{"id":21266,"date":"2025-12-03T16:11:06","date_gmt":"2025-12-03T08:11:06","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=21266"},"modified":"2025-12-08T17:43:24","modified_gmt":"2025-12-08T09:43:24","slug":"manajemen-pendidikan-dalam-genggaman-5-0-peluang-dan-tantangan-mengelola-sekolah-cerdas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/manajemen-pendidikan-dalam-genggaman-5-0-peluang-dan-tantangan-mengelola-sekolah-cerdas\/21266\/","title":{"rendered":"Manajemen Pendidikan dalam Genggaman 5.0: Peluang dan Tantangan Mengelola Sekolah Cerdas"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-08-at-5.27.42-PM.jpeg\" alt=\"\" width=\"1243\" height=\"1280\" class=\"aligncenter size-full wp-image-21453\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-08-at-5.27.42-PM.jpeg 1243w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-08-at-5.27.42-PM-291x300.jpeg 291w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-08-at-5.27.42-PM-994x1024.jpeg 994w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-08-at-5.27.42-PM-768x791.jpeg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-08-at-5.27.42-PM-750x772.jpeg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-08-at-5.27.42-PM-1140x1174.jpeg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1243px) 100vw, 1243px\" \/><\/p>\n<p>Oleh:<br \/>\n<strong>Indria Putri Khoirunnisa<br \/>\nMahasiswi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Prodi Manajemen Pendidikan<br \/>\nUIN Syarif Hidayatullah Jakarta <\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Manajemen pendidikan di era 5.0 berfokus pada penggunaan teknologi untuk mewujudkan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Urgensinya sangat tinggi dalam mengelola sekolah cerdas karena berperan sebagai kunci utama dalam menciptakan sekolah yang berkualitas, adaptif, dan responsif terhadap perkembangan zaman. Perkembangan sistem manajemen pendidikan di era 5.0 merupakan perubahan paradigma yang didorong oleh kemajuan teknologi dan digitalisasi. Singapura melalui NIE (National Institute of Education) menerapkan pelatihan berbasis teknologi secara berkelanjutan. Konsep sekolah cerdas fokus pada integrasi teknologi digital sebagai pilar utama dalam pembelajaran seperti Artificial Intelligence, sistem pengawasan dan keamanan digital, pengelolaan data secara real-time, serta mengedepankan pembelajaran berbasis tantangan, seperti pengajaran coding dan kecerdasan buatan yang mulai masuk kurikulum Indonesia sejak tahun ajaran 2025\/2026. Berdasarkan penelitian World Bank tahun 2024 ada sekitar 47% guru di negara berkembang memiliki keterampilan digital untuk mengadopsi teknologi pada pembelajaran. Era society 5.0 lahir untuk mengantisipasi gejolak disrupsi Revolusi Industri 4.0 yang menciptakan kompleksitas VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Penulis berargumen bahwa pengelolaan sekolah cerdas di era digital menghadapi beragam masalah diantaranya kesenjangan digital, kesiapan infrastruktur, serta masalah keamanan data\/privasi. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi perkembangan konsep sekolah cerdas dan mengidentifikasi peluang serta tantangan manajemen pendidikan di era 5.0.<\/p>\n<p><strong>Konsep Manajemen Pendidikan dalam Pengelolaan Sekolah Cerdas di era 5.0<\/strong><br \/>\nDalam pandangan penulis, Manajemen Pendidikan di era society 5.0 memanfaatkan teknologi dan inovasi digital untuk mendongkrak efisiensi, efektivitas, dan kualitas sistem pendidikan. Karakteristiknya berorientasi pada tujuan pendidikan, bersifat sistematis, melibatkan SDM, humanistic, beretika, serta berbasis data dan teknologi. Perbedaan utamanya terletak pada fokus dan orientasi yang mendasari. Manajemen Pendidikan 4.0 berpacu pada digitalisasi dan otomatisasi proses berbasis teknologi dan data. Sementara Manajemen Pendidikan 5.0 fokus pada keseimbangan teknologi dan manusia sebagai pusatnya dengan persentase 82%, menekankan pembelajaran personalisasi, kolaboratif, inovatif, sekaligus mengembangkan aspek kemanusiaan. <\/p>\n<p>Kepala sekolah merupakan pimpinan suatu institusi pendidikan (Soebagio dalam Suwar, 2000:2). Penulis mengadopsi pandangan Wijono bahwa tugas kepala sekolah dikelompokkan menjadi tiga yakni, Administrasi materi, Administrasi personalia, dan Administrasi kurikulum. Adapun tujuh peran utama menurut kebijakan pendidikan nasional (Depdiknas, 2006): pendidik, manajer, pengelola, pengawas, pemimpin, pencipta lingkungan kerja, dan wirausahawan. Penulis juga menunjukkan data OECD bahwa 78% keberhasilan transformasi sekolah cerdas ditentukan oleh kesiapan kepala sekolahnya. Lebih jauh lagi terdapat temuan bahwa kepala sekolah yang melek digital mampu meningkatkan efektivitas manajemen hingga 30-40%.<\/p>\n<p><strong>Pengelolaan Sekolah Cerdas (Smart School Manajement) dalam Era Digital<\/strong><br \/>\nPengelolaan sekolah cerdas dalam era digital melibatkan integrasi teknologi seperti AI, Big Data, dan Internet of Things untuk menciptakan manajemen yang efisien, transparan, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan. Data UNESCO menunjukkan peningkatan adopsi AI dakam pendidikan sebesar 57% dalam dua tahun terakhir. AI dalam pendidikan dapat mengotomatiskan tugas rutin, memberikan wawasan berdasarkan data, dan menghadirkan alat yang berharga untuk meningkatkan pembelajaran. Siswa saat ini menghabiskan banyak waktu untuk belajar dengan 73% menghabiskan 1-2 (44%) atau 3-4 (29%) jam belajar setiap malam. Menariknya, lebih banyak siswa mengatakan bahwa mereka telah menggunakan ChatGPT atau teknologi AI serupa (72% berbanding 61%), dan lebih dari sebagian (54%) dari siswa ini menyatakan pengalaman belajar mereka secara komprehensif telah mendapatkan dampak positif. <\/p>\n<p>Penulis menggunakan bukti empiris untuk berargumen bahwa penggunaan Sistem Informasi Manajemen Sekolah tak hanya mempercepat administrasi, tetapi meningkatkan kualitas pedagogis melalui perencanaan yang sesuai kebutuhan siswa, yakni kasus di SMP Negeri 11 Lhokseumawe. SIMS menyediakan data historis yang membantu guru menganalisis dan memperbaiki metode pembelajaran secara berkelanjutan. Penulis mengangkat survei yang dilakukan di University of Kansas, aplikasi pembayaran SPP berbasis web dapat mengurangi kesalahan administrasi karena lebih dari 50% sekolah kesulitan mengelola data secara manual. Contoh nyata SIMS ialah absensi digital, data kehadiran dapat diakses oleh kepala sekolah dan staf administrasi. Penulis juga berargumen bahwa sekolah cerdas harus peduli lingkungan, dengan mengambil contoh SD Negeri Beloh mengimplementasikan edukasi Green Sustainability melalui pendekatan seperti Pelatihan Guru: Pelatihan konsep Green Sustainability dan cara mengintegrasikan dalam pelajaran sehari-hari, serta Integrasi Kurikulum: memasukkan materi pelestarian lingkungan ke dalam mata pelajaran IPA dan PPKn, prinsip Green Sustainability serta materi terbuka.<\/p>\n<p><strong>Peluang Manajemen Pendidikan di Era 5.0<\/strong><br \/>\nPembelajaran Berbasis AI (Artificial Intelelligence) dalam Manajemen Sekolah adalah karakteristik utama masyarakat 5.0 membuka peluang untuk menghadirkan sistem pembelajaran yang personal dan interaktif dengan fakta implementasi seperti Intelligent Tutoring System berbasis Augmented Reality untuk materi Geometri Dimensi dan aplikasi mentor virtual seperti Blackboard yang paling diminati di Perguruan Tinggi Eropa dan Amerika. Adapun Perzonalized Learning diterapkan oleh Khan Academy, Duolingo, dan Ruang guru. Maureen Lamb, Dekan Teknologi Akademik dan Pedagogi Inovatif di Ethel Walker School menyatakan, \u201cBukan siswa malas yang tertarik pada AI. Sebagian besar siswa yang menggunakan AI sangat konservasi pada pengalaman belajar mereka\u201d.<\/p>\n<p>Peningkatan Efisiensi Operasional, sebagai pemimpin digital (kepala sekolah) harus mendorong inovasi, menggunakan data objektif, mengidentifikasi peluang, serta membangun kepercayaan. Penulis menyajikan data persentase terkait penggunaan AI yang paling umum bagi guru dalam penelitian (44%), perencanaan pembelajaran (38%), meringkas atau mensintesis informasi (38%), dan pembuatan materi kelas seperti tugas dan tes (37%). Dampak operasional seperti penilaian, pengelolaan jadwal, dan pelaporan terbukti menciptakan efisiensi pada inovasi pembelajaran. <\/p>\n<p>Implementasi Smart Campus di Indonesia, penulis memaparkan salah satu teknologi yang diterapkan adalah optimalisasi jaringan WiFi dengan 0,75 Kapasitas Bandwidth Per Mahasiswa atau 0,75 Kbps per mahasiswa.  Selain itu, aplikasi e-learning harus dioptimalkan untuk akses multi perangkat (smartphone, tablet, atau laptop). Hal ini membuat penyebaran data lebih efektif, efisiensi administrasi meningkat, dan mengintegrasikan sistem informasi terpadu. <\/p>\n<p><strong>Tantangan Manajemen Pendidikan di Era 5.0<\/strong><br \/>\nPenulis memaparkan tiga tantangan dalam digitalisasi sekolah, yakni Kesenjangan digital dan infrastruktur sekolah, tidak semua siswa memiliki akses yang sama terhadap teknologi. Guru dan staf pendidik mungkin menghadapi kendala dalam memahami teknologi, yang dapat membatasi bagaimana mereka dapat menggunakannya dalam proses pembelajaran. Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay menyoroti bahwa kesenjangan digital itu masih ada. Saat ini, 32% populasi global, 2,6 miliar orang masih kekurangan akses internet, 1,8 miliar di antaranya tinggal di daerah pedesaan.  Konektivitas sekolah saat ini meliputi sepertiga SMA, separuh SMP, dan 60% SD di seluruh dunia belum terhubung ke internet. <\/p>\n<p>Kapabilitas tenaga pendidik, penulis menilai banyak pendidik belum sepenuhnya siap mengadopsi teknologi seperti platform digital atau pembelajaran berbasis AI, akibat kurangnya pelatihan teknologi dan literasi digital yang berujung pada ketidakefektifan pembelajaran. Menurut data BPS, persentase guru yang memenuhi kualifikasi akademik nasional pada tahun ajaran 2023\/2024 mencapai 97,33% (meningkat 0,38 poin dari tahun ajaran sebelumnya). Guru SMP yang memenuhi kualifikasi naik 0,12 poin menjadi 98,04% dalam periode yang sama. Namun, jumlah guru yang memenuhi kualifikasi akademik di SMA dan SMK telah berkurang.<\/p>\n<p>Masalah keamanan data, privasi, dan etika siswa. Penulis menekankan bahwa lonjakan penggunaan teknologi membawa resiko serangan siber (malware, virus, worm, trojan, dan spyware) menjadi masalah utama. Menurut Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital menekankan bahwa perlindungan anak di dunia digital harus dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan semua pihak. Melalui Peraturan Pemerintah No.17 Tahun 2025 (ditetapkan 28 Maret 2025, berlaku 1 April 2025) tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak, Indonesia memperkuat komitmennya untuk melindungi anak-anak dan kelompok rentan di dunia maya, memberikan dasar hukum yang kuat bagi negara untuk menjadikan dunia digital aman dan berkeadilan. Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 48 Ayat 1 \u201cLembaga pendidikan bertanggung jawab untuk menjaga privasi siswa, bertanggung jawab atas pengelolaan data tersebut, serta kebijakan tata kelola data sekolah yang transparan penting untuk melindungi hak siswa, menjamin keamanan, keutuhan data, dan membangun kepercayaan antara sekolah, siswa, orang tua, dan masyarakat luas.\u201d Menurut Yudhistira Nugraha, Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemendikdasmen menyatakan bahwa keamanan siber merupakan tanggung jawab semua pihak dalam ekosisten pendidikan. Penulis juga berargumen Resistensi budaya dan hambatan perubahan manajemen sekolah secara khusus dipengaruhi oleh pengakuan dan komunikasi yang efektif. Selain itu Sekolah tradisional biasanya menggunakan metode dan cara kerja lama yang cenderung konservatif dan menolak inovasi.<\/p>\n<p><strong>Studi Kasus <\/strong><br \/>\nPraktik inovasi dalam peningkatan prestasi dan kualitas layanan pendidikan. Program pendidikan inovatif bukanlah sekedar tren, melainkan kebutuhan mutlak untuk mempersiapkan generasi muda agar mampu bersaing di kancah internasional pada era globalisasi yang semakin kompetitif. Penulis menyajikan contoh konkret yaitu Akademi Sekolah Alam dan Akademi Sekolah Sampoerna menggunakan metode pembelajaran berbasis proyek dan lingkungan belajar yang mendorong kreativitas serta eksplorasi. Adapun berbagai model pembelajaran inovatif yaitu Project Based Learning, Problem Based Learning, dan Flipped Classroom. Adapun layanan inovasi di SD Hj Isriati Baiturrahman 1 dimulai dengan analisis faktor internal dan eksternal sekolah.<\/p>\n<p>Konsep Smart Classroom merupakan ruang yang dilengkapi teknologi digital untuk menciptakan kegiatan belajar mengajar kontemporer. Adapun model smart classroom yang sering kita temui diantaranya model klasik (penerapan teknologi dasar dalam setting kelas konvensional), model 1:1 iPad, model BYOD (Bring Your Own Device), model Virtual Classroom, dan model Blended learning.<\/p>\n<p><strong>Simpulan dan Rekomendasi<\/strong><br \/>\nManajemen pendidikan dalam genggaman 5.0 menuntut transformasi secara komprehensif. Transformasi ini diperlukan untuk menjawab tantangan zaman dan memastikan pendidikan memberikan layanan yang relevan, efektif, dan berkualitas dalam konteks era digital. Maka dibutuhkan penguatan kapasitas digital kepala sekolah dan guru, peningkatan infrastruktur pendidikan berbasis teknologi, pengembangan kebijakan data dan etika dalam penggunaan AI, serta implementasi sistem manajemen cerdas. Rekomendasi ini bertujuan untuk memperkuat pendidikan yang adaptif dan responsif terhadap perkembangan, serta menyiapkan tenaga pendidik dan manajemen yang siap menghadapi era pendidikan digital. Penulis menegaskan bahwa transformasi manajemen pendidikan 5.0 bukan sekedar teknologi, tetapi tentang menciptakan harmoni antara kecerdasan buatan dan kecerdasan manusia dalam membangun generasi yang cerdas secara intelektual dan moral di tengah derasnya kemajuan teknologi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Indria Putri Khoirunnisa Mahasiswi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Prodi Manajemen Pendidikan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta JurnalPost.com &#8211; Manajemen pendidikan di era 5.0 berfokus pada penggunaan teknologi untuk mewujudkan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Urgensinya sangat tinggi dalam mengelola sekolah cerdas karena berperan sebagai kunci utama dalam menciptakan sekolah yang berkualitas, adaptif, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":21453,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-21266","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21266","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21266"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21266\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21453"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21266"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21266"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21266"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}