{"id":21783,"date":"2025-12-15T20:22:46","date_gmt":"2025-12-15T12:22:46","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=21783"},"modified":"2025-12-15T20:22:46","modified_gmt":"2025-12-15T12:22:46","slug":"klik-chat-sembuh-budaya-berobat-digital-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/klik-chat-sembuh-budaya-berobat-digital-di-indonesia\/21783\/","title":{"rendered":"Klik, Chat, Sembuh: Budaya Berobat Digital di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><strong>Lonjakan Pengguna Aplikasi Telemedicine Halodoc<\/strong><br \/>\nKesehatan merupakan kebutuhan mendasar yang sangat penting bagi setiap individu. Namun, masyarakat seringkali menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan waktu, jarak, serta kondisi khusus yang semakin terasa pada masa pandemi COVID-19 (Rahmasari et al., 2023). Dalam konteks tersebut, penerapan telemedicine hadir sebagai solusi dengan memungkinkan pasien memperoleh layanan konsultasi, diagnosis, hingga perawatan tanpa harus bertatap muka langsung dengan tenaga medis. Selain meningkatkan kemudahan akses, telemedicine juga berkontribusi dalam menekan pembiayaan kesehatan yang perlu dikeluarkan oleh pengguna\/pasien. Pemerintah Indonesia pun turut mendukung implementasi layanan ini melalui penerbitan regulasi, salah satunya dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 20 Tahun 2019 yang mengatur pelaksanaan telemedicine antar fasilitas pelayanan kesehatan (Sidabutar &#038; Juardi, 2025; Candra et al., 2024). Perkembangan telemedicine di Indonesia ditandai dengan lonjakan jumlah pengguna aplikasi yang signifikan, dari 4 juta pengguna sebelum pandemi COVID-19 menjadi 15 juta pengguna setelah pandemi (Rahmasari et al., 2023).<\/p>\n<p>Didirikan pada tahun 2016, Halodoc muncul sebagai salah satu platform telemedicine terpopuler di Indonesia, dengan tujuan menyediakan akses layanan kesehatan yang mudah dan terintegrasi bagi masyarakat. Fitur-fitur ini meliputi konsultasi daring 24 jam dengan dokter, pembelian obat, serta pemesanan jadwal layanan rumah sakit. Halodoc tercatat sebagai layanan telemedicine yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia, dengan pangsa pasar mencapai 46,5% (Dewi et al., 2023). Kehadiran Halodoc ini menjadi jawaban atas berbagai tantangan akses layanan kesehatan, khususnya pada masa pandemi COVID-19, ketika jumlah pengguna aplikasi ini meningkat hingga 600% dibandingkan periode sebelum pandemi (Candra et al., 2024). Selain itu, total pengguna aktif bulanan Halodoc tercatat mencapai 20 juta orang, yang semakin menguatkan posisinya sebagai ekosistem layanan kesehatan digital yang terpadu.<\/p>\n<p><strong>Telemedicine, Apa Sih?<\/strong><br \/>\nTelemedicine merupakan suatu bentuk inovasi di bidang kesehatan yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk menyediakan layanan medis dari jarak jauh. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), telemedicine didefinisikan sebagai praktik penyediaan layanan kesehatan yang mengutamakan jarak, dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk bertukar informasi yang valid guna keperluan diagnosis, pengobatan, pencegahan penyakit dan cedera, penelitian, evaluasi, serta pendidikan berkelanjutan bagi penyedia layanan kesehatan guna meningkatkan kesehatan masyarakat (Noviyanti &#038; Antawati, 2024). Telemedicine menghubungkan pasien dengan tenaga medis tanpa mengharuskan keduanya berada di lokasi yang sama secara fisik. Layanan ini mencakup berbagai aktivitas, seperti konsultasi medis, diagnosis, terapi, pemantauan pasien, dan bahkan edukasi kesehatan, yang semuanya dilakukan secara virtual (Laksono, 2022). Bentuk komunikasi yang digunakan dapat bervariasi, mulai dari panggilan telepon, konferensi video, hingga aplikasi pesan instan yang dirancang khusus (Sitanggang et al., 2024). Kehadirannya merepresentasikan sebuah transformasi dalam budaya berobat, dari yang sebelumnya sangat bergantung pada kunjungan fisik, menjadi lebih fleksibel, mudah diakses, dan efisien berkat dukungan teknologi digital.<\/p>\n<p><strong>Konstruksi Sosial Masyarakat Indonesia Terhadap Telemedicine<\/strong><br \/>\nDari tadi kita sudah melihat bagaimana teknologi ini membawa perubahan yang besar dan signifikan menurut dunia medis. Namun, bagaimana menurut masyarakat Indonesia?. Dengan menggunakan teori konstruksionisme sosial (Berger &#038; Luckmann), kita bisa melihat realitas sosial dari telemedicine yang ada di tengah masyarakat melalui interaksi, pengalaman, serta bahasa yang dikaitkan dengan teknologi ini. Kita bisa melihat bagaimana masyarakat memandang Halodoc sebagai tolak ukur realitas sosial dari telemedicine karena aplikasi tersebut merupakan platform telemedicine paling populer di Indonesia, dengan persentase penggunaannya mencapai 46,5%.<\/p>\n<p>1.\tKecepatan dan Kemudahan<br \/>\nBanyak pengguna Halodoc merasa aplikasi ini sangat membantu karena membuat penggunanya bisa menghemat waktu dan biaya transportasi. Rahmasari (2023) menemukan bahwa warga di Kampung Pemulung dan sekitar UPN Jakarta, misalnya, merasakan proses mendapatkan layanan kesehatan jadi jauh lebih cepat. Singkatnya, Halodoc dinilai mudah diakses, praktis, dan bisa dipakai kapan saja dari mana saja. Kemudahan inilah yang membuat orang semakin memaknai telemedicine sebagai sebuah alternatif yang nyaman dalam memenuhi pelayanan kesehatan digital, salah satunya adalah Halodoc.<\/p>\n<p>2.\tKualitas Layanan yang Memuaskan dan Fitur yang Lengkap<br \/>\nDi samping pelayanan yang cepat, Halodoc juga punya keberagaman yang berisikan fitur-fitur berkualitas baik yang ditawarkan. Dari sini, tercermin juga bahwa adanya pemahaman mendalam terhadap kebutuhan pengguna. Bahkan, Sidabutar (2025) menemukan bahwa dari 5.000 ulasan pengguna aplikasi Halodoc di Google Play Store, kata-kata yang paling dominan digunakan adalah &#8220;dokter,&#8221; &#8220;konsultasi,&#8221; &#8220;bantu,&#8221; &#8220;cepat,&#8221; dan &#8220;obat&#8221;. Dari sini, jelas terlihat bahwa masyarakat mengandalkan aplikasi Halodoc untuk kebutuhan kesehatan mereka.<\/p>\n<p>3.\tMenciptakan Rasa Aman, Nyaman, dan \u201cRamah\u201d<\/p>\n<p>Kini Halodoc benar-benar menjadi klinik digital yang praktis dan bisa diandalkan. Platform ini berhasil menjembatani kesenjangan pelayanan kesehatan di Indonesia lewat layanan yang cepat, tepat, dan strategi pemasaran yang membuat penggunanya merasa dihargai. Dengan akurasi analisis sentimen pengguna yang mencapai 80,78%, jelas terlihat bahwa sebagian besar ulasan bernada positif. Bahkan, ada studi yang menunjukkan skor kepuasan 100% pada aspek kemudahan penggunaan. Dari sini terlihat bahwa Halodoc mampu memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat di zaman serba digital ini.<\/p>\n<p>Dari sini, kita bisa melihat bahwa masyarakat mengkonstruksikan telemedicine seperti Halodoc sebagai layanan kesehatan cepat dan mudah yang dapat dipercaya dan diandalkan untuk membantu memenuhi kebutuhan kesehatan mereka. Konstruksi ini terbentuk dari munculnya teknologi layanan digital, termasuk aplikasi layanan kesehatan (eksternalisasi) yang kemudian mulai digunakan dan terbukti kehandalannya oleh masyarakat (objektivasi), sehingga  penggunaannya menjadi praktik normal yang dilakukan sehari-hari oleh mereka (internalisasi). Makna ini tidak melekat pada teknologinya sendiri, tetapi lahir dari pengalaman pengguna, testimoni, kebijakan, dan interaksi sosial yang terus-menerus. Penggunaan layanan kesehatan digital telemedicine menjadi realitas sosial baru yang dianggap wajar, efisien, dan sah dalam budaya berobat di Indonesia.<\/p>\n<p><strong>Menurut Kamu Gimana?<\/strong><br \/>\nTelemedicine memang memudahkan akses terhadap berbagai layanan medis seperti konsultasi dokter, pemesanan obat, edukasi kesehatan, dan lain-lain. Namun, risiko privasi dan penyalahgunaan data juga bisa menjadi kekhawatiran yang valid dalam pertimbangan menggunakan teknologi ini. Pada akhirnya, layanan medis melalui aplikasi telemedicine maupun secara langsung di rumah sakit memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing yang patut dipertimbangkan. Nah, menurutmu sendiri bagaimana? Apakah layanan telemedicine ini worth it untuk digunakan?<\/p>\n<p>Penulis:<br \/>\n<strong>Aliyyah Fadhilah<br \/>\nFadia Ramadhanti<br \/>\nFinley Abraham Han<br \/>\nLudwig Alden<\/strong><\/p>\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA <\/strong><br \/>\nAidha, Z., Azzahra, D. V., Fahzirah, R., Silangit, N., Apriansyah, B. H., Difhanny, C. N., &#038; Aliyyah, A. F. (2024). Strategi promosi kesehatan melalui komunikasi digital (Studi @Halodoc di Instagram). El-Mujtama: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 4(2), 582\u2013594. https:\/\/doi.org\/10.47467\/elmujtama.v4i2.464<br \/>\nAlexandra, S., Handayani, P. W., &#038; Azzahro, F. (2021). Indonesian hospital telemedicine acceptance model: The influence of user behavior and technological dimensions. Heliyon, 7(8), e08599. https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.heliyon.2021.e08599<br \/>\nAzizahi, A. H., Ulum, M. B., &#038; Sandfreni. (2023). Model analisis perilaku pengguna terhadap teknologi telemedicine di Indonesia. Sebatik, 27 (1), 231-238. https:\/\/doi.org\/10.46984\/sebatik.v27i1.2156<br \/>\nCandra, M., Shasmita, S., Chandra, E., Matheus, J., &#038; Gunadi, A. (2024). Pengembangan sistem telemedicine: Upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat di bidang kesehatan pada Era Society 5.0. Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni, 8(2), 294-303. https:\/\/doi.org\/10.24912\/jmishumsen.v8i2.29519.2024<br \/>\nChandra, W., Ilhami, M., Ariwibowo, S., Riche, &#038; Napitupulu, S. (2024). Studi pengalaman pengguna pada aplikasi telemedicine Halodoc: Temuan dan rekomendasi. SATESI: Jurnal Sains Teknologi dan Sistem Informasi, 4(2), 193-199. https:\/\/doi.org\/10.54259\/satesi.v4i2.3312<br \/>\nDewi, A. M., Sugiarni, E., Utaminingsih, E., &#038; Dinda. (2022). Analisis kepuasan pengguna aplikasi Halodoc menggunakan model End User Computing Satisfaction (EUCS) dan Computer Self Efficacy (CSE). Jurnal Kesehatan, Teknologi, dan Sains, 1(2), 180\u2013189.<br \/>\nFransiska, C. &#038; Bernanto, I. (2021). Pengaruh kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan dan keberlanjutan penggunaan pada pengguna aplikasi kesehatan. Jurnal Administrasi Bisnis (JAB), 11(2), 132-142.<br \/>\nHasifah, H., Maliga, I., Lestari, A., &#038; Hamdin. (2024). Case study on the implementation of telemedicine in health administration at Lopok Health Center: Challenges and opportunities. Jurnal EduHealth, 15(3), 597-602. Retrieved from https:\/\/ejournal.seaninstitute.or.id\/index.php\/healt\/article\/view\/4911<br \/>\nJawahir, M., Yuliastuti, H., &#038; Hubeis, M. A. (2022). Chatbot pada aplikasi kesehatan terhadap kepuasan konsumen (Studi kasus penggunaan aplikasi Halodoc selama pandemic Covid-19). Jurnal Kewarganegaraan, 6(3), 104\u2013121.<br \/>\nKompas.com. (2021, 6 Juli). Apa itu telemedicine? Berikut cara dapat konsultasi dan obat gratis. https:\/\/www.kompas.com\/tren\/read\/2021\/07\/06\/193000265\/apa-itu-telemedicine-berikut-cara-dapat-konsultasi-dan-obat-gratis<br \/>\nKompas.id. (n.d.). Halodoc: Layanan telemedik meningkat selama pandemi. https:\/\/www.kompas.id\/artikel\/halodoc-layanan-telemedik-meningkat-selama-pandemi<br \/>\nKhairunnisa, C., Muqsith, A., Fardian, N., Debbyousha, M., &#038; Shabrina, S. (2025). Telemedicine: Between opportunities, expectations, and challenges in health development in remote areas of Indonesia. International Journal of Law, Social Science and Humanities (IJLSH), 2(2), 286\u2013294. https:\/\/doi.org\/10.70193\/ijlsh.v2i2.258<br \/>\nLaksono, S. (2022). Kesehatan digital dan disrupsi digital pada layanan kesehatan di rumah sakit. Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia: JKKI, 11(1), 36\u201342.ws<br \/>\nNoviyanti, Y., &#038; Antawati, D. I. (2025). The use of telemedicine in Indonesia: A systematic literature review. Proceeding International Symposium on Global Education, Psychology, and Cultural Synergy, 1(1). https:\/\/doi.org\/10.30651\/psychoseries.v1i1.25247<br \/>\nNurhaida, H., Pramudita, E., &#038; Achmadi, H. (2024). Faktor yang mempengaruhi niat penggunaan (intention to use) layanan telekonsultasi aplikasi Halodoc pada masyarakat Indonesia. Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia, 12(1), 14-24.<br \/>\nPrasanti, D. (2017). Potret media informasi kesehatan bagi masyarakat urban di era digital. IPTEK-KOM, 19(2), 149\u2013162.<br \/>\nPrasetyo, J. H., Winarti, C. E., Cahaya, Y. F., &#038; Markonah, M. (2023). Factor analysis of online repurchase intention on telemedicine services. Enrichment: Journal of Management, 13(3), 1893-1902. https:\/\/doi.org\/10.35335\/enrichment.v13i3.1548<br \/>\nRahmasari, F. F., Wigati, P. A., &#038; Budiyanti, R. T. (2023). Analisis pengaruh keputusan penggunaan telemedicine Halodoc di Kota Bogor. Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia, 11(2), 190-202. https:\/\/doi.org\/10.14710\/jmki.11.2.2023.190-202<br \/>\nSari, G. G., &#038; Wirman, W. (2021). Telemedicine sebagai media konsultasi kesehatan di masa pandemic COVID 19 di Indonesia. Jurnal Komunikasi, 15(1), 43\u201354. https:\/\/doi.org\/10.21107\/ilkom.v15i1.10181<br \/>\nSidabutar, T. G. W. M., &#038; Juardi, D. (2025). Analisis sentimen masyarakat terhadap penggunaan Halodoc sebagai layanan telemedicine di Indonesia. Jurnal Informatika Dan Teknik Elektro Terapan, 13(1). https:\/\/doi.org\/10.23960\/jitet.v13i1.5682<br \/>\nSilvalena, &#038; Syakurah, R. A. (2022). Pemanfaatan dan persepsi telemedicine di Indonesia: Pandangan penyedia layanan kesehatan. Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas, 16(1), 38\u201345.<br \/>\nSirojjudin, A. &#038; Irwansyah. (2020). Interpretative flexibility and social construction on the use of mobile health applications (Case study on Halodoc). JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN OPINI PUBLIK, 24(2), 139\u2013154. https:\/\/doi.org\/10.33299\/JPKOP.24.2.3308<br \/>\nSitanggang, A. S., Imanuel, R. G., Rapa\u2019, N. I., Shandie, W., &#038; Halim, I. J. (2024). Telemedicine: Revolusi akses dan efisiensi pelayanan kesehatan di era digital. Nusantara Journal of Multidisciplinary Science, 2(1), 12\u201318. Retrieved from https:\/\/jurnal.intekom.id\/index.php\/njms\/article\/view\/629<br \/>\nSuryani, I., Setyawan, D., &#038; Budiadi, N. A. (2021). Peningkatan kepuasan sebagai pendorong niat untuk dilanjutkan penggunaan aplikasi Halodoc. Seminar Nasional &#038; Call For Paper HUBISINTEK 2021, 1166\u20131174.<br \/>\nTaha, A. R., Shehadeh, M., Alshehhi, A., Altamimi, T., Housser, E., Simsekler, M. C. E., Alfalasi, B., Al Memari, S., Al Hosani, F., Al Zaabi, Y., Almazroui, S., Alhashemi, H., &#038; Alhajri, N. (2022). The integration of mHealth technologies in telemedicine during the COVID-19 era: A cross-sectional study. PloS one, 17(2), e0264436. https:\/\/doi.org\/10.1371\/journal.pone.0264436<br \/>\nZahra, F., Alisa, L., Shalsabila, N., Nurdilla, N., Melinda, S., &#038; Hayatli, M. E. (2025). Studi literatur: Penggunaan aplikasi Halodoc dalam meningkatkan kualitas pemeriksaan kesehatan di Indonesia. Jurnal Kesehatan Masyarakat Celebes, 6(1), 24\u201339.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lonjakan Pengguna Aplikasi Telemedicine Halodoc Kesehatan merupakan kebutuhan mendasar yang sangat penting bagi setiap individu. Namun, masyarakat seringkali menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan waktu, jarak, serta kondisi khusus yang semakin terasa pada masa pandemi COVID-19 (Rahmasari et al., 2023). Dalam konteks tersebut, penerapan telemedicine hadir sebagai solusi dengan memungkinkan pasien memperoleh layanan konsultasi, diagnosis, hingga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-21783","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21783","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21783"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21783\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21783"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21783"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21783"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}