{"id":20629,"date":"2025-11-04T19:40:07","date_gmt":"2025-11-04T11:40:07","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=20629"},"modified":"2025-11-04T19:40:07","modified_gmt":"2025-11-04T11:40:07","slug":"squid-game-dan-kapitalisme-kelas-menengah-yang-selalu-lapar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/squid-game-dan-kapitalisme-kelas-menengah-yang-selalu-lapar\/20629\/","title":{"rendered":"Squid Game dan Kapitalisme Kelas Menengah yang Selalu Lapar"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><strong>EVALUASI TENGAH SEMESTER<br \/>\nMata Kuliah<br \/>\nMedia and Cultural Studies <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Disusun oleh:<br \/>\n<strong>Puput Andita (1152200478)<br \/>\nDosen Pengampu:<br \/>\nDr. Merry Fridha Tri Palupi, M.Si.<\/strong><\/p>\n<p>JurnalPost.com &#8211; Ketika serial Korea Squid Game muncul di Netflix, perhatian dunia seakan berhenti sejenak untuk menyaksikan permainan mematikan yang menegangkan sekaligus memikat. Di balik kostum hijau dan merah muda yang mencolok, terselip kritik sosial yang cukup tajam: kehidupan nyata kita tidak jauh berbeda dari arena permainan tersebut. Kita semua terjebak dalam perlombaan, bersaing, dan menumpuk utang dalam permainan besar bernama kapitalisme, di mana kelas menengah yang terlihat paling \u201caman\u201d ternyata paling lapar untuk terus menang.<\/p>\n<p><strong>Hegemoni: Persetujuan yang Tak Sadar<\/strong><br \/>\nAntonio Gramsci menekankan bahwa kekuasaan bertahan bukan hanya melalui kekerasan, tetapi juga melalui persetujuan yang tidak disadari, atau yang disebut hegemoni. Di Squid Game, para peserta menyadari bahwa permainan itu tidak adil, namun tetap ikut karena berharap bisa keluar dari kemiskinan. Hal ini mencerminkan kehidupan kelas menengah di dunia nyata: meski sistem ekonomi tidak berpihak, kita tetap patuh bekerja tanpa henti, menumpuk utang demi gaya hidup, dan percaya bahwa usaha keras pasti membuahkan hasil. Kita memilih untuk ikut permainan bukan karena dipaksa, melainkan karena meyakini itu satu-satunya jalan.<\/p>\n<p><strong>Ideologi: Ilusi Kesempatan yang Sama<\/strong><br \/>\nLouis Althusser menyebut ideologi sebagai sistem keyakinan yang membuat ketimpangan sosial tampak normal. Kapitalisme menebarkan ide bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk sukses asal mau bekerja keras. Squid Game membongkar ilusi ini aturan ditetapkan oleh mereka yang berkuasa, sementara para pemain miskin hanyalah pion bagi tontonan para elit. Ironisnya, serial ini sendiri disebarkan lewat Netflix produk industri hiburan kapitalis global. Kritik terhadap sistem akhirnya dijual sebagai hiburan yang menguntungkan, sehingga kritik pun menjadi bagian dari sistem yang dikritiknya.<\/p>\n<p><strong>Representasi: Kelas Menengah yang Rapuh<\/strong><br \/>\nMenurut Stuart Hall, media tidak hanya mencerminkan kenyataan, tetapi juga membentuk makna tentang dunia. Di Squid Game, kelas menengah digambarkan sebagai kelompok yang paling rapuh tidak miskin seperti kelas bawah, tapi juga tidak cukup aman untuk berhenti berjuang. Tokoh utama, Gi-hun, mewakili kita semua: pekerja keras yang terjebak utang, mencoba mempertahankan martabat, namun tak berdaya menghadapi struktur ekonomi. Ia menjadi simbol krisis eksistensial kelas menengah, yang terus berlomba agar tidak jatuh, namun juga takut kehilangan segalanya.<\/p>\n<p><strong>Resistensi: Kemanusiaan di Tengah Kekerasan<\/strong><br \/>\nJohn Fiske melihat budaya populer sebagai arena pertarungan makna antara dominasi dan perlawanan. Dalam Squid Game, resistensi muncul lewat tindakan kecil Gi-hun menolak membunuh teman, Ali tetap percaya pada orang lain, dan beberapa pemain memilih solidaritas di tengah permainan. Meskipun tampak sederhana, tindakan ini menanam benih perlawanan, menunjukkan bahwa manusia tetap mencari cara mempertahankan kemanusiaannya meski berada dalam sistem paling kejam sekalipun.<\/p>\n<p><strong>Emansipasi: Menyadari Permainan<\/strong><br \/>\nSquid Game bukan sekadar hiburan, tapi cermin realitas. Serial ini menunjukkan bagaimana kapitalisme membuat kita selalu merasa kurang, terus bersaing, dan takut kalah. Paulo Freire menekankan pentingnya kesadaran kritis kemampuan melihat struktur penindasan dan bertanya, Siapa yang membuat aturan permainan ini? Kesadaran itu adalah langkah awal emansipasi menyadari permainan yang tidak adil, lalu mulai membangun solidaritas dan empati, bukan sekadar berkompetisi.<\/p>\n<p><strong>Refleksi: Berhenti Bermain?<\/strong><br \/>\nKelas menengah yang lapar bukan hanya karena kekurangan materi, tapi juga haus akan pengakuan, keamanan, dan makna hidup di dunia yang menilai segalanya berdasarkan uang dan produktivitas. Squid Game mengingatkan kita selama menerima aturan permainan ini, kita tetap menjadi pemain, bukan pemenang. Kapitalisme bertahan bukan karena kuat, tapi karena kita terus memainkannya. Mungkin saatnya berhenti berlomba, menolak aturan melelahkan, dan membangun permainan baru permainan yang memulihkan kemanusiaan.<\/p>\n<p><strong>Kesimpulan Konseptual<\/strong>:<br \/>\nTulisan ini menggunakan perspektif Cultural Studies dengan konsep-konsep utama:<br \/>\n1. Hegemoni (Gramsci) \u2192 Kekuasaan kapitalisme bertahan melalui persetujuan, bukan paksaan.<br \/>\n2. Ideologi (Althusser) \u2192 Ilusi kesempatan yang setara bagi semua orang.<br \/>\n3. Representasi (Hall) \u2192 Media membentuk citra kelas menengah sebagai kelompok rapuh.<br \/>\n4. Resistensi (Fiske) \u2192 Tindakan kecil dan kesadaran kritis sebagai bentuk perlawanan.<br \/>\n5. Emansipasi (Freire) \u2192 Kesadaran kritis terhadap permainan kapitalisme dan upaya membangun solidaritas baru.<\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong>:<br \/>\n* Gramsci, A. (1971). Selections from the Prison Notebooks.<br \/>\n* Hall, S. (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices.<br \/>\n* Fuchs, C. (2017). Social Media: A Critical Introduction.<br \/>\n* Althusser, L. (1971). Ideology and Ideological State Apparatuses.<br \/>\n* Fiske, J. (1989). Understanding Popular Culture.<br \/>\n* BBC News (2021). Squid Game: The Global Phenomenon that Exposes Inequality.<br \/>\n* The Conversation (2021). Squid Game Shows Why Inequality and Debt Are the Deadly Games of Our Time.<\/p>\n<p><strong>Berikut beberapa sumber dan tautan berita<\/strong>:<br \/>\n1. \u201cSocial inequality and hyper violence: why the bleak world of Netflix\u2019s Squid Game is a streaming phenomenon.\u201dNews24, 8 Oktober 2021.<br \/>\nhttps:\/\/www.news24.com\/life\/arts-and-entertainment\/tv\/squid-game-director-says-people-deeply-relate-to-theme-of-economic-inequality-20211028-2?utm_source= com<br \/>\n2. \u201cSquid Game: how did the show become a streaming phenomenon?\u201d World Economic Forum, Oktober 2021.<br \/>\nhttps:\/\/www.tatlerasia.com\/lifestyle\/entertainment\/squid-game-cultural-impact?utm_source<br \/>\n3. \u201cSutradara sebut unsur satire \u2018Squid Game\u2019 dorong popularitas global\u201d \u2014 ANTARA News, Rabu\u202f29\u202fSeptember\u202f2021.<br \/>\nhttps:\/\/www.antaranews.com\/berita\/2424361\/sutradara-sebut-unsur-satire-squid-game-dorong-popularitas-global?utm_source<br \/>\n4. \u201cLima pembeda \u2018Squid Game\u2019 dengan tontonan \u2018survival\u2019 lain\u201d \u2014 ANTARA News.<br \/>\nhttps:\/\/www.antaranews.com\/berita\/2428421\/lima-pembeda-squid-game-dengan%E2%80%91tontonan%E2%80%91survival%E2%80%91lain<br \/>\n5. \u201cPotret Wajah Kelam Hegemoni Kapitalisme dalam Narasi Serial Squid Game\u201d \u2014 Kumparan, artikel bebas.<br \/>\nhttps:\/\/kumparan.com\/ernani-dewi-kusumawati\/potret%E2%80%91wajah%E2%80%91kelam%E2%80%91hegemoni%E2%80%91kapitalisme%E2%80%91dalam%E2%80%91narasi%E2%80%91serial%E2%80%91squid%E2%80%91game%E2%80%9124CpYGS6zVP<br \/>\n6. \u201cMerasakan Sensasi Permainan Squid Game\u201d \u2014 KOMPAS, 5\u202fJuli\u202f2025.<br \/>\nhttps:\/\/www.kompas.id\/artikel\/merasakan%E2%80%91sensasi%E2%80%91permainan%E2%80%91squid%E2%80%91game<br \/>\n7. \u201cIsu Himpitan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Balik Sukses \u2018Squid Game\u2019\u201d \u2014 artikel berita populer (lihatjabar.com) 26\u202fJuni\u202f2025.<br \/>\nhttps:\/\/www.lihatjabar.com\/nasional\/461373901\/lebih%E2%80%91dari%E2%80%91sekadar%E2%80%91hiburan%E2%80%91squid%E2%80%91game%E2%80%913%E2%80%91hadirkan%E2%80%91kritik%E2%80%91sosial%E2%80%91dan%E2%80%91pesan%E2%80%91kemanusiaan<br \/>\n8. \u201cAnalisis Aspek\u2011Aspek Hegemoni dan Dominasi Sosial Ekonomi dalam Serial \u2018Squid Game\u2019\u201d \u2014 jurnal berbahasa Indonesia, Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI, Universitas Jember.<br \/>\nhttps:\/\/jes.jurnal.unej.ac.id\/index.php\/JES\/article\/view\/33792?utm_source=com<br \/>\n9. \u201cAnalisis Wacana Kritis Masalah Sosial Dalam Serial Drama Squid Game\u201d \u2014 jurnal berbahasa Indonesia, Jurnal Ilmu Komunikasi (JKMS), Universitas Riau.<br \/>\nhttps:\/\/jkms.ejournal.unri.ac.id\/index.php\/JKMS\/article\/view\/7500?utm_source= com<br \/>\n10. \u201cAnalisis Semiotika Representasi Stratifikasi Sosial dalam Sistem Kapitalisme pada Serial Film Squid Game\u201d \u2014 jurnal berbahasa Indonesia.<br \/>\nhttps:\/\/ezra.krabulletin.com\/index.php\/ezrascibin\/article\/view\/62?utm_source= com<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>EVALUASI TENGAH SEMESTER Mata Kuliah Media and Cultural Studies Disusun oleh: Puput Andita (1152200478) Dosen Pengampu: Dr. Merry Fridha Tri Palupi, M.Si. JurnalPost.com &#8211; Ketika serial Korea Squid Game muncul di Netflix, perhatian dunia seakan berhenti sejenak untuk menyaksikan permainan mematikan yang menegangkan sekaligus memikat. Di balik kostum hijau dan merah muda yang mencolok, terselip [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"hide","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"0","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"0","number_popup_post":"3","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"1","override_template":"1","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-20629","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20629","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20629"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20629\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20629"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20629"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20629"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}