{"id":20242,"date":"2025-10-16T18:32:59","date_gmt":"2025-10-16T10:32:59","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=20242"},"modified":"2025-10-16T18:32:59","modified_gmt":"2025-10-16T10:32:59","slug":"dibalik-makanan-tinggi-protein-apakah-tubuh-kita-benar-benar-menyerapnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/dibalik-makanan-tinggi-protein-apakah-tubuh-kita-benar-benar-menyerapnya\/20242\/","title":{"rendered":"Dibalik Makanan Tinggi Protein: Apakah Tubuh Kita Benar-Benar Menyerapnya?"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Protein.webp\" alt=\"Protein\" width=\"793\" height=\"544\" class=\"aligncenter size-full wp-image-20243\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Protein.webp 793w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Protein-300x206.webp 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Protein-768x527.webp 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Protein-750x515.webp 750w\" sizes=\"(max-width: 793px) 100vw, 793px\" \/><\/p>\n<p>Penulis: <strong>Ghiyas Raihan Hibatullah<br \/>\nUniversitas Sultan Ageng Tirtayasa<\/strong><br \/>\nJurusan: <strong>Teknologi Pangan<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Belakangan ini, semakin banyak orang yang mulai sadar pentingnya mengonsumsi makanan tinggi protein. Dari telur, daging tanpa lemak, ikan, hingga berbagai minuman suplemen, semuanya diklaim bisa membantu membentuk otot dan menjaga kebugaran tubuh. Tren ini memang terlihat positif, apalagi di tengah gaya hidup modern yang serba cepat dan menuntut stamina prima. Tapi, tahukah Anda bahwa tidak semua protein yang kita makan bisa benar-benar diserap tubuh? Bisa jadi, sebagian dari protein yang kita konsumsi justru terbuang percuma karena cara makan atau pengolahannya kurang tepat.<\/p>\n<p>Faktanya, kemampuan tubuh dalam menyerap protein bisa berbeda-beda tergantung dari sumber makanannya. Protein dari hewani seperti telur dan daging biasanya lebih mudah dicerna dibanding protein dari nabati seperti kacang-kacangan. Cara memasak juga punya pengaruh besar misalnya, terlalu lama digoreng bisa membuat protein rusak dan sulit diserap. Bahkan, kondisi tubuh seseorang, seperti masalah pencernaan, juga bisa membuat proses penyerapan protein jadi tidak maksimal.<\/p>\n<p>Karena itu, penting bagi kita untuk tidak hanya fokus pada jumlah protein yang dikonsumsi, tapi juga bagaimana tubuh memanfaatkannya. Evaluasi nilai gizi dan penyerapan protein membantu kita memahami seberapa baik makanan yang kita makan benar-benar bekerja bagi tubuh. Dengan cara ini, kita bisa lebih bijak memilih bahan makanan dan cara memasaknya agar gizinya tidak hilang begitu saja. Sebab, tubuh yang sehat bukan hanya hasil dari banyaknya makanan bergizi yang masuk, tapi juga dari seberapa baik tubuh kita menyerapnya.<\/p>\n<p><strong>Apa Itu Penyerapan Protein dan Mengapa Penting?<\/strong><br \/>\nPenyerapan protein adalah proses ketika tubuh mengubah protein dari makanan menjadi asam amino yang siap digunakan untuk berbagai fungsi penting, seperti pembentukan otot, jaringan tubuh, serta produksi hormon dan enzim. Setelah protein masuk ke lambung, enzim pepsin akan memecahnya menjadi molekul yang lebih kecil, lalu proses dilanjutkan di usus halus oleh enzim seperti tripsin dan peptidase hingga menjadi asam amino. Asam amino inilah yang diserap melalui dinding usus dan dialirkan ke seluruh tubuh melalui darah. Menurut Loveday (2022) dalam <em>Nutrition Research Reviews<\/em>, proses pencernaan dan penyerapan protein dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti jenis protein, cara pengolahan, serta kondisi fisiologis tubuh.<\/p>\n<p>Sumber protein hewani seperti telur, daging, dan susu memiliki struktur asam amino yang lebih lengkap dan mudah dicerna, sehingga tingkat penyerapannya lebih tinggi dibandingkan protein nabati. Namun, protein dari tumbuhan seperti kedelai dan kacang-kacangan tetap bermanfaat, hanya saja sering mengandung zat antinutrisi seperti fitat dan tanin yang dapat menghambat kerja enzim pencernaan. Studi dari Shrestha (2012) juga menjelaskan bahwa jenis protein susu seperti whey dan kasein memiliki perbedaan kecepatan penyerapan whey lebih cepat diserap untuk pemulihan otot, sementara kasein diserap lebih lambat dan cocok menjaga ketersediaan asam amino lebih lama.<\/p>\n<p>Penyerapan protein yang baik sangat penting bagi kesehatan karena menentukan seberapa efisien tubuh menggunakan nutrisi dari makanan. Jika penyerapan terganggu, tubuh bisa kekurangan asam amino penting meski asupan proteinnya cukup. Kondisi seperti ini dapat menyebabkan kelelahan, sulit membentuk otot, hingga penurunan daya tahan tubuh. Oleh karena itu, memahami proses penyerapan protein membantu kita memilih sumber makanan dan cara pengolahan yang tepat agar gizi yang dikonsumsi benar-benar memberi manfaat maksimal bagi tubuh.<\/p>\n<p><strong>Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyerapan Protein<\/strong><\/p>\n<p>1. <strong> Pengolahan Makanan yang dikonsumsi<\/strong><br \/>\nCara pengolahan makanan sangat menentukan sejauh mana protein dapat dipecah menjadi bentuk yang lebih sederhana. Pemanasan yang cukup dapat meningkatkan kecernaan protein dengan membantu denaturasi, tetapi jika berlebihan dapat merusak struktur asam amino, terutama lisin.<\/p>\n<p><strong> Jenis Sumber Protein<\/strong><br \/>\nProtein hewani seperti daging, telur, dan susu memiliki komposisi asam amino lengkap dan struktur yang mudah dicerna oleh enzim pencernaan. Sebaliknya, protein nabati dari kacang-kacangan, kedelai, atau biji-bijian sering kali memiliki keterbatasan pada satu atau lebih asam amino esensial, serta karena manusia tidak memiliki enzim beta yang dapat mencerna jenis pangan tersebut.<\/p>\n<p>2. <strong> Keberadaan Senyawa Antinutrisi<\/strong><br \/>\nBeberapa bahan nabati mengandung senyawa yang disebut <em>antinutrien<\/em>, seperti tanin, fitat, dan saponin, yang dapat mengikat protein atau mineral dan menghambat proses pencernaan. Zat ini bekerja dengan mengganggu enzim pencernaan seperti tripsin dan pepsin, sehingga protein tidak bisa terurai sempurna. Ajomiwe <em>et al. <\/em>(2024) menjelaskan bahwa, proses fermentasi dan perendaman dapat mengurangi kadar antinutrien hingga 50%. Sehingga meningkatkan penyerapan protein nabati secara signifikan.<\/p>\n<p>3. <strong>Kesalahan Umum Saat Mengonsumsi Makanan Tinggi Protein <\/strong><br \/>\nBanyak orang mengira bahwa semakin banyak makan protein, maka tubuh akan semakin sehat dan berotot. Padahal, tidak semua cara mengonsumsi protein itu benar. Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah makan terlalu banyak protein tanpa memperhatikan keseimbangan gizi lain seperti serat, vitamin, dan mineral. Akibatnya, tubuh bisa mengalami gangguan pencernaan, bahkan kerja ginjal dapat menjadi lebih berat jika kelebihan protein dalam jangka panjang. Kesalahan lainnya adalah memasak makanan berprotein dengan cara yang kurang tepat, misalnya digoreng dengan minyak yang sudah digunakan berulang kali atau dibakar terlalu lama, karena bisa merusak kandungan gizinya. Selain itu, banyak orang juga kurang minum air atau jarang makan sayur dan buah<\/p>\n<p><strong>Cara Meningkatkan Penyerapan Protein Secara Alami<\/strong><br \/>\nTubuh tidak hanya membutuhkan cukup banyak protein, tetapi juga harus mampu menyerap dan memanfaatkannya dengan baik. Salah satu cara sederhana untuk meningkatkan penyerapan protein adalah dengan mengatur cara memasak. Memasak dengan cara direbus, dikukus, atau dipanggang ringan dapat membantu memecah struktur protein sehingga lebih mudah dicerna, dibandingkan dengan menggoreng atau membakar pada suhu tinggi. Selain itu, mengombinasikan makanan berprotein dengan makanan yang mengandung vitamin C, seperti sayuran hijau atau buah jeruk, dapat membantu tubuh menyerap asam amino dan zat besi dengan lebih efisien.<\/p>\n<p><strong>Referensi <\/strong><br \/>\nLoveday, S. M. 2023. Protein digestion and absorption: The influence of food processing.\u00a0<em>Nutrition research reviews<\/em>. Vol\u00a0<em>36<\/em>(2): 544-559.<\/p>\n<p>Shrestha, A. K. 2012. Scientific background of dairy protein digestibility: a review.\u00a0<em>Journal of Food Science and Technology Nepal<\/em>. Vol\u00a0<em>7<\/em>: 1-8.<\/p>\n<p>Ajomiwe, N., Boland, M., Phongthai, S., Bagiyal, M., Singh, J., dan Kaur, L. 2024. Protein nutrition: understanding structure, digestibility, and bioavailability for optimal health.\u00a0<em>Foods<\/em>. Vol\u00a0<em>13<\/em>(11): 1771.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Ghiyas Raihan Hibatullah Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Jurusan: Teknologi Pangan JurnalPost.com &#8211; Belakangan ini, semakin banyak orang yang mulai sadar pentingnya mengonsumsi makanan tinggi protein. Dari telur, daging tanpa lemak, ikan, hingga berbagai minuman suplemen, semuanya diklaim bisa membantu membentuk otot dan menjaga kebugaran tubuh. Tren ini memang terlihat positif, apalagi di tengah gaya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":20243,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-20242","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20242","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20242"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20242\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/20243"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20242"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20242"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20242"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}