{"id":21666,"date":"2025-12-14T00:20:18","date_gmt":"2025-12-13T16:20:18","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=21666"},"modified":"2025-12-14T19:01:51","modified_gmt":"2025-12-14T11:01:51","slug":"flexing-cara-k-pop-fans-cari-pengakuan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/flexing-cara-k-pop-fans-cari-pengakuan\/21666\/","title":{"rendered":"Flexing: Cara K-Pop Fans Cari Pengakuan"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-21667\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-13-at-5.21.53-PM.jpeg\" alt=\"\" width=\"736\" height=\"981\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-13-at-5.21.53-PM.jpeg 736w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-13-at-5.21.53-PM-225x300.jpeg 225w\" sizes=\"(max-width: 736px) 100vw, 736px\" \/><\/p>\n<div align=\"justify\"><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Di era digital saat ini, istilah &#8220;flexing&#8221; dan tren musik K-Pop menjadi dua fenomena yang sangat menarik minat banyak orang, terutama generasi muda. Bayangkan ketika seorang remaja yang mengunggah video dirinya membuka sebuah kotak. Kotak ini bukan barang biasa, melainkan berisi lighstick edisi terbatas dari grup K-Pop favoritnya. Dalam waktu singkat, ratusan tanggapan muncul: \u201cWow, beruntung banget!\u201d, \u201cAku iri deh\u201d. Dia pun tersenyum bahagia setelah melakukan flexing.<\/p>\n<p>Flexing sendiri adalah istilah umum yang menggambarkan tindakan promosi diri yang berlebihan saat seseorang memamerkan sesuatu. Misalnya, kebiasaan sering memposting materi setelah membeli barang baru, kebiasaan sering membagikan prestasi di media sosial, atau kebiasaan membagikan banyak foto liburan secara berkala. Flexing memiliki kecenderungan pada kegiatan seseorang yang pamer tentang harta, pencapaian, dan berbagai hal lainnya kepada orang lain (Arsyad, 2022; Murjana &amp; Sinarwati, 2022).<\/p>\n<p>Menurut (Baran, 2011) dalam (Kasuda &amp; Mahendra, 2024) dalam kehidupan sosial, menampilkan diri atau membedakan diri dari lingkungan sekitar untuk mencari perhatian sudah biasa dilakukan dan telah berlangsung lama. Namun, beberapa tahun belakangan ini, aktivitas tersebut dilakukan melalui aplikasi media berbasis online sehingga orang dapat memposting apa saja tentang kehidupan mereka id akun media sosial mereka. Flexing sendiri tidak hanya terkait dengan memamerkan benda atau sesuatu yang mahal, tetapi lebih dari itu, semua hal atau postingan yang bertujuan untuk menampilkan diri dan diakui keberadaannya oleh lingkungan sosial.<\/p>\n<p>Misalkan ada seorang fans mengunggah video membuka merchandise dan dengan penuh kebanggaan menyatakan bahwa koleksinya sekarang sudah lengkap untuk semua versi album yang dirilis. Ini adalah flexing kelengkapan dan konsistensi sebagai fans sejati, yang diharapkan mendapat pengakuan dari followers-nya.<\/p>\n<p>Gelombang Korea atau Korean Wave saat ini sudah bukan lagi sesuatu yang asing di Indonesia. Penyebarannya bukan hanya melalui tayangan drama-dramanya (K-Drama) saja tetapi juga melalui musik yang dikenal dengan sebutan Korean-Pop (K-Pop). Industri musik Korea mampu memasuki pasar musik dunia, maka dari itu budaya K-Pop tak hanya dikenal secara lokal tetapi sudah secara global. Demam K-pop sudah mulai memasuki negara kita Indonesia dari sejak tahun 2005 hingga sekarang, hal inilah yang menjadi salah satu faktor menjamurnya penggemar K-Pop di Indonesia. Tak hanya muda-mudi saja yang gemar, tetapi rentang umur dewasa hingga tua pun ada yang menyukai K-Pop (Kasuda &amp; Mahendra, 2024).<\/p>\n<p>Berdasarkan (KBS editor, 2011) dalam (Collins et al., 2021) Globalisasi dan kemajuan teknologi menjadi factor pendukung untuk terjadinya pertukaran informasi dan budaya dari negara-negara yang berbeda. Korea Selatan merupakan negara yang oeduli dengan arus globalisasi dan pemanfaatan kemajuan teknologi untuk menyebarkan budaya Korea atau yang sekarang ini sering disebut sebagai Korean Wave. Korean Wave yang mendunia ini, sangat berdampak pada kehidupan Masyarakat dunia, imana dampak ini dapat terlihat dari penggunaan Bahasa, gaya berpakaian, makanan, gaya hidup, juga music.<\/p>\n<p>Menurut (Nugraini, 2016) dalam (Collins et al., 2021) menyebarnya budaya Korea terurama di bidang musik, sering disebut dengan fenomena K-pop yang juga digemari oleh masyarakat Indonesia. Istilah K-Pop secara luas digunakan untuk menjelaskan aliran-aliran musik gabungan dari genre-genre musik yang ada. K-pop identik dengan sekelompok perempuan atau laki-laki yang berada di bawah nauangan suatu manajemen, yang biasanya disebut dengan sebutan boyband atau girlband. 2NE1, EXO, GOT7,Girl\u2019s Generations adalah beberapa nama boyband dan girlband Korea yang terkenal di Asia dan Eropa.<\/p>\n<p>(KBS editor, 2011) dalam (Collins et al., 2021) menyatakan dampak dari adanya budaya K-Pop yang merambah di berbagai belahan dunia, memunculkan adanya penggemar K-Pop dengan jumlah yang tidak sedikit, menurut survey yang dilakukan pada tahun 2011 oleh salah satu stasiun televisi terkemuka di Korea Selatan yaitu KBS, menyatakan bahwa fans K-Pop di negara Asia memiliki 84 klub penggemar dengan 23,1 juta anggota di delapan kawasan Asia, ada 25 klub penggemar dengan 500.000 penggemar di 4 wilayah Amerika, sementara 70 klub penggemar yang hadir di 7 wilayah Eropa dengan 460.000 anggota.<\/p>\n<p>Berdasarkan data Chartmetric, pada tahun 2024 Indonesia merupakan konsumen musik K-Pop terbesar di dunia, 18,47% pangsa pasar musik K-Pop ada di Indonesia. Amerika Serikat menyusul di peringkat kedua dengan pangsa pasar sebesar 10,24%. Dari laporan yang dirilis oleh MCST melalui siaran pers pada tahun 2024, Indonesia menempati posisi pertama sebagai negara dengan tingkat ketertarikan tertinggi terhadap Korea, mencapai 86,3% (Alfathi, 2025).<\/p>\n<p>K-Pop sendiri bukan hanya tentang musik, namun juga tentang gaya hidup, identitas sosial, dan untuk sebagian orang, sebagai ajang untuk menunjukkan status mereka, Serta upaya untuk memenuhi kebutuhan penghargaan dan pengakuan bagi para penggemar K-Pop. Bisa dilihat dari harga tiket konser K-Pop yang berlapis. Mulai dari standing, seated, VIP, VVIP, hingga soundcheck, menciptakan hierarki di antara fans. Semakin mahal tiket yang dibeli, semakin \u201cdekat\u201d dengan idola, serta semakin tinggi status di mata fans lain.. Posting tiket VVIP merupakan puncak dari flexing seorang fans K-Pop.<\/p>\n<p>Ketika kita membicarakan tentang flexing dan K-Pop, kita bisa melihat hubungan yang menarik antara konsumsi budaya dan ekspresi sosial. Idola K-Pop sendiri sering menjadi objek flexing bagi penggemar atau bahkan masyarakat luas. Misalnya, penggemar K-Pop sering mem-flexing dukungan mereka pada grup atau idola favorit mereka dengan membeli merchandise resmi, mengikuti konser, memakai gaya fashion yang identik, dan memamerkan koleksi album.<\/p>\n<p>Selain itu, banyak juga idola K-Pop yang secara tidak langsung membagikan gaya hidup mewah mereka, Seperti menggunakan produk produk mahal, mobil mewah, atau menginap di hotel bintang lima, yang kemudian diikuti oleh para penggemar mereka sebagai bentuk flexing.<\/p>\n<p>Media sosial sendiri menjadi platform utama yang digunakan untuk flexing yang berhubungan dengan K-Pop, baik dari sisi idola ataupun penggemar. Misalnya, saat penggemar menunjukkan koleksi lighstick resmi, poster, dan foto-foto yang berlatar konser, itu dapat dilihat sebagai bentuk kebanggaan dan flexing.<\/p>\n<p>Abraham Maslow adalah tokoh terkemuka dalam psikologi yang mengembangkan teori kebutuhan dasar. Teori Maslow menggambarkan hierarki kebutuhan manusia yang meliputi kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri (Maslow, 2019) dalam (Sari et al., 2023). Dalam kerangka kerja hierarki kebutuhan Abraham Maslow, perilaku flexing mungkin terkait dengan tingkat kebutuhan penghargaan diri. Melalui perilaku ini, individu mencari pengakuan dari orang lain sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan akan penghargaan diri mereka (Sari et al., 2023).<\/p>\n<p>Misalnya, ketika sebuah grup K-Pop merilis lighstick resmi dalam jumlah terbatas, pre-order bisa habis dalam hitungan jam. Fans yang tidak kebagian mungkin rela membeli dari reseller dengan harga 2-3 kali lipat dari harga asli. Sedangkan mereka yang berhasil mendapatkan barang limited edision tersebut kemudian akan memposting unboxing video di media sosial dan mendapatkan pujian \u201cYou\u2019re so lucky\u201d dari ratusan bahkan ribuan akun lain.<\/p>\n<p>Menurut psikolog klinis Maria Fionna Callista, flexing tidak selalu salah, tergantung pada konteks dan niat di baliknya. Ia menilai, flexing memiliki sisi positif sekaligus negatif, tergantung dari motivasi dan cara seseorang melakukannya. Beliau juga menekankan bahwa flexing tidak selalu bernilai buruk. Dalam banyak kasus, flexing justru menjadi bentuk apresiasi diri atas usaha dan kerja keras yang sudah dilakukan. Beliau mengatakan, \u201cDari flexing, seseorang mungkin saja merasa mendapatkan rasa kepercayaan dirinya kembali, mendapat rasa bangga yang dia tidak dapatkan dari diri sendiri, sehingga mencari validasi dari pihak eksternal,\u201d. Meski punya sisi positif, beliau mengingatkan, flexing bisa berubah arah ketika dilakukan berlebihan. Apalagi jika tujuan utamanya hanya ingin terlihat lebih unggul disbanding orang lain (Pattricia, 2025).<\/p>\n<p>Dalam penelitian yang melibatkan 3 mahasiswi oleh Hesti Firza Yuniar (2022), menunjukkan bahwa perilaku flexing berkaitan dengan komponen kognitif (pengetahuan dan sikap), afektif (kesenangan mendapatkan produk atau pujian di media sosial), dan variabel kepribadian yang tidak realistis terhadap efek eksternal. Flexing menimbulkan kecanduan dalam memamerkan diri demi mendapat pengakuan sosial, namun berisiko menyebabkan konsumtif berlebihan, utang, dan kurangnya empati pada orang lain. Fenomena ini umum di kalangan mahasiswa dan terkait erat dengan transformasi sosial media sebagai ruang ekspresi dan kompetisi sosial (Yuniar &amp; Santi, 2022).<\/p>\n<p>Flexing dan K-Pop juga memiliki dampak tersendiri, baik dari sisi sosial ataupun psikologis. Di sisi positif, keduanya membantu membangun komunitas yang suportif, meningkatkan rasa percaya diri, dan memperluas wawasan melalui interaksi budaya lintas negara. Namun, mereka bisa juga memicu tekanan sosial, seperti harus memiliki barang terbaru, membandingkan diri dengan idola, atau merasa kurang jika tidak bisa memenuhi standar gaya hidup yang dipamerkan. Selain itu, konsumsi berlebihan dan obsesi terhadap citra bisa mengganggu kesejahteraan mental, terutama bagi remaja yang sedang mencari jati diri.<\/p>\n<p>Flexing dan K-Pop adalah dua fenomena yang saling terkait di masyarakat modern. Melalui K-Pop, cara berekspresi dan flexing berubah dari sekadar pamer barang menjadi ekspresi identitas dan komunitas. Misalnnya, daripada hanya memamerkan tiket konser VVIP, seorang fans membuat thread Twitter barisi panduan lengkap untuk fans yang pertama kali ingin menonton konser, termasuk tips mengantre, perlengkapan yang perlu dibawa, dan cara berinteraksi dengan fans lain. Dari flexing pengalaman berubah menjadi kontribusi berharga untuk kommunitas, serta menciptakan lingkungan yang suportif.<\/p>\n<p>Untuk menikmati tren ini secara positif, penting agar penggemar dan masyarakat memahami risiko konsumtif dan tekanan sosial yang menyertainya, serta membuat pilihan sadar yang menjaga kesejahteraan mental dan finansial. Seperti hanya membeli 1 versi album, atau lebih aktif membuat konten kreatif daripada memamerkan merchandise mahal. Dengan begitu, flexing dan kecintaan pada K-Pop bisa menjadi kekuatan kreatif dan sosial yang sehat.<\/p>\n<p>Jadi, flex dengan bijak. Atau lebih baik lagi, nikmati K-Pop dengan hati, bukan untuk pamer, tapi untuk kebahagiaan sejati yang tidak perlu divalidasi oleh siapa pun (Maria Fionna Callista).<\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong><br \/>\nAlfathi, B. (2025). Indonesia Jadi Konsumen Terbesar K-Pop di Dunia, Sentuh 18% Pangsa Pasar Global. Goodstats. https:\/\/data.goodstats.id\/statistic\/indonesia-jadi-konsumen-terbesar-k-pop-di-dunia-sentuh-18-pangsa-pasar-global-rneOI<br \/>\nKasuda, R., &amp; Mahendra, R. (2024). Fenomena Flexing di Media Sosial. Blantika: Multidisciplinary Journal, 3(1), 211\u2013217. https:\/\/doi.org\/10.57096\/blantika.v3i1.266<br \/>\nPattricia, D. (2025). Flexing di Media Sosial, Normal atau Berlebihan? Psikolog Ungkap Batasannya. Kompas. https:\/\/lifestyle.kompas.com\/read\/2025\/09\/04\/150500820\/flexing-di-media-sosial-normal-atau-berlebihan-psikolog-ungkap-batasannya. Membership: https:\/\/kmp.im\/plus6 Download<br \/>\nSari, P., Pautina, M. R., Lakadjo, M. A., Ardhian, N. L., &amp; Prasetyo, A. (2023). Pandangan Teori Kebutuhan Dasar Abraham Maslow dan William Glasser tentang Fenomena Flexing. JAMBURA Guidance and Counseling Journal, 4(2), 89\u201394. https:\/\/doi.org\/10.37411\/jgcj.v4i2.2764<br \/>\nYuniar, F., &amp; Santi, D. E. (2022). Dinamika psikologis perilaku flexing di kalangan mahasiswa kampus. 289\u2013296.<\/p>\n<p>Penulis:<br \/>\nImawati Reni Cahayani (G1C124003)<\/p>\n<p>Dosen Pengampu:<br \/>\nAgung Iranda, S.Psi., M.A.<br \/>\nAnnisa Dianesti Dewi, S.Psi., M.Psi.<br \/>\nAyu Ulivia, M.Pd.<strong><br \/>\n<\/strong>Dr. Nofrans Eka Saputra, S.Psi., M.A<br \/>\nAzkya Milfa Laensadi, S.Psi., M.Si<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Di era digital saat ini, istilah &#8220;flexing&#8221; dan tren musik K-Pop menjadi dua fenomena yang sangat menarik minat banyak orang, terutama generasi muda. Bayangkan ketika seorang remaja yang mengunggah video dirinya membuka sebuah kotak. Kotak ini bukan barang biasa, melainkan berisi lighstick edisi terbatas dari grup K-Pop favoritnya. Dalam waktu singkat, ratusan tanggapan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":21667,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-21666","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21666","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21666"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21666\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21667"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21666"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21666"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21666"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}