{"id":21000,"date":"2025-11-25T19:50:43","date_gmt":"2025-11-25T11:50:43","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=21000"},"modified":"2025-11-25T19:50:43","modified_gmt":"2025-11-25T11:50:43","slug":"pemanfaatan-bonggol-nanas-dan-rumput-laut-menjadi-minuman-berserat-tinggi-dalam-mendukung-pencegahan-diabetes-mellitus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/pemanfaatan-bonggol-nanas-dan-rumput-laut-menjadi-minuman-berserat-tinggi-dalam-mendukung-pencegahan-diabetes-mellitus\/21000\/","title":{"rendered":"Pemanfaatan Bonggol Nanas dan Rumput Laut Menjadi Minuman Berserat Tinggi Dalam Mendukung Pencegahan Diabetes Mellitus"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Diabetes-mellitus.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"534\" class=\"aligncenter size-full wp-image-21001\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Diabetes-mellitus.jpg 800w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Diabetes-mellitus-300x200.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Diabetes-mellitus-768x513.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Diabetes-mellitus-750x501.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p>Penulis: <strong>Annisa Rahmadieni<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Rendahnya asupan serat pada masyarakat Indonesia menjadi salah satu masalah gizi yang utama. Menurut data dari Kemenkes RI tahun 2018, konsumsi serat pada mayoritas masyarakat Indonesia hanya sebanyak 10,5 gram per hari, di mana angka ini berada jauh di bawah kebutuhan sehari-hari yang direkomendasikan sekitar 25 hingga 30 gram. Rendahnya tingkat konsumsi serat pada masyarakat Indonesia memberikan dampak negatif pada proses pencernaan dan metabolisme di dalam tubuh, yang salah satunya dapat memicu munculnya penyakit diabetes. Hal ini diperkuat dengan data Kemenkes RI tahun 2020 yang menyatakan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara di Asia Tenggara dengan penderita diabetes terbanyak yaitu sekitar 10,7 juta orang. Kondisi ini menunjukkan bahwa perlu dilakukan pencegahan terhadap diabetes dengan memperbaiki pola makan, khususnya dengan meningkatkan konsumsi serat.<\/p>\n<p>Serat pangan dapat berperan dalam pengendalian kadar gula darah dan metabolisme lipid. Serat larut menjadi salah satu jenis serat pangan yang memiliki peran penting dalam pencernaan dan metabolisme tubuh dengan kemampuan membentuk gel di saluran pencernaan sehingga dapat memperlambat penyerapan glukosa dan mengurangi lonjakan gula darah setelah makan. Selain itu, serat larut juga memiliki kemampuan untuk menurunkan kadar kolesterol LDL dengan mengikat asam empedu di dalam usus. Kemampuan mengikat ini memberikan manfaat terhadap kesehatan mikrobiota usus yang dapat meningkatkan metabolisme dan respon insulin. Dengan begitu, kandungan serat dalam bahan pangan yang dikonsumsi diyakini mampu mengurangi risiko diabetes tipe 2 dan komplikasinya.<\/p>\n<p>Salah satu bahan pangan yang berpotensi untuk dijadikan sebagai pangan fungsional tinggi serat adalah bonggol nanas. Buah nanas menjadi salah satu komoditas buah unggulan di Indonesia dengan tingkat produksi tinggi di berbagai daerah. Menurut data dari Badan Pusat Statistik Nasional, pada tahun 2024 total produksi buah nanas di Indonesia mencapai 2.740.600,778 ton. Namun, tingginya jumlah produksi ini diikuti dengan meningkatnya limbah buah karena sebagian besar masyarakat hanya mengonsumsi daging buahnya. Limbah bonggol nanas mencapai 15-25% dari total berat buah yang berpotensi menimbulkan pencemaran apabila menumpuk di lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa hasil samping pertanian tersebut perlu dilakukan inovasi pengolahan untuk mengurangi pencemaran lingkungan dan memberikan nilai tambah pada produk pangan yang dihasilkan. Selain itu, di dalam bonggol nanas juga terkandung serat yang cukup tinggi sebesar 0,953% yang dapat berpotensi untuk dijadikan sebagai pangan fungsional. Bahan pangan lainnya yang dapat dijadikan sebagai sumber serat adalah rumput laut, di mana mengandung sekitar 36-60% serat total di dalamnya dengan 55-70% merupakan serat larut seperti alginat dan karagenan.<\/p>\n<p>Dengan demikian, minuman dari bonggol nanas dan rumput laut menjadi potensial untuk dikembangkan. Hal ini dikarenakan dapat memberikan dampak positif yang luas dari berbagai aspek. Dari aspek nutrisi, bonggol nanas dan rumput laut dapat memperkaya kandungan serat pada pangan fungsional yang bermanfaat bagi metabolisme tubuh khususnya untuk pencegahan diabetes.\u00a0 Dari sisi sosial dan ekonomi, pemanfaatan limbah pertanian ini membuka peluang usaha baru bagi petani dan UMKM lokal. Sedangkan dari aspek keberlanjutan, proses produksinya menerapkan prinsip <em>zero waste<\/em> dan ekonomi sirkular yang memaksimalkan potensi bahan alami tanpa menghasilkan limbah baru.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Annisa Rahmadieni JurnalPost.com &#8211; Rendahnya asupan serat pada masyarakat Indonesia menjadi salah satu masalah gizi yang utama. Menurut data dari Kemenkes RI tahun 2018, konsumsi serat pada mayoritas masyarakat Indonesia hanya sebanyak 10,5 gram per hari, di mana angka ini berada jauh di bawah kebutuhan sehari-hari yang direkomendasikan sekitar 25 hingga 30 gram. Rendahnya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":21001,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-21000","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21000","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21000"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21000\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21001"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21000"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21000"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21000"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}