{"id":21628,"date":"2025-12-12T19:23:06","date_gmt":"2025-12-12T11:23:06","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=21628"},"modified":"2025-12-12T19:23:06","modified_gmt":"2025-12-12T11:23:06","slug":"pengabdian-untag-surabaya-edukasi-anak-cerdas-dan-waspada-jangan-ambil-makanan-dari-orang-tidak-di-kenal-dan-pentingnya-cuci-tangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/pengabdian-untag-surabaya-edukasi-anak-cerdas-dan-waspada-jangan-ambil-makanan-dari-orang-tidak-di-kenal-dan-pentingnya-cuci-tangan\/21628\/","title":{"rendered":"Pengabdian Untag Surabaya , Edukasi Anak Cerdas Dan Waspada : Jangan Ambil Makanan Dari Orang Tidak Di Kenal Dan Pentingnya Cuci Tangan"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Untag-Surabaya.jpg\" alt=\"\" width=\"356\" height=\"237\" class=\"aligncenter size-full wp-image-21629\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Untag-Surabaya.jpg 356w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Untag-Surabaya-300x200.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 356px) 100vw, 356px\" \/><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Sebagai bagian dari pemenuhan kelulusan, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (Untag Surabaya) mewajibkan seluruh mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai formalitas akademik, melainkan sebagai wahana bagi mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat, memahami persoalan sosial yang nyata, serta menawarkan solusi yang aplikatif berdasarkan sudut pandang ilmiah dan pengetahuan yang telah dipelajari selama perkuliahan. Pengabdian masyarakat menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan komunikatif, kolaboratif, dan problem solving yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.<\/p>\n<p>Salah satu program pengabdian yang dilaksanakan oleh mahasiswa Untag Surabaya adalah \u201cEdukasi Anak Cerdas dan Waspada: Jangan Ambil Makanan dari Orang Tidak Dikenal dan Pentingnya Cuci Tangan\u201d, yang berlokasi di Sekolah Dasar wilayah RW 3 Kelurahan Wonokromo, Surabaya. Program ini lahir dari keprihatinan terhadap masih rendahnya kesadaran anak-anak terhadap bahaya sosial dan higienitas dasar, terutama di lingkungan perkotaan yang padat penduduk seperti Wonokromo. Anak-anak merupakan kelompok rentan yang kerap menjadi sasaran tindak kriminal, seperti penculikan atau pemberian bahan berbahaya melalui makanan, karena kurangnya pengetahuan mereka mengenai bahaya menerima makanan dari orang yang tidak dikenal. Selain itu, perilaku hidup bersih dan sehat, khususnya kebiasaan mencuci tangan, masih sering diabaikan meski telah menjadi bagian dari kurikulum pendidikan.<\/p>\n<p>Program ini disusun untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada anak- anak sekolah dasar mengenai pentingnya menjaga diri dari ancaman orang asing (stranger danger) serta meningkatkan kesadaran mereka mengenai praktik kebersihan tangan sebagai langkah pencegahan penyakit. Dalam observasi awal yang dilakukan mahasiswa Untag Surabaya, ditemukan bahwa sebagian besar anak di RW 3 Kelurahan Wonokromo belum memiliki pemahaman yang kuat mengenai risiko menerima makanan dari individu yang tidak dikenal. Mereka cenderung mudah percaya dan belum mampu membedakan situasi yang aman dan yang berpotensi membahayakan. Hal ini menunjukkan perlunya intervensi edukatif yang sistematis dan menarik agar kesadaran tersebut dapat tertanam sejak dini.<\/p>\n<p>Sementara itu, aspek kebersihan diri, terutama cuci tangan, juga menjadi perhatian. Meskipun fasilitas cuci tangan tersedia di sekolah, perilaku mencuci tangan sebelum makan,<\/p>\n<p>setelah bermain, atau setelah menggunakan fasilitas umum tidak dilakukan secara konsisten. Padahal, tangan merupakan media penularan berbagai penyakit, terutama penyakit berbasis lingkungan seperti diare, ISPA, cacingan, dan infeksi kulit. Melalui pengabdian ini, mahasiswa memberikan edukasi dengan pendekatan interaktif, seperti simulasi mencuci tangan tujuh langkah, permainan edukatif, pemutaran video, serta pendampingan langsung dalam praktik mencuci tangan yang benar.<\/p>\n<p>Selain memberikan edukasi, program ini juga bertujuan membangun kesadaran kritis pada anak-anak, guru, dan orang tua mengenai pentingnya membangun lingkungan belajar yang aman dan sehat. Anak-anak diajarkan untuk mengenali ciri-ciri orang asing, memahami tindakan yang harus dilakukan jika diberi makanan oleh orang yang tidak dikenal, serta bagaimana menyampaikan informasi kepada orang dewasa ketika menghadapi situasi mencurigakan. Pendekatan ini menekankan bahwa keselamatan anak bukan hanya tanggung jawab keluarga atau sekolah, tetapi juga bagian dari pembentukan karakter dan ketahanan diri anak sejak usia dini.<\/p>\n<p>Kegiatan ini menjadi contoh implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi karena mahasiswa tidak hanya mengajar, tetapi juga melakukan analisis lapangan, menjalin kolaborasi dengan sekolah, serta memberikan rekomendasi keberlanjutan program kepada pihak kelurahan dan sekolah. Melalui program ini, mahasiswa Untag Surabaya membuktikan bahwa pengabdian masyarakat dapat memberikan dampak yang signifikan apabila dijalankan dengan pendekatan ilmiah, terencana, serta peka terhadap kebutuhan masyarakat setempat. Pengabdian ini sekaligus melatih mahasiswa untuk menjadi individu yang bukan hanya kompeten secara akademik, tetapi juga peduli dan bertanggung jawab terhadap kondisi sosial di sekitarnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Sebagai bagian dari pemenuhan kelulusan, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (Untag Surabaya) mewajibkan seluruh mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai formalitas akademik, melainkan sebagai wahana bagi mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat, memahami persoalan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":21629,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[244],"tags":[],"class_list":["post-21628","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21628","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21628"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21628\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21629"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21628"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21628"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21628"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}