{"id":21866,"date":"2025-12-16T17:33:17","date_gmt":"2025-12-16T09:33:17","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=21866"},"modified":"2025-12-16T17:33:17","modified_gmt":"2025-12-16T09:33:17","slug":"semester-tanpa-akhir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/semester-tanpa-akhir\/21866\/","title":{"rendered":"SEMESTER TANPA AKHIR"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-21867\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar1-48.jpg\" alt=\"\" width=\"315\" height=\"340\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar1-48.jpg 315w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar1-48-278x300.jpg 278w\" sizes=\"(max-width: 315px) 100vw, 315px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>Yogi Saputra<\/strong><br \/>\nNim\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :22016160<br \/>\nMatkul\u00a0\u00a0 :Berita dan Fotografi<\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Langit sore di atas kampus terlihat sama seperti bertahun-tahun lalu \u2014 pucat, lembut, dan sedikit berdebu. Di bawah rindangnya pohon flamboyan dekat gedung fakultas, Aby duduk sendirian, menatap layar laptop yang menampilkan file bernama <em>Skripsi_Final_Beneran.docx<\/em>.<br \/>\nFile itu sudah dibuat tiga tahun lalu, direvisi puluhan kali, namun tak pernah benar-benar selesai. Ia menarik napas panjang. Baginya, layar itu bukan sekadar alat kerja, tapi cermin yang memantulkan hidupnya \u2014 tertunda, menggantung, dan terus mengulang.<\/p>\n<p>Aby adalah mahasiswa semester ke-15.<br \/>\nSebuah angka yang, bagi sebagian orang, terdengar mustahil. Di kampus, banyak yang mengenalnya sebagai \u201cmahasiswa abadi\u201d, sebutan yang lebih sering dilontarkan dengan nada bercanda. Tapi di balik tawa itu, ada sesuatu yang Aby rasakan jauh lebih dalam \u2014 rasa malu, kehilangan arah, dan ketakutan eksistensial yang tak mudah dijelaskan.<\/p>\n<p>Ia mengakui, sebagian besar penyebab keterlambatannya adalah akademik dan personal. Beberapa mata kuliah harus ia ulang karena nilai yang belum mencukupi. Ia sempat tertinggal dari teman-temannya, dan pernah cuti dua kali: sekali karena masalah keluarga, dan sekali lagi karena dirinya merasa terlalu lelah. Namun ketika ia kembali, dunia kampus sudah berubah \u2014 kurikulum berganti, dosen baru bermunculan, dan nama-nama di kelas hampir semua asing.<\/p>\n<p>Aby merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.<br \/>\nSetiap langkah di koridor kampus menimbulkan gema yang memantul di kepalanya: <em>Kapan kamu lulus?<\/em> Pertanyaan itu sederhana, tapi menusuk lebih dalam dari yang orang kira. Bagi Aby, pertanyaan itu bukan tentang administrasi atau nilai, tapi tentang identitas. Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri \u2014 apakah ia masih seorang mahasiswa, atau hanya seseorang yang menolak meninggalkan masa lalu?<\/p>\n<p>Malam-malam Aby di kamar kos dipenuhi oleh renungan yang tak berujung. Ia memandangi sertifikat seminar yang menempel di dinding, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia pernah produktif, pernah berjuang. Namun setiap kali ia membuka berkas skripsinya, jari-jarinya berhenti di tengah kalimat. Pikiran kosong. Seolah otaknya menolak melangkah lebih jauh.<br \/>\nDalam diam, ia mulai curiga: apakah ia benar-benar masih belajar, atau hanya bersembunyi di balik rutinitas yang ia pahami?<\/p>\n<p>\u201cSaya takut lulus,\u201d katanya suatu kali kepada dosennya, tanpa sadar kalimat itu keluar begitu saja.<br \/>\nDosen itu hanya menatapnya sebentar, lalu tersenyum. \u201cMungkin kamu bukan takut lulus, tapi takut kehilangan sesuatu yang sudah terlalu lama jadi bagian dirimu.\u201d<\/p>\n<p>Kata-kata itu membekas. Aby sadar bahwa kampus bukan hanya tempat belajar, melainkan \u201cruang aman\u201d di mana ia merasa memiliki kendali. Dunia luar baginya terasa seperti labirin tanpa peta, penuh ketidakpastian.<br \/>\nDi kampus, semuanya teratur: nilai, jadwal, sistem, bahkan kegagalannya pun terasa terprediksi. Dunia luar tidak memberi kemewahan seperti itu.<\/p>\n<p>Hari-hari Aby berjalan lambat. Ia mengikuti kelas tambahan, mengulang beberapa mata kuliah, dan mencoba menata kembali semangatnya. Tapi di dalam dirinya, masih ada ruang hampa yang tak bisa diisi oleh teori atau tugas. Ia mulai kehilangan minat berinteraksi, menghindari pertemuan dengan teman-teman lama.<br \/>\nIa sering menatap ke cermin dan bertanya, \u201cAku masih mahasiswa? Atau aku cuma seseorang yang tersesat di antara waktu?\u201d<\/p>\n<p>Rasa cemasnya berubah menjadi semacam kebiasaan mental.<br \/>\nIa mulai mengalami <em>overthinking<\/em> sebelum tidur, membayangkan bagaimana jika ia tidak pernah bisa menyelesaikan kuliah, bagaimana jika dunia luar sudah tidak menunggunya. Kadang ia bermimpi berada di kelas yang sama berulang-ulang, dengan dosen yang selalu berkata, \u201cKita lanjut minggu depan,\u201d tapi minggu depan tak pernah tiba.<br \/>\nIa terbangun dengan keringat dingin, merasa seolah waktunya membeku.<\/p>\n<p>Namun suatu sore, saat sendirian di perpustakaan, Aby menemukan buku psikologi lama tentang <em>self-concept<\/em> dan <em>meaning of failure<\/em>. Di sana tertulis:<\/p>\n<p>\u201cKegagalan bukanlah akhir dari usaha, melainkan ruang bagi jiwa untuk mengenali dirinya sendiri.\u201d<\/p>\n<p>Entah mengapa kalimat itu menyalakan sesuatu di dalam dirinya.<br \/>\nUntuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aby berhenti menyalahkan keadaan. Ia mulai menulis bukan karena tuntutan dosen, tapi karena ingin jujur pada dirinya sendiri. Ia menulis di halaman pertama skripsinya:<\/p>\n<p>\u201cPenelitian ini bukan hanya tentang teori, tapi tentang diriku yang sedang belajar memahami apa itu makna bertahan.\u201d<\/p>\n<p>Perlahan, perubahan itu terasa nyata. Aby mulai datang ke kampus lebih awal, bukan untuk mengejar kelas, tapi untuk duduk di taman dan membaca. Ia berbicara dengan dosen bukan untuk meminta kelonggaran, tapi untuk berdiskusi. Ia bahkan membantu mahasiswa baru memahami materi yang dulu membuatnya gagal.<br \/>\nRasa percaya dirinya tumbuh kembali, walau perlahan.<\/p>\n<p>Di tengah perjalanannya, Aby menyadari bahwa ia telah melewati banyak versi dirinya: yang ambisius, yang putus asa, yang takut, dan kini \u2014 yang mencoba berdamai. Ia tidak lagi melihat semester 15 sebagai kutukan, melainkan proses panjang yang membentuk kesadarannya.<br \/>\nIa belajar bahwa keberhasilan bukan diukur dari cepatnya seseorang lulus, tetapi dari seberapa dalam ia mengenal dirinya sendiri melalui perjalanan itu.<\/p>\n<p>Ketika akhirnya skripsi itu selesai, Aby tidak langsung mendaftar wisuda. Ia ingin menulis satu bab tambahan: tentang perjalanan batin seorang mahasiswa yang belajar lebih banyak tentang kehidupan daripada teori. Bab itu ia beri judul, <em>\u201cSemester Tanpa Akhir.\u201d<\/em><\/p>\n<p>Di malam sebelum menyerahkan naskahnya, Aby menatap layar laptopnya. Tidak ada perasaan heroik, tidak ada euforia. Hanya ketenangan yang lama ia cari.<br \/>\nIa tersenyum \u2014 bukan senyum pahit, tapi senyum penuh kesadaran.<\/p>\n<p>\u201cAku mungkin lambat,\u201d tulisnya di catatan akhir,<br \/>\n\u201ctapi aku tidak berhenti. Aku mungkin tersesat, tapi aku menemukan diriku di tengah jalan.\u201d<\/p>\n<p>Ketika fajar datang, Aby menutup laptopnya.<br \/>\nLangit pagi tampak sama seperti biasanya \u2014 tapi untuk pertama kalinya, ia merasa waktunya bergerak lagi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Yogi Saputra Nim\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :22016160 Matkul\u00a0\u00a0 :Berita dan Fotografi JurnalPost.com &#8211; Langit sore di atas kampus terlihat sama seperti bertahun-tahun lalu \u2014 pucat, lembut, dan sedikit berdebu. Di bawah rindangnya pohon flamboyan dekat gedung fakultas, Aby duduk sendirian, menatap layar laptop yang menampilkan file bernama Skripsi_Final_Beneran.docx. File itu sudah dibuat tiga tahun lalu, direvisi puluhan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":21867,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-21866","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21866","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21866"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21866\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21867"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21866"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21866"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21866"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}