{"id":20148,"date":"2025-10-08T15:10:24","date_gmt":"2025-10-08T07:10:24","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=20148"},"modified":"2025-10-08T15:10:24","modified_gmt":"2025-10-08T07:10:24","slug":"fenomena-kenakalan-remaja-di-era-digital-analisis-dampak-media-sosial-terhadap-perilaku-menyimpang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/fenomena-kenakalan-remaja-di-era-digital-analisis-dampak-media-sosial-terhadap-perilaku-menyimpang\/20148\/","title":{"rendered":"Fenomena Kenakalan Remaja di Era Digital: Analisis Dampak Media Sosial terhadap Perilaku Menyimpang"},"content":{"rendered":"<p>Ardanang Saputra, Dr. Khadijah, M.Si, dan Akhmad Khoirudin, S.Ag, M.Psi<\/p>\n<p><strong>Pendahuluan<\/strong><br \/>\nPerkembangan teknologi digital membawa perubahan besar terhadap kehidupan sosial manusia, terutama di kalangan remaja. Saat ini, hampir setiap remaja memiliki akses ke media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube. Melalui platform tersebut, mereka berinteraksi, mengekspresikan diri, bahkan membangun identitas sosialnya. Namun, di balik kemudahan dan hiburan yang ditawarkan, media sosial juga membuka ruang bagi munculnya perilaku menyimpang yang semakin mengkhawatirkan.<\/p>\n<p>Fenomena seperti tawuran pelajar yang berawal dari ejekan daring, cyberbullying, penyebaran hoaks, hingga budaya pamer (flexing) telah menjadi bagian dari kehidupan digital remaja. Semua ini bukan sekadar masalah perilaku individu, tetapi sudah menjadi patologi sosial\u2014penyakit masyarakat yang menunjukkan gejala kerusakan nilai dan norma sosial di era modern.<\/p>\n<p><strong>Fenomena dan Realitas Sosial<\/strong><br \/>\nRemaja kini hidup dalam dunia yang sangat dipengaruhi oleh layar gawai. Mereka mengikuti tren viral, meniru gaya hidup selebritas, dan berlomba-lomba mencari perhatian publik. Banyak dari mereka yang rela melakukan tindakan ekstrem demi mendapatkan pengakuan berupa \u201clike\u201d dan \u201cfollowers.\u201d Contoh paling nyata adalah video prank berbahaya atau aksi kekerasan yang direkam hanya demi sensasi.<\/p>\n<p>Selain itu, muncul pula perilaku seperti komentar kasar, ejekan daring, atau pamer kekayaan, yang secara tidak langsung membentuk budaya permisif terhadap penyimpangan sosial. Dalam konteks sosiologi, perilaku ini termasuk dalam gejala anomi, yaitu kondisi ketika norma-norma sosial melemah sehingga individu kehilangan arah moral (Durkheim, 2020).<\/p>\n<p>Fenomena ini menunjukkan bahwa kenakalan remaja tidak lagi terjadi hanya di ruang nyata, tetapi telah meluas ke dunia maya. Media sosial kini menjadi ruang baru bagi remaja untuk menampilkan sisi dirinya\u2014baik yang positif maupun negatif.<\/p>\n<p><strong>Analisis Sosial dan Psikologis<\/strong><br \/>\nPerilaku menyimpang remaja di era digital tidak muncul begitu saja. Ada banyak faktor yang saling berkaitan. Salah satunya adalah krisis identitas. Masa remaja merupakan fase pencarian jati diri. Dalam proses tersebut, media sosial sering dijadikan cermin untuk mengukur eksistensi diri. Sayangnya, banyak remaja yang justru kehilangan arah karena lebih mementingkan citra digital daripada kepribadian asli.<\/p>\n<p>Secara psikologis, remaja mudah terpengaruh oleh pola interaksi daring yang serba instan. Mereka meniru (imitasi) perilaku yang dianggap populer, meskipun tidak sesuai dengan nilai sosial yang berlaku. Teori Imitasi yang dikemukakan Gabriel Tarde menjelaskan bahwa perilaku manusia sering kali terbentuk karena proses peniruan terhadap lingkungan sekitar. Dalam konteks digital, \u201clingkungan\u201d tersebut adalah konten viral yang setiap hari mereka konsumsi.<\/p>\n<p>Selain itu, lemahnya kontrol sosial dari keluarga dan sekolah juga berperan besar. Banyak orang tua yang tidak memahami pola perilaku digital anaknya, sehingga remaja lebih bebas mengakses konten negatif tanpa pengawasan. Sementara itu, sistem pendidikan yang masih berorientasi akademik sering mengabaikan pendidikan karakter dan literasi digital.<\/p>\n<p><strong>Dampak Sosial yang Ditimbulkan<\/strong><br \/>\nDampak dari fenomena ini tidak bisa dianggap remeh. Dari sisi sosial, muncul peningkatan perilaku agresif baik secara verbal maupun fisik. Cyberbullying membuat banyak remaja mengalami tekanan psikologis, bahkan dalam beberapa kasus berujung pada tindakan menyakiti diri sendiri.<\/p>\n<p>Selain itu, budaya pamer di media sosial menimbulkan kecemburuan sosial dan menurunkan rasa empati. Remaja cenderung menilai kebahagiaan berdasarkan popularitas dan materi, bukan lagi dari prestasi dan moralitas. Hal ini menandakan terjadinya pergeseran nilai sosial yang berpotensi merusak struktur moral masyarakat.<\/p>\n<p>Di sisi lain, penggunaan media sosial secara berlebihan juga menyebabkan kecanduan digital, stres, rendah diri, dan gangguan tidur. Ini semua menunjukkan bahwa kenakalan remaja di era digital bukan hanya persoalan perilaku, tetapi juga krisis kemanusiaan yang memerlukan perhatian serius.<\/p>\n<p><strong>Upaya dan Solusi<\/strong><br \/>\nMengatasi patologi sosial pada remaja di era digital tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.<\/p>\n<p>1. Peran keluarga: Orang tua harus aktif mendampingi anak dalam penggunaan media sosial. Komunikasi hangat, keteladanan, dan pengawasan digital menjadi kunci utama pencegahan.<br \/>\n2. Peran sekolah: Sekolah perlu memperkuat pendidikan karakter dan literasi digital. Remaja harus diajarkan cara menggunakan media sosial secara bijak, kreatif, dan bertanggung jawab.<br \/>\n3. Peran masyarakat: Lingkungan sosial harus kembali menghidupkan nilai gotong royong dan empati agar kontrol sosial tetap terjaga.<br \/>\n4. Peran pemerintah dan lembaga: Pengawasan terhadap konten negatif serta kampanye edukatif melalui media massa perlu terus dilakukan.<\/p>\n<p>Jika semua elemen sosial bekerja sama, media sosial dapat menjadi ruang positif yang membentuk karakter remaja menuju arah yang lebih baik.<\/p>\n<p><strong>Penutup<\/strong><br \/>\nFenomena kenakalan remaja di era digital merupakan cermin dari tantangan moral masyarakat modern. Di tengah kemajuan teknologi, nilai-nilai sosial dan etika sering kali terabaikan. Media sosial yang seharusnya menjadi sarana komunikasi dan kreativitas, justru berubah menjadi panggung penyimpangan.<\/p>\n<p>Namun, harapan masih terbuka. Dengan pendidikan karakter yang kuat, kontrol sosial yang aktif, dan kesadaran kolektif dari berbagai pihak, remaja Indonesia dapat tumbuh sebagai generasi digital yang beretika, kreatif, dan berkepribadian luhur. Dunia maya seharusnya bukan ruang untuk kehilangan moral, melainkan wadah untuk memperkuat nilai kemanusiaan di tengah derasnya arus modernisasi.<\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong><br \/>\nDurkheim, \u00c9. (2020). The Division of Labour in Society. London: Routledge.<br \/>\nSantrock, J. W. (2022). Adolescence: An Introduction. McGraw Hill.<br \/>\nHidayat, R. (2023). \u201cMedia Sosial dan Perilaku Menyimpang Remaja.\u201d Jurnal Sosiologi Kontemporer, 8(2), 45\u201358.<br \/>\nKompas.com (2024). \u201cKasus Cyberbullying di Kalangan Pelajar Meningkat.\u201d<br \/>\nKatadata.co.id (2024). \u201cRemaja Indonesia Habiskan Rata-Rata 6 Jam Sehari di Media Sosial.\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ardanang Saputra, Dr. Khadijah, M.Si, dan Akhmad Khoirudin, S.Ag, M.Psi Pendahuluan Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar terhadap kehidupan sosial manusia, terutama di kalangan remaja. Saat ini, hampir setiap remaja memiliki akses ke media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube. Melalui platform tersebut, mereka berinteraksi, mengekspresikan diri, bahkan membangun identitas sosialnya. Namun, di balik kemudahan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":532,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-20148","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20148","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20148"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20148\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20148"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20148"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20148"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}