{"id":21074,"date":"2025-11-28T12:10:23","date_gmt":"2025-11-28T04:10:23","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=21074"},"modified":"2025-11-28T12:10:23","modified_gmt":"2025-11-28T04:10:23","slug":"eufemisme","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/eufemisme\/21074\/","title":{"rendered":"Eufemisme"},"content":{"rendered":"<p><strong>Pendahuluan<\/strong><br \/>\nEufemisme, yakni penggunaan istilah yang lebih lembut untuk menggantikan kata-kata yang lebih keras atau tabu, memiliki peran penting dalam interaksi manusia. Dari sisi etika berbahasa, eufemisme berfungsi untuk menjaga hubungan antar individu dan menghindari konflik. Namun, dalam konteks publik, terutama dalam politik dan media, eufemisme sering kali menjadi alat yang ambigu, berfungsi sebagai pendekatan diplomatik sekaligus memiliki potensi untuk memutarbalikkan makna.<\/p>\n<p><strong>Pembahasan<\/strong><br \/>\nDi satu sisi, eufemisme memberikan keuntungan dalam kehidupan sosial. Ini memungkinkan kita untuk membahas isu-isu sensitif seperti kematian dengan menggunakan istilah &#8220;meninggal dunia&#8221; bukannya &#8220;mati&#8221;, menunjukkan kondisi fisik dengan istilah &#8220;berkebutuhan khusus&#8221; bukan &#8220;cacat&#8221;, atau status pekerjaan dengan menyebut &#8220;asisten rumah tangga&#8221; alih-alih &#8220;pembantu&#8221;. Hal ini mencerminkan etika serta penggunaan bahasa yang menghormati martabat seseorang dan menjaga keseimbangan dalam interaksi sosial.<\/p>\n<p>Namun, terdapat sisi negatif dari eufemisme yang muncul saat digunakan dalam konteks kekuasaan dan informasi. Dalam ranah politik, istilah &#8220;penyesuaian tarif&#8221; dapat berarti &#8220;kenaikan harga&#8221;, atau &#8220;normalisasi&#8221; digunakan untuk merujuk pada &#8220;penghapusan subsidi&#8221;. Dalam keadaan ini, eufemisme berfungsi sebagai alat retoris untuk memanipulasi persepsi publik, meminimalkan dampak kebijakan yang tidak populer, atau bahkan menyembunyikan fakta. Penggunaan bahasa yang tidak langsung ini dapat mengaburkan kebenaran dan menyulitkan masyarakat untuk memahami dengan jelas.<\/p>\n<p>Media massa juga sering terjebak dalam penggunaan eufemisme berlebihan, terutama untuk menghindari kritik dari masa lalu atau mempertahankan kesan objektif. Sebagai akibatnya, informasi menjadi tidak jelas dan makna utama dari suatu peristiwa menjadi samar.<\/p>\n<p><strong>Penegasan ulang<\/strong><br \/>\nSecara pribadi, saya berkeyakinan bahwa eufemisme adalah salah satu aspek bahasa yang sangat berpengaruh dan tidak memihak. Keberhasilan eufemisme sangat tergantung pada tujuan penggunaannya. Ketika digunakan untuk menunjukkan penghormatan dan perhatian dalam interaksi sehari-hari, eufemisme mencerminkan budaya dan peradaban yang positif. Namun, jika dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memengaruhi opini publik atau menyembunyikan fakta, eufemisme dapat menghalangi komunikasi yang terbuka dan jujur. Oleh karena itu, sebagai penerimaan  informasi, kita perlu tetap kritis dan berhati-hati dalam menentukan kapan eufemisme berfungsi sebagai tanda kesopanan, dan kapan ia menjadi penghalang dalam berkomunikasi.<\/p>\n<p>Oleh:<strong> Gifara Putri Yuansyah, Mahasiswa Universitas Mulawarman Fakultas Farmasi<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pendahuluan Eufemisme, yakni penggunaan istilah yang lebih lembut untuk menggantikan kata-kata yang lebih keras atau tabu, memiliki peran penting dalam interaksi manusia. Dari sisi etika berbahasa, eufemisme berfungsi untuk menjaga hubungan antar individu dan menghindari konflik. Namun, dalam konteks publik, terutama dalam politik dan media, eufemisme sering kali menjadi alat yang ambigu, berfungsi sebagai pendekatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-21074","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21074","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21074"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21074\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21074"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21074"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21074"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}