{"id":20660,"date":"2025-11-06T06:26:43","date_gmt":"2025-11-05T22:26:43","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=20660"},"modified":"2025-11-06T06:26:43","modified_gmt":"2025-11-05T22:26:43","slug":"hegemoni-dalam-budaya-fandom-kpop-pandangan-publik-terhadap-fanboy-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/hegemoni-dalam-budaya-fandom-kpop-pandangan-publik-terhadap-fanboy-di-indonesia\/20660\/","title":{"rendered":"Hegemoni dalam budaya Fandom KPOP: Pandangan publik terhadap fanboy di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: <strong>Diva Eka R<\/strong>.<\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong>  &#8211; Perkembangan kebudayaan di era digital saat ini ditandai oleh berbagai fenomena salah satunya fenomena K-Pop (Korean Pop) yang asalnya dari Korea Selatan, dan telah menjadi elemen penting dalam industri budaya global, termasuk di Indonesia. Dominasi budaya K-Pop di Indonesia jelas telah meluas di berbagai kelompok, terutama di kalangan remaja. Pengaruh K-Pop tampak tidak hanya dalam popularitas musik dan para artis, tetapi juga dalam dampaknya terhadap perilaku sosial, identitas budaya, dan interaksi komunitas. Sejak tahun 2000-an, Indonesia telah menjadi pasar bagi industri K-Pop, hal ini terlihat dari banyaknya penggemar K-Pop di hampir semua kelompok usia, terutama remaja dan dewasa muda. Salah satu penyebab utama meluasnya popularitas K-Pop adalah penggunaan media sosial yang semakin luas. <\/p>\n<p>Disini platform seperti X, Instagram, TikTok, dan YouTube, serta media terbaru yaitu weverse berfungsi sebagai saluran utama untuk menyebarkan budaya K-Pop melalui musik, drama Korea, dan lainnya. Masyarakat Indonesia  pada saat itu mulai mengenal genre ini melalui salah satu dari program Televisi yang menayangkan musik Korea dan konser-konser dari boyband dan girlband asal Korea. Konser-konser ini dinilai tidak hanya mampu untuk menarik minat penggemar lokal, tetapi juga dapat menciptakan peluang ekonomi baru untuk industri hiburan di Indonesia. Disini, K-Pop berperan penting sebagai alat diplomasi budaya yang dapat memperkuat hubungan kerjasama antara Korea Selatan dan Indonesia, serta meningkatkan minat masyarakat Indonesia terhadap budaya Korea secara umum, mulai dari fashion, kuliner, kecantikan (make up dan skincare), dan lainnya. Selain itu, media sosial juga berperan aktif sebagai sarana bagi para penggemar K-Pop untuk saling berinteraksi, berbagi konten, dan berdiskusi mengenai idol mereka. Tentu interaksi ini tidak hanya untuk menguatkan komunitas fandom, tetapi juga untuk menciptakan identitas kolektif antara para penggemar yang akan saling mendukung dalam berbagai kegiatan di media sosial.<\/p>\n<p>Hegemoni  sendiri dimaknai  sebagai  dominasi  kelas  penguasa  terhadap  kelas  bawah. perspektif  hegemoni  diperkenalkan  oleh  Antonio  Gramsci  yang  merupakan  seorang Marxian.  Tradisi  marxisme mempersoalkan  hubungan  antara  penguasa  borjuis dan  kaum  proletar,  Namun  oleh  Gramsci  kemudian di  implementasikan  ke  berbagai  persoalan, tidak hanya hegemoni bidang  politik saja tetapi  juga berbagai  ranah sosial  yang lain. Misalnya,  ideologi,  gender,  agama,  ras,  budaya  dan  relasi  antar  kelompok  sosial  itu sendiri. Dapat diketahui bahwa pemaknaan hegememoni ini merujuk pada keinginan  dari kelompok  yang  dominan  yang  berusaha untuk mempertahankan  kekuasaannya dengan membuat ideologi mereka menjadi norma yang dapat diterima secara luas. Dalam konteks KPOP ini kita akan membahas tentang bagaimana hegemoni berlaku dalam salah satu fandom kpop.<\/p>\n<p>Fandom biasanya didominasi oleh fangirl, yang berarti disini konteks dominasi dimenangkan oleh perempuan karena fanboy atau kelompok laki laki adalah minoritas disini. Fenomena perbedaan antara fangirl dan fanboy disini tentu tidak bisa dilepaskan dari konteks hegemoni budaya patriarki yang tertanam kuat pada masyarakat. Disini konteks hegemoni bekerja lewat bagaimana persetujuan sosial yang ditanamkan melalui nilai dan budaya, dalam budaya fandom nilai gender tradisional menjadi bentuk kekuasaan halus namun mengikat. Masyarakat umumnya memiliki pandangan bahwa wanita adalah makhluk yang dipenuhi emosi, sedangkan pria dianggap lebih rasional. Pandangan ini kemudian terbawa ke dalam dunia penggemar. <\/p>\n<p>Ekspresi fangirl yang penuh semangat, emosional, dan imajinatif sering kali dianggap berlebihan atau tidak masuk akal. Sebaliknya, para fanboy yang menunjukkan ketertarikan pada hal yang sama malah dilihat sebagai istimewa, berani, bahkan lebih &#8220;objektif&#8221; karena tidak banyak yang bisa melakukannya. Dan tak jarang juga fanboy dianggap aneh bagi sebagian masyarakat di Indonesia, sebagian dari mereka dianggap melakukan penyimpangan gender karena mulai mengikuti kebiasaan idolnya. Seperti merawat diri menggunakan skincare, menggunakan make up, mengoleksi pernak pernik kpop, membeli merchandise kpop, menonton konser, dresswell agak feminim saat konser, membeli produk yang biasnya jadi brand ambassadornya. Fenomena seperti ini lalu dikaitkan dengan adanya femboy atau feminim boy yang mulai banyak terdapat di dunia. Di sini, hegemoni berperan untuk menjadikan perempuan terlihat lebih rendah hanya karena cara mereka menunjukkan kegembiraan yang berbeda dari standar maskulinitas yang ada.<\/p>\n<p> Industri K-Pop juga berkontribusi dalam memperkuat hegemoni ini. Agensi hiburan dan media pun kerap mengincar fangirl sebagai target utama dengan menawarkan fantasi romantis serta kedekatan emosional dengan idolanya. Sementara itu, fanboy dianggap sebagai pasar minor yang hanya \u201cmenarik\u201d dan memberikan variasi pada fandom karena jumlahnya tidak banyak. Akibatnya, emosi fangirl dijadikan produk konsumsi oleh perusahaan\/ agensi, sedangkan rasionalitas fanboy dipuja sebagai bentuk fandom yang lebih \u201cserius\u201d. Namun, hegemoni ini tidak sepenuhnya diterima. Dalam banyak komunitas, fangirl justru mematahkan stereotip tersebut. Mereka membangun solidaritas sesama fandom, mengorganisir proyek sosial, dan menggunakan fandom sebagai ruang aman untuk membahas isu-isu feminisme dan kemanusiaan. Maka, fandom disini juga dapat berfungsi sebagai tempat perlawanan terhadap adanya dominasi patriarki, di mana perempuan menegaskan keberadaan dan kekuatan kolektif mereka di dunia budaya populer. Salah satu fenomena yang dilakukan oleh para fans saat ini yang sedang viral adalah tindakan boikot idol yang mendukung Israel ataupun membeli makanan, minuman maupun benda yang terafiliasi oleh Israel, serta menegur agensi idolnya supaya tidak menjadikan bias mereka sebagai brand ambassador dari produk yang terkait dengan Israel. Hal ini kemudian sedikit demi sedikit memberikan efek yang nyata pada beberapa brand tersebut.<\/p>\n<p>Oleh: <strong>Diva Eka R.<br \/>\nNIM: 1152200143<br \/>\nMatkul: Media and Cultural Studies<\/strong><\/p>\n<p><strong>Daftar pustaka<\/strong>:<br \/>\nAli, Z. Z. (2017). Pemikiran Hegemoni Antonio Gramsci (1891-1937) di Italia. Jurnal Yaqzhan: Analisis Filsafat, Agama Dan Kemanusiaan, 3(2), 63-81.<br \/>\nZulfa, Milatul. &#8220;Hegemoni K-Pop Di Indonesia: Analisis Kritis Industri Budaya Perspektif Madzhab Frankfurt.&#8221; Journal ComSosMed 1.2 (2024): 51-61.<br \/>\nLink berita:<br \/>\n. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Diva Eka R. JurnalPost.com &#8211; Perkembangan kebudayaan di era digital saat ini ditandai oleh berbagai fenomena salah satunya fenomena K-Pop (Korean Pop) yang asalnya dari Korea Selatan, dan telah menjadi elemen penting dalam industri budaya global, termasuk di Indonesia. Dominasi budaya K-Pop di Indonesia jelas telah meluas di berbagai kelompok, terutama di kalangan remaja. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-20660","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20660","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20660"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20660\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20660"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20660"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20660"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}