{"id":21003,"date":"2025-11-25T19:55:21","date_gmt":"2025-11-25T11:55:21","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=21003"},"modified":"2025-11-25T19:55:21","modified_gmt":"2025-11-25T11:55:21","slug":"optimalisasi-penanganan-tomat-untuk-menekan-food-loss-di-pasar-tradisional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/optimalisasi-penanganan-tomat-untuk-menekan-food-loss-di-pasar-tradisional\/21003\/","title":{"rendered":"Optimalisasi Penanganan Tomat untuk Menekan Food Loss di Pasar Tradisional"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/tomat.jpg\" alt=\"\" width=\"615\" height=\"458\" class=\"aligncenter size-full wp-image-21004\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/tomat.jpg 615w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/tomat-300x223.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 615px) 100vw, 615px\" \/><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Tomat (<em>Solanum lycopersicum L<\/em>.) adalah salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Tomat tidak hanya kaya akan likopen sebagai antioksidan alami, namun juga menjadi bahan pokok hampir setiap masakan Nusantara. Tomat memiliki tekstur yang lunak, kandungan air yang tinggi, dan laju respirasi yang cepat, sehingga menyebabkan buah ini mudah memar, pecah, dan cepat mengalami pembusukan jika tidak ditangani secara tepat. Buah klimaterik dengan sifat mudah rusak ini membuat tomat rentan mengalami kehilangan pascapanen (<em>food loss<\/em>) dalam jumlah yang besar, terutama dalam rantai pasok dari petani hingga konsumen di Pasar Tradisional.<\/p>\n<p>Berbagai studi menunjukkan bahwa penanganan pada tahap panen dan transportasi adalah penyebab utama kerusakan mekanis, seperti memar dan retak yang memicu kerusakan mikrobiologis selama penyimpanan. Hal tersebut menjadi potensi yang mengakibatkan terjadinya <em>food loss<\/em>. Ketika proses distribusi dari petani ke pedagang, umumnya menggunakan keranjang kayu atau karung plastik tanpa perlindungan yang memadai terhadap guncangan dan benturan. Tumpukan tomat yang terlalu tinggi menyebabkan buah di bagian bawah mengalami tekanan berlebih hingga memar dan pecah. Pedagang pasar juga jarang melakukan sortasi atau pemisahan tomat berdasarkan tingkat kematangan dan kualitasnya. Tomat yang sudah busuk dibiarkan bercampur dengan tomat yang masih bagus, sehingga proses pembusukan menyebar dengan cepat. Hal ini terjadi karena buah yang membusuk melepaskan gas etilen dalam jumlah besar yang memicu pematangan dan pembusukan pada tomat lain di sekitarnya.<\/p>\n<p><em>Food loss <\/em>didefinisikan sebagai hilangnya produk pangan selama proses panen, penanganan pascapanen, dan distribusi sebelum mencapai tahap konsumsi. <em>Food loss<\/em> dapat menimbulkan kerugian ekonomi bagi para petani dan pedagang, selain itu juga berdampak pada aspek sosial, lingkungan, dan berimplikasi langsung terhadap keamanan pangan serta efisiensi sistem distribusi pangan secara keseluruhan. Saat ini, potensi <em>food loss<\/em> di Indonesia sangat besar dan terus bertambah seiring bertambahnya populasi. Data menunjukkan bahwa 20-30% tomat mengalami kerusakan sebelum sampai ketangan konsumen. Oleh karena itu, optimalisasi penanganan pascapanen yang efektif menjadi krusial untuk meminimalkan kerugian dan menjaga ketersediaan pangan di pasar tradisional.<\/p>\n<p><strong>Berikut 5 strategi yang dapat dilakukan dalam optimalisasi penanganan tomat untuk menekan <em>food loss<\/em> di pasar tradisional<\/strong>:<\/p>\n<p>1. <strong>Penerapan Sistem Rantai Dingin Sederhana<\/strong><\/p>\n<p>Penggunaan <em>cool box<\/em> berbahan <em>styrofoam<\/em> dengan es batu dapat menurunkan suhu penyimpanan tomat hingga 10-15\u00baC. Selain itu, sistem pendinginan evaporatif yang memanfaatkan prinsip penguapan air dengan membuat rak penyimpanan yang dilapisi kain basah atau karung goni yang terus disiram air, dapat menurunkan suhu di sekitar tomat 5-10\u00baC. Teknologi ini sangat sederhana, murah, dan tidak memerlukan listrik, sehingga sangat cocok untuk pedagang tradisional.<\/p>\n<p>2. <strong>Perbaikan Teknik Penanganan Fisik<\/strong><\/p>\n<p>Melakukan sortasi pada tomat untuk memisahkan tomat yang masih bagus dengan yang mulai lunak atau menunjukkan tanda-tanda kebusukan. Kemudian, penggunaan wadah plastik yang berlubang dengan alas kertas dapat mengurangi benturan dan luka mekanis yang dapat memicu kerusakan pada tomat.<\/p>\n<p>3. <strong>Penerapan Teknologi <em>Edible Coating<\/em><\/strong><\/p>\n<p><em>Edible coating<\/em> merupakan salah satu teknologi sederhana yang dapat memperpanjang umur simpan tomat. <em>Edible coating<\/em> dapat dibuat dari bahan-bahan alami seperti pati singkong. Tomat cukup dicelupkan ke dalam larutan <em>edible coating<\/em> selama beberapa deting, kemudian ditiriskan dan dikeringkan. Lapisan ini akan menutup pori-pori kulit tomat sehingga mengurangi laju respirasi dan kehilangan air, sekaligus melindunginya dari pertumbuhan mikroorganisme pembusuk.<\/p>\n<p>4. <strong>Inovasi Sistem Pengemasan<\/strong><\/p>\n<p>Penggunaan <em>tray<\/em> atau nampan plastik berlubang memungkinkan sirkulasi udara tetap lancer sehingga menghambat pertumbuhan jamur. Kemasan aktif juga dapat diterapkan dengan menempatkan <em>oxygen absorber<\/em> yang dapat menyerap kelembapan berlebih dan mencegah kondensasi yang memicu terjadinya pembusukan. Pedagang juga dapat mengemas tomat dengan takaran tertentu untuk dapat langsung dibawa oleh konsumen. Kemasan ini tidak hanya melindungi tomat dari tumpukan-tumpukan namun juga memberikan kesan modern dan higienis yang disukai konsumen.<\/p>\n<p>5. <strong>Optimalisasi Manajemen Stok<\/strong><\/p>\n<p>Pedagang perlu menerapkan sistem manajemen stok yang baik dengan prinsip <em>First In First Out<\/em> (FIFO) di mana tomat yang datang dahulu harus dijual terlebih dahulu. Pembelian tomat dari distributor sebaiknya disesuaikan dengan prediksi penjualan. Oleh karena itu, pedagang perlu memahami siklus pasokan dan permintaan untuk menghindari penumpukan stok yang berlebihan.<\/p>\n<p>Optimalisasi penanganan tomat tidak hanya mengurangi <em>food loss<\/em> tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap keamanan pangan. Dengan penanganan yang baik, tomat tetap segar, bergizi, dan aman untuk dikonsumsi. Setiap bahan pangan yang diselamatkan dari pembusukan adalah kontribusi nyata terhadap keamanan pangan, keberlanjutan lingkungan, dan kesejahteraan ekonomi. Saatnya kita semua, dari pedagang, konsumen, hingga pemerintah, bergerak Bersama mewujudkan sistem pangan yang lebih efisien, adil, dan berkelanjutan.<\/p>\n<p>Penulis: <strong>Nayli Husni<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Tomat (Solanum lycopersicum L.) adalah salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Tomat tidak hanya kaya akan likopen sebagai antioksidan alami, namun juga menjadi bahan pokok hampir setiap masakan Nusantara. Tomat memiliki tekstur yang lunak, kandungan air yang tinggi, dan laju respirasi yang cepat, sehingga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":21004,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[182],"tags":[],"class_list":["post-21003","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-essay"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21003","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21003"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21003\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21004"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21003"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21003"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21003"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}