{"id":21290,"date":"2025-12-03T20:43:57","date_gmt":"2025-12-03T12:43:57","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=21290"},"modified":"2025-12-03T20:48:06","modified_gmt":"2025-12-03T12:48:06","slug":"benarkah-mereka-nakal-atau-kita-yang-belum-memahami-tentang-attention-deficit-hyperactivity-disorder-adhd","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/benarkah-mereka-nakal-atau-kita-yang-belum-memahami-tentang-attention-deficit-hyperactivity-disorder-adhd\/21290\/","title":{"rendered":"Benarkah Mereka Nakal, atau Kita yang Belum Memahami Tentang Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)?"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-21291\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ADHD.webp\" alt=\"ADHD\" width=\"615\" height=\"410\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ADHD.webp 615w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ADHD-300x200.webp 300w\" sizes=\"(max-width: 615px) 100vw, 615px\" \/><\/p>\n<p>Oleh:<br \/>\nWilyani Handali, (Mahasiswa S2 Psikologi Universitas Tarumanagara)<\/p>\n<p>Dr. Riana Sahrani, Psikolog &#038; Pamela Hendra Heng, S.Pd., M.P.H., M.., Ph.D (Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara)<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p><strong>Label \u201cNakal\u201d yang Terlalu Mudah Kita Ucapkan<\/strong><\/p>\n<p>Pernahkah kamu bertemu dengan anak yang tampak tidak bisa diam, sering melamun saat pelajaran, atau tiba-tiba berbicara tanpa menunggu giliran? Banyak dari kita mungkin langsung menilai mereka \u201ctidak fokus\u201d atau \u201cnakal\u201d. Padahal, bisa jadi mereka sedang berjuang dengan sesuatu yang tidak terlihat, sesuatu yang disebut ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).<\/p>\n<p>ADHD bukan sekadar tentang sulit duduk diam atau tidak bisa konsentrasi. Di balik perilaku yang tampak \u201cberlebihan\u201d itu, ada dunia pikiran yang bergerak cepat, ide-ide yang berloncatan, dan perasaan yang sering kali sulit dikendalikan. Sayangnya, karena gejalanya sering disalahartikan, banyak anak dengan ADHD tumbuh dengan label negatif yang justru membuat mereka kehilangan kepercayaan diri.<\/p>\n<p>Pemaparan ini mencoba mengajak kita melihat ADHD dari sisi yang lebih manusiawi bukan sekadar gangguan, tetapi cara lain otak bekerja dan merespons dunia.<\/p>\n<p><strong>Apa Itu ADHD?<\/strong><br \/>\nADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan adanya gejala berkurangnya perhatian dan atau hiperaktivitas atau impulsivitas yang berlebihan. Menurut American Psychiatric Association, menyebutkan ciri penting dari ADHD adalah pola persisten dari kurangnya perhatian dan atau hiperaktivitas serta impulsivitas yang mengganggu fungsi atau perkembangan. ADHD bukanlah tentang kurangnya perhatian; melainkan, ketidakmampuan untuk mengatur perhatian. Gangguan ini berkembang ketika siswa memiliki kesulitan mengembangkan fungsi eksekutif, yaitu kemampuan untuk melakukan aktivitas mental yang membantu kebanyakan orang mengatur perilaku mereka (Barkley, 2006; Brown, 2007)<\/p>\n<p><strong>Siswa dengan ADHD umumnya memiliki gejala yang termasuk dalam salah satu dari tiga kategori berikut (American Psychiatric Association, 2013)<\/strong><\/p>\n<p><strong>ADHD \u2013 Predominantly Inattentive Type<\/strong><\/p>\n<p>\u25cf <strong>Kurang teliti\/ceroboh dalam pekerjaan<\/strong><br \/>\nMereka sering melakukan kesalahan kecil karena tidak memperhatikan detail. Misalnya, salah menulis angka, lupa memeriksa hasil kerja, atau melewatkan bagian penting dari tugasnya.<\/p>\n<p>\u25cf <strong>Sulit mempertahankan perhatian<\/strong><br \/>\nMereka mudah kehilangan fokus, terutama saat melakukan kegiatan yang monoton atau kurang menarik. Pikiran bisa cepat melayang ke hal lain meski sedang mengerjakan sesuatu yang penting.<\/p>\n<p>\u25cf <strong>Tampak tidak mendengarkan saat diajak bicara<\/strong><br \/>\nSaat orang lain berbicara, mereka sering terlihat \u201cmengawang\u201d atau tidak benar-benar menyimak. Bukan karena tidak peduli, tapi karena pikirannya mudah teralih.<\/p>\n<p>\u25cf <strong>Kesulitan mengorganisasi tugas<\/strong><br \/>\nMereka sering bingung menentukan mana yang harus dikerjakan dulu, tidak punya sistem kerja yang teratur, atau kesulitan menjaga jadwal dan prioritas. Akibatnya, pekerjaan sering menumpuk atau dikerjakan di menit terakhir.<\/p>\n<p>\u25cf T<strong>idak menindaklanjuti instruksi<\/strong><br \/>\nSering kali sudah diberi arahan, tapi tugas tidak diselesaikan seperti yang diminta bisa karena lupa, salah paham, atau kehilangan fokus di tengah jalan.<\/p>\n<p>\u25cf <strong>Menghindari tugas yang butuh fokus lama<\/strong><br \/>\nMereka cenderung menunda atau enggan memulai pekerjaan yang menuntut konsentrasi tinggi, seperti membaca laporan panjang atau menulis tugas. Biasanya karena merasa cepat bosan atau lelah berpikir.<\/p>\n<p>\u25cf <strong>Sering kehilangan barang<\/strong><br \/>\nBarang-barang seperti pulpen, kunci, atau ponsel sering hilang atau tertinggal di tempat yang tidak seharusnya. Ini terjadi karena kurangnya perhatian terhadap hal-hal kecil di sekitar.<\/p>\n<p>\u25cf <strong>Mudah teralihkan oleh hal lain<\/strong><br \/>\nSaat sedang mengerjakan sesuatu, hal kecil seperti suara, notifikasi, atau percakapan orang lain bisa langsung mengganggu fokus mereka.<\/p>\n<p>\u25cf <strong>Mudah lupa aktivitas sehari-hari<\/strong><br \/>\nHal-hal rutin seperti membalas pesan, membawa buku, atau menyelesaikan pekerjaan rumah sering terlupakan, bukan karena malas, tapi karena memori jangka pendek mereka mudah \u201cterlepas.\u201d<\/p>\n<p><strong>ADHD \u2013 Predominantly Hyperactive\u2013Impulsive Type<\/strong><\/p>\n<p>\u25cf <strong>Meninggalkan tempat duduk pada situasi yang mengharuskan duduk<\/strong><br \/>\nAnak atau orang ini sulit diam di tempat. Misalnya, saat sedang belajar di kelas, mereka bisa tiba-tiba berdiri, jalan-jalan, atau mengambil sesuatu tanpa izin, padahal seharusnya tetap duduk.<\/p>\n<p>\u25cf <strong>Sering gelisah di kursi, mengetuk meja dengan pensil atau jari, menggeliat di kursi<\/strong><br \/>\nMereka tampak tidak bisa diam selalu ingin bergerak. Bisa berupa mengetuk-ngetuk, menggoyang kaki, atau memutar-mutar benda di tangan. Ini bukan karena sengaja, tapi karena tubuhnya seperti \u201ctidak tenang.\u201d<\/p>\n<p>\u25cf <strong>Sering menyela atau langsung menjawab sebelum pertanyaan selesai<\/strong><br \/>\nMereka sulit menahan diri untuk menunggu orang lain bicara selesai. Sering memotong pembicaraan atau langsung menebak pertanyaan karena tidak sabar menunggu giliran.<\/p>\n<p>\u25cf <strong>Sering berjalan atau memanjat di tempat yang tidak seharusnya<\/strong><br \/>\nMereka punya dorongan kuat untuk bergerak dan kadang tidak bisa menahan diri, misalnya naik ke kursi, memanjat meja, atau mondar-mandir di tempat umum tanpa menyadari itu tidak pantas.<\/p>\n<p>\u25cf <strong>Tidak dapat bermain atau melakukan aktivitas santai dengan tenang<\/strong><br \/>\nSaat waktu bermain atau bersantai, mereka tetap aktif dan ramai. Misalnya, saat teman lain duduk menggambar, mereka malah berlarian atau berbicara terus. Sulit bagi mereka untuk menikmati kegiatan dengan tenang.<\/p>\n<p>\u25cf <strong>Kesulitan menunggu giliran<\/strong><br \/>\nMereka cepat merasa frustrasi kalau harus menunggu, baik saat bermain permainan bergiliran, antre, atau menunggu orang lain selesai bicara. Kesabaran bukan hal yang mudah bagi mereka.<\/p>\n<p>\u25cf <strong>Berbicara berlebihan<\/strong><br \/>\nMereka cenderung bicara terus tanpa jeda, sering berpindah topik, dan kadang tidak sadar kalau sudah mendominasi percakapan. Ini bisa terjadi karena energi mereka tinggi dan sulit dikendalikan.<\/p>\n<p><strong>ADHD \u2013 Combined Type<\/strong><br \/>\n\u25cf <strong>Memiliki ciri dari kedua tipe sebelumnya: kurang fokus dan hiperaktif\u2013impulsif<\/strong><br \/>\nArtinya, orang ini menunjukkan gabungan dari dua jenis perilaku mudah kehilangan fokus dan sulit diam. Mereka bisa tampak tidak memperhatikan saat diberi tugas, tapi di waktu lain juga tampak tidak bisa tenang, sering bergerak, atau bertindak tanpa berpikir dulu.<\/p>\n<p>\u25cf <strong>Sangat sulit mempertahankan perhatian<\/strong><br \/>\nMereka bisa fokus hanya sebentar, lalu cepat terdistraksi oleh hal kecil. Misalnya, saat belajar, baru beberapa menit sudah berpikir tentang hal lain atau melamun. Karena itu, tugas yang butuh konsentrasi lama sering tidak selesai.<\/p>\n<p>\u25cf <strong>Sulit membatasi gerakan dan perilaku impulsif<\/strong><br \/>\nMereka cenderung bertindak spontan tanpa berpikir dulu misalnya langsung berbicara saat ide muncul, memotong omongan orang, atau bergerak terus walau situasi menuntut tenang.<\/p>\n<p><strong>Ketika \u201cTidak Fokus\u201d Ternyata Bentuk Kreativitas<\/strong><br \/>\nBanyak orang mengira anak yang sulit fokus tidak mampu menyelesaikan sesuatu. Namun, bagi sebagian anak dengan ADHD, \u201ctidak fokus\u201d bukan berarti tidak bisa berpikir justru pikirannya bekerja lebih cepat dari yang kita bayangkan. Mereka melompat dari satu ide ke ide lain, melihat detail kecil yang sering luput dari perhatian orang lain. Saat pelajaran berlangsung, mereka mungkin tampak melamun atau menggambar di buku catatan, padahal sebenarnya mereka sedang menyalurkan energi kreatifnya dengan cara yang berbeda.<\/p>\n<p>Seperti seorang anak yang telah didiagnosa oleh psikolog. Anak tersebut hanya dapat duduk tenang ketika diberi tugas menggambar bebas. Dalam diam, ia bisa berjam-jam menumpahkan imajinasinya lewat warna dan bentuk yang rumit. Dari situ saya belajar, bahwa \u201ctidak fokus\u201d kadang hanyalah tanda bahwa anak sedang mencari medium yang tepat untuk mengekspresikan pikirannya.<\/p>\n<p>Melihat anak tersebut membuat saya berpikir, seberapa sering kita menilai anak dari cara mereka duduk diam atau mengikuti aturan? Padahal, tidak semua anak belajar dengan cara yang sama. Ada yang berpikir dengan berbicara, ada yang memahami dengan bergerak, dan<\/p>\n<p>ada yang menemukan ide justru ketika tampak tidak memperhatikan. Mungkin, dalam pandangan kita, mereka tampak tidak fokus atau tidak dapat duduk diam padahal mereka sedang berproses dengan caranya sendiri.<\/p>\n<p>Saat kita berhenti menuntut anak dengan ADHD untuk menjadi seperti anak-anak lain, saya justru mulai melihat potensinya tumbuh. Ia lebih berani mengungkapkan ide, lebih percaya diri, dan lebih mudah diajak berdiskusi. Dari situ saya belajar satu hal penting: ketika kita memberi ruang bagi anak untuk menjadi dirinya sendiri, mereka akan menunjukkan versi terbaik dari dirinya.<\/p>\n<p>Disitulah titik balik saya, saya mulai memahami bahwa seringkali bukan anak yang bermasalah, tapi justru cara kita melihat, menilai dan mendidik mereka yang perlu berubah.<\/p>\n<p><strong>Cara Mengembangkan Potensi Anak dengan ADHD<\/strong><\/p>\n<p>\u25cf <strong>Hilangkan distraksi di kelas<\/strong><br \/>\nAnak dengan ADHD sangat mudah terganggu oleh suara, gerakan, atau objek di sekitarnya. Otak mereka bekerja dengan sistem perhatian yang \u201cterbuka lebar\u201d, sehingga semua rangsangan tampak sama pentingnya.<\/p>\n<p>\u25cf <strong>Gunakan meja bilik atau pembatas<\/strong><br \/>\nMeja dengan sekat atau pembatas visual membantu anak membatasi pandangan ke area lain yang bisa mengalihkan perhatian.<\/p>\n<p>\u25cf <strong>Terapkan aturan &amp; rutinitas jelas<\/strong><br \/>\nAnak dengan ADHD membutuhkan struktur yang konsisten untuk merasa aman dan memahami ekspektasi. Ketidakjelasan dapat memicu impulsivitas atau kecemasan.<\/p>\n<p>\u25cf <strong>Persiapkan saat ada perubahan kegiatan<\/strong><br \/>\nPerubahan mendadak sulit bagi anak ADHD karena mereka kesulitan beralih fokus dengan cepat. Memberi tahu lebih awal membantu mereka menyesuaikan diri secara mental dan emosional. Gunakan warning time: beri tahu 5\u201310 menit sebelum pergantian kegiatan (\u201cSebentar lagi kita akan ganti ke pelajaran berikutnya\u201d). Tampilkan pengingat visual di papan tulis atau kartu jadwal. Ajak anak mengulang informasi (\u201csetelah menggambar, kita akan rapikan meja, ya\u201d).<\/p>\n<p>\u25cf <strong>Atur tempo pembelajaran<\/strong><br \/>\nAnak dengan ADHD sering membutuhkan waktu lebih singkat untuk mempertahankan fokus, tapi bisa bekerja efektif dalam potongan waktu kecil. Pembelajaran dengan tempo fleksibel membuat mereka tidak cepat kehilangan energi atau frustrasi.<\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong>:<\/p>\n<p>Friend, M., &amp; Bursuck, W. D. (2012). Including students with special needs: A practical guide for classroom teachers (6th ed.). Pearson Education, Inc.<\/p>\n<p>Oleh:<br \/>\n<strong>Wilyani Handali, (Mahasiswa S2 Psikologi Universitas Tarumanagara)<\/p>\n<p>Dr. Riana Sahrani, Psikolog &#038; Pamela Hendra Heng, S.Pd., M.P.H., M.., Ph.D (Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara)<\/strong>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Wilyani Handali, (Mahasiswa S2 Psikologi Universitas Tarumanagara) Dr. Riana Sahrani, Psikolog &#038; Pamela Hendra Heng, S.Pd., M.P.H., M.., Ph.D (Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara) Label \u201cNakal\u201d yang Terlalu Mudah Kita Ucapkan Pernahkah kamu bertemu dengan anak yang tampak tidak bisa diam, sering melamun saat pelajaran, atau tiba-tiba berbicara tanpa menunggu giliran? Banyak dari kita [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":21291,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-21290","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21290","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21290"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21290\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21291"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21290"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21290"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21290"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}