{"id":21112,"date":"2025-11-29T13:29:15","date_gmt":"2025-11-29T05:29:15","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=21112"},"modified":"2025-11-29T13:29:33","modified_gmt":"2025-11-29T05:29:33","slug":"mahasiswa-mkwk-usu-gelar-sosialisasi-anti-perundungan-untuk-siswa-smp-santo-thomas-4-medan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/mahasiswa-mkwk-usu-gelar-sosialisasi-anti-perundungan-untuk-siswa-smp-santo-thomas-4-medan\/21112\/","title":{"rendered":"Mahasiswa MKWK USU Gelar Sosialisasi Anti-Perundungan untuk siswa SMP Santo Thomas 4 Medan"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_21113\" aria-describedby=\"caption-attachment-21113\" style=\"width: 637px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Gambar1-7.jpg\" alt=\"\" width=\"637\" height=\"394\" class=\"size-full wp-image-21113\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Gambar1-7.jpg 637w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Gambar1-7-300x186.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 637px) 100vw, 637px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-21113\" class=\"wp-caption-text\">Kelompok MKWK 102 \u201cPerundungan\u201d USU saat mengambil dokumentasi bersama para siswa setelah menyampaikan materi mengenai pengaruh perundungan di SMP Santo Thomas 4 Medan (1\/11\/2025).<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Medan, JurnalPost.com<\/strong> \u2014 Kasus perundungan di lingkungan pendidikan masih menjadi perhatian serius di Indonesia. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) serta berbagai laporan media menunjukkan bahwa perundungan, baik dalam bentuk fisik, verbal, maupun siber, terus marak terjadi dan berdampak besar pada kondisi psikologis serta akademik siswa. Tidak jarang, kasus seperti ini luput dari pengawasan orang dewasa karena korban merasa malu, takut, atau enggan melapor. Budaya diam di kalangan pelajar pun memperburuk situasi, sebab saksi kerap memilih bungkam demi menghindari risiko menjadi target berikutnya.<\/p>\n<p>Melihat urgensi tersebut, Kelompok MKWK Perundungan 102 menggelar kegiatan sosialisasi bertema edukasi dan pencegahan perundungan di SMP Santo Thomas 4 Medan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai bahaya perundungan, faktor penyebab, dampak terhadap perkembangan siswa, serta strategi pencegahan yang dapat dilakukan oleh pelajar maupun pihak sekolah.<\/p>\n<p>Mahasiswa Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Universitas Sumatera Utara dari Kelompok 102 melaksanakan kegiatan sosialisasi bertema Anti-Perundungan kepada 30 siswa kelas VII di SMP Santo Thomas 4 Medan. Kegiatan ini dipimpin oleh Maharga Rafif Akbar dan melibatkan 20 mahasiswa MKWK sebagai fasilitator, dengan tujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai bullying serta menumbuhkan budaya saling menghargai di lingkungan sekolah.<\/p>\n<p>Kegiatan sosialisasi digelar sebagai respon terhadap masih seringnya kasus perundungan terjadi di lingkungan pendidikan. Perundungan dinilai tidak hanya mengganggu proses belajar, tetapi juga berdampak pada kondisi psikologis dan kesehatan mental siswa. Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa MKWK USU merancang program edukatif yang dapat membantu sekolah menciptakan suasana belajar yang aman dan bebas dari tindakan bullying.<\/p>\n<p>Selama kegiatan berlangsung, para mahasiswa memaparkan materi mengenai jenis-jenis perundungan, dampaknya bagi korban, serta langkah-langkah pencegahan dan cara melapor bila mengalami atau menyaksikan kejadian bullying. Penyampaian materi dikombinasikan dengan diskusi interaktif dan ice breaking untuk membantu siswa memahami konsep perundungan dengan lebih ringan dan mudah diingat. Mahasiswa juga menyiapkan spanduk kampanye Anti-Perundungan yang dapat digunakan pihak sekolah sebagai media edukasi berkelanjutan. Selain itu, kelompok ini menghasilkan satu video edukasi yang mendukung penyampaian pesan anti-bullying.<\/p>\n<p>Program ini terlaksana melalui kolaborasi antara mahasiswa MKWK, pihak sekolah, dan dosen fasilitator MKWK USU. Kepala Sekolah SMP Santo Thomas 4 Medan, para guru, serta LIDA USU memberikan dukungan penuh agar kegiatan dapat berjalan optimal. Dosen fasilitator, Drs. Pilemon Bukit, M.Th., dan mentor mahasiswa, Cindy Anastasia, turut mendampingi proses perancangan hingga pelaksanaan kegiatan.<\/p>\n<p>Kepala sekolah SMP Santo Thomas 4 Medan menyampaikan apresiasinya terhadap program ini dengan mengatakan, \u201cSosialisasi ini sangat membantu siswa dalam memahami bahwa bullying adalah masalah serius yang harus dicegah bersama.\u201d Sementara itu, siswa\/siswi yang diwawancarai menyampaikan, harapannya setelah mengikuti sosialisasi tersebut. Galang, salah satu siswa kelas VIII, berharap kegiatan ini dapat membuka kesadaran teman-temannya yang masih suka melakukan perundungan, terutama kepada siswa yang memiliki keterbatasan.\u201cSemoga setelah sosialisasi ini, teman-teman yang masih suka membuli orang yang punya keterbelakangan bisa sadar bahwa membuli itu tidak baik dan bisa membuat korbannya sengsara,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Kartika, siswi lainnya, menyampaikan harapannya agar sekolah dapat memperkuat upaya pencegahan bullying melalui materi khusus di lingkungan sekolah.\u201cSetelah ikut sosialisasi ini, saya berharap SMP Santo Thomas 4 Medan bisa membuat materi atau program untuk mencegah bullying, supaya tidak terjadi lagi perundungan pada siswa\/siswi,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Melalui kegiatan ini, mahasiswa MKWK USU tidak hanya menerapkan pembelajaran berbasis proyek, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan sekolah. Sosialisasi anti-perundungan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran siswa tentang pentingnya menghargai satu sama lain serta memperkuat komitmen sekolah dalam menciptakan suasana belajar yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.<\/p>\n<p>Mahasiswa dan mahasiswi yang aktif dalam kegiatan itu yakni:<br \/>\n1.\tSofie nurani Samosir (250200163)<br \/>\n2.\tMutiara uli Salsabila ( 250502029)<br \/>\n3.\tChristine Aulia Zai (250709006)<br \/>\n4.\tKerenhapukh Sibuea (250304068)<br \/>\n5.\tRirin Trihapsari (251501166)<br \/>\n6.\tAsriyanti Dedy Syahputri Siregar (251301088)<br \/>\n7.\tSteven Julius Tambunan (250803058)<br \/>\n8.\tSubhan Az Zikra (250406010)<br \/>\n9.\tKhesia Iren Nathalia Br Sianturi (250905035)<br \/>\n10.\tAlexy Christian Sembiring(250200453)<br \/>\n11.\tMuhammad syarif al fawwaz(2509020105)<br \/>\n12.\tDhea Sabiha Aliya (250503121)<br \/>\n13.\tSayyidah Nafisah (251000300)<br \/>\n14.\tAzriel Zaidan Arva (251401137)<br \/>\n15.\tGlen Vicky Wahyu (250402117)<br \/>\n16.\tArya Musica Sembiring (250308001)<br \/>\n17.\tMaharga Rafif Akbar (250301144)<br \/>\n18.\tMontasir Kamrul (250907122)<br \/>\n19.\tSyakila Nabiha (250704040)<br \/>\n20.\tReihan Eriza Wildani (251201026)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Medan, JurnalPost.com \u2014 Kasus perundungan di lingkungan pendidikan masih menjadi perhatian serius di Indonesia. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) serta berbagai laporan media menunjukkan bahwa perundungan, baik dalam bentuk fisik, verbal, maupun siber, terus marak terjadi dan berdampak besar pada kondisi psikologis serta akademik siswa. Tidak jarang, kasus seperti ini luput dari pengawasan orang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":21113,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[244],"tags":[],"class_list":["post-21112","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21112","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21112"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21112\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21113"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21112"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21112"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21112"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}