{"id":22249,"date":"2025-12-24T14:54:59","date_gmt":"2025-12-24T06:54:59","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=22249"},"modified":"2025-12-24T14:54:59","modified_gmt":"2025-12-24T06:54:59","slug":"dari-doa-ibu-ke-loa-dunia-gelar-tidak-menunggu-tenang-ia-melangkah-di-tengah-guncang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/dari-doa-ibu-ke-loa-dunia-gelar-tidak-menunggu-tenang-ia-melangkah-di-tengah-guncang\/22249\/","title":{"rendered":"Dari Doa Ibu ke LoA Dunia: Gelar Tidak Menunggu Tenang, Ia Melangkah di Tengah Guncang"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_22250\" aria-describedby=\"caption-attachment-22250\" style=\"width: 1379px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar1-85.jpg\" alt=\"\" width=\"1379\" height=\"776\" class=\"size-full wp-image-22250\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar1-85.jpg 1379w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar1-85-300x169.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar1-85-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar1-85-768x432.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar1-85-750x422.jpg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar1-85-1140x642.jpg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1379px) 100vw, 1379px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-22250\" class=\"wp-caption-text\">Gelar Abdi Fistawan di Lingkungan Universitas New South Wales (UNSW) di Sydney, Australia (02\/10\/2025). (Foto: Dokumentasi Pribadi)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Oleh: <strong>Arum Kusuma Dewi<\/strong><\/p>\n<p>\u201cAyo kamu ternyata bisa, jangan menyerah dulu.\u201d<\/p>\n<p>Kalimat itu menjadi mantra tersendiri bagi Gelar Abdi Fistawan yang bukan sekadar penyemangat di catatan kecil, melainkan napas yang menuntun langkahnya di tengah malam-malam panjang penuh angka, deadline, dan ketidakpastian. Di usia belasan, ia sudah belajar bahwa kadang satu-satunya orang yang bisa meyakinkan kita untuk tetap berjalan hanyalah diri sendiri. Momen itu datang di sebuah kamar kecil di asrama Balai Pengembangan Talenta Indonesia (BPTI), Jakarta. Saat sebagian teman sudah tertidur, layar laptopnya menyala menampilkan satu pesan yang mengubah segalanya \u201cCongratulations! You\u2019ve been accepted at Wageningen University &#038; Research.\u201d Gelar terpaku. Bukan bahagia yang pertama ia rasakan, melainkan rasa tidak percaya. Ia bahkan harus membaca ulang beberapa kali, memastikan itu bukan sekadar mimpi.<\/p>\n<p>Empat LoA (Letter of Acceptance) dari universitas yang sama bukan prestasi kecil. Tapi di balik layar yang sederhana itu, ada perjalanan penuh jatuh bangun yang jarang diketahui orang: perjuangan menembus ujian SAT yang hanya dibuka sebulan sekali, revisi esai berkali-kali, hingga tekanan dari waktu yang terasa makin sempit. \u201cWaktu itu cuma ada satu kesempatan terakhir di Desember,\u201d kenangnya. \u201cKalau gagal, berarti selesai.\u201d Bagi Gelar, kata berhasil tidak punya makna glamor. \u201cBerhasil itu ketika bisa mendapat dampak positif dari apa yang kita usahakan,\u201d ujarnya pelan. Ia tak bicara soal panggung besar, tapi tentang rasa tenang yang datang setelah melewati hari-hari yang hampir membuatnya menyerah.<\/p>\n<p>Perjalanan Gelar tidak datang dari keluarga yang semuanya mulus. Ia menyebut rumahnya \u201ckurang harmonis,\u201d tapi di sanalah benih kekuatannya tumbuh. \u201cMereka bilang mimpi ke luar negeri itu cuma angan,\u201d ucapnya tanpa dendam. Namun justru karena itu, setiap pencapaiannya terasa lebih bermakna. Yang paling ia rindukan bukan rumah megah atau pesta keberangkatan, melainkan hal yang sederhana: masakan ibu. \u201cItu yang paling saya cari ketika jauh,\u201d katanya lirih. Kadang, satu piring nasi hangat bisa lebih menguatkan dari ribuan kata motivasi.<br \/>\nGelar tidak tumbuh dari \u201ckeberuntungan yang tiba-tiba.\u201d Ia adalah hasil dari kebiasaan yang konsisten sejak SMP: belajar lebih awal, membuat tenggat pribadi lebih cepat dari batas sekolah. Di SMA, kebiasaan itu makin terasah ketika ia bergabung dalam Beasiswa Indonesia Maju (BIM) angkatan 4. \u201cSaya tidak genius,\u201d katanya sambil tersenyum. \u201cSaya cuma terbiasa disiplin.\u201d Ia aktif di dua organisasi yaitu Kerohanian Islam dan Adiwiyata Castra dan bahkan menjadi ketua di keduanya. Bagi Gelar, sibuk bukan alasan untuk menyerah. \u201cKalau kita tahu apa yang mau dicapai, waktu itu bisa dibagi.\u201d<\/p>\n<p>Namun di balik jadwal yang padat, ia juga menyimpan ketakutan yang realistis: \u201cBisakah saya kuliah dengan kondisi ekonomi seperti ini?\u201d Pertanyaan itu menjadi bahan bakar, bukan penghalang. Karena bagi Gelar, takut bukan berarti berhenti namun belajar berjalan sambil gemetar. Ketika orang lain sibuk dengan acara perpisahan SMA, Gelar justru menulis esai. Puluhan kali. Setiap universitas punya gaya sendiri, dan setiap esai punya tantangan berbeda. \u201cYang paling melelahkan itu esai Amerika,\u201d katanya. \u201cMereka minta personal tapi tidak boleh terlalu personal. Harus jujur, tapi tetap akademis.\u201d<\/p>\n<p>Ia sempat mengalami titik jenuh. Burnout datang bersamaan dengan tes IELTS dan SAT yang membuat banyak teman lain menyerah. Namun Gelar memilih memegang satu prinsip yang ia sebut \u201cI deserve the spot.\u201d Baginya, semua orang punya kesempatan yang sama, tapi hanya yang bertahan yang akan sampai. Skor SAT Math 740\/800 menjadi bukti nyata bahwa kerja kerasnya tidak sia-sia. Tapi yang lebih penting dari angka itu adalah ketahanan mental yang dibangun selama proses. \u201cSetiap kali gagal, saya bilang ke diri sendiri: oke, berarti belum waktunya.\u201d<\/p>\n<p>Kabar LoA terus berdatangan. Ia bahkan sempat lupa pernah mendaftar ke beberapa kampus sampai akhirnya membuat daftar sendiri di spreadsheet. Tapi di tengah euforia itu, ada kekhawatiran yang membayangi: beasiswa yang belum juga pasti \u201cSaya diterima UNSW Sydney, tapi statusnya international sponsored student,\u201d ujarnya. Artinya, jika sponsor belum ada, statusnya bisa dibatalkan kapan saja. \u201cJadi, LoA itu seperti kertas yang bisa terbang kalau tidak dipegang dengan beasiswa.\u201d<\/p>\n<p>Dan keajaiban itu datang: pengumuman Beasiswa Garuda. \u201cSaya ingat, itu hari yang sangat emosional,\u201d kenangnya. Ia menatap layar ponselnya lama bukan karena tidak percaya, tapi karena sadar, mulai hari itu hidupnya tidak lagi sama. Beasiswa Garuda bukan hanya tiket kuliah, tapi amanah. \u201cSaya takut mengecewakan negara,\u201d katanya jujur. Ketakutan itu bukan beban, melainkan bentuk cinta: keinginan agar setiap rupiah yang dikucurkan negara benar-benar berbuah.<\/p>\n<p>Kini, Gelar menjadi mahasiswa Bachelor of Engineering (Honours) di University of New South Wales (UNSW), Sydney. Tahun pertamanya ia isi dengan General Engineering, dan ia sudah menyiapkan langkah untuk fokus ke Renewable Energy Engineering. \u201cSaya ingin berkontribusi pada energi bersih,\u201d katanya dengan mata berbinar. Ritme kampus di Australia cepat dan kompetitif. Kuliah diisi dengan Lecture, Lab, dan Tutorial yang menuntut inisiatif,  \u201cAwalnya minder,\u201d ia jujur. \u201cTapi lama-lama saya sadar, kalau mau bertahan, harus berani bicara.\u201d Dari situ, pertemanan tumbuh, mereka belajar, berdiskusi, bahkan bercanda dalam bahasa yang kadang tidak sepenuhnya ia kuasai, tapi penuh makna universal: kerja keras.<\/p>\n<p>Di tengah kesibukan akademik, Gelar tetap menjaga keseimbangan. Ia belajar di rumah karena jarak ke kampus sekitar 15 menit berjalan kaki. Jika jenuh, ia pergi ke pantai sambil mendengarkan musik. \u201cPantai itu kayak ruang napas,\u201d ujarnya. \u201cTempat untuk ingat lagi kenapa saya berjuang sejauh ini.\u201d<\/p>\n<p>Bagian unik lain dari perjalanan Gelar adalah pelajaran Mandarin yang ia ambil sejak masa pembinaan beasiswa. \u201cAwalnya berat,\u201d katanya. \u201cBegitu masuk level tiga, nggak ada pinyin. Semua huruf, semua harus dihafal.\u201d Tapi dari situ ia belajar arti sebenarnya dari kata \u201ckonsisten.\u201d Dan ketika ditanya apa arti menjadi orang Indonesia di ruang global, Gelar tidak butuh waktu lama menjawab: \u201cMenjadi duta bangsa. Tetap berjati diri Indonesia meski di luar negeri.\u201d Jawaban itu sederhana, tapi tulus. Karena bagi Gelar, representasi tidak datang dari bendera di meja konferensi, tapi dari sikap sehari-hari: kerja keras, rendah hati, dan rasa hormat pada orang lain.<\/p>\n<p>Setiap keberhasilan membawa beban baru. \u201cSaya masih sering takut gagal,\u201d ia mengaku. Tapi kini ia tahu caranya berdamai: dengan tidak menyembunyikan kelelahan, dan belajar memaafkan diri sendiri. Ada satu pertanyaan yang ia renungkan lama: \u201cKalau semua prestasi ini hilang, apa yang tersisa dari diri saya?\u201d Ia menunduk sejenak sebelum menjawab: \u201cMungkin saya cuma orang biasa. Tapi setidaknya orang biasa yang pernah mencoba.\u201d Dan mungkin di situlah nilai sebenarnya dari kisah Gelar. Ia bukan sekadar siswa cerdas dengan sederet LoA, tapi seseorang yang berani bermimpi di tengah keterbatasan, yang tahu bahwa doa ibu dan keyakinan kecil bisa membawa langkah sejauh ribuan kilometer.<\/p>\n<p>Sebelum menutup pembicaraan, ia sempat berpesan untuk generasi muda di Indonesia. Bukan dengan kalimat panjang atau kata motivasi mahal, melainkan dengan nada yang jujur dan hangat: \u201cPersiapkan diri. Berjuanglah sekuat-kuatnya. Karena sebelum sukses, kita pasti akan menemukan kegagalan. Tapi justru di sanalah kita belajar siapa diri kita sebenarnya.\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Arum Kusuma Dewi \u201cAyo kamu ternyata bisa, jangan menyerah dulu.\u201d Kalimat itu menjadi mantra tersendiri bagi Gelar Abdi Fistawan yang bukan sekadar penyemangat di catatan kecil, melainkan napas yang menuntun langkahnya di tengah malam-malam panjang penuh angka, deadline, dan ketidakpastian. Di usia belasan, ia sudah belajar bahwa kadang satu-satunya orang yang bisa meyakinkan kita [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":22250,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-22249","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22249","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22249"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22249\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22250"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22249"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22249"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22249"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}