{"id":20714,"date":"2025-11-10T13:11:21","date_gmt":"2025-11-10T05:11:21","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=20714"},"modified":"2025-11-10T13:16:21","modified_gmt":"2025-11-10T05:16:21","slug":"menjadi-profesional-tik-yang-etis-di-tengah-gelombang-generative-ai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/menjadi-profesional-tik-yang-etis-di-tengah-gelombang-generative-ai\/20714\/","title":{"rendered":"Menjadi Profesional TIK yang Etis di Tengah Gelombang Generative AI"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/TIK.png\" alt=\"\" width=\"354\" height=\"236\" class=\"aligncenter size-full wp-image-20718\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/TIK.png 354w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/TIK-300x200.png 300w\" sizes=\"(max-width: 354px) 100vw, 354px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: Nur <strong>Indah Amelia Agustin Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang<\/strong><br \/>\nProgram Studi Informatika<br \/>\nNIM: 202310370311307<\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Beberapa tahun terakhir teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menunjukkan pertumbuhan yang begitu pesat. Kemunculan Kecerdasan buatan generatif (Generative Artificial Intelligence atau GenAI) menjadi faktor utama yang memicu pertumbuhan tersebut. Teknologi ini mampu menciptakan gambar, vidio, teks, suara, kode program bahkan berpikir secara kompleks. Banyak sektor industri yang memanfaatkan teknologi ini untuk menyelesaikan permasalahan serta meningkatkan efisiensi dan inovasi mereka, seperti industri kreatif dan media, bisnis dan pemasaran, kesehatan, hingga pendidikan. McKinsey &amp; Company pada tahun 2024 melaporkan sekitar 65% organisasi global telah mengadopsi Generative AI dalam proses bisnisnya mulai dari pembuatan konten hingga analisis data. Salah satu generative AI yang paling popular saat ini adalah ChatGPT yang menempati posisi teratas dari pangsa pasar chatbot AI generative per Maret 2025 kemarin. kemampuannya dalam memahami maupun menyusun ide-ide kompleks inilah yang membuat banyak orang tertarik dan menggunakannya untuk meningkatkan produktivitas dalam berbagai kegiatan sehari-hari.<\/p>\n<p>Pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi juga menjadi sumber munculnya tantangan baru dalam etika dan profesionalisme. Kecanggihan teknologi yang dikembangkan kini merubah cara manusia belajar, bekerja, hingga berkreasi. World Economic Forum tahun 2024 memperingatkan akan munculnya resiko dari perkembangan AI tanpa regulasi yang jelas, seperti penyalahgunaan data pribadi serta banyaknya pekerjaan yang hilang akibat otomatisasi. Selain itu, UNESCO di tahun 2023 juga menegaskan pentingnya penerapan etika dalam perkembangan AI agar tetap selaras dengan nilai kemanusiaan.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, profesionalisme dan kepatuhan terhadap kode etik menjadi hal penting bagi para profesional TIK agar teknologi dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab karena tanpa adanya nilai etika yang kuat maka kemajuan teknologi justru dapat menimbulkan ketimpangan ataupun masalah baru. Menjadi seorang profesional TIK tidak hanya dituntut dalam hal kemampuan teknis saja, tetapi juga harus memiliki integritas, tanggung jawab, kepekaan sosial dan kesadaran etis terhadap setiap tindakan yang diambil. Berurusan dengan data sensitif seperti data pribadi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dunia para professional TIK.<\/p>\n<p>Data pengguna seringkali dilibatkan dalam membangun sebuah sistem atau layanan digital. Oleh karena itu diperlukannya sikap profesionalisme untuk menghormati privasi, menjaga keamanan data pengguna dan memastikan sistem yang dikembangkan tidak disalahgunakan, karena profesionalisme berarti menjalankan tugas dan pekerjaan sesuai dengan standar kompetensi serta moral yang tinggi.<\/p>\n<p>Ketika para profesional TIK bertindak sesuai standar profesionalisme dan kode etik maka resiko seperti bias sistem, kebocoran data, serta penyalahgunaan teknologi dapat berkurang dan kepercayaan publik ikut meningkat. Salah satu lembaga internasional yang menjadi acuan dalam penerapan kode etik adalah ACM (Association for Computing Machinery). Lembaga ini menyediakan Code of Ethics and Professional Conduct yang di dalamnya berisi prinsip-prinsip tanggung jawab profesional dalam pengembangan dan penerapan teknologi informasi. Kode etik dalam ACM bukan hanya sekedar aturan tertulis, melainkan sebagai bentuk refleksi dari tanggung jawab moral seorang profesional TIK terhadap Masyarakat.<\/p>\n<p>Kesadaran akan betapa pentingnya penerapan etika perlu ditanamkan sejak dini, terutama bagi para mahasiswa Informatika yang kelak menjadi bagian dari industri TIK. Selain harus memiliki kemampuan yang memadai, mahasiswa juga perlu memahami bagaimana dampak sosial, hukum, dan etika dari solusi teknologi yang dikembangkan. Langkah awal yang dapat dipersiapkan yaitu pemahaman mengenai etika dan tanggung jawab sosial. Sebagai mahasiswa, penting untuk membiasakan diri untuk berpikir mengenai dampak dari teknologi atau solusi yang dikembangkan apalagi jika berkaitan dengan data pribadi pengguna. Mahasiswa juga harus membangun kebiasaan belajar berkelanjutan agar kemampuan yang dimiliki tetap relevan dengan perkembangan teknologi, serta mengasah kemampuan komunikasi dan kerja sama dengan lintas bidang. Selain itu, menanamkan integritas dan sikap profesional sejak dini juga menjadi hal yang tak kalah penting, karena kepercayaan terhadap seorang profesional TIK berawal dari kejujuran dan tanggung jawab pribadi.<\/p>\n<p>Saat ini, profesionalisme dalam industri TIK sedang menghadapi ujian yang semakin kompleks. Perkembangan teknologi yang cepat memberikan banyak dampak positif seperti membuka peluang baru bagi inovasi dan mempermudah manusia dalam mengakses informasi bahkan belajar secara mandiri dengan lebih efektif. Namun, di balik perkembangan tersebut justru muncul tantangan etika seperti plagiarisme berbasis AI, penyalahgunaan data, hingga hilangnya lapangan pekerjaan akibat otomatisasi. Beberapa kasus seperti penyalahgunaan chatbot dan deepfake yang menyesatkan publik menunjukkan bahwa profesionalisme dalam dunia TIK belum mampu berjalan seimbang dengan kemajuannya dan tanpa adanya nilai moral, maka inovasi yang dikembangkan dapat berubah menjadi sebuah ancaman baru. Oleh sebab itu, profesionalisme dan penguatan etika harus menjadi prioritas dalam dunia TIK. Regulasi mengenai etika penggunaan Generatif AI perlu diperkuat oleh pemerintah dengan mengacu pada salah satu lembaga internasional seperti ACM. Selain itu, perguruan tinggi juga harus menanamkan ethical awareness dengan membuat kebijakan seperti mewajibkan sertifikasi etika profesi bagi lulusan Informatika dengan mengimplementasikan pelatihan kode etik ke dalam kurikulum wajib. Dengan cara ini, mahasiswa tidak hanya belajar bagaimana membuat sistem bekerja, tetapi juga memahami bagaimana membuat sistem yang benar dan bertanggung jawab sesuai dengan etika yang berlaku.<\/p>\n<p>Sebagai profesional muda di bidang TIK harus berani menolak terkait praktik manipulative dan menerapkan sikap profesionalisme dalam mengerjakan suatu tugas atau pekerjaan karena dunia teknologi membutuhkan lebih banyak profesional yang tidak hanya pintar tetapi juga bijak. Sebab pada akhirnya, masa depan teknologi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan mesin atau sebuah sistem, melainkan oleh integritas dan kebijaksanaan manusia lah yang mengendalikannya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Nur Indah Amelia Agustin Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Program Studi Informatika NIM: 202310370311307 JurnalPost.com &#8211; Beberapa tahun terakhir teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menunjukkan pertumbuhan yang begitu pesat. Kemunculan Kecerdasan buatan generatif (Generative Artificial Intelligence atau GenAI) menjadi faktor utama yang memicu pertumbuhan tersebut. Teknologi ini mampu menciptakan gambar, vidio, teks, suara, kode program [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":20718,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[182],"tags":[],"class_list":["post-20714","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-essay"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20714","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20714"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20714\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/20718"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20714"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20714"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20714"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}