{"id":21346,"date":"2025-12-05T12:44:01","date_gmt":"2025-12-05T04:44:01","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=21346"},"modified":"2025-12-05T12:44:01","modified_gmt":"2025-12-05T04:44:01","slug":"menelusuri-prosedur-dan-pendekatan-sistem-tafsir-bi-al-matsur-dalam-kajian-al-quran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/menelusuri-prosedur-dan-pendekatan-sistem-tafsir-bi-al-matsur-dalam-kajian-al-quran\/21346\/","title":{"rendered":"Menelusuri Prosedur dan Pendekatan Sistem Tafsir bi al-Ma\u2019tsur dalam Kajian Al-Qur\u2019an"},"content":{"rendered":"<p>Arinda Rqhmi Auliani\u00b9, Bunga Jhanati Rionie\u00b2<br \/>\nUniversitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang<br \/>\nEmail: arindarahmiauliani05@gmail.com, bungaaaoneee@gmail.com<\/p>\n<p><strong>ABSTRAK<\/strong><br \/>\nTafsir bi al-Ma\u2019tsur is a method of Qur\u2019anic interpretation based on authentic narrations derived from the Qur\u2019an itself, the Prophet\u2019s Hadith, the sayings of the Companions, and the Tabi\u2019in. This method represents the earliest form of Qur\u2019anic exegesis grounded in verified Islamic sources. Its procedures include interpreting the Qur\u2019an by the Qur\u2019an, by Hadith, and by the statements of the Companions and their successors. The development of this method evolved from oral transmission during the Prophet\u2019s and Companions\u2019 era to systematic codification by scholars such as Imam Malik and Ibn Jarir al-Tabari. It emphasizes the authenticity of narration chains (sanad) and methodological precision in understanding verses. Over time, tafsir bi al-ma\u2019tsur has served as the foundation for later exegetical works, producing monumental commentaries like Jami\u2019 al-Bayan by al-Tabari, Tafsir al-Qur\u2019an al-Azhim by Ibn Kathir, and ad-Durr al-Mantsur by Jalaluddin al-Suyuthi. This study concludes that tafsir bi al-ma\u2019tsur remains crucial for preserving the originality and integrity of Qur\u2019anic interpretation amid the dynamics of modern exegesis.<\/p>\n<p>Tafsir bi al-Ma\u2019tsur merupakan metode penafsiran Al-Qur\u2019an yang bersumber dari riwayat yang sahih, yaitu penjelasan yang bersumber dari Al-Qur\u2019an sendiri, hadis Nabi SAW, perkataan sahabat, dan tabi\u2019in. Tafsir ini dikenal sebagai bentuk penafsiran paling awal yang berlandaskan pada sumber-sumber otentik Islam. Dalam penerapannya, tafsir bi al-ma\u2019tsur menggunakan beberapa pendekatan, seperti penafsiran Al-Qur\u2019an dengan Al-Qur\u2019an, Al-Qur\u2019an dengan hadis, serta dengan pendapat sahabat dan tabi\u2019in. Proses penafsiran ini dilakukan secara berjenjang, mulai dari periwayatan lisan pada masa sahabat hingga tahap kodifikasi pada masa ulama hadis seperti Imam Malik dan Ibn Jarir al-Thabari. Metode ini menekankan keaslian sanad dan kehati-hatian dalam memahami makna ayat. Seiring perkembangan ilmu tafsir, tafsir bi al-ma\u2019tsur menjadi rujukan utama bagi tafsir-tafsir setelahnya dan melahirkan karya monumental seperti Jami\u2019 al-Bayan karya al-Thabari, Tafsir al-Qur\u2019an al-Azhim karya Ibn Katsir, dan ad-Durr al-Mantsur karya Jalaluddin as-Suyuthi. Kajian ini menegaskan bahwa sistem tafsir bi al-ma\u2019tsur tetap memiliki relevansi penting dalam menjaga orisinalitas pemahaman Al-Qur\u2019an di tengah perkembangan tafsir modern.<\/p>\n<p><strong>Kata Kunci<\/strong>: Tafsir bi al-Ma\u2019tsur, metode penafsiran, riwayat, sahabat, tabi\u2019in, Al-Qur\u2019an, hadis, sistem tafsir klasik.<\/p>\n<p><strong>PENDAHULUAN<\/strong><br \/>\nAl-Qur\u2019an merupakan sumber utama ajaran Islam yang menjadi pedoman hidup bagi umat manusia. Untuk memahami kandungan dan pesan-pesannya, para ulama mengembangkan berbagai metode penafsiran, salah satunya adalah tafsir bi al-ma\u2019tsur. Metode ini dikenal sebagai bentuk penafsiran yang paling awal dan paling otentik karena bersumber langsung dari riwayat yang sahih\u2014baik dari Al-Qur\u2019an itu sendiri, hadis Nabi Muhammad SAW, maupun penjelasan para sahabat dan tabi\u2019in. Melalui pendekatan ini, makna ayat-ayat Al-Qur\u2019an dijelaskan berdasarkan sumber-sumber yang terjaga keasliannya.<\/p>\n<p>Namun, di tengah berkembangnya metode tafsir modern seperti tafsir maudhu\u2019i (tematik), tafsir \u2018ilmi (ilmiah), dan tafsir adabi ijtima\u2019i (sosial), posisi tafsir bi al-ma\u2019tsur mulai jarang dikaji secara mendalam, terutama dalam konteks metodologinya. Banyak kajian hanya menyinggungnya sebagai bagian dari sejarah tafsir klasik tanpa menelusuri lebih jauh bagaimana prosedur dan pendekatan sistemik yang digunakan dalam penafsiran riwayat ini dapat diterapkan kembali pada era sekarang. Inilah yang menjadi gap penelitian, yaitu kurangnya pembahasan komprehensif mengenai sistem kerja dan metode ilmiah tafsir bi al-ma\u2019tsur dalam konteks studi Al-Qur\u2019an kontemporer.<\/p>\n<p>Padahal, memahami prosedur dan pendekatan tafsir bi al-ma\u2019tsur memiliki arti penting untuk memastikan keabsahan penafsiran Al-Qur\u2019an di tengah munculnya berbagai tafsir baru yang sering kali bersifat interpretatif dan kontekstual. Kajian ini berupaya menelusuri bagaimana sistem tafsir bi al-ma\u2019tsur terbentuk, bagaimana langkah-langkah penafsirannya dilakukan, serta bagaimana pendekatan yang digunakan mampu menjaga orisinalitas makna wahyu. Dengan demikian, artikel ini tidak hanya mengulas konsepnya secara teoretis, tetapi juga menegaskan relevansi dan urgensinya dalam studi Al-Qur\u2019an masa kini, agar metode riwayat ini tetap menjadi dasar kokoh bagi pengembangan tafsir modern yang bertanggung jawab secara ilmiah dan teologis.<\/p>\n<p><strong>METODE PENELITIAN<\/strong><br \/>\nMetode penelitian yang digunakan adalah studi literatur (library research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan menelaah berbagai sumber pustaka yang relevan dengan tema Tafsir bi al-Ma\u2019tsur. Peneliti mengumpulkan data dari buku-buku tafsir klasik dan modern, jurnal ilmiah, serta karya ilmiah terkait yang membahas konsep, metode, dan periodisasi tafsir bi al-ma\u2019tsur. Proses seleksi sumber dilakukan dengan memilih referensi yang bersifat otoritatif dan valid, seperti karya ulama tafsir terkenal (misalnya Ibn Jarir al-Thabari, Ibn Katsir, dan al-Suyuthi), serta penelitian akademik yang telah terpublikasi. Kriteria inklusi yang digunakan yaitu: (1) sumber membahas secara langsung tafsir bi al-ma\u2019tsur, baik dari segi pengertian, metode, maupun perkembangannya; (2) sumber berasal dari literatur yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan; serta (3) sumber relevan dengan fokus penelitian, yaitu prosedur dan pendekatan tafsir bi al-ma\u2019tsur dalam kajian Al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p>Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan karakteristik, metode penafsiran, dan relevansi tafsir bi al-ma\u2019tsur dalam konteks kajian Al-Qur\u2019an masa kini.<\/p>\n<p><strong>PEMBAHASAN<\/strong><br \/>\n<strong>Pengertian Tafsir bi al-ma\u2019tsur<\/strong><br \/>\nDefinisi tafsir bi al-ma\u2019tsur secara istilah sebagaimana yang dikemukakan Muhammad Husein Al-Dzahabiy rahimahullah ta\u2019ala: \u201cPenjelasan yang datang dari Al-Qur\u2019an itu sendiri untuk menerangkan dan merinci bagian ayat-ayat lainnya, kemudian sesuatu yang dinuqilkan dari Rasulullah saw, dari sahabat Ridwanallah alaihim, sesuatu yang dinuqilkan dari Tabi\u2019in\u201d. Dari definisi tersebut, dapat dipahami bahwa tafsir bi al-ma\u2019tsur adalah penafsiran Al-Qur\u2019an yang menggunakan riwayat atau hadis sebagai dasar penafsiran, menafsirkan ayat-ayat Al-Qur\u2019an dengan mengacu pada penjelasan yang berasal dari Al-Qur\u2019an itu sendiri, hadis Nabi Muhammad SAW, dan perkataan para sahabat, kata \u201cal-Ma\u2019tsur\u201d sendiri berarti \u201cyang diriwayatkan\u201d atau \u201cyang diturunkan,\u201d sehingga tafsir ini mengandalkan sumber-sumber otentik yang diriwayatkan melalui jalur yang sahih.<\/p>\n<p>Secara harfiyah, Tafsir bi al-Ma\u2019tsur berarti penafsiran dengan menggunakan riwayat sebagai sumber pokoknya. Tafsir bi al-ma\u2019tsur, mencakup tafsir al-Qur\u2019an dengan al-Qur\u2019an, al-Qur\u2019an dengan al-Hadits, dan al-Qur\u2019an dengan pendapat sahabat dan atau tabiin, sebagai penjelasan bagi apa yang Allah kehendaki dari firman-nya itu.<br \/>\nTafsir bi al-ma\u2019tsur telah ada sejak zaman Sahabat, pada zaman ini tafsir bi al-ma\u2019tsur dilakukan dengan cara menukil penafsiran dari Rasulullah Saw, atau dari Sahabat oleh sahabat, serta dari Sahabat oleh Tabi\u2019in dengan tata cara yang jelas periwayatannya, cara seperti ini biasanya dilakukan secara lisan. Setelah itu ada periode dimana penukilannya menggunakan penukilan pada zaman Sahabat yang telah dibukukan dan dikodifikasikan, pada awalnya kodifikasi ini dimasukkan dalam kitab- kitab hadits, namun setelah tafsir menjadi disiplin ilmu tersendiri, maka ditulis dan terbitlah buku\u2013buku yang memuat khusus tafsir bi al-ma\u2019tsur lengkap dengan jalur sanad kepada Nabi Muhammad Saw, para Sahabat, dan Tabi\u2019in.<\/p>\n<p>Sumber rujukan tafsir bi al-ma\u2019tsur itu adalah Al-Qur\u2019an al-Karim, Sunnah Nabi SAW yang sahih dan perkataan Sahabat r.a. adapun perkataan yang bersumber dari Tabi\u2019in, ada yang menggolongkannya ma\u2019tsur dengan alasan karena mereka meriwayatkan dari sahabat dan sempat hidup bersama Sahabat, menuntut ilmu dengan mereka, dan mereka juga termasuk generasi salaf yang terbaik, dan perkataan mereka selalu menghiasi balentika kitab- kitab tafsir seperti Ibnu Jarir al-Tabariy dan generasi setelahnya. Sebagian ulama tidak menggolongkannya sebagai tafsir bil ma\u2019tsur, tetapi sebagai tafsir bi al-Ra\u2019yi, karena perbedaan pendapat di zaman tabi\u2019in lebih banyak dari kalangan Sahabat, selain itu para tabi\u2019in juga mengambil periwayatan dari Ahlul Kitab yang telah masuk Islam.<\/p>\n<p><strong>Macam \u2013 Macam dan Cara Penafsiran Al-Qur\u2019an dengan Tafsir Bi al-Ma\u2019tsur<\/strong><\/p>\n<p>1. Penafsiran ayat-ayat al-quran dengan ayat al-quran<br \/>\nSebagaian ayat al-Quran ada yang menafsirkan ayat al-Quran yang lainnya. Ada beberapa cara penafsiran ayat-ayat al-quran dengan ayat al-quran, yaitu adakalanya dalam satu. Ayat disebutkan dengan ringkas dan ayat yang lain diuraikan, disatu ayat besifat umum dalam ayat lain dikhussukan, ayat yang lain diuraikan, di satu ayat bersifat umum dalam ayat lain dikhususkan, ayat yang lain disebutkan secara mujmal dan lainnya dalam bentuk muqayyad.<\/p>\n<p>Kitab tafsir yang menggunakan cara ini dalam menafsirkan Alquran adalah: Muhammad Amin Asy-Syanqithi dalam karyanya Adwa Al-Bayan Fi Idah Al-Quran Bi Al-Quran. Untuk menafsir alquran dengan cara ini, seharusnya seorang mufassir dalam menafsirkan alquran melihat terlebih dahulu semua ayat alquran untuk mengetahui beberapa ayat yang sama-sama menyangkut sebuah topik dan menghubungkanantar satu ayat dengan ayat yang lainnya. Cara ini digunakan untuk memperoleh keterangan mengenai ayat yang disebutkan dengan ringkas dan terperinci, ayat mujmal, ayat mutlak dan muqayyad. Cara penafsiran semacam ini merupakan cara yang paling baik.<\/p>\n<p>2.Tafsir Al-Qur\u2019an dengan Hadis<br \/>\nMenafsirkan al-Qur\u2019an dengan hadits (sunnah Nabi). Penafsiran ini dilakukan jika tidak bisa lagi dilakukan dengan cara menafsirkan Alquran dengan alquran, maka dilakukanlah penafsiran alquran dengan hadits. Penafsiran ini berfungsi sebagai penjelas terhadap hal-hal yang masih bersifat global (bayan al-Taudhi), juga mengkhususkan (takhsis), dan menghapus nash. Contoh tafsir Al-quran dengan Hadits.<\/p>\n<p>Tafsir ayat Alquran dengan as-Sunah. Dalam hal ini as-Sunah menjelaskan Alquran jika dalam Alquran itu sendiri tidak terdapat penjelasan karena kedudukan\/fungsi as-Sunah sebagai penjelas terhadap Alquran. Hal ini dapat dilihat dalam penjelasan ayat dibawah ini \u201cDan Kami turunkan kepadamu Al Qur\u2019an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan\u201d. (Qs. An-Nahl: 44). Di antara contoh as-Sunah menjelaskan Alquran adalah:<\/p>\n<p>a. Firman Allah dalam QS. Al-An\u2019am: 82 \u201cOrang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan dan mereka orang-orang yang mendapat petunjuk\u201d. {Qs. Al-An\u2019am: Kata (kezaliman) dalam ayat tersebut, dijelaskan oleh Rasul Allah saw dengan pengertian (kemusyrikan). \u0627\u0644\u0634\u0631\u0643<br \/>\nb. Firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 238 \u201cPeliharalah segala shalat dan shalat wustha. {Qs. Al-Baqarah: 238). \u201c dijelaskan Kata \u201c\u0627\u0644\u0635\u0644\u0627\u0629 \u0627\u0644\u0648\u0633\u0637\u0649 oleh Nabi dengan \u201cshalat Asar\u201d.<br \/>\nc. Firman Allah SWT. \u201cJalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat\u201d. (Qs. Al-Fatihah: 7). Kata ditafsirkan \u0627\u0644\u0645\u063a\u0636\u0648\u0628 \u0639\u0644\u064a\u0647\u0645 \u0648\u0644\u0627 \u0627\u0644\u0636\u0627\u0644\u064a\u0646 oleh Nabi dengan orang Yahudi dan Nasrani.<\/p>\n<p>3.Tafsir Al-Qur\u2019an dengan Pendapat Sahabat.<br \/>\nPara ulama berpendapat bahwa setelah Nabi SAW wafat, orang paling memahami alquran adalah sahabat, sebab sahabat ini hidup pada saat Allah menurunkan alquran kepada Nabi Muhammad saw, dan mereka mengetahui kontekstual sosial, sebagai sebab-sebab sehingga diturunkannya ayat alquran untuk menjawabnya.oleh sebab itu pendapat-pendapat sahabat dijadikan ulama tafsir sabahan atau sumber dalam penafsiran ayat-ayat alquran. Sahabat adalah orang melihat sebab turunnya ayat dan mengenal situasi dan kondisi masyarakat, sahabat itu suci, baik dan ilmu mereka cukup tinggi dalam memahami ayat alquran. Sumber penafsiran dengan pendapat sahabat adalah al-Qur\u2019an, sunnah nabi, bahasa Arab, ahlu al-Kitab, pemahaman dan ijtihat, mengambil tafsir sahabat lain, dan menafsir ayat berdasarkan situasi dan kondisi saat ayat diturunkan.<\/p>\n<p>Tafsir al-Qur\u2019an dengan riwayat sahabat dilakukan apabila tidak ditemukan penafsiran dalam Alquran maupun as-Sunnah, maka hendaklak kita kembali kepada keterangan sahabat terkemuka yang saheh, karena merekalah yang pernah bersama Nabi, bergaul dengan beliau dan menghayati petunjuk-petunjuknya.\u201d Tafsir sahabat, yaitu:<br \/>\na. Tafsir yang langsung terangkat (marfu) kepada Nabi SAW.<br \/>\nb. Tafsir berdasarkan bahasa<br \/>\nc. Tafsir berdasarkan ahli Kitab<br \/>\nd. Tafsir berdasarkan Ijtihat<br \/>\nTabiin adalah selanjutnya setelah sahabat wafat. Tabiin adalah orang yang lebih mengetahui kandungan alquran pada masanya, karena mereka orang yang langsung hidup dan bergaul dengan para sahabat adalah mereka. Pendapat mereka dipandang sangat membantu generasi selanjutnya dalam memahami ayat alquran. Tafsir yang datang sumbernya dari tabi\u2019in, para ulama terjadi berbeda pendapat, antara lain:<br \/>\na. Ada yang menggolongkan ke dalam tafsir bi al-matsur<br \/>\nb. Adapula yang menggolongkan dalam kelompok tafsir bi ar-ra\u2019yi<br \/>\nTafsir bi al-ma\u2019tsur ini mempunyai kedudukan paling tinggi, kecuali tafsir bi al-ma\u2019sur yang datang dari tabi\u2019in, karena sedikit banya telah dipengaruhi oleh berbagai kecenderungan mereka dan sering bercampur dengan cerita-cerita isra\u2019iliyah. Sumber tafsir tabi in adalah:<br \/>\na. Al-Qur\u2019an, contoh penafsiran yang dilakukan tabiin terhadap surah At-Thalaq ayat 10 \u201cAllah menyediakan bagi mereka azab yang keras, Maka bertakwalah kepada Allah Hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu\u201d, {Qs. At-Thalaq: 10). Pendapat ini didasarkan pada surah al Syura ayat 52. \u201cDan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami\u201d. (Qs. As-Syura: 52)<br \/>\nb. Sunnah<br \/>\nc. Pendapat sahabat<br \/>\nd. Tafsir dari tabi in lainnya<br \/>\ne. Bahasa<br \/>\nf. Ahli kitab<br \/>\ng. Ijihad tabi in<br \/>\nh. Pengetahun tentang asbabun nuzul ayat turun.<\/p>\n<p><strong>Periodisasi<\/strong><br \/>\nTafsir bi al-ma\u2019tsur mempunyai dua periode, pertama periode riwayat, dan kedua periode kodifikasi.<br \/>\na. Periodisasi Pertama, Periode Riwayat<br \/>\nPeriode pertama ini adalah periode riwayat yang mengandung masa kenabiaan dan masa tabi\u2019in. Pada dua periode ini, Rasulullah menjelaskan kepada para sahabatnya tentang makna-makna Al-Qur\u2019an yang sulit dan para sahabat menguasai apa yang diajarkan Rasulullah kepada mereka (penjelasan itu Cuma dalam kadar yang sedikit), kemudian mereka menukilkannya kepada sebagian yang lain kemudian dinukilkan kembali kepada para tabi\u2019in generasi setelahnya.<br \/>\nb. Periodisasi Kedua, Periode Kodifikasi<br \/>\nPeriode kodifikasi tafsir bi al-ma\u2019tsur adalah periode berkala, yang membawa bendera atau sandi tersebut adalah para perawi hadits yang dipelopori oleh Imam Malik bin Anas Al-Ashbahi Imam Darul Hijrah (Madinah), beliau adalah orang yang pertama kali membukukan tafsir bi al-ma\u2019tsur Al-Qur\u2019an Al-Karim. Beliau menulisnya pada satu bab hadits dari beberapa bab hadits yang berbeda-beda dan mengumpulkannya dalam semua bab yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad, sahabat, dan tabi\u2019in. Tidak ada karya khusus yang memuat tafsir kecuali setelah masa tersebut.<br \/>\n<strong>Kitab<\/strong><br \/>\nAda beberapa contoh kitab tafsir bi al-Ma\u2019tsur, yang terpenting diantaranya:<br \/>\na. Jami\u2019 al-Bayan\u2019an Ta\u2019wil Ayi Al-Qur\u2019an (Himpunan Penjelasan Tentang Takwil Ayat-ayat AlQur\u2019an), 15 jilid dengan jumlah halaman sekitar 7.125, karangan Ibn Jarir al-Thabari (224310H\/846-922M).<br \/>\nb. Tafsir Al-Qur\u2019an al-Azhim (Tafsir Al-Qur\u2019an Yang Agung ), 4 jilid dengan sekitar 2.414 Halaman (termasuk 58 halaman sisipan ilmu tafsir pada jilid terakhir), karya Al-Hafish Imad Al-Din Abi-Alfida\u2019 Isma\u2019il bin Katsir Al-Quraisy Al-Dimasyqi (w.774H\/1343M).<br \/>\nc. Al-Durr al-mantsur fi al-tafsir bi al-Ma\u2019tsur (Mutiara Kata Prosa Yang Dikembangkan Dalam tafsir bi al-Ma\u2019tsur) susunan Jalal al-Din al-Suyuthi (849-911H\/1445-150S M), setebal 5.600-6.400 halaman dalam 18 jilid.<\/p>\n<p><strong>KESIMPULAN<\/strong><br \/>\nTafsir bi al-ma\u2019tsur merupakan metode penafsiran Al-Qur\u2019an yang berpegang pada sumber-sumber riwayat yang sahih, yaitu Al-Qur\u2019an, hadis Nabi SAW, pendapat sahabat, dan tabi\u2019in. Metode ini menekankan bahwa pemahaman terhadap ayat harus bersandar pada penjelasan generasi awal Islam yang paling mengetahui konteks turunnya wahyu. Prosedur penafsiran bi al-ma\u2019tsur dilakukan secara sistematis, dimulai dari menafsirkan ayat dengan ayat lain, kemudian dengan hadis, dan dilanjutkan dengan pendapat sahabat serta tabi\u2019in. Prinsip utama yang dijaga adalah keabsahan sanad dan kehati-hatian dalam menerima riwayat.<\/p>\n<p>Pendekatan yang digunakan dalam sistem bi al-ma\u2019tsur mencakup pendekatan tekstual, linguistik, dan historis. Ketiganya berfungsi untuk menjaga kemurnian makna Al-Qur\u2019an serta menghindari penafsiran yang lepas dari konteks aslinya. Dalam kajian Al-Qur\u2019an masa kini, metode bi al-ma\u2019tsur tetap relevan karena menjadi dasar utama dalam menjaga otentisitas tafsir. Walaupun muncul berbagai pendekatan tafsir modern, bi al-ma\u2019tsur tetap berfungsi sebagai landasan agar penafsiran tetap sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW dan pemahaman para sahabat.<\/p>\n<p>Dengan demikian, tafsir bi al-ma\u2019tsur tidak hanya penting dalam konteks sejarah keilmuan Islam, tetapi juga tetap dibutuhkan sebagai pedoman dalam mengembangkan penafsiran Al-Qur\u2019an yang ilmiah, terpercaya, dan berakar pada sumber yang otentik.<\/p>\n<p><strong>REFERENSI<\/strong><br \/>\n<em>Al-Hushari. A.M. (2014). Tafsir Ayat-Ayat Ahkam. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar<\/em><br \/>\n<em>Harun. S. (2012). Kaidah-Kaidah Tafsir. Jakarta Timur: Zikrul Bestari.<\/em><br \/>\n<em>Nasution. M. A. (2018). &#8220;Pendekatan dalam Tafsir&#8221;. Jurnal Hukum Ekonomi 4(2): 150:151. https:\/\/doi.org\/10.24952\/yurisprudwntia.v4i2.1505<\/em><br \/>\n<em>Nur. Afrizal. (2015). Khazanah dan Kebwibawaan Tafsir bil Ma&#8217;tsur. Pekanbaru: Asa Riau.<\/em><br \/>\n<em>Rahayu. T dan Alwizar. (2024). &#8220;Relevansi Sumber Tafsir Al-Qur&#8217;an: Perspektif Tafsir Bi Al-Ma&#8217;tsur, Bi Ar-Ra&#8217;yi, dan Bi Al-Isyari&#8221;. Jurnal Ilmu-Ilmu Al-Qur\u2019an 5(2): 571. https:\/\/doi.org\/10.37985\/hq.v5i2.337<\/em><br \/>\n<em>Saputro. B dan Kuswaya. A. (2019) Strategi Pengembangan Model Pembelajaran SIRSAINSUDU. Bengkulu: Buku Literasiologi.<\/em><br \/>\n<em>Shihab. M. Q. (2015). Kaidah Tafsir. Jakarta: Lentera Hati.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Arinda Rqhmi Auliani\u00b9, Bunga Jhanati Rionie\u00b2 Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang Email: arindarahmiauliani05@gmail.com, bungaaaoneee@gmail.com ABSTRAK Tafsir bi al-Ma\u2019tsur is a method of Qur\u2019anic interpretation based on authentic narrations derived from the Qur\u2019an itself, the Prophet\u2019s Hadith, the sayings of the Companions, and the Tabi\u2019in. This method represents the earliest form of Qur\u2019anic exegesis grounded [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":532,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"0","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"0","number_popup_post":"3","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","override_template":"1","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-21346","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21346","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21346"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21346\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21346"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21346"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21346"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}