{"id":21550,"date":"2025-12-11T16:45:56","date_gmt":"2025-12-11T08:45:56","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=21550"},"modified":"2025-12-11T16:45:56","modified_gmt":"2025-12-11T08:45:56","slug":"kelompok-mkwk-perundungan-128-usu-ajak-siswa-smk-telkom-01-medan-bangun-empati-dan-cegah-perundungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/kelompok-mkwk-perundungan-128-usu-ajak-siswa-smk-telkom-01-medan-bangun-empati-dan-cegah-perundungan\/21550\/","title":{"rendered":"Kelompok MKWK Perundungan 128 USU Ajak Siswa SMK Telkom 01 Medan Bangun  Empati dan Cegah Perundungan"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_21551\" aria-describedby=\"caption-attachment-21551\" style=\"width: 605px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/USU.png\" alt=\"\" width=\"605\" height=\"453\" class=\"size-full wp-image-21551\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/USU.png 605w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/USU-300x225.png 300w\" sizes=\"(max-width: 605px) 100vw, 605px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-21551\" class=\"wp-caption-text\">Kelompok MKWK 128 \u201cPerundugan\u201d USU foto bersama siswa\/i SMK Telkom 01 Medan, jumat  (14\/11\/2025)<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Kelompok MKWK Perundungan 128 Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan kegiatan  sosialisasi bertajuk \u201cBangun Sekolah yang Peduli: Hentikan Tekanan, Bangun Empati dan  Simpati, Perkuat Kesehatan Mental, serta Hentikan Perundungan\u201d di SMK Telkom 01 Medan  pada 14 Oktober 2025. Kegiatan ini melibatkan 21 mahasiswa dari berbagai fakultas, dengan  pendampingan Prof. Dr. Rosdinar Sembiring, SH., M.Hum. selaku dosen fasilitator dan Romauli  Manurung sebagai mentor. <\/p>\n<p>Kegiatan yang merupakan bagian dari Proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) ini  bertujuan meningkatkan kesadaran siswa terhadap berbagai bentuk perundungan sekaligus  memperkuat budaya empati dan kepedulian di lingkungan sekolah. <\/p>\n<p>Sosialisasi dilakukan melalui penyampaian materi, diskusi interaktif, dan sesi permainan edukatif  yang dirancang untuk memudahkan siswa memahami perundungan fisik maupun non-fisik.  Kelompok 128 menegaskan bahwa perilaku seperti ejekan, pengucilan, penyebaran rumor, dan  intimidasi digital bukanlah \u201ccandaan\u201d, tetapi termasuk tindakan perundungan yang memiliki  dampak serius terhadap kesehatan mental. <\/p>\n<p>Antusiasme siswa terlihat dari banyaknya pertanyaan, respons aktif selama diskusi, serta  pengalaman pribadi yang mereka bagikan kepada pemateri. Pendekatan dialogis ini membantu  siswa memahami dampak jangka panjang perundungan terhadap kondisi emosional dan relasi  sosial di sekolah. <\/p>\n<p>Berdasarkan evaluasi kegiatan, seluruh peserta menyatakan bahwa sosialisasi ini membuat  mereka lebih paham mengenai isu perundungan dan langkah pencegahannya. Mayoritas siswa  juga memberikan penilaian positif terhadap metode penyampaian yang dianggap menarik, jelas,  dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. <\/p>\n<p>Seorang siswa menuliskan, \u201cSosialisasi ini membuat saya lebih sadar dan mengerti dampak  perundungan.\u201d Siswa lain menyampaikan, \u201cBenar-benar membantu, saya jadi lebih paham apa  saja bentuk perundungan.\u201d Kutipan ini menunjukkan bahwa kegiatan tersebut memberikan  dampak nyata terhadap pola pikir dan kesadaran siswa. <\/p>\n<p>Selain menekankan pentingnya mengenali berbagai jenis perundungan, Kelompok 128 juga  menyampaikan peran penting bystander atau saksi. Mereka menjelaskan bahwa sikap diam dapat  memperkuat posisi pelaku, sedangkan dukungan terhadap korban dan keberanian melapor  merupakan langkah penting untuk menghentikan perundungan sejak dini. <\/p>\n<p>Meskipun demikian, evaluasi juga mengungkapkan bahwa sebagian siswa masih ragu melapor  karena takut dicap \u201cpengadu\u201d atau merasa tidak yakin identitas mereka akan dirahasiakan.  Catatan ini menandakan perlunya sekolah memperkuat sistem pelaporan internal yang aman,  tertutup, dan responsif. <\/p>\n<p>Melalui kegiatan ini, Kelompok MKWK Perundungan 128 USU berharap siswa semakin peka  dalam mengenali tindakan perundungan serta mampu membangun lingkungan sekolah yang  inklusif, suportif, dan saling menghargai. Edukasi berkelanjutan dinilai penting agar perubahan  perilaku siswa berkelanjutan dan menjadi bagian dari budaya positif sekolah. <\/p>\n<p>Program ini juga menjadi bentuk kontribusi mahasiswa USU dalam mendukung upaya  pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan serta mempererat kolaborasi antara perguruan  tinggi dan sekolah dalam menciptakan ruang belajar yang aman dan sehat bagi seluruh peserta  didik.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Kelompok MKWK Perundungan 128 Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan kegiatan sosialisasi bertajuk \u201cBangun Sekolah yang Peduli: Hentikan Tekanan, Bangun Empati dan Simpati, Perkuat Kesehatan Mental, serta Hentikan Perundungan\u201d di SMK Telkom 01 Medan pada 14 Oktober 2025. Kegiatan ini melibatkan 21 mahasiswa dari berbagai fakultas, dengan pendampingan Prof. Dr. Rosdinar Sembiring, SH., M.Hum. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":21551,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[244],"tags":[],"class_list":["post-21550","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21550","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21550"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21550\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21551"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21550"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21550"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21550"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}