{"id":20944,"date":"2025-11-23T13:28:19","date_gmt":"2025-11-23T05:28:19","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=20944"},"modified":"2025-11-23T17:24:14","modified_gmt":"2025-11-23T09:24:14","slug":"susah-jadi-baik-tenang-kita-belajar-pelan-pelan-dari-kemanusiaan-sampai-anti-korupsi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/susah-jadi-baik-tenang-kita-belajar-pelan-pelan-dari-kemanusiaan-sampai-anti-korupsi\/20944\/","title":{"rendered":"Susah Jadi Baik? Tenang, Kita Belajar Pelan-Pelan: Dari Kemanusiaan sampai Anti Korupsi"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_20945\" aria-describedby=\"caption-attachment-20945\" style=\"width: 327px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Susah.jpg\" alt=\"\" width=\"327\" height=\"231\" class=\"size-full wp-image-20945\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Susah.jpg 327w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Susah-300x212.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Susah-120x86.jpg 120w\" sizes=\"(max-width: 327px) 100vw, 327px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-20945\" class=\"wp-caption-text\">ilustrasi tentang (sumber : https:\/\/pixabay.com\/id\/)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Oleh <strong>Annisya I.R., Dinda R.R., Danti A.P., Rista M.P., Aulya D.P untuk memenuhi tugas project UAS dari Dosen Pengampu Andi Setiawan, S.IP., M.Si.<\/strong><\/p>\n<p><strong>Malang, JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Di tengah pesatnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi, tantangan moral semakin nyata dan tak terhindarkan. Menjadi pribadi yang berkarakter baik kini membutuhkan usaha dan proses. Bagi mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), proses ini dimulai melalui pendidikan karakter yang mengintegrasikan nilai-nilai agama seperti kemanusiaan, kepedulian lingkungan, anti korupsi, dan disiplin. Berdasarkan kajian mahasiswa Program Studi Pariwisata untuk mata kuliah Kewarganegaraan, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membentuk generasi. Melalui kurikulum dan kegiatan kampus, UB berupaya menanamkan nilai-nilai tersebut sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mahasiswa. Mari kita simak bagaimana kampus ini menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai fondasi kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p><strong>Tantangan Moral di Era Modern: Mengapa Kita Perlu Mulai dari Nilai Agama?<\/strong><\/p>\n<p>Di era digitalisasi ini program kampus seperti organisasi mahasiswa (UKM), mentoring, dan seminar membantu membentuk karakter mahasiswa dalam hal iman, disiplin, dan tanggung jawab. Hal ini tercapai melalui aturan yang jelas, rutinitas harian yang teratur, dan komitmen yang konsisten. Dari sudut pandang psikologis, disiplin membantu membentuk kebiasaan baik melalui pengulangan, memungkinkan mahasiswa mengelola emosi, menghargai nilai seperti integritas dan empati, serta bertanggung jawab dalam hal akademik dan sosial. UKM seperti kelompok keagamaan, olahraga, dan seni mendorong kebiasaan seperti latihan rutin atau acara komunitas, yang membantu melatih keterampilan praktis dan tanggung jawab bersama melalui tugas kelompok. Aktivitas-aktivitas ini dianggap sebagai alat utama dalam menumbuhkan nilai-nilai seperti iman, tanggung jawab, dan integritas melalui UKM, mentoring, seminar, serta pelatihan pengembangan diri. Secara keseluruhan, kegiatan-kegiatan ini membantu memperdalam kebiasaan disiplin sebagai bagian dari karakter mahasiswa, memungkinkan mereka bertindak tanggung jawab dalam lingkungan akademik dan sosial. Kebanyakan mahasiswa merasa terbantu dari kegiatan ini, meski ada variasi pengalaman yang menunjukkan bahwa motivasi batin dan pelaksanaan konsisten diperlukan untuk partisipasi aktif dan pengembangan diri yang utuh.<\/p>\n<p><strong>Faktor yang Membuat Mahasiswa Lebih Disiplin: Mulai dari Motivasi Diri hingga Peran Kampus<\/strong><\/p>\n<p>Kedisiplinan dalam diri mahasiswa menjadi aspek mendasar dalam pembentukan karakter akademik yang bertumpu pada integritas dan tanggung jawab. Temuan kuesioner menunjukkan bahwa dorongan internal seperti motivasi pribadi, kesadaran diri, dan kemampuan mengelola waktu mempunyai kontribusi besar terhadap konsistensi perilaku disiplin. Di sisi lain, faktor eksternal seperti iklim sosial kampus, keteladanan dosen, pola pembelajaran, serta dukungan keluarga turut membentuk kebiasaan disiplin mahasiswa. Nilai-nilai agama yang diterapkan melalui kebijakan kampus juga memperkuat landasan moral dalam menjaga kedisiplinan. Secara keseluruhan, disiplin mahasiswa terbentuk melalui kombinasi pengaruh internal dan eksternal, sehingga institusi pendidikan tinggi perlu menyediakan lingkungan yang mendorong pemahaman kedisiplinan sebagai bagian dari pembangunan karakter religius dan tanggung jawab sosial.<\/p>\n<p><strong>Upaya Kampus UB: Dari Program Pembinaan hingga Kegiatan Mahasiswa.<\/strong><\/p>\n<p>Universita Brawijaya tidak hanya diam saja. Artikel ini menjelaskan bahwa lembaga pendidikan tinggi memiliki komitmen kuat dalam membentuk karakter religius dan rasa tanggung jawab. Menurut hasil, sebanyak 78,5% mahasiswa merasa kegiatan pembinaan karakter di kampus membantu mereka menjadi lebih bertanggung jawab, sementara 80,4% merasa program yang menggabungkan nilai agama dan tanggung jawab sangat efektif dalam membentuk disiplin. Kegiatan seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), mentoring, dan seminar menjadi sarana utama dalam upaya ini. UKM, misalnya, membantu mahasiswa belajar disiplin melalui tugas kelompok dan pengelolaan proyek.  Oleh karena itu, pendidikan tinggi harus merancang pendekatan pembentukan karakter secara menyeluruh agar menghasilkan lulusan yang tidak hanya berkompeten, tetapi juga memiliki integritas yang baik. <\/p>\n<p>Dari 74,5% responden yang terdata, mereka setuju bahwa kegiatan ini meningkatkan tanggung jawab mereka. Mentoring rutin membahas nilai-nilai agama seperti toleransi antar agama, sementara seminar keagamaan juga meningkatkan sifat empati.<\/p>\n<p>&#8220;Kegiatan kampus membuat saya lebih disiplin mengatur kehidupan sehari-hari,&#8221; kata 64,8% responden, meski 33,3% masih netral, mungkin karena memiliki kesibukan di luar kampus.<br \/>\nLebih menggembirakan lagi, 86,3% mahasiswa menilai pendekatan disiplin dalam kegiatan kampus sangat efektif. Bukan hanya aturan formal, tapi juga alat untuk mengembangkan integritas pribadi dan sosial.<\/p>\n<p><strong><br \/>\nBelajar Perlahan untuk Membentuk Bangsa yang Lebih Baik<\/strong><\/p>\n<figure id=\"attachment_20946\" aria-describedby=\"caption-attachment-20946\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Belajar-Perlahan.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"200\" class=\"size-full wp-image-20946\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-20946\" class=\"wp-caption-text\">ilustrasi tentang berjalan perlahan(sumber : https:\/\/pixabay.com\/id\/)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Artikel ini menekankan bahwa keselarasan antara nilai agama, kemanusiaan, disiplin, dan tanggung jawab adalah hal penting dalam membentuk mahasiswa yang berkualitas.<br \/>\nUniversitas Brawijaya telah menunjukkan bahwa pendidikan karakter bisa diwujudkan melalui program yang konsisten, sehingga membantu mahasiswa tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak dan bisa memberikan kontribusi positif bagi bangsa. Pesan dalam judul ini adalah, &#8220;Susah jadi baik? Tenang, kita belajar perlahan saja.&#8221; Dengan dukungan dari kampus, mahasiswa UB siap menjadi sumber daya manusia yang mampu memimpin Indonesia menuju kemajuan yang lebih berkelanjutan.<\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong><\/p>\n<p>Astuti, R. D., &#038; Nurhadi, A. (2021). Pengaruh Lingkungan Kampus dan Motivasi Belajar terhadap Kedisiplinan Mahasiswa. Jurnal Pendidikan Karakter, 11(2), 157\u2013168.<\/p>\n<p>Suryani, I., &#038; Rahman, F. (2021). Peran Lembaga Pendidikan Tinggi dalam Membentuk Karakter Religius dan Tanggung Jawab Mahasiswa. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 28(3), 201\u2013214.<\/p>\n<p>Oleh Annisya I.R., Dinda R.R., Danti A.P., Rista M.P., Aulya D.P untuk memenuhi tugas project UAS dari Dosen Pengampu Andi Setiawan, S.IP., M.Si.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Annisya I.R., Dinda R.R., Danti A.P., Rista M.P., Aulya D.P untuk memenuhi tugas project UAS dari Dosen Pengampu Andi Setiawan, S.IP., M.Si. Malang, JurnalPost.com &#8211; Di tengah pesatnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi, tantangan moral semakin nyata dan tak terhindarkan. Menjadi pribadi yang berkarakter baik kini membutuhkan usaha dan proses. Bagi mahasiswa Universitas Brawijaya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":20945,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-20944","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20944","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20944"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20944\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/20945"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20944"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20944"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20944"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}