{"id":20021,"date":"2025-09-08T18:28:08","date_gmt":"2025-09-08T10:28:08","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=20021"},"modified":"2025-09-08T18:28:56","modified_gmt":"2025-09-08T10:28:56","slug":"pengenalan-konsep-dasar-moral-dan-etika-berdasarkan-ajaran-tamansiswa-pada-siswa-smp-negeri-2-srumbung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/pengenalan-konsep-dasar-moral-dan-etika-berdasarkan-ajaran-tamansiswa-pada-siswa-smp-negeri-2-srumbung\/20021\/","title":{"rendered":"Pengenalan Konsep Dasar Moral dan Etika Berdasarkan Ajaran Tamansiswa Pada Siswa SMP Negeri 2 Srumbung"},"content":{"rendered":"<p>Saryanto*<sup>1<\/sup>, Arya Dani Setiawan<sup>2<\/sup>,\u00a0 Maulana Muhammad Annazar<sup>3<\/sup>, Garcinia Vadua Fabiola<sup>4<\/sup>, Evriani Putri Margareth<sup>5<\/sup>, Syifaa\u2019 Ashiilah Fatih<sup>6<\/sup>. Florentina Novantri Wae<sup>7<\/sup><br \/>\n<sup>1,2,3,4,5,6,7<\/sup>Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa<br \/>\nCorresponding author. Email: saryanto@ustjogja.ac.id<\/p>\n<p><strong>Abstract: <\/strong><em>This community service activity was carried out in Sudimoro Village, targeting seventh-grade students at SMP Negeri 2 Srumbung who are in the transitional period of childhood to adolescence. The purpose of the activity was to introduce basic moral and ethical concepts based on Tamansiswa teachings as an effort to shape students&#8217; characters to be independent in mind and body, physically healthy, and noble in intellect. The activity was carried out through interactive lectures, discussions, and question and answer sessions with lecturers as speakers. The results showed that even though the classroom atmosphere tended to be noisy and not very conducive, the students were able to participate actively by providing answers and reflections on their personal experiences related to moral behavior. The discussion also emphasized that the teachings of Tamansiswa can be used as a foundation for moral development in line with the principles of the Indonesian Tri Pusat (family, school, and community) and the Among system, which is based on kinship with the principles of natural law and independence. The conclusion of this activity is that the introduction of morals and ethics through Tamansiswa teachings has proven to be relevant and effective in supporting the character building of junior high school students, so that similar activities need to be developed continuously through collaboration between families, schools, communities, and universities.<\/em><\/p>\n<p><strong>Keywords: <\/strong><em>Morals, erhics, Tamansiswa, Junior high school students<\/em><\/p>\n<p><strong>Abstrak<\/strong>: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Desa Sudimoro dengan sasaran siswa kelas VII SMP Negeri 2 Srumbung yang sedang berada pada masa transisi perkembangan anak-anak menuju remaja. Tujuan kegiatan adalah memperkenalkan konsep dasar moral dan etika berdasarkan ajaran Tamansiswa sebagai upaya membentuk karakter siswa yang merdeka lahir batin, sehat jasmani, serta luhur akal budinya. Kegiatan dilakukan melalui ceramah interaktif, diskusi, dan sesi tanya jawab dengan menghadirkan dosen sebagai pemmbicara. Hasil pelaksanaan menunjukan bahwa meskipun suasana kelas cenderung ramai dan kurang kondusif, siswa mampu berpartisipasi aktif dengan memberikan jawaban maupun refleksi pengalaman pribadi terkait perilaku moral. Diskusi juga menegaskan bahwa ajaran Tamansiswa dapat dijadikan landasan pembentukan moral yang sejalan dengan prinsip Tri Pusat Indonesia (keluarga, sekolah, dan masyarakat) serta sistem Among yang berjiwa kekeluargaan dengan asas kodrat alam dan kemerdekaan. Simpulan dari kegiatan ini adalah bahwa pengenalan moral dan etika melalui ajaran Tamansiswa terbukti relevan dan efektif dalam mendukung pembentukan karakter siswa SMP, sehingga kegiatan sejenis perlu di kembangkan secara berkelanjutan melalui kolaborasi keluarga, sekolah, masyarakat dan perguruan tinggi.<\/p>\n<p><strong>Kata<\/strong> <strong>Kunci<\/strong>: Moral, Etika, Tamansiswa, siswa SMP.<\/p>\n<p><strong>PENDAHULUAN<\/strong><br \/>\nPerkembangan zaman semakin maju, ilmu pengetahuan semakin meningkat, interaksi antar manusia meluas, pergaulan manusia telah sedemikian komplek dalam segala segi kehidupan, maka untuk mempertahankan ajaran Tamansiswa di Tengah-tengah kemajuan dunia diperlukan cara yang ilmiah melalui pendekatan ilmu pengetahuan. Pendidikan ketamansiswaan perlu diberikan secara ilmiah dengan memperhatikan segi kognitif, efektif, maupun psikomotorik.<\/p>\n<p>Pendidikan moral dan etika merupakan pilar utama dalam pembentukan karakter generasi muda. Namun, dalam praktiknya siswa SMP sering menghadapi tantangan dalam memahami dan menerapkan nilai-nilai moral. Pembentukan karakter menjadi tantangan utama di Tengah kemerosotan moral generasi muda. Ki Hadjar Dewantara melalui ajaran Tamansiswa menekankan pembentukan manusia berbudi luhur. System among mengedepankan Pendidikan holistic; tidak hanya intelektualitas, namun juga karakter, sikap, dan perilaku. Tujuannya Adalah membangun manusia Merdeka, bertanggung jawab dan beretika.<\/p>\n<p>Pendidikan juga berfungsi sebagai alat yang sangat penting bagi manusia, karena mencakup semua perilaku yang dilakukan untuk mencapai keseimbangan, perlindungan, dan peningkatan kualitas hidup. Dengan kata lain, melalui proses pendidikan karakter, individu dapat berkembang menjadi orang yang baik atau buruk. Pendidikan karakter sendiri merupakan program pengajaran di sekolah yang bertujuan membentuk karakter siswa dengan menginternalisasi nilai-nilai dan keyakinan masyarakat sebagai landasan moral untuk interaksi sosial, termasuk kejujuran, kepercayaan, disiplin, dan kerja sama.<\/p>\n<p>Siswa SMP, terutama yang berada di kelas VII, sedang mengalami masa transisi dari kanak-kanak ke masa remaja. Masa ini ditandai dengan perubahan pada aspek biologis, kognitif, emosional, dan sosial. Pada tahap ini, mereka mulai mencari jati diri, menjadi lebih aktif dalam mengekspresikan diri, dan sering menunjukkan perilaku yang dinamis, ekspresif, dan terkadang tidak terkendali. Kondisi ini dapat dilihat sebagai tantangan sekaligus peluang berharga bagi pendidik untuk menanamkan nilai-nilai moral dan etika. Tanpa bimbingan yang tepat, masa transisi ini berpotensi menyebabkan perilaku menyimpang. Sebaliknya, dengan pembentukan karakter yang kuat, siswa dapat tumbuh menjadi individu yang etis, bertanggung jawab, dan jujur.<br \/>\nDi sisi lain, Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan adalah upaya budaya yang bertujuan untuk membimbing perkembangan pikiran dan tubuh anak-anak agar mereka dapat mencapai kemajuan baik secara fisik maupun spiritual, sesuai dengan sifat individu dan pengaruh lingkungan mereka. Kemanusiaan, sebagaimana dimaksud di sini, adalah tingkat tertinggi yang dapat dicapai oleh manusia sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, dalam proses pembentukan kepribadian atau karakter seseorang, kemanusiaan menjadi pencapaian tertinggi (Zainuddin, 2021).<\/p>\n<p>Pendidikan Tamansiswa memiliki ciri khas yang mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dengan semangat kemerdekaan. Prinsip Ing Ngarsa Sung Tuladha menekankan pentingnya memberikan teladan yang baik, Ing Madya Mangun Karsa menyoroti pentingnya kerja sama dan semangat kebersamaan, sementara Tut Wuri Handayani mendorong siswa untuk menjadi individu yang mandiri. Nilai-nilai ini dapat digunakan sebagai landasan dalam membentuk moral dan etika siswa SMP yang sedang berada dalam masa penyesuaian.<\/p>\n<p>Program pengabdian Masyarakat ini dilaksanakan untuk menanamkan Kembali nilai moral dan etika berdasarkan ajaran Tamansiswa sebagai Upaya memperkuat Pendidikan karakter. Keberadaan dosen sebagai narasumber dipilih sebagai strategi untuk memberikan otoritas akademik sekaligus teladan nyata bagi siswa. Melalui pendekatan interaktif yang terdiri dari ceramah, diskusi, dan sesi tanya jawab, diharapkan siswa tidak hanya memahami konsep secara teoritis tetapi juga dapat menerapkannya secara reflektif dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p><strong>METODE<\/strong><br \/>\n<strong>Tahapan pelaksanaan<\/strong><br \/>\nPengabdian masyarakat mengenai \u201ckonsep dasar moral dan etika berdasarkan ajaran Tamansiswa\u201d diawali dengan persiapan yang terencana karena sosialiasasi ini perlu mengikut sertakan masyarakat khususnya siswa-siswa SMP Negeri 2 Srumbung. Hal tersebut berarti siswa-siswa diharapkan dapat ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi mengenai pendidikan moral dan etika berdasarkan ajaran Tamansiswa, sedangkan mahasiswa KKN dan dosen pembicara hanya bertugas sebagai penggerak dan fasilitator. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Sudimoro, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang dilaksanakan pada hari Jumat 08 Agustus 2025 bertempat di salah satu sekolahan di Desa Sudimoro.<\/p>\n<p>Kegiatan dilaksanakan di SMP Negeri 2 Srumbung pada hari Jumat 08 Agustus 2025, dengan jumlah 90 siswa siswa kelas VII. Tahapan kegiatan meliputi:<\/p>\n<p>1. Pembukaan acara oleh tim KKN UST Padepokan 51 dan pihak sekolah<br \/>\n2. Penyampaian materi utama oleh dosen pembicara, mengenai konsep moral dan etika dalam ajaran Tamansiswa.<br \/>\n3. Sesi tanya jawab interaktif antara siswa dengan dosen pembicara.<br \/>\n4. Refleksi dan peneguhan nilai yang dipandu oleh mahasiswa KKN UST Padepokan 51.<\/p>\n<p><strong>Kesepakatan dengan Pihak Sosialisasi<\/strong><br \/>\nKesepakatan dengan pihak pengisi acara kegiatan sosialisasi mengenai konsep dasar moral dan etika berdasarkan ajaran Tamansiswa di desa Sudimoro mengenai waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan yang diadakan oleh KKN Padepokan 51 dari mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Mahasiswa KKN tersebut menginformasikan kepada guru di SMP Negeri 2 Srumbung untuk memberikan informasi ke siswa-siswi SMP agar dapat mengikuti kegiatan sosialisasi mengenai konsep dasar moral dan etika berdasarkan ajaran Tamansiswa. Sosialisasi ini diikuti oleh siswa siswi SMP Negeri 2 Srumbung dan mahasiswa KKN Padepokan 51.<\/p>\n<p><strong>Persiapan Pelaksanaan<\/strong><br \/>\nPersiapan untuk sosialisasi dilakukan secara terstruktu, melibatkan tidak hanya mahasiswa KKN, tetapi juga didukung oleh salah satu dosen dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa sebagai narasumber dalam kegiatan sosialisasi yang membahas konsep dasar moral dan etika berdasarkan ajaran Tamansiswa. Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat memberikan manfaat, terutama bagi siswa-siswi di SMP Negeri 2 Srumbung, bahwa pengembangan moral dan etika dapat diterapkan dalam pendidikan Tamansiswa, yang terintegrasikan ke dalam proses pembelajaran.<\/p>\n<p><strong>Pelaksanaan Pengabdian<\/strong><br \/>\nKegiatan sosialisasi ini dilaksanakan sesuai dengan program kerja KKN Padepokan 51 mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa yang dilakukan pada minggu ketiga pada hari Jumat tanggal 08 Agustus 2025.<\/p>\n<p>Tabel 1. Jadwal pelaksanaan Kegiatam Sosialisasi mengenai pengenalan konsep dasar moral dan etika berdasarkan ajaran Tamansiswa.<\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"216\"><strong>Tanggal<\/strong><\/td>\n<td width=\"216\"><strong>Waktu <\/strong><\/td>\n<td width=\"216\"><strong>Materi <\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"216\">08 Agustus 2025<\/td>\n<td width=\"216\">10.10-selesai<\/td>\n<td width=\"216\">Konsep dasar moral dan etika berdasarkan ajaran Tamansiswa<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p><strong>HASIL DAN PEMBAHASAN<\/strong><br \/>\nKegiatan dilaksanakan pada hari Jumat 08 Agustus 2025 di SMP Negeri 2 Srumbung yang terletak di desa Sudimoro, Srumbung, Magelang, Jawa Tengah. Hasil yang dicapau adalah pemahaman tentang ajaran Tamansiswa bersama siswa-siswa dan mahasiswa KKN padepokan 51, dengan pemateri bapak Arya Dani Setiawan M.Sn.<\/p>\n<p>Kegiatan pengabdian Masyarakat berjalan dengan baik meskipun kondisi kelas cukup ramai, hal ini wajar mengingat peserta Adalah siswa kelas VII yang masih dalam masa transisi dari anak-anak menuju remaja. Suasana kelas cenderung ramai sendiri, namun tidak mengurangi antusiasme siswa dalam mengikuti kegiatan. Kehadiran dosen sebagai pembicara memberikan dampak positif karena siswa merasa lebih termotivasi dan menganggap materi yang disampaikan memiliki bobot akademis dan praktis. Selain itu, siswa memahami konsep Tamansiswa, tujuan dari Pendidikan karakter moral dan tiga ruang lingkup Pendidikan.<\/p>\n<p>Pendidikan merupakan usaha kebudayaan yang bermaksud memberi bimbingan dalam hidup timbulnya jiwa raga anak didik, agar dalam kodrat pribadinya dan pengaruh-pengaruh lingkungannya mendapat kemajuan hidup lahir batin. Pendidikan berlangsung dalam tiga lingkungan yang di sebut Tri Pusat Pendidikan. Adapun Tri Pusat Pendidikan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan Masyarakat (Trisharsiwi dkk, 2020).<\/p>\n<p>Pada sesi ceramah, siswa mendengarkan dengan cukup baik walaupun beberapa kali perlu diarahkan Kembali agar focus. Sesi tanya jawab justru menjadi bagian paling aktif, karena banyak siswa yang berani mengemukakan pendapat dan memberikan contoh penerapan moral dan etika dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun situasi kelas tidak sepenuhnya kondusif, keaktifan siswa dalam sesi interaktif menunjukkan bahwa mereka mampu memahami pesan inti dari materi yang disampaikan. Hal ini mendukung gagasan Ki Hadjar Dewantara bahwa Pendidikan moral tidak hanya ditanamkan melalui ceramah, tetapi melalui interaksi, keteladanan, dan pengalaman langsung. Dengan demikian, kegiatan ini dapat dikatakan berhasil memberikan pemahaman awal kepada siswa mengenai pentingnya moral dan etika berdasarkan ajaran tamansiswa.<\/p>\n<figure id=\"attachment_20022\" aria-describedby=\"caption-attachment-20022\" style=\"width: 369px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-20022\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Gambar1-1.jpg\" alt=\"\" width=\"369\" height=\"207\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Gambar1-1.jpg 369w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Gambar1-1-300x168.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 369px) 100vw, 369px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-20022\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 1. Gambar interaksi pembicara dengan peserta<\/figcaption><\/figure>\n<figure id=\"attachment_20023\" aria-describedby=\"caption-attachment-20023\" style=\"width: 369px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-20023\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Gambar2.jpg\" alt=\"\" width=\"369\" height=\"207\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Gambar2.jpg 369w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Gambar2-300x168.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 369px) 100vw, 369px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-20023\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 2. Gambar kebersamaan mahasiswa, dosen dan peserta.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Sesuai hasil pengabdian masyarakat di Desa Sudimoro maka ajaran Tamansiswa dapat dijadikan sebagai pembentuk moral dan etika yang dapat diimplementasikan melalui pembelajaran di sekolah menengah. Sesuai ruang lingkup berdasarkan sekolah menengah maka sasaran utamanya adalah siswa-siswa SMP Negeri 2 Srumbung. Diharapkan para siswa-siswa tersebut dapat meneladani pendidikan moral dan etika yang terselenggarakan berdasarkan ajaran Tamansiswa. Berdasarkan pendidikan yang berlangsung dalam tiga lingkungan disebut Tri Pusat Pendidikan (Trisharsiwi dkk, 2020) yaitu lingungan keluarga terdapat pengenalan terhadap pendidikan budi pekerti, keagamaan dan kemasyarakatan secara informal; lingkungan sekolah terdapat pengenalan mengenai ilmu pengetahuan, kecerdasan dan pengembangan budi pekerti secara formal; dan lingkungan masyarakat terdapat pengemabangan keterampilan latihan kecakapan dan pengembangan bakat secara non-formal. Ketiganya berjalan secara bersama tidak terpisahkan dalam mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan.<\/p>\n<p>Menurut Tamansiswa tujuan dari pendidikan adalah membangun anak didik menjadi manusia merdeka lahir batin, luhur akal budinya serta sehat jasmani untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air serta manusia pada umumnya. Artinya, menumbuhkan dan mengembangkan apa yang telah ada menurut kodrat alamnya, bakat-bakat dan kemampuannya. Manusia merdeka lahir batin berarti manusia bebas fisik dan rohaninya, tidak terkekang.<\/p>\n<p>Pendidikan di Tamansiswa dilaksanakan menurut sistem Among yang merupakan sistem yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan dua asas, yaitu kodrat alam sebagai syarat mencapai kemajuan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya; dan kemerdekaan sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir dan batin anak, agar dapat memiliki pribadi yang kuat dan dapat berpikir serta bertindak merdeka. Sistem tersebut menurut cara berlakunya disebut Tut Wuri Handayani yang berarti mengikuti dari belakang dan memberikan pengaruh, memberi kebebasan kepada anak didik untuk tumbuh menurut kodratnya, sedangkan guru akan bertindak apabila diperlukan. Menurut sistem tersebut, setiap pamong sebagai pemimpin dalam proses pendidikan melaksanakan konsep Tut Wuri Handayani, Ing madya mangunkarsa, dan Ing Ngarsa Sung Tuladha.<\/p>\n<p>Hasil kegiatan di SMP Negeri 2 Srumbung memperlihatkan bahwa meskipun kondisi kelas belum sepenuhnya kondusif, siswa mampu menyerap nilai-nilai dasar moral melalui kegiatan ceramah interaktif dan tanya jawab. Antusiasme mereka menunjukan bahwa nilai Tamansiswa masih relevan untuk ditanamkan pada generasi muda. Nilai tersebut menjadi penting bukan hanya dalam ruang kelas, melainkan juga dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.<\/p>\n<p>Dengan demikian, diskusi ini menegaskan bahwa ajaran Tamansiswa memberikan kontribusi nyata terhadap pendidikan moral di sekolah menengah. Nilai-nilainya dapat dijadikan landasan pengembangan kurikulum maupun kegiatan ekstrakulikuler, sehingga terbentuk generasi muda yang merdeka lahir batin, cerdas, berakhlak dan bertanggung jawab.<\/p>\n<p><strong>SIMPULAN<\/strong><br \/>\nKegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Desa Sudimoro, khususnya di SMP Negeri 2 Srumbung, memperlihatkan bahwa ajaran Tamansiswa relevensi yang sangat kuat dalam membentuk moral dan etika siswa sekolah menengah. Meskipun suasana kelas pada awalnya cukup ramai dan tidak sepenuhnya kondusif, siswa tetap menunjukan keterlibatan aktif, terutama dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Mereka berani mengemukakan pendapat serta memberikan refleksi konkret mengenai perilaku moral yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti kejujuran, kerja sama, kepeduliaan, dan rasa hormat kepada guru maupun teman sebaya. Hal ini menunjukan bahwa pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini berhasil menjadi pintu masuk untuk menanamkan kesadaran moral pada remaja yang tengah berada dalam masa transisi perkembangan.<\/p>\n<p>Ajaran Tamansiswa telah terbukti memberikan landasan yang kokoh dalam proses pembentukan karakter, karena ajaran ini berakar pada budaya bangsa dan relevan dengan kebutuhan pendidikan karakter saat ini. Melalui pemahaman tentang Tri Pusat Pendidikan, siswa didorong untuk menyadari bahwa pembelajaran moral tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga dibentuk oleh keluarga dan masyarakat secara bersamaan. Keluarga adalah tempat di mana karakter baik pertama kali ditanamkan, sekolah memperkuat hal ini melalui pembelajaran formal, sementara masyarakat memberikan ruang bagi siswa untuk menerapkan nilai-nilai moral dalam praktik. Ketiga pusat pendidikan ini bekerja sama dan tidak terpisahkan dalam menghasilkan generasi dengan karakter mulia.<\/p>\n<p>Secara keseluruhan, kegiatan ini menyimpulkan bahwa pengenalan konsep dasar moral dan etika melalui ajaran Tamansiswa merupakan strategi efektif dalam mendukung pembentukan karakter SMP. Nilai-nilai Tamansiswa tidak hanya menjadi materi ajar, tetapi dapat dihayati dan dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kegiatan semacam ini perlu dilanjutkan secara berkelanjutan dengan melibatkan kolaborasi antara sekolah, keluarga, masyarakat, serta dukungan dari perguruan tinggi agar pendidikan moral tidak berhenti pada tataran teori, tetapi benar-benar membentuk pribadi yang merdeka, berakhlak, dan bertanggung jawab.<\/p>\n<p><strong>DAFTAR REFERENSI<\/strong><br \/>\nTrisharsiwi, dkk. (2020). Ketamansiswaan. Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.<br \/>\nZainuddin, Z. (2021). Konsep pendidikan budi pekerti perspektif Ki Hadjar Dewantara. Kabillah: Journal of Social Community, 6 (1), 8-25.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saryanto*1, Arya Dani Setiawan2,\u00a0 Maulana Muhammad Annazar3, Garcinia Vadua Fabiola4, Evriani Putri Margareth5, Syifaa\u2019 Ashiilah Fatih6. Florentina Novantri Wae7 1,2,3,4,5,6,7Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Corresponding author. Email: saryanto@ustjogja.ac.id Abstract: This community service activity was carried out in Sudimoro Village, targeting seventh-grade students at SMP Negeri 2 Srumbung who are in the transitional period of childhood to adolescence. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":20022,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"hide","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"0","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"0","show_prev_next_post":"0","number_popup_post":"3","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"1","subtitle":"","override_template":"1"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-20021","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20021","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20021"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20021\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/20022"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20021"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20021"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20021"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}