{"id":21848,"date":"2025-12-16T13:57:21","date_gmt":"2025-12-16T05:57:21","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=21848"},"modified":"2025-12-16T13:57:21","modified_gmt":"2025-12-16T05:57:21","slug":"peran-kinerja-sektor-pariwisata-dalam-mengembangkan-daya-tarik-wisata-di-kabupaten-bandung-barat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/peran-kinerja-sektor-pariwisata-dalam-mengembangkan-daya-tarik-wisata-di-kabupaten-bandung-barat\/21848\/","title":{"rendered":"Peran Kinerja Sektor Pariwisata dalam Mengembangkan Daya Tarik Wisata di Kabupaten Bandung Barat"},"content":{"rendered":"<p><strong>Authors<\/strong><br \/>\n1. Hanifah Purwa Rahayu<br \/>\n2. Alfadiya Rizki Oksavira<\/p>\n<p><strong>Peran Kinerja Sektor Pariwisata dalam Mengembangkan Daya Tarik Wisata<br \/>\ndi Kabupaten Bandung Barat<\/strong><\/p>\n<p><strong>Pariwisata Kabupaten Bandung Barat di Persimpangan Pertumbuhan dan Keberlanjutan<\/strong><\/p>\n<p>Sektor pariwisata telah terbukti menjadi salah satu mesin utama penggerak ekonomi Kabupaten Bandung Barat (KBB). Berdasarkan realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun 2024, sektor pariwisata melalui pajak hotel, restoran, dan hiburan berkontribusi sebesar Rp116,4 miliar. Kontribusi terbesar berasal dari sektor restoran, disusul hotel dan hiburan, yang mencerminkan kuatnya keterkaitan antara aktivitas wisata, konsumsi wisatawan dan perputaran ekonomi lokal. Capaian ini menegaskan bahwa pariwisata tidak hanya berfungsi sebagai sektor hiburan, tetapi juga sebagai instrumen fiskal strategis bagi pemerintah daerah.<\/p>\n<p>Menurut Kepala Bidang Kepariwisataan Kabupaten Bandung Barat, David Oot, S.E., M.Si., sektor pariwisata memiliki peran strategis sebagai sumber pendapatan daerah melalui pajak hotel, restoran, dan hiburan yang secara langsung mencerminkan aktivitas wisata. Pendapatan tersebut, lanjutnya, menjadi instrumen fiskal penting yang dapat dialokasikan kembali untuk mendukung pembangunan daerah dan peningkatan kualitas pelayanan publik. Dari sisi permintaan, kinerja pariwisata KBB menunjukkan tren pemulihan dan penguatan pasca pandemi. Data kunjungan destinasi wisata pada Triwulan II Tahun 2025 mencatat total 1,75 juta kunjungan wisatawan, dengan dominasi wisatawan nusantara sebagai penggerak utama. Lonjakan ini memperlihatkan meningkatnya minat wisata domestik terhadap Bandung Barat, sekaligus menjadi indikator keberhasilan promosi dan daya tarik destinasi yang terus terjaga.<\/p>\n<figure id=\"attachment_21849\" aria-describedby=\"caption-attachment-21849\" style=\"width: 412px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar1-12.png\" alt=\"\" width=\"412\" height=\"274\" class=\"size-full wp-image-21849\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar1-12.png 412w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar1-12-300x200.png 300w\" sizes=\"(max-width: 412px) 100vw, 412px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-21849\" class=\"wp-caption-text\">Orchid Forest Cikole Bandung salah satu destinasi wisata alam di Bandung<br \/>(Instagram @orchidforestcikole)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Kinerja pariwisata Kabupaten Bandung Barat pada Triwulan II Tahun 2025 menunjukkan tren yang sangat positif. Total kunjungan wisatawan tercatat mencapai sekitar 1,75 juta kunjungan, dengan konsentrasi tertinggi berada di kawasan Lembang, Parongpong, dan Cisarua. Sejumlah destinasi unggulan seperti Lembang Park Zoo, The Great Asia Africa, Floating Market Lembang, dan Orchid Forest Cikole menjadi magnet utama dengan capaian kunjungan ratusan ribu wisatawan. Tingginya angka kunjungan ini menegaskan peran kawasan wisata unggulan sebagai penggerak utama aktivitas pariwisata daerah, sekaligus menunjukkan tantangan pemerataan kunjungan ke wilayah lain di Kabupaten Bandung Barat. (Berdasarkan data Disparbud KBB, 2025). Sementara wilayah lain seperti Cikalong Wetan, Rongga, dan sebagian wilayah selatan Bandung Barat masih mencatat angka kunjungan yang relatif rendah. Ketergantungan pada kawasan unggulan ini membuat struktur ekonomi pariwisata KBB rentan terhadap tekanan lingkungan, kejenuhan destinasi, serta risiko stagnasi pengembangan wilayah non-unggulan.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut sejalan dengan pandangan narasumber penelitian yang menegaskan bahwa pariwisata merupakan sumber pendapatan daerah yang strategis, namun masih memerlukan diversifikasi destinasi dan pemerataan pengembangan. Membahas sejauh mana kontribusi sektor pariwisata terhadap PAD Kabupaten Bandung Barat sudah sebanding dengan potensi destinasi yang dimiliki narasumber menegaskan bahwa \u201c<em>kontribusi tersebut belum sepenuhnya optimal jika dibandingkan dengan jumlah dan ragam daya tarik wisata yang mencapai 159 destinasi. Hal ini menunjukkan perlunya strategi pengembangan yang tidak hanya berorientasi pada destinasi populer, tetapi juga mendorong tumbuhnya pusat-pusat wisata baru di wilayah lain<\/em>\u201d<\/p>\n<p><strong>Ekonomi Kreatif dan Masyarakat Lokal: Penguat Daya Tarik sekaligus Penyangga Lapangan Kerja<\/strong><\/p>\n<p>Pertumbuhan sektor pariwisata di Kabupaten Bandung Barat tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang oleh perkembangan subsektor ekonomi kreatif yang semakin dinamis. Data menunjukkan peningkatan signifikan jumlah pelaku ekonomi kreatif pada subsektor kuliner, fotografi, fesyen, desain komunikasi visual dan seni pertunjukan. Sub sektor kuliner, misalnya, menjadi tulang punggung pengalaman wisata dan berkontribusi besar terhadap PAD sektor restoran. Sementara itu, subsektor fotografi dan desain komunikasi visual berperan penting dalam membentuk citra destinasi melalui promosi digital dan media sosial.<\/p>\n<p>Ekonomi kreatif menciptakan <em>multiplier effect<\/em> yang nyata, tidak hanya dalam bentuk peningkatan pendapatan pelaku usaha, tetapi juga dalam penciptaan lapangan kerja berbasis kreativitas. Keterhubungan antara pariwisata dan ekonomi kreatif memperkuat rantai nilai pariwisata, mulai dari produksi konten promosi, penyediaan cinderamata, hingga pengalaman wisata yang lebih otentik dan berkarakter lokal.<\/p>\n<p>Keterlibatan masyarakat lokal menjadi pondasi utama keberlanjutan ekosistem ini. Kabupaten Bandung Barat memiliki lebih dari 1.000 potensi kebudayaan, termasuk tradisi, ritus, seni, dan cagar budaya, yang berpotensi dikembangkan sebagai wisata berbasis komunitas. Dalam konteks ini, masyarakat lokal tidak hanya berperan sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai aktor utama melalui pengelolaan homestay, warung kuliner, jasa pemandu wisata, hingga produksi kerajinan tangan. Tim peneliti memberikan pertanyaan seputar <em>\u201cBagaimana peran masyarakat lokal dalam pengembangan sektor pariwisata, dan manfaat apa yang mereka peroleh?\u201d<\/em> Narasumber menegaskan <em>\u201cketerlibatan masyarakat memberikan manfaat langsung berupa peningkatan pendapatan, keterampilan, kesempatan berwirausaha, serta tumbuhnya rasa memiliki dan kebanggaan terhadap budaya lokal. Dengan pengelolaan yang inklusif, pariwisata dapat menjadi instrumen pemerataan ekonomi, bukan hanya terpusat pada investor besar atau destinasi unggulan<\/em>Namun demikian, tantangan kualitas sumber daya manusia masih menjadi isu krusial. Keterbatasan kompetensi dalam manajemen usaha, pemasaran digital, dan pelayanan wisata masih ditemukan di sejumlah destinasi. Praktik-praktik yang merugikan wisatawan, seperti pungutan liar, menjadi indikator perlunya penguatan kapasitas SDM. Menyikapi hal tersebut, pemerintah daerah melalui dinas terkait telah melakukan pendampingan dan pelatihan sebagai bagian dari strategi peningkatan kualitas layanan dan profesionalisme pelaku wisata.<\/p>\n<p><strong>Tantangan Daya Dukung dan Arah Baru Pariwisata Berkelanjutan Bandung Barat<\/strong><\/p>\n<p>Di balik pertumbuhan kunjungan dan kontribusi ekonomi yang signifikan, sektor pariwisata Kabupaten Bandung Barat menghadapi tantangan serius terkait daya dukung lingkungan dan ketimpangan infrastruktur. Konsentrasi wisatawan di destinasi alam unggulan berpotensi menimbulkan tekanan ekologis, mulai dari degradasi lingkungan, persoalan sampah, hingga penurunan kualitas pengalaman wisata apabila tidak dikelola secara berkelanjutan.<\/p>\n<p>Dari sisi aksesibilitas, hasil wawancara menunjukkan bahwa jaringan jalan menuju destinasi utama relatif memadai dan mudah dijangkau dari Kota Bandung. Namun, beberapa wilayah selatan dan barat KBB masih memerlukan peningkatan kualitas jalan dan transportasi publik agar memenuhi standar pariwisata. Ketimpangan fasilitas pendukung antar destinasi juga masih terlihat, di mana destinasi besar memiliki fasilitas lengkap, sementara destinasi skala kecil membutuhkan peningkatan sarana dasar demi menjamin kenyamanan dan keamanan wisatawan.<\/p>\n<p>Dalam konteks evaluasi kinerja, indikator keberhasilan pariwisata KBB tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan, tetapi juga dari kontribusi terhadap PAD dan tingkat kolaborasi lintas sektor. Narasumber menekankan langkah yang perlu diambil untuk menjadikan pariwisata Kabupaten Bandung Barat lebih berkelanjutan adalah pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas lokal, serta penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan yang memperhatikan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi secara seimbang.<\/p>\n<p>Ke depan, arah pembangunan pariwisata Bandung Barat perlu bergeser dari paradigma kuantitas menuju kualitas. Pengendalian daya dukung destinasi, penguatan wisata berbasis budaya dan masyarakat, serta edukasi wisatawan mengenai pariwisata berkelanjutan menjadi agenda strategis. Dengan pendekatan ini, pariwisata diharapkan tidak hanya meningkatkan daya saing daerah, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan dan mewujudkan keadilan pembangunan antar wilayah.<\/p>\n<p>Secara keseluruhan, pariwisata Kabupaten Bandung Barat berada di persimpangan antara peluang ekonomi yang besar dan tantangan keberlanjutan yang kompleks. Data statistik dan hasil wawancara menunjukkan bahwa sektor ini memiliki potensi kuat sebagai pilar pembangunan daerah, asalkan dikelola secara terencana, inklusif, dan berorientasi jangka panjang. Dengan demikian, pariwisata tidak hanya menjadi mesin pertumbuhan ekonomi, tetapi juga instrumen pembangunan berkelanjutan yang berpihak pada lingkungan dan masyarakat lokal.<\/p>\n<p><strong>Ekonomi Kreatif sebagai Pencipta Nilai Tambah dan Penopang Daya Saing Pariwisata Bandung Barat<\/strong><\/p>\n<p>Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus menunjukkan kinerja positif sektor pariwisata yang ditopang kuat oleh perkembangan ekonomi kreatif. Dalam beberapa tahun terakhir, kolaborasi antara pariwisata dan sektor ekonomi kreatif terbukti mampu meningkatkan daya tarik destinasi, memperkuat citra daerah, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan.<\/p>\n<p>Penguatan peran ekonomi kreatif dalam menopang pariwisata Kabupaten Bandung Barat juga tercermin dari struktur dan sebaran subsektor ekonomi kreatif yang berkembang secara signifikan. Berdasarkan data resmi subsektor ekonomi kreatif Kabupaten Bandung Barat tahun 2020\u20132024, sektor kuliner, kriya, seni pertunjukan, musik, fotografi, dan fesyen tercatat sebagai subsektor dengan jumlah pelaku terbesar, menunjukkan karakter ekonomi kreatif yang berbasis budaya, pengalaman, dan aktivitas wisata. Pada tahun 2024, subsektor kuliner menempati posisi dominan dengan ratusan pelaku usaha, disusul oleh seni pertunjukan dan kriya yang secara langsung berkontribusi pada atraksi wisata dan event berbasis komunitas. Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Kabupaten Bandung Barat, Edo Endrawan, S.Sos, menyampaikan bahwa keterlibatan pelaku kreatif lokal tidak hanya menambah nilai estetika destinasi, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan masyarakat. Melalui berbagai kegiatan seperti festival seni, bazar UMKM, dan pameran produk kreatif, masyarakat dilibatkan secara langsung dalam pengembangan pariwisata daerah. Perkembangan subsektor ekonomi kreatif menjadi penyangga utama penciptaan lapangan kerja sekaligus penguat daya tarik wisata berbasis pengalaman lokal.<\/p>\n<figure id=\"attachment_21850\" aria-describedby=\"caption-attachment-21850\" style=\"width: 922px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar2-18.jpg\" alt=\"\" width=\"922\" height=\"683\" class=\"size-full wp-image-21850\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar2-18.jpg 922w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar2-18-300x222.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar2-18-768x569.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar2-18-750x556.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 922px) 100vw, 922px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-21850\" class=\"wp-caption-text\">Showcase toko offline JabArt Store di Ikea KBB sebagai wadah pelaku EKRAF di Jawa Barat untuk menjual dan mempromosikan produk dan budaya. (Instagram @jabartstore)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Salah satu contoh nyata kontribusi ekraf terlihat pada penyelenggaraan bazar di kawasan strategis seperti IKEA pada 2024. Kegiatan ini menjadi etalase produk kreatif lokal sekaligus media promosi budaya KBB kepada wisatawan. Inisiatif serupa dinilai efektif dalam meningkatkan eksposur daerah dan memperkenalkan keunikan lokal kepada pasar yang lebih luas.<\/p>\n<p>Dari sisi kunjungan wisatawan, kinerja sektor pariwisata KBB menunjukkan tren yang menggembirakan. Data kunjungan tahun 2025 mencatat sejumlah destinasi unggulan mengalami lonjakan pengunjung. Dusun Bambu, misalnya, menarik lebih dari 70 ribu wisatawan, sementara Floating Market Lembang mencatat lebih dari 115 ribu kunjungan. Tingginya angka ini mencerminkan daya tarik destinasi yang tidak hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga didukung oleh sentuhan kreativitas, kuliner khas, dan atraksi budaya.<\/p>\n<p>Selain meningkatkan kunjungan, sektor ekonomi kreatif juga berkontribusi signifikan terhadap penguatan branding destinasi wisata KBB. Produk-produk khas daerah, seperti kerajinan tangan dan kuliner lokal, menjadi identitas yang membedakan KBB dari daerah lain. Pemerintah daerah pun aktif memanfaatkan media sosial, konten visual, fotografi dan video promosi bersertifikasi untuk memperluas jangkauan promosi hingga ke tingkat nasional dan global.<\/p>\n<p>Meski demikian, tantangan masih dihadapi, terutama terkait pengelolaan dan koordinasi antar pemangku kepentingan. Kurangnya sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas kreatif dinilai dapat menghambat pengembangan yang lebih terstruktur. Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat terus mendorong pelatihan tersertifikasi dan peningkatan kualitas produk serta layanan agar mampu memenuhi standar pariwisata yang lebih kompetitif.<\/p>\n<p>Artikel ini disusun sebagai bagian dari mata kuliah Pariwisata dalam Perekonomian Global pada Program Studi Magister Parwisata, Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, di bawah pembinaan Caria Ningsih, PhD dan Dr. Erry Sukriah. Tulisan ini merefleksikan proses pembelajaran di kelas yang dikontekstualisasikan dengan realitas pariwisata daerah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Authors 1. Hanifah Purwa Rahayu 2. Alfadiya Rizki Oksavira Peran Kinerja Sektor Pariwisata dalam Mengembangkan Daya Tarik Wisata di Kabupaten Bandung Barat Pariwisata Kabupaten Bandung Barat di Persimpangan Pertumbuhan dan Keberlanjutan Sektor pariwisata telah terbukti menjadi salah satu mesin utama penggerak ekonomi Kabupaten Bandung Barat (KBB). Berdasarkan realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun 2024, sektor [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":21849,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-21848","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21848","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21848"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21848\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21849"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21848"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21848"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21848"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}