{"id":19923,"date":"2025-07-23T16:10:37","date_gmt":"2025-07-23T08:10:37","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=19923"},"modified":"2025-07-23T16:10:37","modified_gmt":"2025-07-23T08:10:37","slug":"inovasi-pengolahan-sampah-organik-menggunakan-media-tong-komposter-dari-bahan-bekas-tong-drum-plastik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/inovasi-pengolahan-sampah-organik-menggunakan-media-tong-komposter-dari-bahan-bekas-tong-drum-plastik\/19923\/","title":{"rendered":"Inovasi Pengolahan Sampah Organik Menggunakan Media Tong Komposter dari Bahan Bekas Tong Drum Plastik"},"content":{"rendered":"<p><strong><em>Innovation in Organic Waste Processing Using a Compost Bin Made from Recycled Plastic\u00a0Drum\u00a0Barrels.<\/em><\/strong><\/p>\n<p><strong>Erwansyah<sup>1*<\/sup>, Dini Setiyowati<sup>2<\/sup>, Faiz Nabil Nur L.<sup>3<\/sup>, Moch. Adi Prasetyo<sup>4<\/sup>, Ricky Alejandro Martin<sup>5<\/sup><\/strong><br \/>\n<sup>1-5<\/sup>Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Jawa Timur, Indonesia<br \/>\n<a href=\"mailto:erwansyah0911@gmail.com\">erwansyah0911@gmail.com<\/a><sup>1<\/sup><br \/>\n<a href=\"mailto:diniisetiyowati1101@gmail.com\">diniisetiyowati1101@gmail.com<\/a><sup>2<\/sup><br \/>\n<a href=\"mailto:faiznabil7204@gmail.com\">faiznabil7204@gmail.com<\/a><sup>3<\/sup><br \/>\n<a href=\"mailto:adipras307jr@gmail.com\">adipras307jr@gmail.com<\/a><sup>4<\/sup><br \/>\n<a href=\"mailto:rickymartin@untag-sby.ac.id\">rickymartin@untag-sby.ac.id<\/a><sup>5<\/sup><\/p>\n<table width=\"624\">\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"210\"><strong>Article History:<\/strong><\/td>\n<td rowspan=\"2\" width=\"29\"><strong>\u00a0<\/strong><\/td>\n<td rowspan=\"2\" width=\"385\"><strong><em>Abstract: <\/em><\/strong><em>This community service research addresses the organic waste management challenges in Pohkecik Village, Dlanggu District, Mojokerto, where improper waste handling leads to environmental pollution through open burning practices. The study aims to introduce an innovative organic waste processing solution using compost bins made from recycled plastic drum barrels. The methodology involved three phases: problem observation through field surveys, activity preparation including solution analysis, and implementation through socialization and demonstration activities. The research was conducted with 9 participants including village officials and farmer group members (Gapoktan). Results showed successful knowledge transfer regarding organic waste utilization and composting techniques, with positive community response toward the innovative compost bin technology. The demonstration effectively educated participants on assembling and operating the compost bins from recycled materials. This innovation provides a sustainable solution for household-level organic waste management while promoting environmental conservation and supporting circular economy principles. The study demonstrates the potential for community-based waste management systems that transform organic waste into valuable compost fertilizer, reducing environmental impact and creating economic value for rural communities.<\/em><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"210\"><strong>Keywords: <\/strong><em>organic waste, compost bin, recycled materials, community service, sustainable waste management<\/em><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p><strong>Abstrak<\/strong><br \/>\nPenelitian pengabdian masyarakat ini mengatasi tantangan pengelolaan sampah organik di Desa Pohkecik, Kecamatan Dlanggu, Mojokerto, dimana penanganan sampah yang kurang tepat menyebabkan pencemaran lingkungan melalui praktik pembakaran terbuka. Penelitian bertujuan memperkenalkan solusi inovatif pengolahan sampah organik menggunakan tong komposter dari bahan bekas tong drum plastik. Metodologi meliputi tiga tahap: observasi permasalahan melalui survei lapangan, persiapan kegiatan termasuk analisis solusi, dan pelaksanaan melalui kegiatan sosialisasi dan demonstrasi. Penelitian dilaksanakan dengan 9 partisipan termasuk aparat desa dan anggota kelompok tani (Gapoktan). Hasil menunjukkan keberhasilan transfer pengetahuan mengenai pemanfaatan sampah organik dan teknik pengomposan, dengan respons positif masyarakat terhadap teknologi tong komposter inovatif. Demonstrasi berhasil mengedukasi peserta dalam merakit dan mengoperasikan tong komposter dari bahan bekas. Inovasi ini memberikan solusi berkelanjutan untuk pengelolaan sampah organik tingkat rumah tangga sambil mendorong konservasi lingkungan dan mendukung prinsip ekonomi sirkular. Penelitian mendemonstrasikan potensi sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas yang mengubah sampah organik menjadi pupuk kompos bernilai, mengurangi dampak lingkungan dan menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat pedesaan.<\/p>\n<p><strong>1. PENDAHULUAN<\/strong><br \/>\nSampah adalah bahan-bahan yang sudah tidak dimanfaatkan, tidak diinginkan, atau harus dibuang. Biasanya sampah berasal dari sisa-sisa kegiatan yang dilakukan oleh manusia (Indah Sari ,2021). Pengelolaan sampah organik adalah salah satu tantangan utama dalam usaha menjaga kelestarian lingkungan serta mendukung pembangunan berkelanjutan. Sampah organik yang berasal dari sisa makanan, daun-daunan, limbah kebun, dan bahan alami lainnya, jika tidak dikelola dengan baik, akan menumpuk dan menyebabkan berbagai masalah lingkungan seperti pencemaran udara, bau tidak sedap, serta potensi berkembangnya vektor penyakit (WHO, 2018). Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2020), komposisi sampah organik di Indonesia mencapai 60-70% dari total sampah yang dihasilkan. Volume sampah organik yang besar ini menimbulkan masalah serius dalam pengelolaannya, terutama di daerah perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan untuk tempat pembuangan akhir (TPA). Kondisi ini memerlukan solusi inovatif dalam pengelolaan sampah organik yang dapat diterapkan secara mandiri di tingkat rumah tangga.<\/p>\n<p>Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan dan didukung dengan data hasil wawancara dengan para narasumber di Desa Pohkecik, Kecamatan Dlanggu, Mojokerto, salah satu permasalahan yang terdapat pada desa pohkecik adalah pengolahan sampah yang kurang optimal. Kurangnya kesadaran masyarakat dalam penggolahan sampah membuat sampah organik dan anorganik tercampur dan menumpuk begitu saja, langkah pengurangan jumlah sampah dilakukan dengan cara membakar tumpukan sampah yang telah terkumpul. Namun pembakaran sampah, terutama yang dilakukan secara terbuka dan tidak terkendali, memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Dampak utamanya meliputi pencemaran udara, air, dan tanah, serta gangguan kesehatan yang disebabkan oleh paparan zat-zat berbahaya.<\/p>\n<p><strong>3. METODE <\/strong><br \/>\nMetode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini dibagi menjadi\u00a0 3 tahap yaitu; Observasi permasalahan, Persiapan kegiatan, dan Pelaksanaan kegiatan. Berikut adalah uraian tahap kegiatan pengabdian masyarakat;<\/p>\n<p><strong>Observasi Permasalahan<\/strong><br \/>\nPada tahap awal kegiatan ini dilakukan survey ke Desa Pohkecik, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto untuk mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat desa. Observasi ini dilakukan untuk menganalisis lebih jauh apa yang dibutuhkan oleh masyarakat.<\/p>\n<p><strong>Persiapan Kegiatan<\/strong><br \/>\nKegiatan ini dilakukan setelah melakukan identifikasi permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Desa Pohkecik. Setelah itu, dilakukan persiapan kegiatan meliputi analisis lanjutan untuk mendapatkan pemecahan masalah yang sesuai dengan permasalahan masyarakat desa.<\/p>\n<p><strong>Pelaksanaan Kegiatan<\/strong><br \/>\nKegiatan dilaksanakan setelah mendapat solusi dari permasalahan masyarakat desa. Kegiatan dimulai dengan melakukan sosialisasi tentang sampah organik dan anorganik kepada masyarakat Desa Pohkecik. Sosialisasi ini untuk menyampaikan kepada warga tentang pentingnya pemanfaatan sampah organik yang dihasilkan oleh limbah rumah tangga. Setelah itu dilakukan demonstrasi pembuatan dan cara penggunaan alat komposter. Demonstrasi ini dilakukan di depan warga desa dan juga para Kelompok Tani yang membutuhkan cara pengolahan atau pemanfaatan sampah organik.<\/p>\n<figure id=\"attachment_19925\" aria-describedby=\"caption-attachment-19925\" style=\"width: 814px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-19925\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar1-21.jpg\" alt=\"\" width=\"814\" height=\"611\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar1-21.jpg 814w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar1-21-300x225.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar1-21-768x576.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar1-21-750x563.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 814px) 100vw, 814px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-19925\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 1. Alat-Alat Pembuatan Alat<\/figcaption><\/figure>\n<figure id=\"attachment_19926\" aria-describedby=\"caption-attachment-19926\" style=\"width: 749px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-19926\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Capture-14.jpg\" alt=\"\" width=\"749\" height=\"388\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Capture-14.jpg 749w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Capture-14-300x155.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 749px) 100vw, 749px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-19926\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 2. Bahan-Bahan Pembuatan Alat<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>3. HASIL<\/strong><\/p>\n<p>Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan oleh Dosen beserta Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 di laksanakan pada tanggal 14 Juli 2025 di Balai Dusun Pohkecik Desa Pohkecik. Kegiatan pengabdian ini di hadiri oleh 11 partisipan, 1 orang kepala Desa, dan 10 orang kelompok Gapoktan termasuk Ketua Gakpotan. Sebelum pelaksanaan diawali terlebih dahulu dengan pembukaan dari Mc dengan dilanjut dengan sambutan-sambutan oleh ketua sub kelompok 1, ketua kelompok gapoktan, kepala Desa Pohkecik. Dan dilanjutkan\u00a0 dengan\u00a0 pemberian\u00a0 atau\u00a0 perkenalan\u00a0 mengenai\u00a0 informasi\u00a0 kegiatan\u00a0 yang akan dilaksanakan. Antusias bapak-bapak kelompok gapoktan sangat besar untuk mengikuti kegiatan ini. Setelah rangkaian kegiatan selesai \u00a0dilaksanakan, salah seorang mahasiswa menyampaikan proses untuk cara pembuatan Tong Komposter dari bahan bekas, dan menyampaikan cara kerja dari Tong Komposter ini. \u00a0Mahasiswa menyampaikan dengan jelas kepada Bapak-bapak kelompok Gapoktan sesuai dengan ilmu yang sudah mereka dapatkan selama perkuliahan. Berikut merupakan foto-foto kegiatan pengabdian Masyarakat di Balai\u00a0 Desa Pohkecik.<\/p>\n<p><strong>4. DISKUSI<\/strong><br \/>\nEvaluasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan selama proses pelaksanaan untuk aspek pencapaian tujuan dari pengabdian kepada masyarakat yang telah dilaksanakan. Indikator keberhasilan dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat adalah Bapak-bapak kelompok Gapoktan dapat merakit pembuatan Tong Komposter.<\/p>\n<p>Faktor yang menjadi pendukung dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah sebagai berikut :<\/p>\n<ol>\n<li>Kegiatan di fasilitasi dari kampus Universitas 17 Agustus 1945 melalui dana Program LPMM.<\/li>\n<li>Dukungan dan antusias dari Pihak Desa Pohkecik tujuan dari kegiatan KKN ini dapat terlaksana dengan baik.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Faktor yang menjadi penghambat dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah Bapak-Bapak Kelompok Gapoktan sangat minim pengetahuan tentang penjelasan pemanfaatan sampah organik yang bisa dimanfaatkan menjadi pupuk kompos yang disampaikan oleh Ketua Sub kelompok 1 saudara Faiz Nabil Nur L.<\/p>\n<p>Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini sudah di lakukan sesuai tahap yang di rencanakan dari awal pembuatan Tong komposter dari bahan bekas .Kegiatan ini di lakukan bersama masyarakat, tim Dosen dan Mahasiswa.<\/p>\n<p><strong>5. Kesimpulan <\/strong><\/p>\n<p>Kegiatan pengabdian masyarakat telah dilaksanakan dengan baik dan tepat sasaran dari kegiatan KKN, Bapak-bapak Kelompok Gapoktan memberikan respon positif terhadap Universitas 17 Agustus 1945, berikut hal yang diperoleh dari hasil kegiatan pengabdian masyarakat adalah;<\/p>\n<ol>\n<li>Terciptanya hubungan yang sinergis antara Bapak-Bapak Kelompok Gapoktan, Dosen, dan Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945.<\/li>\n<li>Memberikan pengetahuan baru atau keterampilan baruuntuk Bapak-bapak Kelompok Gapoktan di Balai Desa Pohkecik.<\/li>\n<li>Masyarakat Dusun Pohkecik, Desa Pohkecik mengenal lebih banyak lagi tentang Universitas 17 Agustus 1945.<\/li>\n<li>Untuk selanjutnya Bapak-Bapak Kelompok Gapoktan dapat kembali memberikan ilmu atau keterampilan lainnya di Dusun Pohkecik, Desa Pohkecik.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>6. DAFTAR REFERENSI<\/strong><br \/>\nIndah Sari V, Susi N, Rizal M. (2021). Pelatihan Pemanfaatan Sampah\u00a0\u00a0\u00a0 Organik\u00a0\u00a0\u00a0 Sebagai\u00a0\u00a0\u00a0 Bahan\u00a0\u00a0\u00a0 Eco-Enzym\u00a0\u00a0\u00a0 untuk Pembuatan Pupuk Cair, Desinfektan dan Hand Sanitizer <em>COMSEP J Pengabdi Kpd Masyarakat <\/em><\/p>\n<p>World Health Organization. (2018).\u00a0<em>Waste management: A guide for public health<\/em>. Geneva: World Health Organization. https:\/\/iris.who.int\/bitstream\/handle\/10665\/43123\/9241592745.pdf<\/p>\n<p>Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2020).\u00a0<em>Laporan tentang pengelolaan sampah di Indonesia<\/em>. Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. https:\/\/sipsn.kemenlh.go.id\/sipsn\/<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Innovation in Organic Waste Processing Using a Compost Bin Made from Recycled Plastic\u00a0Drum\u00a0Barrels. Erwansyah1*, Dini Setiyowati2, Faiz Nabil Nur L.3, Moch. Adi Prasetyo4, Ricky Alejandro Martin5 1-5Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Jawa Timur, Indonesia erwansyah0911@gmail.com1 diniisetiyowati1101@gmail.com2 faiznabil7204@gmail.com3 adipras307jr@gmail.com4 rickymartin@untag-sby.ac.id5 Article History: \u00a0 Abstract: This community service research addresses the organic waste management challenges in Pohkecik [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":19925,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"hide","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"0","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"0","show_prev_next_post":"0","number_popup_post":"3","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"1","override_template":"1","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-19923","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19923","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19923"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19923\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19925"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19923"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19923"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19923"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}