulai dari tahap respon cepat, pelayanan kesehatan intensif, hingga pendampingan pada fase awal pemulihan kesehatan. Seluruh rangkaian kegiatan dilakukan dengan berkoordinasi bersama puskesmas dan pemerintah setempat agar bantuan yang diberikan tepat sasaran dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.<br \/>\nMelalui Program SAKATO, Universitas Andalas menegaskan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai institusi pendidikan dan penelitian, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam upaya kemanusiaan. Program ini diharapkan dapat membantu masyarakat terdampak bencana untuk bangkit, menjaga kesehatan keluarga, serta meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana di masa mendatang.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Dr. dr. Tuti Lestari Padang, JurnalPost.com \u2014 Pascabencana hidrometeorologi yang melanda Kota Padang pada akhir November 2025, Universitas Andalas mengambil peran aktif dalam membantu pemulihan kesehatan masyarakat melalui pelaksanaan Program SAKATO (Sinergi Aksi Keluarga Tangguh dan Optimal). Program ini difokuskan pada wilayah Kecamatan Nanggalo dan Kecamatan Pauh, dua kawasan yang terdampak banjir, genangan, dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-22500","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22500","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22500"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22500\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22500"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22500"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22500"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}