{"id":21536,"date":"2025-12-11T16:24:19","date_gmt":"2025-12-11T08:24:19","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=21536"},"modified":"2025-12-11T16:24:19","modified_gmt":"2025-12-11T08:24:19","slug":"digital-parenting-komunikasi-efektif-membantu-orang-tua-membangun-kedekatan-dengan-anak-penderita-kanker-di-era-digital","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/digital-parenting-komunikasi-efektif-membantu-orang-tua-membangun-kedekatan-dengan-anak-penderita-kanker-di-era-digital\/21536\/","title":{"rendered":"Digital Parenting &#038; Komunikasi Efektif: Membantu Orang Tua Membangun Kedekatan dengan Anak Penderita Kanker di Era Digital"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-21537\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar1-20.jpg\" alt=\"\" width=\"270\" height=\"180\" \/><\/p>\n<p>Ditulis oleh:<\/p>\n<p>\u2022 Clareta Thesalonika, S.Pd. (Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Tarumanagara)<br \/>\n\u2022 Pamela Hendra Heng, S.Pd., M.P.H., M.., Ph.D,, Dr. Riana Sahrani, Psikolog. (Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara)<\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam pola komunikasi dan interaksi di keluarga. Anak-anak saat ini tumbuh sebagai digital natives Dimana mereka terbiasa dengan gadget, internet, media sosial, dan hiburan online sejak usia sangat dini. Di satu sisi, teknologi digital memberikan manfaat: edukasi, hiburan, dan akses terhadap komunitas yang memberi semangat. Namun di sisi lain, penggunaan gadget yang tidak terarah dapat memperlemah kedekatan emosional antara anak dan orang tua.<\/p>\n<p>Tantangan ini semakin kompleks pada keluarga yang memiliki anak penderita kanker. Anak yang menjalani perawatan medis jangka panjang cenderung memiliki aktivitas fisik terbatas dan lebih banyak berada di rumah sakit atau rumah. Hal ini membuat gadget sering menjadi pelarian utama dari rasa sakit, bosan, atau kecemasan. Orang tua kemudian menghadapi dilema: bagaimana tetap membimbing anak secara digital, sekaligus menjaga hubungan emosional yang hangat di tengah kondisi sulit?<\/p>\n<p><strong>Mengapa Orang Tua Sekarang Lebih Sulit \u201cMembilangin\u201d Anak?<\/strong><br \/>\nBanyak orang tua, termasuk dari komunitas Parent Club Yayasan Onkologi Anaik Indonesia (YOAI), mengeluhkan hal yang sama: \u201cAnak sekarang susah sekali diingatkan, beda dengan zaman dulu.\u201d. Fenomena ini bukan semata-mata karena anaknya \u201clebih nakal\u201d atau orang tuanya \u201ckurang tegas\u201d. Ada tiga perubahan besar yang perlu dipahami:<\/p>\n<p>1. Anak Tumbuh di Lingkungan Digital yang Sangat Interaktif<br \/>\nGadget menyediakan hiburan cepat, visual menarik, dan pengalaman yang \u201cmengikat\u201d otak anak. Ketika anak sedang mendapatkan kenyamanan dari layar, instruksi orang tua sering dianggap mengganggu.<\/p>\n<p>Ini bukan semata pembangkangan, tetapi reaksi alami dari otak anak yang sedang menikmati dopamin dari aktivitas digital.<\/p>\n<p>2. Pola komunikasi generasi dulu berbeda dengan generasi sekarang<br \/>\nDulu, komunikasi orang tua\u2013anak lebih bersifat satu arah.<br \/>\nSekarang, anak-anak tumbuh dalam budaya yang mengajarkan critical thinking dan ekspresi diri. Mereka terbiasa bertanya \u201cmengapa?\u201d dan ingin dilibatkan dalam keputusan.<br \/>\nJika orang tua masih memakai gaya komunikasi instruktif, sering terjadi benturan.<\/p>\n<p>3. Orang Tua Sendiri Lebih Stres &amp; Kelelahan<br \/>\nDalam kasus keluarga dengan anak penderita kanker, stres emosional, kecemasan, dan kelelahan fisik menumpuk. Hal ini membuat orang tua:<br \/>\n\u2022 lebih mudah marah,<br \/>\n\u2022 kurang sabar,<br \/>\n\u2022 atau sulit hadir sepenuhnya secara emosional.<\/p>\n<p>Kondisi ini dapat memperlemah kualitas komunikasi, sehingga anak pun sulit menerima arahan.<\/p>\n<p><strong>Tantangan Tambahan pada Anak Penderita Kanker<\/strong><br \/>\nAnak penderita kanker menghadapi kondisi fisik dan emosional yang berbeda dari anak pada umumnya. Kondisi tersebut secara langsung memengaruhi cara mereka menggunakan perangkat digital dan merespons komunikasi orang tua.<\/p>\n<p>1. Aktivitas fisik yang terbatas<br \/>\nPerawatan seperti kemoterapi dapat menyebabkan nyeri, kelelahan ekstrem, mual, dan neuropati. Hal ini membuat anak banyak beristirahat atau beraktivitas sambil berbaring (Baggott et al., 2012). Gadget menjadi hiburan pasif yang mudah dan tidak membutuhkan tenaga.<br \/>\nSlater et al. (2018) menemukan bahwa perangkat digital sering menjadi aktivitas utama anak selama masa rawat inap.<\/p>\n<p>2. Gadget sebagai pelarian emosional<br \/>\nKetika menghadapi stres, ketidakpastian, atau rasa takut, anak menggunakan video, game, atau media sosial sebagai distraksi emosional. Teknologi digital mampu menurunkan kecemasan sementara dan memberikan ruang \u201cmelupakan keadaan\u201d (Nahar et al., 2019).<br \/>\nLiang et al. (2020) menyebutkan bahwa aktivitas digital sering menjadi coping strategy utama bagi anak dengan penyakit kronis.<\/p>\n<p>3. Sensitivitas emosi yang meningkat<br \/>\nPengobatan kanker dapat memengaruhi mood, emosi, dan kestabilan psikologis anak. Perubahan fisik\u2014seperti rambut rontok atau perubahan berat badan\u2014dapat membuat anak lebih mudah tersinggung atau merasa tidak percaya diri (Von Essen et al., 2000).<br \/>\nRosenberg et al. (2013) juga menunjukkan bahwa pasien anak dan orang tua sama-sama rentan terhadap distress emosional. Dalam kondisi seperti ini, nada bicara orang tua yang sedikit keras bisa terasa sangat menyakitkan.<\/p>\n<p>4. Kebutuhan tinggi untuk merasa memiliki kontrol<br \/>\nPerawatan kanker membuat anak merasa banyak hal dalam hidupnya tidak bisa ia pilih: jadwal kemoterapi, obat-obatan, batasan aktivitas.<br \/>\nGadget memberi ruang personal di mana anak dapat mengambil keputusan sendiri\u2014memilih video, permainan, atau komunikasi dengan teman (Pendley et al., 1997).<br \/>\nSlater et al. (2018) menegaskan bahwa teknologi digital memberi ilusi kontrol yang sangat penting untuk kesejahteraan emosional anak.<br \/>\nKombinasi seluruh faktor ini membuat digital parenting pada anak penderita kanker membutuhkan pendekatan yang lebih lembut, fleksibel, dan empatik.<\/p>\n<p><strong>Digital Parenting: Tiga Pendekatan Utama<\/strong><br \/>\nLivingstone et al. (2017) mengidentifikasi tiga pendekatan utama orang tua dalam mengasuh anak di dunia digital. Ketiganya bisa dikombinasikan agar seimbang.<\/p>\n<p>1. Restrictive Mediation: Batasan yang Masuk Akal dan Hangat<br \/>\nBatasan tetap perlu, tetapi penyampaiannya harus sensitif terhadap kondisi anak.<br \/>\nAturan tidak lagi berupa \u201cpokoknya tidak boleh\u201d, tetapi berupa kesepakatan yang disesuaikan kemampuan fisik dan emosional anak.<br \/>\nContoh batasan sehat:<br \/>\n\u2022 Waktu layar dibagi: untuk hiburan, belajar, dan komunikasi.<br \/>\n\u2022 Tidak memakai gadget saat makan.<br \/>\n\u2022 Ada waktu \u201cistirahat mata\u201d.<br \/>\nContoh cara menyampaikan:<br \/>\n\u201cMama tahu kamu lagi bosan dan butuh hiburan. Yuk kita nonton sampai jam 4 saja, habis itu kita lihat aktivitas ringan yang kamu mau, ya?\u201d<\/p>\n<p>2. Active Mediation: Ngobrol tentang apa yang anak tonton<br \/>\nIni adalah pendekatan paling penting dalam konteks anak penderita kanker.<br \/>\nAnak yang sedang sakit sering memproses informasi dan perasaan melalui video atau game yang mereka lihat.<br \/>\nDengan ngobrol, orang tua bisa:<br \/>\n\u2022 membantu anak memahami konten,<br \/>\n\u2022 menangkap emosi yang terselip,<br \/>\n\u2022 memperkuat hubungan emosional.<br \/>\nContoh pertanyaan ringan:<br \/>\n\u2022 \u201cTadi kamu nonton apa yang paling bikin kamu senang?\u201d<br \/>\n\u2022 \u201cKalau kamu jadi tokoh itu, kamu bakal gimana?\u201d<br \/>\nIni bukan interogasi, tetapi percakapan hangat.<\/p>\n<p>3. Co-use: Mendampingi Anak di Dunia Digitalnya<br \/>\nCo-use berarti orang tua masuk ke dunia anak:<br \/>\nnonton bareng, main game bareng, atau belajar bareng.<br \/>\nManfaatnya:<\/p>\n<p>\u2022 Anak merasa ditemani selama proses perawatan.<br \/>\n\u2022 Orang tua bisa melihat apa yang anak sukai atau takuti.<br \/>\n\u2022 Momen digital berubah menjadi momen bonding.<\/p>\n<p>Contoh:<br \/>\n\u201cKamu mau Mama temenin nonton film itu? Kamu pilih filmnya, Mama yang siapin camilannya.\u201d<br \/>\nSederhana, tapi sangat menguatkan anak secara emosional.<\/p>\n<p>Komunikasi Efektif: Kunci Kedekatan di Era Digital<br \/>\nPada anak penderita kanker, komunikasi efektif bukan sekadar memberi instruksi, tapi memberi rasa aman dan diterima. Ada empat prinsip penting:<\/p>\n<p>1. Mulai dengan mendengarkan, bukan menasihati<br \/>\nAnak yang sedang sakit kadang menolak arahan karena ia merasa tidak punya kendali.<br \/>\nDengan mendengarkan terlebih dahulu, anak merasa dihargai.<\/p>\n<p>2. Validasi perasaan anak<br \/>\nContoh:<br \/>\n\u201cMama ngerti kamu lagi capek dan kesal. Itu wajar banget.\u201d<br \/>\nIni membuat anak lebih mudah menerima arahan berikutnya.<\/p>\n<p>3. Mengganti kalimat instruktif dengan dialog<br \/>\nDaripada:<br \/>\n\u201cJangan main HP terus!\u201d<br \/>\nCoba:<br \/>\n\u201cMama ngerti kamu lagi butuh hiburan. Boleh main, tapi nanti kita istirahat mata sebentar ya.\u201d<br \/>\n4. Sampaikan batasan dengan alasan yang jelas<br \/>\nAnak akan lebih kooperatif jika ia tahu mengapa sebuah aturan dibuat.<\/p>\n<p><strong>Kesimpulan<\/strong><br \/>\nDigital parenting bukan tentang melarang anak menggunakan teknologi, melainkan tentang mendampingi anak menggunakan teknologi secara sehat dan bermakna, terutama bagi anak-anak yang sedang menjalani perawatan kanker. Ketika orang tua mampu memahami tantangan pengasuhan di era digital, membangun komunikasi yang hangat dan terbuka, terlibat secara aktif dalam dunia anak, serta menetapkan aturan penggunaan gadget dengan empati, teknologi tidak lagi menjadi sumber konflik dalam keluarga. Sebaliknya, gadget dapat berfungsi sebagai jembatan kedekatan yang membantu mempertahankan relasi emosional di tengah proses perawatan yang panjang dan tidak mudah. Dengan pendekatan yang tepat dan penuh kepekaan, orang tua dapat membantu anak merasa lebih aman, lebih dihargai, lebih dicintai, serta lebih kuat secara emosional dalam menghadapi proses pengobatan yang sedang dijalani.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ditulis oleh: \u2022 Clareta Thesalonika, S.Pd. (Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Tarumanagara) \u2022 Pamela Hendra Heng, S.Pd., M.P.H., M.., Ph.D,, Dr. Riana Sahrani, Psikolog. (Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara) JurnalPost.com &#8211; Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam pola komunikasi dan interaksi di keluarga. Anak-anak saat ini tumbuh sebagai digital natives Dimana mereka terbiasa dengan gadget, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":21537,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-21536","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21536","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21536"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21536\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21537"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21536"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21536"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21536"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}