{"id":21174,"date":"2025-12-01T09:45:29","date_gmt":"2025-12-01T01:45:29","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=21174"},"modified":"2025-12-01T09:45:29","modified_gmt":"2025-12-01T01:45:29","slug":"resensi-buku-seni-untuk-tetap-waras-karya-novol-wattimena","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/resensi-buku-seni-untuk-tetap-waras-karya-novol-wattimena\/21174\/","title":{"rendered":"RESENSI BUKU \u201cSENI UNTUK TETAP WARAS\u201d KARYA NOVOL WATTIMENA"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-21175\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar1.jpg\" alt=\"\" width=\"295\" height=\"422\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar1.jpg 295w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar1-210x300.jpg 210w\" sizes=\"(max-width: 295px) 100vw, 295px\" \/><\/p>\n<p>Identitas Buku<br \/>\nJudul : Seni Untuk Tetap Waras<br \/>\nPenulis : Novol Wattimena<br \/>\nPenerbit : CV Diomedia<br \/>\nTahun Terbit : 2025<br \/>\nTempat Terbit : Sukoharjo<br \/>\nTebal Halaman : xvi + 176 hal, 13 x 19cm<br \/>\nCetakan : Pertama<br \/>\nISBN : 976-634-7208-23-1<br \/>\nHarga : Rp 79.000,00<\/p>\n<p><strong>Biografi Penulis<\/strong><br \/>\nNovol Wattimena, seorang lulusan Sarjana Peternakan kelahiran 25 Oktober 1995 yang masih ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Buku dengan judul \u201cSeni Untuk Tetap Waras\u201d merupakan buku ke dua yang ia terbitkan setelah buku pertamanya yaitu \u201c Sekat\u201d yang diterbitkan oleh Loka Media pada tahun 2022. Tidak hanya menulis Novol juga sangat menyukai dunia bisnis, khususnya bisnis sosial atau socioentrepeneur. Saat ini, ia bekerja sebagai seorang pegawai pemerintahan dan selalu merasa senang ketika diajak cerita dan mendiskusikan banyak hal.<\/p>\n<p><strong>Sinopsis<\/strong><br \/>\nBuku \u201cSeni Untuk Tetap Waras\u201d berisi kumpulan tulisan refleksi yang lahir dari perjumpaan penulis dengan hidup, dengan orang lain, dan terutama dengan dirinya sendiri. Di Tengah dunia yang terasa serba cepat, memmbandingkan, dan penuh tuntutan, buku ini menawarkan jeda atau ruang hening untuk menatap diri, mengenali luka, dan belajar merawat batinsecara lembut. Melalui empat bagian besar, Novol Wattimena mengantar pembaca menyusuri tema dasar tentang bagaimana manusia bertahan secara mental.<\/p>\n<p>Bagian pertama menegaskan bahwa hidup, betapapun ramai, pada akhirnya Kembali pada diri sendiri. Di sini penulis mengajak pembaca untuk tidak terlalu menggantungkan diri kepada orang lain, memahami batas kemampuan, serta menerima bahwa tidak semua haldapat dipaksakan. Pada bagian kedua, penulis memberi perhatian pada upaya mempertahankan kewarasan di Tengah tekanan yang tak jarang datang dari luar diri. Tulisan-tulisan dalam bagian ini menghadirkan ajakan untuk menyelamatkan diri sendiri, tidak terjebak dalam kompetisi semu, menyisihkan ruang bagi apresiasi diri, dan berani hidup tanpa kecemasan yang dibuat-buat.<\/p>\n<p>Bagian ketiga berkutat pada soal perasaan, segala yang sering kali tidak nampak, tetapi diam-diam mengendalikan langkah. Di sini, penulis mendorong pembaca untuk berdamai dengan luka, mengakui Batasan, serta memahami bahwa menjadi paling yang terluka bukanlah kompetisi yang patut dirayakan. Pada bagian penutup, Novol menghadirkan ruang renung yang lebih luas. Ia menyinggung hal-hal yang tak selalu dapat dijelaskan, sekaligus mengingatkan bahwa beberapa hal untuk ditakdirkan untuk pergi dan tak perlu digenggam erat-erat.<\/p>\n<p>Ditulis dengan Bahasa ringan, hangat, dan bersifat personal, buku ini tidak menggurui. Ia lebih seperti teman duduk yang menenangkan dengan cerita perlahan, sambil menegaskan bahwa manusia berhak didengar, disembuhkan, dan memberi terima kasih kepada dirinya sendiri. Novol mengajak pembaca menyadari suatu hal sederhana seperti, hidup memang tidak mudah, tetapi selalu ada cara yang lembut untuk tetap waras menjalani sehari-hari.<\/p>\n<p><strong>Kelebihan<\/strong><br \/>\nKelebihan buku ini terletak pada penggunaan bahasa yang ringan dan sederhana, sehingga pembaca dapat menikmati isi tulisan tanpa merasa terbebani. Topik-topik yang diangkat juga relate dan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari., seperti tekanan sosial, media sosial, hubungan dengan orang lain, dan cara menerima diri, membuat pembaca merasa akrab dengan pesan yang ingin disampaikan. Selain itu, buku ini menawarkan sudut pandang yang menenangkan tentang pentingnya merawat diri, bahwa menjaga kewarasan bukanlah hal rumit, dan dapat dimulai dari hal sederhana, seperti memberi jeda dan lebih menyayangi diri sendiri. Gaya penulisan yang tidak menggurui membuat buku ini terasa hangat, seolah pembaca sedang berbincang dengan teman. Pembagian isi menjadi empat bagian juga membuat alur pembahasan lebih terstruktur dan mudah diikuti. Tidak hanya berisi pesan yang reflektif, buku ini juga memberi dorongan emosional yang dapat menenangkan pembaca yang sedang lelah atau kebingungan menghadapi hidup.<\/p>\n<p><strong>Kekurangan<\/strong><br \/>\nMeskipun menawarkan banyak pesan baik. Buku ini memiliki beberapa kelemahan yang perlu diperhatikan. Salah satunya terdapat cukup banyak kesalahan penulisan (typo) yang muncul di beberapa bagian. Hal ini membuat alur bacaan sedikit terganggu. Selain itu, sejumlah kalimat dinilai kurang efektif dan menggunakan diksi yang berulang, sehingga pesan yang ingin disampaikan menjadi kurang jelas. Akibatnya, pembaca merasa bingung dan perlu mengulang membaca beberapa kali untuk memahami maksud penulis. Bebrapa ide juga terasa berputar di sekitar tema yang sama, sehingga menimbulkan Kesan repetitif. Keterbatasan contoh konkret atau pengalaman personal yang lebih mendalam membuat sebagian pesan terasa umum dan tidak terikat pada konteks tertentu. Meski demikian, kekurangan-kekurangan ini tidak sepenuhnya menghilangkan nilai positifnya, hanya saja perlu diperbaiki pada edisi selanjutnya agar pesan yang ingin disampaikan dapat lebih mudah diterima pembaca.<\/p>\n<p><strong>Kesimpulan<\/strong><br \/>\nSecara keseluruhan, \u201cSeni Untuk Tetap Waras\u201d karya Novol Wattimena merupakan bacaan yang hangat dan menenangkan, terutama bagi siapa pun yang sedang lelah menghadapi hidup. Lewat bahasa yang sederhana dan dekat dengan keseharian, buku ini mengajak pembaca untuk mengenali diri, menerima keadaan, serta memberi ruang bagi proses penyembuhan batin. Meski masih ditemui beberapa kekurangan seperti typo, pengulangan diksi, dan kalimat yang kurang efektif, pesan utama yang ingin disampaikan tetap dapat dirasakan. Buku ini cocok dibaca oleh remaja akhir hingga orang dewasa sekitar usia 17 tahun ke atas yang sedang belajar memahami dirinya, berusaha menjaga kesehatan mental, atau sedang mencari teman cerita dalam bentuk tulisan. Tidak hanya bagi pembaca yang sedang berada dalam masa sulit, buku ini juga layak dibaca oleh siapa saja yang ingin menjalani hidup dengan lebih tenang dan penuh dengan penerimaan.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-21176\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar2.jpg\" alt=\"\" width=\"156\" height=\"235\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar2.jpg 230w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Gambar2-199x300.jpg 199w\" sizes=\"(max-width: 156px) 100vw, 156px\" \/><\/p>\n<p>Identitas Penulis<br \/>\n<strong>Siti Novia Cahyaningsih<\/strong>, mahasiswa aktif Program Studi Tadris (Pendidikan) Bahasa Indonesia, Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta.<br \/>\nInstagram: _s.stinva<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Identitas Buku Judul : Seni Untuk Tetap Waras Penulis : Novol Wattimena Penerbit : CV Diomedia Tahun Terbit : 2025 Tempat Terbit : Sukoharjo Tebal Halaman : xvi + 176 hal, 13 x 19cm Cetakan : Pertama ISBN : 976-634-7208-23-1 Harga : Rp 79.000,00 Biografi Penulis Novol Wattimena, seorang lulusan Sarjana Peternakan kelahiran 25 Oktober [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":21175,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[261],"tags":[],"class_list":["post-21174","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-resensi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21174","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21174"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21174\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21175"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21174"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21174"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21174"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}