{"id":21982,"date":"2025-12-18T00:12:45","date_gmt":"2025-12-17T16:12:45","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=21982"},"modified":"2025-12-18T00:12:45","modified_gmt":"2025-12-17T16:12:45","slug":"transformasi-serang-dari-kota-kumuh-ke-kota-modern-lewat-pasar-pandean","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/transformasi-serang-dari-kota-kumuh-ke-kota-modern-lewat-pasar-pandean\/21982\/","title":{"rendered":"Transformasi Serang: Dari Kota Kumuh ke Kota Modern lewat Pasar Pandean"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-17-at-11.30.16-PM.jpeg\" alt=\"\" width=\"400\" height=\"533\" class=\"aligncenter size-full wp-image-21983\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-17-at-11.30.16-PM.jpeg 400w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-17-at-11.30.16-PM-225x300.jpeg 225w\" sizes=\"(max-width: 400px) 100vw, 400px\" \/><\/p>\n<p>Penulis: <strong>Lidia Wulan Dari, Angga Rosidin, S.I.P.,M.A.P., Zakaria Habib Al-Ra\u2019zie,S.I.P.,M.Sos. Program Studi Administrasi Negara, Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Serang.<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Kalau bicara soal kota, sebenarnya yang kita lihat bukan cuma bangunan atau jalanan, tapi juga cara hidup warganya. Serang dulu sering dianggap sebagai kota yang kurang tertata, terutama di area pasar tradisional yang identik dengan semrawut, becek, dan padat. Salah satu contoh nyatanya adalah Pasar Pandean. Tapi sekarang, pelan-pelan citra itu mulai berubah. Pasar Pandean jadi bukti bahwa perubahan kota bisa dimulai dari ruang yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.<\/p>\n<p>Sebelum ditata, Pasar Pandean dikenal sebagai kawasan yang kumuh. Lapak pedagang tidak beraturan, sampah sering menumpuk, dan fasilitas umum kurang memadai. Kondisi ini bukan cuma bikin pasar tidak nyaman, tapi juga memengaruhi cara orang memandang kota Serang secara keseluruhan. Pasar yang seharusnya jadi pusat ekonomi rakyat justru terlihat seperti masalah kota.<\/p>\n<p>Setelah dilakukan penataan dan modernisasi, wajah Pasar Pandean mulai berubah drastis. Area pasar dibuat lebih rapi, jalur pejalan kaki lebih jelas, dan sistem pengelolaan diperbaiki. Dampaknya langsung terasa. Pedagang jadi punya tempat berjualan yang lebih layak, pembeli lebih nyaman datang, dan aktivitas ekonomi jadi lebih hidup. Pasar tidak lagi sekadar tempat jual beli, tapi juga ruang publik yang lebih manusiawi.<\/p>\n<p>Perubahan ini tidak berhenti di fisik bangunan saja. Perlahan, pola perilaku masyarakat juga ikut berubah. Pedagang mulai lebih peduli soal kebersihan, aturan pasar mulai dipatuhi, dan interaksi antarindividu jadi lebih teratur. Dari yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri, kini semua pihak dipaksa belajar untuk saling menyesuaikan demi kenyamanan bersama.<\/p>\n<p>Kalau dikaitkan dengan teori sosial Emile Durkheim, perubahan Pasar Pandean ini bisa dilihat sebagai pergeseran dari solidaritas mekanik ke solidaritas organik. Dulu, aktivitas pasar berjalan secara sederhana dengan aturan tidak tertulis dan ikatan sosial yang longgar. Sekarang, pasar menjadi bagian dari sistem kota yang lebih kompleks, di mana pedagang, pengelola, dan pemerintah saling bergantung satu sama lain. Masing-masing punya peran yang jelas agar sistem bisa berjalan dengan baik.<\/p>\n<p>Durkheim juga menekankan bahwa struktur sosial punya pengaruh besar terhadap perilaku individu. Dalam konteks Pasar Pandean, ketika pasar ditata ulang sebagai sebuah institusi yang lebih modern, otomatis muncul norma dan kebiasaan baru. Masyarakat tidak hanya mengikuti aturan karena terpaksa, tapi karena mulai terbentuk kesadaran bersama bahwa keteraturan membawa manfaat untuk semua.<\/p>\n<p>Transformasi Pasar Pandean menunjukkan bahwa perubahan kota tidak selalu harus dimulai dari proyek besar yang mahal dan rumit. Justru dari pasar rakyat yang selama ini dianggap sepele, Serang bisa bergerak menuju kota yang lebih modern, tertib, dan punya identitas baru. Dari ruang yang dulu dicap kumuh, kini Pasar Pandean menjadi simbol harapan dan arah baru bagi perkembangan Kota Serang.<\/p>\n<p>Penulis: Lidia Wulan Dari, Angga Rosidin, S.I.P.,M.A.P., Zakaria Habib Al-Ra\u2019zie,S.I.P.,M.Sos. Program Studi Administrasi Negara, Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Serang.<\/p>\n<p>Tag: #Mahasiswa Unpam Serang #Transformasi Serang #Unpam Serang<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Lidia Wulan Dari, Angga Rosidin, S.I.P.,M.A.P., Zakaria Habib Al-Ra\u2019zie,S.I.P.,M.Sos. Program Studi Administrasi Negara, Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Serang. JurnalPost.com &#8211; Kalau bicara soal kota, sebenarnya yang kita lihat bukan cuma bangunan atau jalanan, tapi juga cara hidup warganya. Serang dulu sering dianggap sebagai kota yang kurang tertata, terutama di area pasar tradisional yang identik [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":21983,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[24],"tags":[],"class_list":["post-21982","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kolom-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21982","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21982"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21982\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21983"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21982"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21982"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21982"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}