{"id":21425,"date":"2025-12-07T23:38:49","date_gmt":"2025-12-07T15:38:49","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=21425"},"modified":"2025-12-07T23:38:49","modified_gmt":"2025-12-07T15:38:49","slug":"mengenali-disabilitas-tak-kasat-mata-yang-dapat-mempengaruhi-keterlibatan-akademik-siswa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/mengenali-disabilitas-tak-kasat-mata-yang-dapat-mempengaruhi-keterlibatan-akademik-siswa\/21425\/","title":{"rendered":"Mengenali Disabilitas \u201cTak Kasat Mata\u201d yang Dapat Mempengaruhi Keterlibatan Akademik Siswa"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify;\">Ditulis oleh:<br \/>\n\u25cf Allychia Nanalingdita Thea Putri, S.Psi. (Mahasiswa S2 Psikologi Universitas Tarumanagara)<br \/>\n\u25cf Sri Tiatri, PhD., Psikolog &amp; Ir. Jap Tji Beng, MMSI., M.Psi., PhD., P.E., M.ASCE. (Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara)<strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8212; Beberapa siswa seringkali dicap \u201cbandel\u201d atau \u201ckurang pintar\u201d. Namun apakah benar mereka seperti itu? Atau jangan-jangan ada kondisi tertentu yang membuat mereka terlihat berbeda dari teman-temannya? Sebelum memberikan label pada siswa, penting bagi guru untuk memahami bahwa ada jenis disabilitas yang \u2018tidak kasat mata\u2019 dan sering sulit dibedakan dari siswa pada umumnya.<\/p>\n<p>Salah satunya adalah <em>high-incidence disabilities<\/em> (HID), yaitu jenis disabilitas yang mencakup sekitar 80% dari seluruh siswa berkebutuhan khusus. Beberapa jenisnya yaitu, gangguan bicara atau bahasa, gangguan belajar (<em>learning disabilities<\/em>), gangguan emosional <em>(emotional disturbance<\/em>), atau disabilitas intelektual ringan (mild intellectual disabilities). Karakteristik utama pada siswa HID adalah:<\/p>\n<p>\u25cf Tampak \u201cbiasa saja\u201d di luar sekolah atau dalam situasi tertentu.<br \/>\n\u25cf Sering menunjukkan kombinasi masalah perilaku, sosial, dan akademik.<br \/>\n\u25cf Membutuhkan intervensi pembelajaran yang terstruktur untuk membantu mereka mencapai standar akademik yang sama dengan teman sebayanya.<\/p>\n<p><strong>Jenis-Jenis HID yang Paling Sering Muncul<\/strong><\/p>\n<p>Berikut uraian dari Friend &amp; Bursuck (2012) mengenai jenis-jenis HID, yang paling sering ditemui di sekolah, dan yang perlu diketahui oleh guru:<br \/>\n1. Gangguan wicara atau bahasa<br \/>\nSiswa mengalami hambatan pada saat berkomunikasi, seperti gagap, gangguan artikulasi, kesulitan memahami bahasa, atau gangguan suara. Kondisi ini dapat menghambat kemampuan mereka dalam menjelaskan pemikiran mereka, memahami instruksi, atau berpartisipasi di kelas.<\/p>\n<p>2. Kesulitan belajar<br \/>\nIni bukan berarti \u201csiswa tidak pintar\u201d, melainkan suatu kondisi di saat siswa memiliki hambatan dalam memproses informasi. Siswa dapat menunjukkan hasil yang kurang optimal dalam proses pembelajarannya, seperti kesulitan membaca, menulis, memahami matematika, bernalar, atau menggunakan bahasa.<\/p>\n<p>3. Gangguan emosi\/ perilaku<br \/>\nRespon perilaku atau emosi siswa berbeda secara signifikan jika dibandingkan dengan norma usia atau budaya. Misalnya, kecemasan, perilaku agresif, sangat mudah marah, atau kesulitan mematuhi aturan. Kondisi ini seringkali disalahartikan sebagai \u201cnakal\u201d, padahal kenyataannya siswa membutuhkan pendekatan perilaku yang tepat dan konsisten.<\/p>\n<p><strong>Lalu, Apa yang Dapat Dilakukan oleh Guru?<\/strong><\/p>\n<p>Setelah memahami jenis-jenis HID, maka pertanyaan berikutnya ialah \u201capa yang dapat guru lakukan di kelas jika berhadapan dengan siswa HID?\u201d. Berikut beberapa langkah konkret yang dapat guru terapkan, berdasarkan Taylor et al. (2009):<\/p>\n<p>1. Sesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa<br \/>\nAnak dengan HID sering membutuhkan cara penyampaian materi yang lebih terstruktur dan eksplisit. Hal ini penting dikarenakan gaya merupakan cara yang digunakan seseorang untuk memproses informasi dan menyelesaikan tugas. Didukung juga oleh hasil penelitian terdahulu bahwa gaya mengajar guru berperan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa (Suciyati et al., 2023). Guru dapat melakukan:<\/p>\n<p>\u25cf Memecah instruksi menjadi langkah-langkah kecil.<br \/>\n\u25cf Menggunakan contoh visual atau demonstrasi.<br \/>\n\u25cf Melakukan pengulangan konsep secara bertahap.<br \/>\n\u25cf Memberi waktu tambahan untuk memahami materi.<br \/>\n\u25cf Menyediakan lembar kerja yang lebih terarah.<\/p>\n<p>2. Menerapkan <em>Behavior Education Program<\/em> (BEP)<br \/>\nBEP merupakan rancangan intervensi yang dapat membantu guru memberikan dukungan sesuai level kebutuhan siswa (Crone et al., 2010). Terdapat 3 tahapan yaitu:<br \/>\n\u25cf Tier 1: Dukungan universal<br \/>\nPembelajaran inti yang diberikan kepada semua siswa. Pengajaran kelas yang berkualitas tinggi dan manajemen kelas yang proaktif adalah fokus utamanya.<br \/>\n\u25cf Tier 2: intervensi terarah<br \/>\nIntervensi terarah ditujukan untuk siswa yang membutuhkan dukungan tambahan. Guru dapat membuat sesi belajar kecil, monitoring perilaku siswa, atau melaksanakan program <em>Check-In\/Check-Out<\/em> (CICO).<br \/>\n\u25cf Tier 3: intervensi intensif individual<br \/>\nIntervensi ini berfokus pada siswa dengan kebutuhan tinggi. Guru dapat membuat bimbingan intensif, merancang rencana perilaku yang diharapkan, serta berkolaborasi dengan konselor, psikolog, atau tenaga ahli lainnya.<\/p>\n<p>3. Membangun lingkungan kelas yang aman dan menghargai perbedaan.<br \/>\nSiswa berkebutuhan khusus rentan menjadi korban bullying dikarenakan terlihat \u201cberbeda\u201d. Beberapa kasus bullying yang rentan terjadi pada siswa berkebutuhan khusus di pendidikan inklusif meliputi kekerasan fisik, kekerasan verbal, dan diskriminatif (Suriatika et al., 2025). Guru memiliki peran dalam menekankan bahwa setiap siswa belajar dengan cara yang berbeda, mengajarkan empati dan saling menghargai, merespons cepat setiap bentuk intimidasi atau diskriminasi, serta menciptakan budaya kelas yang suportif.<\/p>\n<p>4. Berkolaborasi dengan profesional lainnya<br \/>\nJika berbagai upaya telah dilakukan dan siswa masih mengalami hambatan yang signifikan, guru dapat berkolaborasi dengan konselor, psikolog, terapis wicara, orang tua, bahkan psikiater bila diperlukan.<\/p>\n<p><strong>Dukungan yang Tepat Dapat Mendukung Motivasi Belajar Siswa dan Meningkatkan Keterlibatan Akademiknya juga<\/strong><\/p>\n<p>Dukungan yang tepat bukan hanya meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga motivasi belajar dan keterlibatan siswa. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa siswa yang termotivasi cenderung menunjukkan tiga aspek <em>engagement<\/em> (Karimi &amp; Sotoodeh, 2020). Aspek <em>engagement<\/em> yang ditunjukkan didasarkan pada teori engagement Schaufeli et al. (2002), yaitu:<br \/>\n1. Vigor<br \/>\nSiswa tampak berenergi, memiliki ketahanan mental, dan berusaha lebih keras meskipun pada tugas yang dianggap sulit.<\/p>\n<p>2. Dedication<br \/>\nSiswa terlibat secara emosional, merasa pembelajarannya bermakna, dan terlihat antusias dalam pembelajaran.<\/p>\n<p>3. Absorption<br \/>\nSiswa tenggelam dalam aktivitas belajar hingga waktu terasa berjalan cepat.<\/p>\n<p>Maka, memahami HID sangat penting bagi guru karena kondisi ini sering \u201ctidak terlihat\u201d tetapi berdampak besar pada prestasi dan perilaku siswa. Dengan mengenali jenisnya, menyesuaikan metode pembelajaran, menerapkan intervensi yang tepat, serta menciptakan lingkungan yang aman dan suportif, guru dapat membantu siswa berkembang dengan lebih optimal.<\/p>\n<p>Ketika siswa merasa dimengerti dan dibantu sesuai kebutuhannya, motivasi belajar meningkat dan keterlibatan akademik mereka juga meningkat. Pada akhirnya, tujuan utamanya adalah memastikan bahwa setiap siswa, baik dengan atau tanpa disabilitas, mendapatkan kesempatan yang sama dalam proses pembelajaran, yaitu untuk belajar dengan nyaman, percaya diri, dan penuh semangat.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ditulis oleh: \u25cf Allychia Nanalingdita Thea Putri, S.Psi. (Mahasiswa S2 Psikologi Universitas Tarumanagara) \u25cf Sri Tiatri, PhD., Psikolog &amp; Ir. Jap Tji Beng, MMSI., M.Psi., PhD., P.E., M.ASCE. (Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara)JurnalPost.com &#8212; Beberapa siswa seringkali dicap \u201cbandel\u201d atau \u201ckurang pintar\u201d. Namun apakah benar mereka seperti itu? Atau jangan-jangan ada kondisi tertentu yang membuat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-21425","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21425","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21425"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21425\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21425"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21425"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21425"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}