{"id":20172,"date":"2025-10-12T21:11:41","date_gmt":"2025-10-12T13:11:41","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=20172"},"modified":"2025-10-12T21:11:41","modified_gmt":"2025-10-12T13:11:41","slug":"pati-vs-serat-kenapa-nasi-bisa-pulen-dan-oatmeal-bikin-kenyang-lebih-lama-ini-fakta-ilmiah-menariknya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/pati-vs-serat-kenapa-nasi-bisa-pulen-dan-oatmeal-bikin-kenyang-lebih-lama-ini-fakta-ilmiah-menariknya\/20172\/","title":{"rendered":"Pati vs Serat: Kenapa Nasi Bisa Pulen, dan Oatmeal Bikin Kenyang Lebih Lama? Ini Fakta Ilmiah Menariknya"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Nasi-.webp\" alt=\"\" width=\"547\" height=\"522\" class=\"aligncenter size-full wp-image-20173\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Nasi-.webp 547w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Nasi--300x286.webp 300w\" sizes=\"(max-width: 547px) 100vw, 547px\" \/><\/p>\n<p><strong>Oleh: Azwa Nur Istiqomah<\/strong><\/p>\n<p><strong>Pembuka<\/strong><br \/>\nNasi merupakan makanan favorit sebagian besar orang Indonesia. Hampir setiap hari nasi hadir di meja makan, bahkan ada ungkapan \u201cbelum makan kalau belum makan nasi\u201d yang menunjukkan betapa pentingnya makanan ini dalam kebiasaan makan orang Indonesia. Sementara itu, oatmeal belakangan ini makin populer, padahal dulu oatmeal sering dianggap makanan yang identik dengan orang diet, tetapi sekarang citranya sudah berubah. Oatmeal makin populer karena saat ini banyak orang sadar kalau oatmeal punya banyak manfaat untuk kesehatan. Salah satunya karena kandungan seratnya yang tinggi, membuat oatmeal jadi pilihan favorit untuk sarapan sehat sehari-hari. Tetapi pernahkah kamu bertanya-tanya kenapa nasi yang kamu masak bisa pulen? \u00a0atau oatmeal yang kamu makan bisa membuat kamu merasa kenyang lebih lama? Semua itu bukan cuma soal rasa, tekstur atau kebetulan lho. Ternyata ada fakta ilmiah dibaliknya yang menarik untuk dipelajari, semua itu berkaitan dengan dua komponen penting dalam makanan kita yaitu, pati dan serat.<\/p>\n<p><strong>Rahasia Dibalik Tektsur Pulen Nasi<\/strong><br \/>\nNasi merupakan pangan karbohidrat yang kaya akan pati. Menurut Jacobs dan Delcour (1998) pati adalah rantai panjang gula atau polimer glukosa yang tersusun atas amilosa dan amilopektin. Tekstur pulen pada nasi ternyata dipengaruhi oleh komposisi pati, khususnya perbandingan amilosa dan amilopektin dalam beras. Menurut Dwiyani <em>et al<\/em>. (2023) Amilosa adalah komponen pati yang memiliki rantai lurus dan larut dalam air. Amilosa terdiri dari rantai D-glukosa lurus yang berikatan dengan \u03b1-1,4. Sementara itu, Amilopektin adalah polimer berantai cabang dengan ikatan \u03b1-(1,4)-glukosidik dan ikatan \u03b1-(1,6)-glikosidik di tempat percabangannya.<\/p>\n<p>Melansir dari artikel yang ditulis Subekti, (2007) Amilopektin dan amilosa mempunyai sifat fisik yang berbeda. Amilosa lebih mudah larut dalam air dibanding amilopektin. Pada saat proses pemasakan beras menjadi nasi, terjadi salah satu peristiwa penting yaitu gelatinisasi. Menurut Fitriani <em>et al<\/em>. (2023), gelatinisasi merupakan proses pembengkakan granula pati ketika di panaskan dalam media air. Saat beras di nanak menjadi nasi, pati di dalam beras akan menyerap air dan mengembang.<\/p>\n<p>Pada proses ini, beras dengan kadar amilopektin tinggi akan mengikat ebih banyak air dan menghasilkan gel kental yang stabil akibat struktur cabangnya, sehingga butir nasi menjadi lebih lengket dan lembut atau biasa disebut pulen. Hal ini didukung dengan pernyataan Suarti <em>et al<\/em>., (2023) bahwa beras yang mengandung kadar amilosa rendah, cenderung memiliki tekstur nasi yang lebih lunak (pulen) sedangkan beras yang kadar amilosa nya tinggi (&gt;25%) cenderung menghasilkan tekstur nasi yang keras (pera).<\/p>\n<p>Selain itu, tingkat kepulenan beras dapat dipengaruhi oleh jenis atau varietas beras yang kamu gunakan. Beberapa penelitian membuktikan bahwa beras dengan varietas Ciherang memiliki tingkat kepulenan yang lebih tinggi. Kemudian, pernahkah kamu memperhatikan perbedaan tekstur nasi ketan dan nasi biasa ketika matang? Jika diperhatikan ketika kamu memasak beras ketan, pasti tekstur nya lebih lengket dan empuk. Hal ini dikarenakan tingginya kandungan amilopektin pada beras ketan dibanding beras biasa yang kita konsumsi sehari-hari.<\/p>\n<p><strong>Serat Larut dalam Oatmeal: Kunci Kepada Kenyang Lebih Lama<\/strong><br \/>\nKalau di nasi teksturnya dipengaruhi oleh pati, di oatmeal rasa kenyang lebih lama dipengaruhi oleh serat. Salah satu komponen utama dalam oatmeal yang berperan penting dalam meningkatkan rasa kenyang adalah serat larut, khususnya beta-glucan. Beta-glucan adalah jenis serat yang dapat larut dalam air dan membentuk gel kental di saluran pencernaan. Proses ini memperlambat pengosongan lambung, sehingga memperpanjang rasa kenyang setelah makan. Selain itu, beta-glucan juga dapat meningkatkan produksi hormon PYY (peptide YY) yang berfungsi menekan nafsu makan dan mengurangi asupan kalori<\/p>\n<p>Sebuah studi yang oleh Machalias dan Zampelas \u00a0(2025), menunjukkan bahwa konsumsi serat dari biji-bijian seperti oat dapat meningkatkan rasa kenyang dibandingkan dengan konsumsi serat dari sumber lain yang lebih rendah seratnya. Hal ini menunjukkan bahwa jenis serat dan sumbernya memainkan peran penting dalam efek kenyang yang dirasakan.<\/p>\n<p>Berdasarkan <em>Satiety Index<\/em> yang dilakukan oleh Dr Holt <em>et al<\/em>. (1995), oatmeal memiliki indeks kenyang yang tinggi, jauh lebih tinggi dibandingkan makanan tinggi karbohidrat sederhana seperti donat atau <em>croissant<\/em>. Rasa kenyang yang lebih lama ini membantu kamu mengurangi konsumsi camilan yang kurang sehat, sehingga mendukung pola makan seimbang.<\/p>\n<p>Efek kenyang oatmeal tidak hanya menjaga kalori tetap terkendali, tetapi juga berkontribusi pada pencegahan resistensi insulin dan risiko diabetes tipe 2. Serat larut dalam oatmeal memperlambat penyerapan gula, menjaga gula darah stabil, dan mendukung kesehatan jantung dengan menurunkan kolesterol jahat.<\/p>\n<p>Jika dibandingkan, nasi dengan kadar amilosa tinggi cepat dicerna dan bisa meningkatkan gula darah lebih cepat, sementara oatmeal yang kaya beta-glucan memperlambat pencernaan dan memberi kenyang lebih lama. Dari perspektif kesehatan, oatmeal unggul untuk manajemen berat badan, kontrol gula darah, dan kesehatan jantung, sedangkan nasi lebih baik dikonsumsi dalam porsi seimbang, terutama bagi yang memperhatikan gula darah.<\/p>\n<p>Nasi dan oatmeal sama-sama merupakan sumber karbohidrat dan energi penting, tetapi keduanya memiliki karakteristik berbeda. Nasi menjadi pulen karena kandungan amilopektin yang tinggi, sedangkan oatmeal dapat membuat kenyang lebih lama karena kandungan serat larutnya, khususnya beta-glucan. Dengan memahami mekanisme ilmiah di balik tekstur nasi dan efek kenyang oatmeal, kamu dapat membuat pilihan yang lebih sehat dalam merencanakan menu harian, baik untuk kenikmatan rasa maupun kontrol asupan makanan. Oleh karena itu, pembahasan ini menjadi penting sebagai panduan konsumsi makanan yang lebih bijak.<\/p>\n<p><strong>Referensi:<\/strong><br \/>\nDwiyani, R., Yuliani, S., dan Fatimah, R. 2023. Pengaruh Komposisi Amilosa dan Amilopektin Terhadap Sifat Fisik dan Tekstur Nasi. Jurnal Teknologi Pangan Indonesia. Vol. 12(2): 45\u201352.<\/p>\n<p>Fitriani, S., Yusmarini, Y., Riftyan, E., Saputra, E., dan Rohmah, M. C. 2023. Karakteristik dan Profil Pasta Pati Sagu Modifikasi Pragelatinisasi Pada Suhu yang Berbeda. Jurnal Teknologi Hasil Pertanian. Vol. 16(2): 104\u2013115.<\/p>\n<p>Holt, S. H. A., Miller, J. C. B., Petocz, P., dan Farmakalidis, E. 1995. <em>A Satiety Index of Common Foods. European Journal of Clinical Nutrition<\/em>. Vol. 49(9): 675\u2013690.<\/p>\n<p>Jacobs, H., dan Delcour, J. A. 1998. <em>Hydrothermal Modifications of Granular Starch, With Retention of the Granular Structure: A Review. Journal of Agricultural and Food Chemistry<\/em>. Vol. 46(8): 2895\u20132905. https:\/\/doi.org\/10.1021\/jf980272p<\/p>\n<p>Machialas, A., dan Zampelas, A. 2025<em>. Dietary Fiber Intake and Satiety: An Updated Review of the Evidence. Nutrition Reviews. Oxford University Press.<\/em> https:\/\/doi.org\/10.1093\/nutrit\/nuaa032<\/p>\n<p>Subekti, N. 2007. Perbedaan Sifat Fisik Amilosa dan Amilopektin Serta Pengaruhnya Terhadap Mutu Beras. Jurnal Penelitian Pangan. Vol. 6(1): 15\u201322.<\/p>\n<p>Suarti, N., Andayani, S., dan Kurniawati, D. 2023. Hubungan Kadar Amilosa Beras Dengan Tekstur Nasi Pada Berbagai Varietas Padi. Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan. Vol. 8(3): 101\u2013109.<\/p>\n<p>Whitehead, A., Beck, E. J., Tosh, S., dan Wolever, T. M. S. 2014. <em>Cholesterol-Lowering Effects of Oat \u03b2-Glucan: A Meta-Analysis of Randomized Controlled Trials. The American Journal of Clinical Nutrition<\/em>. Vol. 100(6): 1413\u20131421.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Azwa Nur Istiqomah Pembuka Nasi merupakan makanan favorit sebagian besar orang Indonesia. Hampir setiap hari nasi hadir di meja makan, bahkan ada ungkapan \u201cbelum makan kalau belum makan nasi\u201d yang menunjukkan betapa pentingnya makanan ini dalam kebiasaan makan orang Indonesia. Sementara itu, oatmeal belakangan ini makin populer, padahal dulu oatmeal sering dianggap makanan yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":20173,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"hide","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"0","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"0","number_popup_post":"3","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","override_template":"1","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-20172","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20172","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20172"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20172\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/20173"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20172"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20172"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20172"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}