{"id":2085,"date":"2023-07-08T18:01:34","date_gmt":"2023-07-08T10:01:34","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=2085"},"modified":"2023-07-08T18:01:34","modified_gmt":"2023-07-08T10:01:34","slug":"implementasi-pendidikan-aqidah-untuk-kesehatan-mental-pada-remaja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/implementasi-pendidikan-aqidah-untuk-kesehatan-mental-pada-remaja\/2085\/","title":{"rendered":"Implementasi Pendidikan Aqidah untuk Kesehatan Mental pada Remaja"},"content":{"rendered":"<p>Umi Fadillah 2008015014<br \/>\nNurmala Khazanah 2008015107<br \/>\nEmail: Dillahumifadhilah@gmail.com, khazanahnurmala7@gmail.com<\/p>\n<p><strong>ABSTRAK <\/strong><br \/>\nKehidupan\u00a0 di dunia ini sering sekali banyak membuat orang-orang terlena dan terhanyut untuk berlomba \u2013 lomba meiliki kehidupan yang baik, sejahtera, damai dan Bahagia namun apakah kita sadar bahwa bukam hanya jasmani kita yang butuh untuk merasakan kesejahtraan, Bahagia, berlimpah kedamaian, namun rohani kita juga butuh untuk merasa tenang dan damai. Memiliki aqidah yang baik menjadi tameng dan kunci untuk memiliki Rohani seseorang menjadi tenang dan damai.<\/p>\n<p><strong>Pendahuluan <\/strong><br \/>\nDalam perubahan zaman dan pada era globalisasi ini tidak sedikit tantangan yang harus di hadapi oleh para remaja seperti tuntutan gaya yang semakin kesini semakin keluar dari yang diatur oleh agama, kemudian akses untuk berselayar di sosial media yang dapat mempengaruhi keadaan pergaulan bebas pada remaja terjadi, belum lagi informasi-informasi yang belum tentu kebenarannya tersebar begitu saja dan dinikmati oleh banyak orang baik dari kalangan muda sampai dewasa, remaja di tuntut untuk menghadapi berbagai kondisi tersebut baik positif maupun negative, baik yang datang dari diri mereka sendiri maupun yang datang dari lingkungan sekitar mereka.<\/p>\n<p>Masa remaja memang masa yang berkobar semangat serja bergejolak, pada masa remaja ini terjadi krisis perkembangan karakter, dimana perkembangan karakter mereka terbentuk sedikit banyak nya disebabkan pengaruh lingkungan sekitar mereka, seperti perubahan biologis, psikologis, maupun perubahan sosial. \u00a0Dalam keadaan yang seperti ini sering kali menimbulkan masalah yang dimana para remaja kurang mampu menyelesaikannya dengan benar sehingga menimbulkan kecemasan atau tekanan secara terus menerus. Hal tersebut akan berdampak pada perkembangan karakter yang dimiliki seorang remaja yang tidak jarang akan memicu gangguan mental yang remaja miliki.<\/p>\n<p>Gangguan mental atau jiwa adalah kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak normal, baik yang berhubungan dengan fisik, maupun mental. Keabnormalan tersebut tidak disebabkan oleh sakit atau rusaknya bagianbagian anggota badan, namun rusaknya fungsi-fungsi jiwa seperti perasaan, pikiran, sikap jiwa dan pandangan atau keyakinan hidup. Fungsi-fungsi jiwa harus dapat saling membantu dan bekerja sama satu sama lain, sehingga dapat dikatakan adanya keharmonisan yang menjauhkan dari perasaan ragu, bimbang serta terhindar dari rasa gelisah.<\/p>\n<p>Agama memiliki peran penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pedoman bagi semua manusia agar dapat mewujudkan kehidupan yang baik. Tanpa adanya ajaran agama islam hidup seperti tidak memiliki arah dan tujuan. Dengan agama manusia dituntun untuk menjadi pribadi yang baik, mengetahui mana perintah Allah yang harus dikerjakan dan mana larangan Allah yang harus dihindari. Jika dalam dirinya tidak ada nilai-nilai agama, akan mudahlah seseorang melakukan segala sesuatu dengan keinginan dan dorongan dirinya tanpa memikirkan kepentingan dan aturan yang ada. Ajaran agama islam mengandung unsur-unsur positif bagi kehidupan manusia yang menentramkan hati dan jiwa.<\/p>\n<p>Salah satu pendidikan yang wajib dimiliki seseorang agar menjadi pribadi yang baik adalah pendidikan agama islam. Karena kepercayaan kepada Tuhan dan ketentuan beragama, ditentukan pula pada pendidikan yang dilalui sejak kecil<\/p>\n<p><strong>Pembahasan <\/strong><br \/>\nPendidikan agama islam merupakan suatu wadah bagi seseorang dalam mengembangkan potensi spiritual yang dimiliki. Tujuan pendidikan agama islam meliputi seluruh aspek kemanusiaan seperti tingkah laku, sikap, perbuatan, penampilan, kebiasaan dan pandangan. Dalam pendidikan agama islam terdapat banyak aspek yang harus dipelajari seperti aspek akidah dan akhlak.<\/p>\n<p>Aqidah merupakan salah satu mata pelajaran pendidikan agama islam yang bertujuan untuk menumbuh kembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengalaman, pembiasaan dan pengalaman peserta didik tentang akidah Islam sehingga menjadi manusia muslim yang harus berkembang keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT. Serta mewujudkan manusia yang berakhlak mulia dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan seharai-hari, baik dalam kehidupan individu maupun sosial sebagai manifestasi dari ajaran dan nilai-nilai aqidah islam. Dengan akidah seseorang mengerti tentang apa saja yang harus dijalankan dan apa saja yang harus dijauhi sesuai dengan larangan dan perintah Allah SWT sebagai wujud dari keimanan kepada Allah<\/p>\n<p><strong>Aqidah <\/strong><br \/>\nAkidah secara etimologi berasal dari kata al-\u2018aqd yang berarti ikatan, menetapkan, menguatkan, mengikat dengan kuat, berpegang teguh, yang dikuatkan, dan yakin. Dalam kamus Al-Munawwir bahwa akidah yaitu mengokohkan, mengadakan perjanjian, mempercayai, dan meyakini. Akidah adalah hukum yang tidak menerima keraguan didalamnuya bagi orang yang meyakininya. Akidah dalam agama, maksudnya keyakinan dalam perbuatan, seperti keyakinan tentang keberadaan Allah dan diutusnya para Rasul. Bentuk jamaknya yaitu \u2018aqaaid. 7 Secara istilah akidah berarti dasar-dasar pokok kepercayaan atau keyakinan hati seorang muslim yang membuat hati tenang dengan beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan hari kiamat.<\/p>\n<p>Seseorang yang beriman perkataannya harus sesuai dengan perbuatannya. Seseorang yang terbiasa berperilaku jujur akan melahirkan hati yang lega dan tenang. Hal tersebut berdampak pada kesehatan mental yang dimiliki, semakin terhindar dari rasa gelisah ataupun cemas maka terwujudnya ketentraman hati dan rasa bahagia pada dirinya.<\/p>\n<p><strong>Kesehatan Mental <\/strong><br \/>\nDalam UndangUndang tentang kesehatan mental nomor 3 tahun 1966 bab 1 pasal 1 disebutkan bahwa kesehatan mental adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intekektual, dan emosional seseorang. Menurut badan kesehatan dunia WHO mendefinisikan: mental health is defined as a state of well-being in which every individual realizes his or her own potential, can cope with the normal stresses of life, can work productively and fruit fully, and is able to make (Kesehatan mental di definisikan sebagai keadaan sejahtera dimana setiap individu menyadari potensi dirinya sendiri, sehingga dapat mengatasi tekanan yang normal dalam kehidupan, dapat bekerja secara produktif dan baik, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya Seseorang dikatakan memiliki mental sehat bila ia terhindar dari gejala penyakit jiwa dengan memanfaatkan potensi yang ia miliki untuk menyelaraskan fungsi jiwa dalam dirinya. Apabila fungsi jiwa sesuai dengan fungsinya sepertri pikiran, perasaan, sikap, pandangan dan keyakinannya maka tidak ada lagi kecemasan ataupun kegelisahan yang miliki. Dengan kesehatan mental seseorang dapat hidup dengan perasaan senang dan Bahagia<\/p>\n<p><strong>Ciri-ciri Kesahatan Mental<\/strong><br \/>\nBerkaitan dengan ciri dan unsur kesehatan mental, Marie Jahoda memberikan batasan yang agak luas. Menurut beliau kesehatan mental tidak terbatas pada absennya seseorang dari gangguan kejiwaan dan penyakitnya. Orang yang mentalnya sehat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li>Sikap kepribadian yang baik terhadap diri sendiri dalam arti dapat mengenal diri sendiri dengan baik.<\/li>\n<li>Pertumbuhan, perkembangan, dan perwujudan diri yang baik.<\/li>\n<li>Integrasi diri yang meliputi keseimbangan mental, kesatuan pandangan, dan tahan terhadap tekanan-tekanan yang terjadi.<\/li>\n<li>Otonomi diri yang mencakup unsur-unsur pengatur kelakuan dari dalam atau kelakuankelakuan bebas.<\/li>\n<li>Persepsi mengenai realistas, bebas dari penyimpangan kebutuhan, serta memiliki empati kepekaan sosial.<\/li>\n<li>Kemampuan untuk menguasai linkungan dan berintergrasi dengan baik<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Hubungan Pendidikan Aqidah pada Kesehatan mental <\/strong><br \/>\nMenurut AF. Jaelani, Kesehatan mental disadari telah memiliki kontribusi bagi pengembangan keagamaan, kebudayaan, dan sosial kemasyarakatan. Hal ini karena manusia tidak dapat dilepaskan dari aspek kesehatan mental, karena setiap manusia memiliki gaya dan ciri masing-masing dalam mengembangkan spiritual pribadinya. Tidak semua orang memiliki seluruh kriteria untuk dapat disebut sebagai orang yang memiliki mental yang sehat karena setiap orang mungkin memiliki sifat tertentu yang dicirikan sebagai mental tidak sehat. Dengan memasukan aspek agama yang dalam hal ini ketaan beribadah kepada Allah menjadikan kesehatan mental berperan diseluruh aspek kehidupan manusia. Begitu pula agama merupakan salah satu kebutuhan psikis manusia yang perlu dipenuhi oleh setiap orang yang merindukan kententraman dan kebahagiaan. Taat beribadah disini adalah wujud dari akidah yang dimiliki oleh seseorang Kesehatan mental merupakan buah hasil dari ketaatan beribadah terhadap agamanya. Karena kondisi fisik dan psikisnya satu kesatuan yang harus terjaga dengan selaras, orang bermental sehat tidak akan mengalami kegoncangan, kekacauan jiwa, frustasi, atau penyakit-penyakit kejiwaan lainnya. Dengan kata lain orang yang memiliki kesehatan mental prima juga memiliki kecerdasan seimbang baik secara intelektual, 39 emosional, maupun spiritualnya untuk mencapai kebahagiaan hidup.<\/p>\n<p><strong>Daftar Pustaka <\/strong><br \/>\nIkhwan Fuad, \u201cMenjaga Kesehatan Mental Prespektif Al-Qur\u2019an dan Hadits\u201d, Jurnal An-nafs: Kajian dan Penelitian Psikologi<br \/>\nSyarifin, A. (2018). Aspek Psikologi Dan Kesehatan Mental Dalam Pendidikan Aqidah Dan Ibadah Peserta Didik.\u00a0<em>Nuansa X1 (1)<\/em>, 1-8.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Umi Fadillah 2008015014 Nurmala Khazanah 2008015107 Email: Dillahumifadhilah@gmail.com, khazanahnurmala7@gmail.com ABSTRAK Kehidupan\u00a0 di dunia ini sering sekali banyak membuat orang-orang terlena dan terhanyut untuk berlomba \u2013 lomba meiliki kehidupan yang baik, sejahtera, damai dan Bahagia namun apakah kita sadar bahwa bukam hanya jasmani kita yang butuh untuk merasakan kesejahtraan, Bahagia, berlimpah kedamaian, namun rohani kita juga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[33],"tags":[],"class_list":["post-2085","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-makalah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2085","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2085"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2085\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2085"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2085"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2085"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}