{"id":20644,"date":"2025-11-05T15:16:20","date_gmt":"2025-11-05T07:16:20","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=20644"},"modified":"2025-11-05T15:16:20","modified_gmt":"2025-11-05T07:16:20","slug":"mengupas-teori-feminisme-dalam-perspektif-komunikasi-gender","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/mengupas-teori-feminisme-dalam-perspektif-komunikasi-gender\/20644\/","title":{"rendered":"Mengupas Teori Feminisme dalam Perspektif Komunikasi Gender"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><strong>EVALUASI TENGAH SEMESTER<\/strong><br \/>\n<strong>Mata Kuliah<\/strong><br \/>\n<strong>Komunikasi Gender<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Disusun oleh:<\/strong><br \/>\n<strong>Sabilaa Husna DDR (1152200322)<\/strong><br \/>\n<strong>Dosen Pengampu:<\/strong><br \/>\n<strong>Dr. Merry Fridha Tri Palupi, M.Si.<\/strong><\/p>\n<p><strong>Pendahuluan<\/strong><br \/>\nPerbincangan tentang feminisme dalam kajian komunikasi gender bukan sekadar soal representasi perempuan di media, melainkan juga tentang siapa yang menghasilkan pengetahuan, bagaimana posisi kekuasaan memengaruhi wacana, dan bagaimana praktik komunikasi dapat memperkuat atau menantang struktur patriarki. Artikel singkat ini membedah teori-teori feminis\u2014dengan fokus pada *feminist standpoint theory*\u2014dan menempatkannya di ranah studi komunikasi: bagaimana teori ini membantu kita membaca produksi makna, praktik media, dan peluang praktik emansipatoris.<\/p>\n<p><strong>Apa itu Feminist Standpoint Theory (FST)<\/strong><br \/>\nFeminist Standpoint Theory berakar pada gagasan bahwa posisi sosial\u2014terutama posisi subordinat\u2014membentuk perspektif pengetahuan yang unik. Alih-alih memandang pengetahuan sebagai netral dan universal, FST menekankan *situated knowledge* (pengetahuan yang terletak dalam pengalaman sosial tertentu) dan konsep *epistemic advantage*: kelompok yang mengalami subordinasi sering memiliki wawasan yang lebih tajam tentang struktur kekuasaan yang tersembunyi karena pengalaman sehari-hari mereka yang berbeda. Sandra Harding adalah salah satu pengembang kunci gagasan ini\u2014termasuk konsep *strong objectivity* yang mendorong penelitian dimulai dari pengalaman mereka yang termarjinalkan untuk memperoleh objektivitas yang lebih kuat.<\/p>\n<p><strong>Mengapa FST penting dalam studi komunikasi gender?<\/strong><br \/>\nDalam ranah komunikasi, FST memberi instrumen teoretis untuk:<br \/>\n1. Memprioritaskan narasi dan pengalaman perempuan (dan kelompok margin lain) dalam analisis media.<br \/>\n2. Membaca bias struktural dalam praktik produksi media\u2014mis. keputusan editorial, framing berita, atau algoritma platform\u2014sebagai hasil dari posisi dominan yang membentuk \u201cpengetahuan\u201d yang beredar.<br \/>\n3. Menyusun metodologi riset yang reflektif terhadap posisi peneliti (positionality) sehingga laporan penelitian tidak meminggirkan pengalaman subjek penelitian.<\/p>\n<p>Contoh aplikasi praktis: analisis wacana berita kekerasan berbasis gender yang tidak hanya membaca teks berita, tetapi juga menanyakan: siapa yang bicara, siapa yang disuarakan, dan apa struktur institusional yang membentuk pilihan narasi tersebut.<\/p>\n<p><strong>Kerangka-teori: Unsur penting FST untuk analisis komunikasi<\/strong><br \/>\nBeberapa elemen kunci yang dapat dijadikan kerangka analitik dalam studi komunikasi gender:<br \/>\n-Positionality &amp; Situated Knowledge : identifikasi posisi sosial aktor (gender, kelas, ras) yang membentuk sudut pandang.<br \/>\n-Epistemic Advantage : menguji apakah perspektif kelompok subordinat membuka pengetahuan tentang struktur kekuasaan yang diabaikan narasi dominan.<br \/>\n-Strong Objectivity : mendorong peneliti untuk memasukkan pengalaman mereka dan subjek dalam desain riset sehingga \u201cketidaknetralan\u201d diakui dan dianalisis.<br \/>\n-Praktik Emansipatoris : mencari praktik komunikasi yang memfasilitasi suara marginal (mis. partisipasi publik, platform alternatif, kebijakan redaksional inklusif).<br \/>\nKerangka ini membantu pengamat media tidak hanya menjelaskan \u201capa\u201d yang terjadi di teks\/representasi, tetapi juga \u201cmengapa\u201d dan \u201cbagaimana\u201d hubungan kuasa mereproduksi atau mengubah representasi tersebut.<\/p>\n<p><strong>Kritik dan batasan FST dalam studi komunikasi<\/strong><br \/>\nBeberapa kritik terhadap FST meliputi: potensi esensialisasi (menggeneralisir pengalaman \u201cwanita\u201d sebagai homogen), tantangan empiris dalam membuktikan *epistemic advantage*, dan risiko romantisasi pengalaman subordinat tanpa analisis struktur institusional lebih luas. Oleh karena itu, penerapan FST terbaik bila dipadukan dengan kerangka interseksionalitas dan metodologi empiris yang matang.<\/p>\n<p>Penutup \u2014 Implikasi praktis untuk peneliti dan praktisi media<br \/>\nMengintegrasikan FST ke dalam studi komunikasi gender menuntut: (1) reflexivity peneliti terhadap posisi mereka sendiri; (2) prioritas pada suara dan pengalaman subaltern dalam desain riset; dan (3) tindakan praksis\u2014mis. advokasi kebijakan redaksional yang inklusif, dukungan platform untuk konten marginal, dan edukasi media kritis. Dengan begitu, komunikasi tidak hanya menjadi arena representasi, tetapi juga medan perjuangan pengetahuan yang berpotensi mengubah relasi kekuasaan.<\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong><br \/>\nhttps:\/\/sinta.kemdiktisaintek.go.id\/authors\/profile\/6670580\/?view=books&amp;utm_source=chatgpt.com &#8220;SINTA &#8211; Science and Technology Index&#8221;<br \/>\nhttps:\/\/sk.sagepub.com\/ency\/edvol\/embed\/communicationtheory\/chpt\/feminist-standpoint-theory?utm_source=chatgpt.com &#8220;Sage Reference &#8211; Feminist Standpoint Theory&#8221;<br \/>\nhttps:\/\/pdfs.semanticscholar.org\/3e86\/72cae3e892def34690d94fc967c48fff9266.pdf?utm_source=chatgpt.com &#8220;Feminist Standpoint Theory: Conceptualization and Utility&#8221;<br \/>\nhttps:\/\/jcom.sissa.it\/article\/pubid\/JCOM_1804_2019_C02\/?utm_source=chatgpt.com &#8220;Feminist standpoint theory and science communication&#8221;<br \/>\nhttps:\/\/ejournal.sarimutiara.ac.id\/index.php\/JLMI\/article\/view\/1669?utm_source=chatgpt.com &#8220;Sebuah Kajian Literatur Standpoint Theory&#8221;<br \/>\nhttps:\/\/www.journals.uchicago.edu\/doi\/10.1086\/494867?utm_source=chatgpt.com &#8220;Feminist Standpoint Theory and the Problems &#8230;&#8221;<br \/>\nhttps:\/\/www.tandfonline.com\/toc\/uwsc20\/23\/1?utm_source=chatgpt.com &#8220;Women&#8217;s Studies in Communication: Vol 23, No 1&#8221;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>EVALUASI TENGAH SEMESTER Mata Kuliah Komunikasi Gender Disusun oleh: Sabilaa Husna DDR (1152200322) Dosen Pengampu: Dr. Merry Fridha Tri Palupi, M.Si. Pendahuluan Perbincangan tentang feminisme dalam kajian komunikasi gender bukan sekadar soal representasi perempuan di media, melainkan juga tentang siapa yang menghasilkan pengetahuan, bagaimana posisi kekuasaan memengaruhi wacana, dan bagaimana praktik komunikasi dapat memperkuat atau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-20644","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20644","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20644"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20644\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20644"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20644"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20644"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}