{"id":22163,"date":"2025-12-22T20:50:12","date_gmt":"2025-12-22T12:50:12","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=22163"},"modified":"2025-12-22T20:50:12","modified_gmt":"2025-12-22T12:50:12","slug":"balita-sehat-tanpa-mahal-daun-kelor-sebagai-pangan-lokal-bergizi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/balita-sehat-tanpa-mahal-daun-kelor-sebagai-pangan-lokal-bergizi\/22163\/","title":{"rendered":"Balita Sehat Tanpa Mahal: Daun Kelor sebagai Pangan Lokal Bergizi"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar2-8.png\" alt=\"\" width=\"258\" height=\"138\" class=\"aligncenter size-full wp-image-22164\" \/><\/p>\n<p>Oleh : <strong>Luthfi Nur Hanifah, S.Gz<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak besar terhadap kualitas sumber daya manusia\u00a0 di\u00a0 masa\u00a0 depan.\u00a0 Anak\u00a0 yang\u00a0 mengalami\u00a0 stunting\u00a0 memiliki\u00a0 tinggi\u00a0 badan\u00a0 di\u00a0 bawah\u00a0 standar usianya yang\u00a0 mencerminkan\u00a0 hambatan\u00a0 dalam\u00a0 pertumbuhan\u00a0 fisik\u00a0 maupun\u00a0 perkembangan\u00a0 kognitif. Stunting ditandai dengan tinggi badan yang rendah untuk usia anak ditandai dari status gizi panjang badan atau tinggi badan menurut usia kurang -2 standar deviasi (PB\/U atau TB\/U&lt; \u22122 SD), masalah ini umumnya disebabkan oleh kekurangan asupan zat gizi dalam waktu yang lama, terutama selama 1.000 hari pertama kehidupan.<\/p>\n<p>Permasalahan gizi di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pangan, namun juga dengan\u00a0 kualitas\u00a0 asupan\u00a0 dan\u00a0 perilaku\u00a0 konsumsi\u00a0 masyarakat.\u00a0 Balita\u00a0 di\u00a0 daerah\u00a0 dengan\u00a0 tingkat\u00a0 sosial ekonomi rendah sering mengalami hambatan dalam mendapatkan makanan bergizi. Penggunaan bahan makanan\u00a0 lokal\u00a0 seperti\u00a0 daun\u00a0 kelor\u00a0 menjadi\u00a0 sangat\u00a0 relevan\u00a0 karena\u00a0 ketersediaannya\u00a0 tinggi\u00a0 dan\u00a0 biaya produksinya\u00a0\u00a0 rendah.\u00a0\u00a0 Berbagai\u00a0\u00a0 intervensi\u00a0\u00a0 gizi\u00a0\u00a0 telah\u00a0\u00a0 dilakukan\u00a0\u00a0 oleh\u00a0\u00a0 pemerintah,\u00a0\u00a0 namun\u00a0\u00a0 belum sepenuhnya\u00a0 menyentuh\u00a0 akar\u00a0 masalah,\u00a0 yaitu\u00a0 keterjangkauan\u00a0 dan\u00a0 keberterimaan\u00a0 makanan\u00a0 bergizi. Penerapan\u00a0 intervensi\u00a0 berbasis\u00a0 pangan\u00a0 lokal\u00a0 bisa\u00a0 lebih\u00a0 diterima\u00a0 masyarakat\u00a0 karena sesuai\u00a0 dengan kebiasaan\u00a0 dan\u00a0 budaya\u00a0 setempat.\u00a0 Selain\u00a0 itu,\u00a0 pemanfaatan\u00a0 daun\u00a0 kelor\u00a0 juga\u00a0 sejalan\u00a0 dengan\u00a0 prinsip kemandirian pangan dan ketahanan keluarga. Peningkatan konsumsi daun kelor dapat dilakukan melalui edukasi\u00a0 gizi,\u00a0 inovasi\u00a0 produk\u00a0 pangan,\u00a0 dan\u00a0 pengembangan\u00a0 program\u00a0 pemberian\u00a0 makanan\u00a0 tambahan (PMT) di posyandu.<\/p>\n<p>Dalam kondisi ekonomi yang menantang, pemenuhan gizi keluarga seringkali menjadi tekanan berat terutama bagi rumah tangga berpenghasilan rendah. Biaya bahan pangan hewani yang tinggi membuat orang mencari alternatif sumber gizi lokal yang murah namun tetap bergizi tinggi. Salah satu jawaban yang semakin mendapat perhatian adalah daun kelor (Moringa oleifera) tanaman yang mudah tumbuh di berbagai wilayah tropis dan dikenal sebagai \u201c<em>superfo<\/em><em>od<\/em>\u201d untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi keluarga.<\/p>\n<p><strong>Mengapa daun kelor layak dipertimbangkan?<\/strong><br \/>\nDaun kelor memiliki profil nutrisi yang sangat kaya dibandingkan sayuran biasa. Berbagai penelitian menunjukkan daun kelor sebagai sumber makronutrien dan mikronutrien penting, yang sekaligus murah dan mudah diolah dalam menu harian keluarga. Menurut kajian ilmiah, daun kelor kering memiliki komposisi gizi yaitu Protein tinggi penting untuk pertumbuhan jaringan tubuh, Vitamin C yang membantu penyerapan zat besi dan sistem imun. Kalsium tinggi bagi tulang dan gigi, Kalium, fosfor, dan mineral lain dalam jumlah besar yang mendukung berbagai fungsi metabolik tubuh. Komposisi ini menempatkan daun kelor sebagai sumber nutrisi yang setara bahkan lebih unggul dari beberapa bahan pangan lain bila dikonsumsi dalam bentuk kering atau difortifikasi ke makanan lain. Zat-zat gizi ini memainkan peran penting dalam pembentukan jaringan tubuh dan sistem imun balita, serta membantu mencegah gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi.<\/p>\n<p>Stunting pada anak di bawah 5 tahun merupakan masalah gizi kronis yang dipengaruhi oleh kurangnya pemenuhan protein dan mikronutrien dalam jangka panjang. Daun kelor dapat menjadi sumber pendukung gizi pelengkap, terutama ketika makanan hewani sulit dijangkau oleh keluarga berpenghasilan rendah. Kajian menunjukkan bahwa pemanfaatan pangan lokal yang kaya nutrisi seperti daun kelor dapat membantu mencegah malnutrisi dan mendukung pertumbuhan anak karena kandungan protein, zat besi, dan vitamin yang tinggi. Selain itu, penelitian di Afrika juga menunjukkan bahwa suplementasi harian daun kelor dalam menu anak malnutrisi aman dan dapat meningkatkan status gizi apabila diterapkan secara teratur dalam jangka pendek.<\/p>\n<p><strong>Perbandingan daun kelor dengan daun sayuran lain<\/strong><\/p>\n<p>Kandungan Nutrisi sayuran hijau seperti daun kelor, kangkung, katuk, bayam dan daun singkong (Per 100 g). Menurut data yang dibandingkan berbagai bahan pangan, daun kelor secara keseluruhan memiliki kandungan nutrisi yang jauh lebih tinggi dibandingkan sayuran hijau lainnya.<\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"100\"><strong>Zat Gizi<\/strong><\/td>\n<td width=\"100\"><strong>Daun Kelor<\/strong><\/td>\n<td width=\"100\"><strong>Kangkung<\/strong><\/td>\n<td width=\"100\"><strong>Katuk<\/strong><\/td>\n<td width=\"100\"><strong>Bayam<\/strong><\/td>\n<td width=\"100\"><strong>Daun singkong<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"100\">Energi<\/td>\n<td width=\"100\">92<\/td>\n<td width=\"100\">28<\/td>\n<td width=\"100\">59<\/td>\n<td width=\"100\">23<\/td>\n<td width=\"100\">50<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"100\">Protein<\/td>\n<td width=\"100\">5.1<\/td>\n<td width=\"100\">3.4<\/td>\n<td width=\"100\">6.4<\/td>\n<td width=\"100\">1.2<\/td>\n<td width=\"100\">6.2<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"100\">Vitamin C (mg)<\/td>\n<td width=\"100\">22<\/td>\n<td width=\"100\">17<\/td>\n<td width=\"100\">16<\/td>\n<td width=\"100\">19<\/td>\n<td width=\"100\">10<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"100\">Kalsium (mg)<\/td>\n<td width=\"100\">1077<\/td>\n<td width=\"100\">67<\/td>\n<td width=\"100\">233<\/td>\n<td width=\"100\">150<\/td>\n<td width=\"100\">166<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"100\">Zat Besi (mg)<\/td>\n<td width=\"100\">6.0<\/td>\n<td width=\"100\">2.3<\/td>\n<td width=\"100\">3.5<\/td>\n<td width=\"100\">0.5<\/td>\n<td width=\"100\">1.3<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. <em>Tabel Kom<\/em><em>p<\/em><em>osisi Pangan Indonesia (TKPI)<\/em>. Jakarta: Kemenkes RI; <strong>2017<\/strong>.<\/p>\n<p>Daun kelor memiliki vitamin C\u00a0 jauh lebih tinggi dibandingkan sayuran hijau lainnya. Zat besi daun kelor juga tinggi untuk sayuran hijau sehingga potensial membantu pencegahan anemia yang terkait dengan stunting. Kalsium daun kelor lebih tinggi daripada kangkung, katuk, bayam dan daun singkong sehingga penting untuk pertumbuhan tulang anak.<\/p>\n<p><strong>Pengolahan daun kelor secara hemat &amp; praktis<\/strong><\/p>\n<p>Agar manfaat gizi daun kelor dapat optimal diterima oleh keluarga, terutama anak-anak, pengolahannya perlu disesuaikan daun halus bisa dicampur ke bubur, sayur, sup, atau makanan pendamping ASI (MP-ASI). Daun kelor dikeringkan untuk dijadikan bubuk dan dicampurkan ke makanan lain (nugget, puding, biskuit) untuk meningkatkan nilai gizinya, Selain itu Pengolahan daun kelor secara hemat dapat dilakukan melalui berbagai metode sederhana, seperti sayur bening, serta pengolahan menjadi tepung. Pengolahan menjadi tepung daun kelor memiliki keunggulan dalam memperpanjang masa simpan dan meningkatkan fleksibilitas penggunaan dalam berbagai menu makanan keluarga. \u00a0Pengolahan daun kelor secara hemat dan praktis dapat dilakukan melalui diversifikasi produk pangan, salah satunya dengan mengolah daun kelor menjadi bolu daun kelor yang bernilai gizi tinggi, mudah dibuat, serta dapat meningkatkan daya terima anak terhadap pangan bergizi. Nilai gizi dalam bolu daun kelor sudah memenuhi syarat standar makanan tambahan lokal dari Kemenkes untuk usia 12-23 bulan yaitu energi 212,5 kkal, protein 4,6 gram, lemak 6,4 gram dan karbohidrat 33,1 gram. Pemanfaatan daun kelor yang diolah dengan tepat dapat meningkatkan asupan zat gizi mikro yang berperan dalam pencegahan stunting, sehingga mengurangi risiko infeksi yang dapat memperburuk status gizi. Dengan pengolahan yang sederhana dan berkelanjutan, daun kelor dapat menjadi bagian dari intervensi gizi berbasis rumah tangga.<\/p>\n<p><strong>Daftar Pustaka :<\/strong><br \/>\nFatmawati, N., et al. (2020). Pemanfaatan Daun Kelor sebagai Upaya Pencegahan Stunting. <em>Jurnal Gizi Indonesia<\/em>.<\/p>\n<p>Katmawanti, S., &amp; Samah, D. A. (2025). Tinjauan manfaat daun kelor (moringa oleifera) untuk pencegahan stunting pada balita.\u00a0<em>Life and Health Journal: Jurnal Ilmu Kesehatan<\/em>,\u00a0<em>1<\/em>(1).<\/p>\n<p>Kementerian Kesehatan RI. (2017). <em>Tabel Komposisi Pangan Indonesia<\/em>. Jakarta: Kemenkes RI.<\/p>\n<p>Nurdin, N., Sunandar, S., &amp; Ariyana, A. (2022). Olahan Daun Kelor Untuk Perbaikan Status Gizi Balita dalam Upaya Pencegahan Stunting.\u00a0<em>SEHATMAS: Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat<\/em>,\u00a0<em>1<\/em>(4), 453-459.<\/p>\n<p>Sari, S. F., Prayogo, M. S., ADR, A. Z., Akmalina, N. I., Hariyanti, M., Mubarroq, A. S., &#8230; &amp; Hasanah, W. (2025). Strategi pencegahan stunting melalui pelatihan pengolahan PMT berbasis bahan lokal dengan metode Participatory Action Research.\u00a0<em>Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara<\/em>,\u00a0<em>1<\/em>(8), 476-484.<\/p>\n<p>Wahyuningsih, R., &amp; Darni, J. (2021). Edukasi pada ibu balita tentang pemanfaatan daun kelor (moringa oleifera) sebagai kudapan untuk pencegahan stunting.\u00a0<em>Jurnal Pengabdian Masyarakat Sasambo<\/em>,\u00a0<em>2<\/em>(2), 161-165.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Luthfi Nur Hanifah, S.Gz JurnalPost.com &#8211; Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak besar terhadap kualitas sumber daya manusia\u00a0 di\u00a0 masa\u00a0 depan.\u00a0 Anak\u00a0 yang\u00a0 mengalami\u00a0 stunting\u00a0 memiliki\u00a0 tinggi\u00a0 badan\u00a0 di\u00a0 bawah\u00a0 standar usianya yang\u00a0 mencerminkan\u00a0 hambatan\u00a0 dalam\u00a0 pertumbuhan\u00a0 fisik\u00a0 maupun\u00a0 perkembangan\u00a0 kognitif. Stunting ditandai dengan tinggi badan yang rendah untuk usia anak ditandai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":22164,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-22163","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22163","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22163"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22163\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22164"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22163"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22163"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22163"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}