{"id":22015,"date":"2025-12-18T19:11:14","date_gmt":"2025-12-18T11:11:14","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=22015"},"modified":"2025-12-18T19:11:14","modified_gmt":"2025-12-18T11:11:14","slug":"menyepelekan-golden-age-tanpa-kehadiran-penuh-orang-tua-berisiko-permanen","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/menyepelekan-golden-age-tanpa-kehadiran-penuh-orang-tua-berisiko-permanen\/22015\/","title":{"rendered":"Menyepelekan Golden Age Tanpa Kehadiran Penuh Orang Tua Berisiko Permanen!!!"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_22016\" aria-describedby=\"caption-attachment-22016\" style=\"width: 529px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar1-66.jpg\" alt=\"Golden Age\" width=\"529\" height=\"353\" class=\"size-full wp-image-22016\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar1-66.jpg 529w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar1-66-300x200.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 529px) 100vw, 529px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-22016\" class=\"wp-caption-text\">Sumber foto : <a href=\"https:\/\/www.freepik.com\/free-photo\/group-kids-friend-laughing-together_2523588.htm#fromView=image_search_similar&amp;page=1&amp;position=0&amp;uuid=05e494f5-1a24-4546-9714-3928e40de1b0&amp;query=anak+anak\">https:\/\/www.freepik.com\/free-photo\/group-kids-friend-laughing-together_2523588.htm#fromView=image_search_similar&amp;page=1&amp;position=0&amp;uuid=05e494f5-1a24-4546-9714-3928e40de1b0&amp;query=anak+anak<\/a><\/figcaption><\/figure>\n<p>Oleh : <strong>Jesslyn Valencia Rahardjo<br \/>\nMahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya<\/strong><\/p>\n<p><strong>JuranLPost.com<\/strong> &#8211; Periode Emas (<em>Golden Age<\/em>) fase 0\u20136 tahun dan mengaitkannya dengan <em>sensitive period<\/em> di mana anak sangat sensitif terhadap rangsangan lingkungan (Untung et al, 2023). Gagasan ini selaras dengan konsep Periode Sensitif yang dikemukakan oleh Maria Montessori, di mana anak memiliki kemampuan luar biasa untuk menyerap informasi dan keterampilan dari lingkungan secara alami. Ironisnya, di tengah kesadaran akan pentingnya periode ini, pemahaman orang tua di tingkat akar rumput justru masih pada fase menyepelekan. Sikap abai ini, yang terbagi dalam dua aspek stimulasi interaksi dan asupan nutrisi berpotensi fatal dan merusak permanen fondasi perkembangan anak.<\/p>\n<h3><strong>Dua Sisi Koin yang Diabaikan: Interaksi dan Nutrisi<\/strong><\/h3>\n<p>Fokus utama <em>Golden Age<\/em> adalah stimulasi otak dan kehadiran penuh. Namun, masalah mendasar lain yang sering terabaikan dan saling berkaitan adalah aspek asupan nutrisi. Realitas di lapangan, berdasarkan pengamatan praktisi pendidikan anak usia dini (PAUD), menguak bahwa banyak orang tua menyepelekan kedua hal esensial ini secara bersamaan.<\/p>\n<p>Di lingkungan Taman Kanak-Kanak (TK), terjadi kontras mencolok antara kebutuhan perkembangan anak dan dukungan yang diberikan. Praktisi menemukan banyak anak yang dibawakan bekal yang didominasi oleh makanan ringan kemasan (ciki), minuman manis tinggi gula, atau permen. Bahkan, ada kasus di mana anak tidak dibawakan bekal sama sekali dan harus menunggu sisa makanan temannya. Pola makan yang buruk ini secara langsung mengganggu kemampuan fokus dan energi mereka untuk menerima stimulasi belajar di kelas, membuat upaya stimulasi yang dilakukan pendidik menjadi sia-sia. Hal ini dikuatkan oleh penelitian yang menyebutkan bahwa &#8220;kualitas nutrisi pada 1000 hari pertama kehidupan dan masa <em>preschool<\/em> secara langsung memengaruhi mielinasi otak dan pembentukan sinapsis, yang mendasari fungsi kognitif&#8221;<\/p>\n<h3><strong>Kehadiran Penuh: Syarat Mutlak Perkembangan Otak<\/strong><\/h3>\n<p>Bukan sekadar faktor nutrisi, pakar ilmu perkembangan anak di Harvard University\u2019s Center on the Developing Child secara tegas menyebutkan bahwa otak anak membangun koneksi saraf baru (sinapsis) dengan kecepatan hingga satu juta per detik pada tahun-tahun awal. Kecepatan pembentukan sinapsis ini sangat bergantung pada interaksi &#8220;serve and return&#8221;respons aktif dan konsisten dari orang dewasa. Pada tahun-tahun pertama kehidupan, lebih dari satu juta koneksi saraf baru terbentuk setiap detik. Proses pembentukan koneksi ini sangat dipengaruhi oleh kualitas stimulasi dan pengalaman awal yang diterima anak, yang selanjutnya berperan penting dalam perkembangan struktur dan fungsi otak (Mualem et al, 2024).<\/p>\n<p>Kehadiran penuh orang tua bukan lagi pilihan, melainkan syarat mutlak yang menentukan perkembangan sirkuit otak anak. Interaksi ini secara konkret membangun fondasi untuk fungsi eksekutif, seperti kemampuan fokus, memori kerja, dan pengendalian diri, yang merupakan prediktor kuat kesuksesan di masa depan. Jika stimulasi ini minim atau tidak konsisten, jendela pembangunan sinapsis akan tertutup tanpa teroptimalkan, menimbulkan kerugian perkembangan yang tidak bisa dikembalikan. Sebagai penekanan menegaskan bahwa pengasuhan dengan stimulasi otak anak. Menyatakan anak usia dini adalah masa emas dengan perkembangan otak mencapai 80%. Lebih lanjut, John Medina (2020)menjelaskan bahwa stimulasi lingkungan dan interaksi orang tua (termasuk responsif) secara langsung membentuk otak bayi dan anak.<\/p>\n<h3><strong>Bukti Nyata Masalah Perilaku Akibat Absennya Afeksi<\/strong><\/h3>\n<p>Absennya kehadiran penuh orang tua terbukti berimplikasi langsung pada kesulitan emosional dan sosial anak di lingkungan sekolah. Pengalaman lapangan menunjukkan korelasi kuat antara minimnya interaksi di rumah dengan perilaku bermasalah di TK. Praktisi sering menemukan kasus perilaku bermasalah seperti ledakan emosi yang sulit dikendalikan, kesulitan berbagi, hingga bersikap kasar kepada temannya. Menurut , stimulasi lingkungan dan interaksi orang tua (termasuk responsif) secara langsung membentuk otak bayi dan anak.<\/p>\n<p>Saat saya melakukan praktik di Taman Kanak-Kanak, saya menemukan beberapa anak yang menunjukkan perilaku bermasalah signifikan. Salah satunya, seorang anak yang jarang bertemu dengan ibunya karena kesibukan, mengalami kesulitan luar biasa dalam membangun regulasi emosi di lingkungan sosialnya. Dalam kasus ini, kehadiran orang tua sangat vital, bukan hanya untuk memberikan afeksi, tetapi juga mengajari anak cara bersikap baik dan menanamkan nilai-nilai sosial pertama. Minimnya pendampingan berkualitas menjadi bukti nyata bagaimana menyepelekan peran di masa <em>Golden Age<\/em> memicu kerentanan emosional anak. Keterkaitan ini juga ditegaskan oleh studi yang menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pola asuh berdampak langsung pada kemampuan anak dalam membentuk regulasi emosi, rasa percaya diri, dan kesejahteraan psikologis<\/p>\n<h3><strong>Peringatan Keras: Fatalitas Jangka Panjang<\/strong><\/h3>\n<p>Mengabaikan <em>Golden Age<\/em> secara ganda baik nutrisi buruk maupun minimnya interaksi dapat memicu kondisi berbahaya yang disebut &#8220;<strong>Toxic Stress<\/strong>&#8220;. Stres toksik berkelanjutan yang dipicu oleh pengabaian dapat mengganggu arsitektur otak secara fundamental, merusak area yang bertanggung jawab atas regulasi emosi dan pembelajaran. Anak tidak dapat &#8220;mengejar&#8221; perkembangan otak yang hilang di masa emas dengan biaya les mahal di kemudian hari.<\/p>\n<p>Menurut Harris (2018), toxic stress\/ACEs memengaruhi otak dan tubuh sepanjang hidup serta memengaruhi mental jangka panjang. Konsekuensi jangka panjang ini juga meliputi fungsi kognitif. Studi menegaskan bahwa menegaskan bahwa rendahnya stimulasi kognitif pada awal kehidupan dapat membatasi perkembangan neural dan berkonsekuensi jangka panjang pada kognisi; penulis membahas bukti bahwa beberapa kerugian sulit dipulihkan sepenuhnya (Rakesh et al, 2024).<\/p>\n<p>Periode ini adalah waktu investasi terbaik yang hanya terjadi sekali seumur hidup. Sikap menyepelekan peran orang tua sama dengan merampas hak anak untuk mencapai potensi terbaiknya. Seperti yang ditekankan oleh Kolk (2015) paparan adversity\/toxic stress pada masa awal \u00a0mengubah perkembangan otak dan tubuh, dan bahwa intervensi yang terlambat seringkali tidak sepenuhnya mengembalikan kondisi sebelum paparan.<\/p>\n<p>Menegaskan dampak permanen, penelitian dalam psikologi perkembangan menemukan bahwa pengalaman pengasuhan (mis. pelecehan, pengabaian, hubungan jarak-emotif) membentuk \u201cjejak\u201d biologis yang memengaruhi resiliensi, pengasuhan berkualitas\/keamanan relasional muncul sebagai mekanisme penting untuk proteksi, tidak sekadar status ekonomi (Nakazawa, 2016) Oleh karena itu, kehadiran penuh dan penyediaan nutrisi berkualitas adalah tanggung jawab mutlak yang menentukan kualitas generasi mendatang. Fatal jika disepelekan, sebab dampaknya bersifat permanen.<\/p>\n<p><strong>Daftar pustaka<\/strong><\/p>\n<p>Harris, N. B. (2018). <em>The Deepest Well: Healing the Long-Term Effects of Childhood Adversity<\/em>.<\/p>\n<p>John Medina. (2020). <em>Brain Rules for Baby (Updated and Expanded)<\/em>.<\/p>\n<p>Kolk, B. Van Der. (2015). <em>The Body Keeps the Score: Brain, Mind, and Body in the Healing of Trauma <\/em>.<\/p>\n<p>Mualem, R., Morales-Quezada, L., Farraj, R. H., Shance, S., Bernshtein, D. H., Cohen, S., Mualem, L., Salem, N., Yehuda, R. R., Zbedat, Y., Waksman, I., &amp; Biswas, S. (2024). Econeurobiology and brain development in children: key factors affecting development, behavioral outcomes, and school interventions. In <em>Frontiers in Public Health<\/em> (Vol. 12). Frontiers Media SA. https:\/\/doi.org\/10.3389\/fpubh.2024.1376075<\/p>\n<p>Nakazawa, D. J. (2016). <em>Childhood Disrupted: How Your Biography Becomes Your Biology, and How You Can Heal<\/em>.<\/p>\n<p>Ningrum, R. G., &amp; Wulandari, H. (2025). <em>Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Emosional Anak Usia Dini<\/em>. <em>6<\/em>(2), 544\u2013554. https:\/\/doi.org\/10.37985\/murhum.v6i2.1572<\/p>\n<p>Rahmawati, N. O. I., Zuhroh, D. F., &amp; Widiyawati, W. (2023). Hubungan Asupan Makanan Dengan Status Gizi Anak Prasekolah Di TK Dharma Wanita Desa Sembayat. <em>Indonesian Journal of Professional Nursing<\/em>, <em>4<\/em>(1), 37. https:\/\/doi.org\/10.30587\/ijpn.v4i1.5747<\/p>\n<p>Rakesh, D., McLaughlin, K. A., Sheridan, M., Humphreys, K. L., &amp; Rosen, M. L. (2024). Environmental contributions to cognitive development: The role of cognitive stimulation. In <em>Developmental Review<\/em> (Vol. 73). Elsevier Inc. https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.dr.2024.101135<\/p>\n<p>Ulfah, M. (2023). <em>NEUROPARENTING Model Stimulasi Perkembangan Otak Anak<\/em>.<\/p>\n<p>Untung, S. H., Pramono, I. A., Khasanah, L., Awwaluddin, A., Kholis, N., Muddin, M. I., Asnawi, A. R., &amp; Maulana, A. R. M. (2023). <em>The Gold Age of Childhood: Maximizing Education Efforts for Optimal Development<\/em> (pp. 261\u2013269). https:\/\/doi.org\/10.2991\/978-2-38476-052-7_30<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Jesslyn Valencia Rahardjo Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya JuranLPost.com &#8211; Periode Emas (Golden Age) fase 0\u20136 tahun dan mengaitkannya dengan sensitive period di mana anak sangat sensitif terhadap rangsangan lingkungan (Untung et al, 2023). Gagasan ini selaras dengan konsep Periode Sensitif yang dikemukakan oleh Maria Montessori, di mana anak memiliki [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":22016,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-22015","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22015","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22015"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22015\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22016"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22015"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22015"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22015"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}