{"id":22101,"date":"2025-12-21T00:49:05","date_gmt":"2025-12-20T16:49:05","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=22101"},"modified":"2025-12-21T00:49:05","modified_gmt":"2025-12-20T16:49:05","slug":"kecerdasan-buatan-ancaman-atau-peluang-bagi-dunia-kerja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/kecerdasan-buatan-ancaman-atau-peluang-bagi-dunia-kerja\/22101\/","title":{"rendered":"Kecerdasan Buatan: Ancaman atau Peluang bagi Dunia Kerja?"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Penggunaan-AI.webp\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"583\" class=\"aligncenter size-full wp-image-22102\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Penggunaan-AI.webp 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Penggunaan-AI-300x171.webp 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Penggunaan-AI-768x437.webp 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Penggunaan-AI-750x427.webp 750w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>Miftakhul Rifky Al Farez<\/strong><\/p>\n<p><strong>Apakah AI akan mengambil pekerjaan anda?<\/strong><br \/>\nAlih-alih semata memangkas tenaga kerja,adopsi kecerdasan  buatan  justru memicu perubahan pada pola perekrutan di sejumlah sektor.sejumlah pimpinan perusahaan global menilai AI dapat mendorong kebutuhan akan tenaga kerja baru,termasuk pada  jenjang awal karir.bukan karena  menghilangkan pekerjaan lama,melainkan  memunculkan jenis tugas baru  yang menuntut manusia untuk mengawas ,menafsir,dan mengambil keputusan  atas sistem berbasis algoritma.posisi-posisi yang berkaitan dengan pengelolaan data,pengawasan AI,hingga penerjemahan kebutuhan bisnis  kedalam sistem teknologi semakin relevan.fenomena ini menunjukan bahwa AI tidak beroperasi secara terpisah ,melainkan relasi yang saling melengkapi dengan tenaga kerja manusia.<\/p>\n<p><strong>Definisi AI<\/strong> (<strong>Artificial Intelligence<\/strong>)<br \/>\nAI pada dasarnya adalah kemampuan komputer atau mesin untuk meniru kemampuan kognitif manusia, seperti belajar, berpikir, menyelesaikan masalah, dan menyelesaikan masalah.  Tujuannya adalah sistem yang dapat mengambil keputusan, beradaptasi dengan situasi baru, dan beroperasi secara mandiri dan cerdas tanpa program khusus untuk setiap situasi. <\/p>\n<p>Kecerdasan buatan bukan sekedar teknologi masa depan,melainkan sudah menjadi bagian  dari rutinitas pekerjaan  di dalam organisasi maupun perusahaan,dimana separuh pekerja di berbagai negara sudah menggunakan AI  dalam  pekerjaan.Sekitar 45% karyawan menggunakan AI di tempat kerja mereka pada kuartal ketiga 2025, dengan 23% menggunakannya setiap minggu atau lebih, menurut survei Gallup. Ini menunjukkan seberapa terintegrasi AI dalam berbagai industri. .  <\/p>\n<p><strong>AI Sebagai Peluang  dan Pencipta Pekerjaan Baru<\/strong><br \/>\nMenurut  World Economic Forum (WEF) dalam Future of jobs report 2025 mengungkapkan bahwa  prediksi perubahan pasar tenaga kerja hingga tahun 2030 diprediksi akan ada 170  juta pekerjaan baru yang akan tercipta.namun,dampak dari kemajuan teknologi diperkirakan akan menghilangkan 92 pekerjaan,menghasilkan kenaikan bersih  sebesar 78 juta pekerjaan baru.Perkembangan AI sering dipandang akan menghilangkan banyak pekerjaan lama,tetapi AI juga dapat menciptakan peluang serta profesi  baru  dalam jumlah besar seperti  Data scientist,Machine Learning engineer,AI engineer,AI research,dan lain lain.<\/p>\n<p>Pertumbuhan lapangan pekerjaan di perkirakan terjadi di sektor-sektor strategis seperti  teknologi,energi terbarukan,pendidikan,dan perawatan.sementara itu,pekerjaan tradisional seperti asisten administratif dan desain grafis  akan mengalami tekanan besar  akibat otomatisasi,yang mengubah struktur kebutuhan tenaga kerja  secara mendasar.AI menjadi alasan utama dalam pergeseran ini.sebanyak 50 persen perusahaan di seluruh dunia berencana memanfaatkan kecerdasan AI untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru.namun,disisi lain sebanyak 41 persen di prediksi adanya pengurangan tenaga kerja sebagai dampak adanya otomatisasi.<\/p>\n<p><strong>Kesenjangan keterampilan di era kecerdasan  buatan<\/strong><br \/>\nDi tengah perubahan yang cepat ini,WEF menyoroti kesenjangan keterampilan di era kecerdasan buatan,yang dimana hampir 40 persen  keterampilan yang dibutuhkan adalah keterampilan  baru atau yang sedang berkembang.Karena laju otomatisasi dan kemajuan teknologi yang cepat, permintaan peran AI akan meningkat, tetapi penerapan AI di perusahaan masih belum rata. Banyak karyawan percaya bahwa kegagalan dalam keterampilan AI disebabkan oleh kurangnya pelatihan.perkembangan AI semakin meningkat dikarenakan  laju menurut survei randstand tahun 2024,responden mengatakan bahwa perusahaan yang menggunakan teknologi AI  masih tertinggal terkait dengan kepelatihan atau  peningkatan keterampilan karyawan tentang bagaimana cara menggunakan AI dalam pekerjaan nya. Perusahaan  memiliki keterbatasan anggaran  dan akses teknologi,alat,dan data sehingga peningkatan  keterampilan  AI menjadi terhambat,menurut penelitian snaplogic.<\/p>\n<p><strong>Menimbang Ancaman dan Peluang<\/strong><br \/>\nPerkembangan kecerdasan buatan  membawa ancaman  sekaligus peluang bagi dunia kerja.ancaman terlihat  dari  pekerjaan yang berpotensi  otomatisasi tugas dan berkurang nya nilai keterampilan terhadap lama,dimana hampir setengah dari para pekerja di sektor  tertentu melaporkan keterampilan mereka menjadi berkurang akibat dari kecerdasan buatan dan banyak perusahaan menganggap bahwa penyebab keterampilan terhambat dikarenakan adopsi teknologi kecerdasan buatan(OECD Employment  Outlook 2023).disisi lain, AI memiliki dampak positif  dalam dunia kerja yaitu, menciptakan peluang besar ,seperti  terciptanya  lapangan pekerjaan baru serta pemintaan keterampilan AI dan  digital,dan pekerja yang memiliki keterampilan tersebut  cenderung memperoleh premi upah yang lebih tinggi  dan meningkatnya relevansi kerja(PwC 2025 Global Al Jobs  Barometer).selain itu,World Economic Forum(WEF) memprediksi  bahwa terciptanya pekerjaan baru hingga 78 juta  akibat transformasi teknologi hingga 2030,meski 40 persen keterampilan  tenaga kerja  perlu ditingkatkan melalui pelatihan agar tetap  relevan.secara kesuluruhan,walaupun AI mengubah struktur pasar kerja dan meningkatnya kesenjangan keterampilan jika dibarengi dengan upaya upskilling,reskilling,dan pendidikan yang adaptif ,maka peluang kenaikan produktivitas, penciptaan peran baru, dan permintaan keterampilan akan tercipta<\/p>\n<p><strong>Penutup<\/strong><br \/>\nPerkembangan teknologi AI\/kecerdasan buatan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari  dalm dunia  kerja modern.berbagai penilitian  dan survei  menunjukkan bahwa AI  memang memiliki tantangan yang nyata,terutama  berupa otomatisasi pekerjaan rutin  dan melebar nya kesenjangan keterampilan.namun,disisi yang lain  AI memiliki dampak positif dalam dunia kerja,yaitu terciptanya profesi baru,meingkatnya produktivitas,serta dapat mendorong pekerjaan menuju  peran yang lebih kreatif,analitis,dan bernilai tinggi.oleh karena itu,kunci utama  dalam menghadapi perkembangan zaman  adalah  mempersiapkan  sumber daya manusia agar mampu berdaptasi dengan perkembangan teknologi terutama AI\/kecerdasan buatan.upaya upskilling,reskilling,pembaruan sistem  pendidikan,dan kolaborasi antara pemerintah,dunia kerja, dan institusi pendidikan  menjadi langkah  strategis agar  AI tidak  menjadi ancaman,melainkan kekuatan pendorong kemajuan dan kesejahteraan bersama.<\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong>:<br \/>\nRojabi, M. A. (2025). Pengantar Artificial Intelligence (AI).<br \/>\nThe real AI training gap? IT leaders believe in it, but many don\u2019t provide it, CIO, 05 September 2024.<br \/>\nAI skills gap widens: 71% of AI talent are men, while only 22% of baby boomers receive training &#8211; reveals randstad data, randstad, 12 November 2024.<br \/>\nNew Skillsoft research: AI and leadership skills crucial to elevating employee confidence and performance, Skillsoft, 19 September 2024.<br \/>\nThe AI skills gap, snapLogic.<br \/>\nOrganisation for Economic Co-operation and Development. (2023). OECD employment outlook 2023: Artificial intelligence and the labour market. OECD Publishing.<br \/>\nPwC. (2025). Global AI jobs barometer 2025: AI boosts productivity, wages, and job growth. PwC Global.<br \/>\nWorld Economic Forum. (2025). The future of jobs report 2025. World Economic Forum.<br \/>\nKompas.com. (2025, January 14). WEF: Kecerdasan buatan dorong pertumbuhan 78 juta pekerjaan global.<br \/>\nIBM. (2024). The AI skills gap: Why organizations struggle to build AI-ready workforces. IBM Institute for Business Value.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Miftakhul Rifky Al Farez Apakah AI akan mengambil pekerjaan anda? Alih-alih semata memangkas tenaga kerja,adopsi kecerdasan buatan justru memicu perubahan pada pola perekrutan di sejumlah sektor.sejumlah pimpinan perusahaan global menilai AI dapat mendorong kebutuhan akan tenaga kerja baru,termasuk pada jenjang awal karir.bukan karena menghilangkan pekerjaan lama,melainkan memunculkan jenis tugas baru yang menuntut manusia untuk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":22102,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-22101","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22101","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22101"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22101\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22102"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22101"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22101"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22101"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}