{"id":20650,"date":"2025-11-05T17:09:13","date_gmt":"2025-11-05T09:09:13","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=20650"},"modified":"2025-11-05T17:09:55","modified_gmt":"2025-11-05T09:09:55","slug":"gaya-hidup-baru-di-era-kapitalisme-digital","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/gaya-hidup-baru-di-era-kapitalisme-digital\/20650\/","title":{"rendered":"GAYA HIDUP BARU DI ERA KAPITALISME DIGITAL"},"content":{"rendered":"<p>Penulis: <strong>Arina Damala<br \/>\nUniversitas 17 Agustus 1945 Surabaya<\/strong><\/p>\n<figure id=\"attachment_20651\" aria-describedby=\"caption-attachment-20651\" style=\"width: 480px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/IMG_0130.png\" alt=\"\" width=\"480\" height=\"253\" class=\"size-full wp-image-20651\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/IMG_0130.png 480w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/IMG_0130-300x158.png 300w\" sizes=\"(max-width: 480px) 100vw, 480px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-20651\" class=\"wp-caption-text\">Sumber: ShutterStock<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>JurnalPost<\/strong> &#8211; Di era teknologi yang semakin canggih dan serba cepat ini, belanja online secara tidak langsung menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat modern. Online shoppingatau belanja online merupakan sebuah transaksi jual beli barang atau jasa yang dilakukan secara daring tanpa melakukan pertemuan tatap muka antara penjual dan pembeli. Fenomena ini muncul karena adanya aplikasi yang menyediakan layanan berbelanja (e-commerce) tanpa harus datang ke pusat perbelanjaan. Seperti Shopee, TikTok Shop, Tokopedia, Lazada, dll.\u00a0<\/p>\n<p>Pembeli memiliki keuntungan karena tidak perlu menghabiskan waktu untuk datang langsung ke toko. Hanya dengan smartphone, pembeli bisa memilih barang yang diinginkan dan melakukan pembayaran dengan mobile banking (m-banking) dan tinggal menunggu barang dikirim sampai ke rumah (Saputri, 2023). Dengan mudahnya kita mengakses sebuah aplikasi berbelanja tersebut, belanja online menjadi salah satu bagian dari budaya populer yang dapat membentuk pola perilaku hingga identitas sosial. Saat ini, belanja bukan lagi sekedar untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga sebagai bentuk untuk mengekspresikan diri dan mengikuti sebuah tren. Dengan banyaknya tren model baju yang kekinian, mendorong sebagian masyarakat untuk berpenampilan \u2018up-to-date\u2019 dengan terus membeli dan memperbarui gaya hidup mereka hanya karena takut tertinggal.\u00a0<\/p>\n<p>Menurut Antonio Gramsci, fenomena ini bisa dikatakan sebagai bentuk hegemoni budaya atau cultural hegemony. Konsep ini merupakan kekuasaan yang dipegang oleh kelompok elit masyarakat untuk membentuk nilai dan pandangan dunia yang diterima oleh sebagian besar masyarakat. Dalam konteks belanja online, media online, influencer, dan e-commerce memiliki peran besar dalam membentuk perspektif konsumen digital (Widodo, 2023). Mereka menganggap bahwa membeli barang tertentu dan mengikuti sebuah tren merupakan hal yang normal dan wajar, atau bahkan menjadi bagian dari gaya hidup. <\/p>\n<p>Konsumen menerima pemikiran ini dengan sukarela tanpa adanya paksaan, sehingga kekuasaan ideologi kapitalis bekerja secara halus namun membuahkan hasil yang efektif.<\/p>\n<p>Fenomena belanja online juga menunjukkan bahwa budaya populer menjadi wadah pertukaran makna. Di mana, banyak masyarakat terdorong untuk mengikuti tren berpakaian dan berbelanja demi mendapatkan status sosial atau hanya sekadar memenuhi kepuasan pribadi. Namun di sisi lain, muncul pola pikir kritis, misal dengan adanya gerakan pembelian produk-produk lokal atau memilih barang yang lebih ramah lingkungan. Bentuk tindakan kritis ini menunjukkan bahwa kekuasaan ideologi digital tidak pernah paten, selalu ada ruang bagi masyarakat untuk menolak atau menyesuaikan nilai-nilai yang ditawarkan oleh tren.<\/p>\n<p>Dengan memahami belanja online sebagai bagian dari budaya populer, kita bisa melihat bahwa teknologi, ekonomi, dan ideologi saling terkait satu sama lain, sekaligus membantu kita lebih sadar dan kritis terhadap tren, gaya hidup, dan pola konsumsi di era digital.<br \/>\n\u00a0<br \/>\n<strong>Daftar Pustaka<\/strong><br \/>\nSaputri, V. A. (2023). Belanja Online Menjadi Fenomena Budaya Populer di Masyarakat. Kompasiana.Com. https:\/\/www.kompasiana.com\/vernada90984\/63b5122e43b73e19c87b7f92\/belanja-online-menjadi-fenomena-budaya-populer-di-masyarakat#google_vignette<br \/>\nWidodo. (2023). Hegemoni budaya konsumen digital belanja di media online dalam balutan Harbolnas kritik pemikiran Antonio Gramsci. Elshinta,Com. https:\/\/elshinta.com\/news\/307431\/2023\/07\/05\/hegemoni-budaya-konsumen-digital-belanja-di-media-online-dalam-balutan-harbolnas-kritik-pemikiran-an<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Arina Damala Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya JurnalPost &#8211; Di era teknologi yang semakin canggih dan serba cepat ini, belanja online secara tidak langsung menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat modern. Online shoppingatau belanja online merupakan sebuah transaksi jual beli barang atau jasa yang dilakukan secara daring tanpa melakukan pertemuan tatap muka antara penjual [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":20651,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-20650","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20650","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20650"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20650\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/20651"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20650"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20650"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20650"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}