{"id":21923,"date":"2025-12-17T14:53:24","date_gmt":"2025-12-17T06:53:24","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=21923"},"modified":"2025-12-17T14:53:24","modified_gmt":"2025-12-17T06:53:24","slug":"produktivitas-tersembunyi-di-laut-dalam-kehidupan-ekstrem-yang-menopang-bumi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/produktivitas-tersembunyi-di-laut-dalam-kehidupan-ekstrem-yang-menopang-bumi\/21923\/","title":{"rendered":"Produktivitas Tersembunyi di Laut Dalam: Kehidupan Ekstrem yang Menopang Bumi"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_21925\" aria-describedby=\"caption-attachment-21925\" style=\"width: 624px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar1-54.jpg\" alt=\"\" width=\"624\" height=\"323\" class=\"size-full wp-image-21925\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar1-54.jpg 624w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar1-54-300x155.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 624px) 100vw, 624px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-21925\" class=\"wp-caption-text\">Sumber : Mengenal Hydrothermal Vent, Sumber Kehidupan di Dasar Laut Dalam &#8211; geosains.id<\/figcaption><\/figure>\n<p>Catur Detik Nugroho_L1A024069<br \/>\nVicky Jauza ulayya_L1A024061<br \/>\nAdnedia Bimarta_L1A024067<br \/>\nRizka Atpriana_L1A024081<br \/>\nAzizah Homairo&#8217;_L1A024102<\/p>\n<p>Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan<\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Laut dalam sering dianggap sebagai wilayah yang sunyi dan tak berpenghuni, padahal kenyataannya ia adalah salah satu ekosistem paling kompleks di bumi. Dengan kedalaman lebih dari 200 meter, cahaya matahari tidak lagi menembus, suhu turun hingga mendekati titik beku, dan tekanan air bisa mencapai ribuan kali lipat dibandingkan permukaan. Kondisi ekstrem ini membuat banyak orang berasumsi bahwa kehidupan tidak mungkin bertahan. Namun, penelitian modern membuktikan sebaliknya: laut dalam justru menyimpan keanekaragaman hayati yang luar biasa, dari mikroorganisme hingga fauna besar, yang semuanya berperan dalam menjaga keseimbangan ekologi global. Laut dalam juga menjadi \u201cpenyimpan rahasia\u201d bumi, karena di sanalah karbon, energi, dan nutrien disimpan serta didistribusikan kembali ke sistem laut yang lebih luas.<\/p>\n<p>Berbeda dengan ekosistem permukaan yang bergantung pada fotosintesis, laut dalam memiliki mekanisme unik untuk menghasilkan energi: kemosintesis. Mikroorganisme di sekitar ventilasi hidrotermal memanfaatkan senyawa kimia seperti hidrogen sulfida untuk menghasilkan energi, menggantikan peran cahaya matahari. Proses ini menjadi fondasi rantai makanan laut dalam, menopang koloni cacing tabung raksasa, kerang, dan berbagai organisme lain. Selain itu, laut dalam juga menerima \u201csalju laut\u201d berupa partikel organik yang jatuh dari permukaan, menjadi sumber makanan tambahan bagi organisme bentik. Dengan dua jalur energi ini\u2014kemosintesis dan suplai organik dari atas\u2014laut dalam tetap produktif meski berada dalam kegelapan total. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan mampu menemukan cara untuk bertahan bahkan di lingkungan yang tampak mustahil.<\/p>\n<figure id=\"attachment_21924\" aria-describedby=\"caption-attachment-21924\" style=\"width: 624px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar2-19.jpg\" alt=\"\" width=\"624\" height=\"351\" class=\"size-full wp-image-21924\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar2-19.jpg 624w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar2-19-300x169.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 624px) 100vw, 624px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-21924\" class=\"wp-caption-text\"><br \/>Sumber gambar : Why Do Some Deep-Sea Creatures Glow? The Science of Bioluminescence<\/figcaption><\/figure>\n<p>Fauna laut dalam adalah bukti nyata kreativitas evolusi. Ikan anglerfish, misalnya, memiliki lampu alami berupa bioluminesensi untuk menarik mangsa di kegelapan. Cacing tabung raksasa hidup bersimbiosis dengan bakteri kemosintetik, sehingga tidak membutuhkan sistem pencernaan konvensional. Ada juga ubur-ubur bercahaya dan krustasea yang mampu bertahan di tekanan ekstrem dengan tubuh fleksibel. Adaptasi lain termasuk metabolisme lambat untuk menghemat energi, kemampuan menghasilkan cahaya sebagai komunikasi, serta strategi reproduksi unik yang memungkinkan mereka bertahan meski populasi jarang bertemu. Bahkan ada spesies yang mampu \u201ctidur panjang\u201d dalam kondisi minim makanan, menunggu suplai energi datang dari atas. Keanekaragaman ini bukan hanya bukti daya tahan hidup, tetapi juga menyimpan potensi besar bagi manusia, mulai dari enzim tahan panas untuk industri hingga senyawa bioaktif yang bisa dimanfaatkan dalam dunia medis.<\/p>\n<p>Produktivitas laut dalam tidak hanya penting bagi ekosistem lokal, tetapi juga bagi keseimbangan bumi secara keseluruhan. Laut dalam berfungsi sebagai penyimpan karbon raksasa: partikel organik yang tenggelam ke dasar laut akan terkubur dan mengurangi jumlah karbon di atmosfer, membantu menstabilkan iklim global. Selain itu, laut dalam menjadi jalur distribusi energi dan nutrien yang memengaruhi kehidupan di permukaan. Namun, ekosistem ini menghadapi ancaman serius. Penambangan mineral laut dalam yang kini mulai dilirik industri berisiko merusak habitat yang rapuh dan belum sepenuhnya dipahami. Perubahan iklim juga dapat mengganggu keseimbangan rantai makanan, misalnya dengan menurunkan oksigen di kedalaman atau mengubah distribusi plankton. Kehilangan produktivitas laut dalam berarti kehilangan salah satu penopang utama kehidupan di planet ini.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Catur Detik Nugroho_L1A024069 Vicky Jauza ulayya_L1A024061 Adnedia Bimarta_L1A024067 Rizka Atpriana_L1A024081 Azizah Homairo&#8217;_L1A024102 Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan JurnalPost.com &#8211; Laut dalam sering dianggap sebagai wilayah yang sunyi dan tak berpenghuni, padahal kenyataannya ia adalah salah satu ekosistem paling kompleks di bumi. Dengan kedalaman lebih dari 200 meter, cahaya matahari tidak lagi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":21925,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-21923","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21923","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21923"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21923\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21925"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21923"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21923"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21923"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}