{"id":22272,"date":"2025-12-25T10:43:06","date_gmt":"2025-12-25T02:43:06","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=22272"},"modified":"2025-12-25T10:43:06","modified_gmt":"2025-12-25T02:43:06","slug":"refleksi-tahun-baru-2026-lupakan-kembang-api-mari-menyalakan-lilin-kedamaian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/refleksi-tahun-baru-2026-lupakan-kembang-api-mari-menyalakan-lilin-kedamaian\/22272\/","title":{"rendered":"Refleksi Tahun Baru 2026: Lupakan Kembang Api Mari Menyalakan Lilin Kedamaian"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ChatGPT-Image-25-Des-2025-10.42.33.png\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"1536\" class=\"aligncenter size-full wp-image-22273\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ChatGPT-Image-25-Des-2025-10.42.33.png 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ChatGPT-Image-25-Des-2025-10.42.33-200x300.png 200w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ChatGPT-Image-25-Des-2025-10.42.33-683x1024.png 683w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ChatGPT-Image-25-Des-2025-10.42.33-768x1152.png 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ChatGPT-Image-25-Des-2025-10.42.33-750x1125.png 750w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>Pardamean Silalahi<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Sebentar lagi semua orang akan menyambut tahun yang baru, dengan penuh sukacita dan canda tawa akan menghiasi setiap rumah yang merayakannya. Akhir-akhir ini jalur lalu lintas setiap daerah dipenuhi oleh setiap kendaraan yang berlalu-lalang, ada menuju kota dan juga daerah pedesaan. Hati setiap individu pasti tidak sabar untuk bertemu orang yang dicintai dengan begitu tradisi setiap akan terulang Kembali, saling memaafkan dengan penuh cinta kasih yang selalu dibarengi dengan hidangan manis dan gurih buatan tangan inilah tahun baru yang selalu ditunggu.<\/p>\n<p>Setiap tahun yang baru kerap kita melihat keindahan dan meriahnya malam dengan kembang api yang menyala disaat detik-detik jam bergerak menuju tahun 2026, bagaimana kalau tahun baru kali ini kita sepakat bahwa tahun baru bukan untuk kemeriahan melainkan kesunyian. Jika saat ini saudara kita yang berada di pulau Sumatera mengalami \u201cbencana alam\u201d yang sangat dahsyat,bagaimana tidak harapan para sanak-saudara yang penuh kebanggaan untuk bisa berkumpul menyalakan kembang api kini harus menyalakan lilin untuk mengenang para korban yang terdampak bencana.<\/p>\n<p><strong>KEHANCURAN DAN KERUGIAN<\/strong><br \/>\nSudah dipastikan bahwa bencana membawa dampak serius bagi kehidupan masyarakat pulau Sumatera, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Berbicara data tidak mungkin kerugian ini hanya menghitung jumlah nominal dari sisi ekonomi, tak ada satupun para pakar ekonomi yang berani hanya karena nominal dipandang dari sudut sisi tertentu, pasti kehancuran ini dipandang dari kerugian \u201c Ekologis, Ekonomis,dan Humanis\u201d yang tak ternilai harganya dengan demikian ini sudah menjadi cerminan bahwa tidak ada yang peduli dengan ini semua, para pelaku dan pemangku kebijakan dengan mudah merampas hak orang banyak demi keuntungan besar-besaran. Tindakan seperti ini menjadi ancaman bagi keberlangsungan para generasi yang bertempat tinggal dan mendiami sebuah \u201cEkosistem Sosial\u201d demi arah berkelanjutan.<\/p>\n<p><strong>KESEHATAN MENTAL DAN KELAPARAN<\/strong><br \/>\nBenar adanya jika saat ini korban bencana alam masih tahap pencarian dan saat inipun tidak ada satupun mata yang berani menegakkan kepalanya untuk melihat orang yang kita sayang sudah membeku-kaku terjebak banjir dan longsor, hanya bisa terdiam sembari menghela nafas dan mengelus dada. Jeritan dan isak tangis menjadi penghantar berita keseluruh dunia \u201c bahwa kami terkena bancana\u201d menceritakan saja kita tidak sanggup apalagi mengalami kehilangan orang tua, adik,kakak,serta seluruh sanak-saudara. Beberapa kali bantuan telah tersalurkan seperti yang terlihat dimedia, saat ini kita menyakini bahwa masih saja ada orang yang baik dan jahat. Orang yang tulus sangat mencintai pekerjaan dan membantu melayani dengan disiplin dan kejujuran, jika berkaca lebih jauh apakah ini tabiat yang diwariskan? Orang-orang yang memanfaatkan keuntungan seringkali mencoba \u201cmemanipulasi bantuan\u201d jika hal ini kerap dibiarkan kelaparan akan meraja lela ditengah-tengah korban bencana.<\/p>\n<p><strong>PENYAKIT DAN BERKELANJUTAN <\/strong><br \/>\nKondisi yang sangat dikhawirkan ialah para korban mengalami sakit parah akibat tidak adanya akses pendukung seperti \u201cSandang, Pangan, dan Papan\u201d yang baik. Saat banjir dan longsor mengguyur permukiman seketika akses air dan tanah sudah bercampur menjadi satu, sehingga menyebabkan iritasi pada kulit, serta kontaminasi dari beberapa zat yang terkandung didalam tanah dan air. Penyakit seperti kembung dan diare sudah pasti ditemukan di camp pengungsian, masuk angin serta iritasi pada pencernaan membuat kenyamanan para pengungsi sangat terganggu. Gizi dan perkembangan imun juga harus menjadi sorotan karena itu bagian dari pemulihan bagi korban bencana, tidak boleh dilupakan ialah kelengkapan bayi maupun wanita yang harus diperhatikan sebab hal ini sangat medasar dikehidupan sehari-hari. Jadi sudah jelas bahwa jika tidak ditangani dengan semaksimal mungkin ini menjadi dampak yang menjadi berkepanjangan sehingga membuat luka semakin dalam oleh setiap korban bencana.<\/p>\n<p><strong>REFLEKSI DAN AKSI<\/strong><br \/>\nSebenarnya apa yang kita cari saat ini? Jika kekayaan materi dan keuntungan besar menjadi pedoman, lantas buat apa gelar \u201c Paru-paru dunia\u201d disematkan dinegara Indonesia, banyak nyawa terancam setiap tahun hanya karena keserakahan dan kewenang-wenangan para pemangku kepentingan. Apalagi yang harus kita ceritakan untuk para generasi berikutnya jika saat ini bukan kenyamanan yang didapat melainkan kerusakan yang berkelanjutan. Saat ini marilah kita menjaga hutan adat dan alam sekitar kita, sekiranya hanya ini yang bisa kita lakukan untuk masa depan lingkungan yang lebih cerah, satu pohon tumbuh itu lebih baik dari pada pembalakan paksa yang menghancurkan bumi pertiwi. Mari menyalakan lilin kedamaian untuk para korban bencana alam, seraya berdoa agar diberi keselamatan dunia dan akhirat, dan ini menjadi catatan historis bahwa sejatinya alam telah memperingatkan kita semua.<\/p>\n<p>Penulis adalah salah satu alumni FEB USU dan wakil Ketua PKK GMKI Cabang Medan mb 2023-2025<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Pardamean Silalahi JurnalPost.com &#8211; Sebentar lagi semua orang akan menyambut tahun yang baru, dengan penuh sukacita dan canda tawa akan menghiasi setiap rumah yang merayakannya. Akhir-akhir ini jalur lalu lintas setiap daerah dipenuhi oleh setiap kendaraan yang berlalu-lalang, ada menuju kota dan juga daerah pedesaan. Hati setiap individu pasti tidak sabar untuk bertemu orang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":22273,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-22272","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22272","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22272"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22272\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22273"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22272"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22272"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22272"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}