{"id":19882,"date":"2025-07-21T14:01:28","date_gmt":"2025-07-21T06:01:28","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=19882"},"modified":"2025-07-21T14:01:28","modified_gmt":"2025-07-21T06:01:28","slug":"teknologi-tepat-guna-penerapan-alat-aerasi-di-kolam-penampungan-ikan-solusi-menjaga-kesehatan-ikan-sebelum-dilepas-ke-kolam-pemancingan-di-desa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/teknologi-tepat-guna-penerapan-alat-aerasi-di-kolam-penampungan-ikan-solusi-menjaga-kesehatan-ikan-sebelum-dilepas-ke-kolam-pemancingan-di-desa\/19882\/","title":{"rendered":"Teknologi Tepat Guna Penerapan Alat Aerasi di Kolam Penampungan Ikan: Solusi Menjaga Kesehatan Ikan Sebelum Dilepas ke Kolam Pemancingan di Desa"},"content":{"rendered":"<p>Dr. Estik Hari Prastiwi, SE.,\u00a0MM<br \/>\nEmail : <a href=\"mailto:estik@untag-sby.ac.id\"><em>estik@untag-sby.ac.id<\/em><\/a><em>\u00a0<\/em><br \/>\nAngelin Mahesa Putri\u00b9, Salsa Bila Fitri R\u00b2, Renita Eka Ferahma\u00b3, Januarta Putra Wicaksono\u2074, Muhammad Faysal Indrianto\u2075<br \/>\nFakultas Ilmu Sosial dan Politik\u00b9, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik\u00b2, Fakultas Ekonomi dan Bisnis\u00b3, Fakultas Teknik\u2074, Fakultas Teknik\u2075<br \/>\nEmail : <a href=\"mailto:angelinamahesaputri09@gmail.com\">angelinamahesaputri09@gmail.com<\/a>\u00b9, salsabilafitri447@gmail.com\u00b2, renitaferahma18@gmail.com\u00b3, putraw769@gmail.com\u2074, \u2075<\/p>\n<p><strong>Abstract<\/strong><br \/>\nThis community service project, conducted as part of the Student Community Service Program (KKN), focused on implementing a simple aeration system in fish holding tanks used prior to stocking fishing ponds. The holding tanks often suffer from poor water quality and low dissolved oxygen levels, especially when fish are temporarily stored in high densities. These conditions lead to stress, reduced activity, and even fish mortality. To address this issue, the KKN team designed and installed a low-cost aerator using basic components such as aquarium pumps, air stones, and plastic tubing. In some units, solar panels were also integrated to reduce energy dependence. The aerator helps increase oxygen levels in the water, reduce harmful gases, and maintain fish vitality before transfer. The results showed a significant improvement in water clarity, fish activity, and survival rate. This simple and affordable technology proved to be effective and was well received by the local community. It also serves as a practical example of appropriate technology that can be replicated in other small-scale aquaculture systems.<\/p>\n<p><strong>Abstrak<\/strong><br \/>\nProyek pengabdian masyarakat ini, yang dilaksanakan sebagai bagian dari Program Kuliah Kerja Nyata (KKN), berfokus pada penerapan sistem aerasi sederhana di bak penampungan ikan yang digunakan sebelum penebaran ke kolam pemancingan. Bak penampungan tersebut sering mengalami penurunan kualitas air dan kadar oksigen terlarut yang rendah, terutama ketika ikan disimpan dalam kepadatan tinggi. Kondisi ini menyebabkan stres, penurunan aktivitas, bahkan kematian ikan.Untuk mengatasi masalah ini, tim KKN merancang dan memasang alat aerator berbiaya rendah menggunakan komponen dasar seperti pompa akuarium, batu aerasi, dan selang plastik. Pada beberapa unit, panel surya juga diintegrasikan untuk mengurangi ketergantungan pada energi listrik konvensional. Aerator ini membantu meningkatkan kadar oksigen dalam air, mengurangi gas berbahaya, dan menjaga vitalitas ikan sebelum dipindahkan.Hasilnya menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kejernihan air, aktivitas ikan, dan tingkat kelangsungan hidup. Teknologi sederhana dan terjangkau ini terbukti efektif dan mendapat sambutan baik dari masyarakat setempat. Inisiatif ini juga menjadi contoh praktis teknologi tepat guna yang dapat direplikasi pada sistem budidaya perikanan skala kecil lainnya.<\/p>\n<p>Kata Kunci: aerasi sederhana, bak penampungan ikan, aerator hemat energi, teknologi tepat guna, kualitas air, budidaya perikanan skala kecil.<\/p>\n<p><strong>PENDAHULAN<\/strong><br \/>\nKuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat yang dilakukan dengan cara terjun langsung ke lapangan, mengidentifikasi permasalahan, dan menawarkan solusi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang aplikatif. Dalam pelaksanaan KKN di Desa Dlanggu, kami mengamati bahwa salah satu potensi ekonomi lokal yang cukup berkembang namun belum dikelola secara optimal adalah usaha kolam pemancingan.<\/p>\n<p>Kolam pemancingan di Desa Dlanggu dikelola oleh masyarakat secara mandiri, dan menjadi salah satu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berperan dalam menggerakkan ekonomi lokal. Selain sebagai tempat hiburan dan rekreasi bagi warga sekitar, kolam pemancingan juga membuka lapangan kerja baru, menyediakan peluang usaha seperti penjualan pakan, penyewaan alat pancing, serta warung makan di sekitar area kolam.<\/p>\n<p>Namun, dalam operasionalnya, kolam pemancingan di Desa Dlanggu masih menghadapi sejumlah kendala, khususnya terkait dengan pengelolaan kualitas air di kolam penampungan sementara (tandon ikan). Kolam ini digunakan untuk menyimpan ikan sebelum dilepaskan ke kolam utama. Banyak pengelola yang belum menerapkan sistem aerasi atau sirkulasi air yang baik pada kolam penampungan, sehingga menyebabkan kadar oksigen rendah, penumpukan kotoran, dan air cepat keruh. Kondisi ini menyebabkan ikan menjadi stres, lemah, bahkan mati sebelum sempat dipindahkan ke kolam pemancingan.<\/p>\n<p>Melihat hal tersebut, tim KKN dari Universitas 17 Agustus \u00a0berinisiatif untuk merancang dan memasang alat aerasi sederhana di kolam penampungan ikan. Alat ini menggunakan komponen yang mudah ditemukan seperti pompa akuarium, batu aerasi (air stone), dan selang, serta dapat dikombinasikan dengan sumber daya listrik rumah tangga atau panel surya agar hemat energi. Aerasi ini berfungsi untuk menambah oksigen terlarut dalam air dan menjaga kestabilan kualitas air selama proses penampungan.<\/p>\n<p>Diharapkan, melalui penerapan teknologi tepat guna ini, produktivitas dan efisiensi usaha kolam pemancingan di Desa Dlanggu dapat meningkat, angka kematian ikan menurun, dan keberlanjutan usaha masyarakat lebih terjamin. Kegiatan ini juga bertujuan untuk memberikan edukasi kepada warga tentang pentingnya manajemen kualitas air dalam usaha perikanan, sekaligus mendorong inovasi pada sektor UMKM desa.<\/p>\n<p><strong>METODE<\/strong><br \/>\nMetode yang digunakan dalam \u00a0penerapan teknologi tepat guna berupa alat aerasi di kolam penampungan ikan ini, peneliti menggunakan beberapa tahapan metode. Pertama, dilakukan observasi langsung ke lapangan untuk mengetahui kondisi kolam penampungan yang ada di desa, termasuk kualitas air, tingkat oksigen terlarut, serta keluhan dari pengelola ikan. Tahap ini penting untuk mengetahui masalah utama yang dihadapi sebelum alat aerasi diterapkan.<\/p>\n<p>1.Observasi Lapangan dan Identifikasi Masalah<\/p>\n<p>Langkah awal yang dilakukan adalah observasi langsung ke kolam penampungan ikan yang ada di desa. Tujuannya untuk mengetahui kondisi air, jumlah ikan, serta permasalahan yang sering dihadapi oleh pengelola kolam. Dari hasil observasi dan wawancara, identifikasi Masalah dan Survei Lapangan<\/p>\n<p>Tahap berikutnya adalah sosialisasi dan pelatihan kepada masyarakat sekitar, khususnya pengelola kolam dan pemancingan, agar mereka bisa mengoperasikan dan merawat alat secara mandiri. Terakhir, dilakukan monitoring dan evaluasi selama beberapa minggu untuk melihat apakah alat ini benar-benar membantu dalam menjaga kualitas air dan menurunkan tingkat kematian ikan ditemukan beberapa masalah utama:<\/p>\n<ol>\n<li>Kadar oksigen terlarut rendah.<\/li>\n<li>Ikan sering stres, lemas, bahkan mati sebelum masuk ke kolam pancing.<\/li>\n<li>Air cepat keruh dan berbau karena tidak ada sirkulasi dan banyak kotoran.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Masalah-masalah tersebut sangat memengaruhi kualitas ikan dan menambah beban biaya bagi pemilik kolam.<\/p>\n<p>Alat aerasi di kolam penampungan berfungsi untuk:<\/p>\n<ol>\n<li>Menambah kandungan oksigen terlarut.<\/li>\n<li>Membantu sirkulasi air agar tetap bersih dan segar.<\/li>\n<li>Mengurangi stres dan meningkatkan daya tahan ikan.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Hasil yang Diharapkan<\/p>\n<ul>\n<li>Ikan di kolam penampungan tetap sehat dan aktif.<\/li>\n<li>Tingkat kematian ikan sebelum pemindahan menurun drastis.<\/li>\n<li>Kualitas pelayanan di kolam pancing meningkat, karena ikan siap dipancing dalam kondisi prima.<\/li>\n<li>Menumbuhkan kesadaran masyarakat pentingnya pengelolaan air dan kesehatan ikan<\/li>\n<\/ul>\n<p>Tujuan Kegiatan<br \/>\nAdapun tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li>Memberikan solusi atas rendahnya kualitas air di kolam penampungan ikan.<\/li>\n<li>Meningkatkan tingkat kelangsungan hidup ikan selama proses adaptasi sebelum dimasukkan ke kolam pancing.<\/li>\n<li>Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya aerasi dalam budidaya ikan.<\/li>\n<li>Mengaplikasikan teknologi sederhana yang murah, mudah dirakit, dan hemat energi.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>\u00a0<\/strong>Permasalahan yang Dihadapi di Lapangan<\/p>\n<p>Berdasarkan observasi dan wawancara dengan pemilik kolam pemancingan, ditemukan beberapa permasalahan di kolam penampungan:<\/p>\n<ol>\n<li>Oksigen rendah karena tidak ada alat aerasi.<\/li>\n<li>Ikan mudah stres dan lemas, bahkan ada yang mati sebelum masuk ke kolam utama.<\/li>\n<li>Penumpukan kotoran ikan dan sisa pakan yang menyebabkan kualitas air menurun.<\/li>\n<li>Pengeluaran biaya tambahan untuk mengganti ikan yang mati atau lemah.<\/li>\n<li>Perancangan dan pembuatan alat<\/li>\n<\/ol>\n<p>Alat aerasi dirancang dengan tujuan untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut di kolam penampungan ikan. Dalam proses perancangannya, alat dibuat sesederhana mungkin agar mudah digunakan dan dirakit oleh masyarakat desa. Bahan-bahan yang digunakan terdiri dari komponen yang mudah ditemukan, seperti pompa udara akuarium, selang, batu aerasi (air stone), dan sumber listrik dari adaptor atau panel surya.<\/p>\n<p>Proses pembuatan dimulai dengan merakit sistem pompa udara yang terhubung ke beberapa batu aerasi dan diletakkan di dasar kolam. Udara dari pompa akan disalurkan melalui selang dan menghasilkan gelembung halus, yang membantu memasukkan oksigen ke dalam air. Alat ini juga didesain agar hemat energi dan tahan terhadap kondisi luar ruangan.Kami membuat alat aerasi portabel dan hemat energi yang dapat digunakan di kolam penampungan. Alat ini bekerja dengan prinsip menghasilkan gelembung udara kecil ke dalam air, sehingga kadar oksigen terlarut meningkat.<\/p>\n<p>Komponen Alat:<\/p>\n<ol>\n<li>Pompa akuarium 12V (bisa pakai listrik rumah atau aki)<\/li>\n<li>Selang aerasi<\/li>\n<li>Batu aerasi (air stone)<\/li>\n<li>Kabel, saklar, dan adaptor (jika memakai listrik PLN)<\/li>\n<li>Panel surya kecil (opsional, jika ingin hemat listrik dan ramah lingkungan)<\/li>\n<\/ol>\n<p>Cara Kerja:<\/p>\n<ol>\n<li>Pompa akan memompa udara ke dalam selang aerasi.<\/li>\n<li>Ujung selang yang disambungkan ke air stone akan mengeluarkan gelembung udara.<\/li>\n<li>Gelembung udara akan membantu meningkatkan kadar oksigen terlarut di air.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Keunggulan alat Aerasi<\/p>\n<ol>\n<li>Biaya pembuatan rendah.<\/li>\n<li>Mudah dirakit dan dipasang.<\/li>\n<li>Bisa digunakan di kolam ukuran kecil hingga sedang.<\/li>\n<li>Ramah lingkungan jika menggunakan panel surya.<\/li>\n<li>Evaluasi dan Monitoring<\/li>\n<\/ol>\n<p>Setelah pemasangan alat aerasi di kolam penampungan:<br \/>\n&#8211; Air menjadi lebih jernih dan tidak berbau.<br \/>\n&#8211; Ikan lebih aktif dan tidak lagi terlihat mengambang di permukaan (tanda kekurangan oksigen).<br \/>\n-Tidak ditemukan lagi kematian ikan selama masa penampungan (0% kematian dalam 3 hari pengamatan).<br \/>\n&#8211; Pemilik kolam menyatakan puas dan berencana menambah alat serupa untuk kolam lainnya.<\/p>\n<p><strong>HASIL DAN PEMBAHASAN<\/strong><br \/>\nHasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan alat aerasi di kolam penampungan ikan mampu meningkatkan kualitas air, terutama kadar oksigen terlarut (DO). Selama masa uji coba 5 hari, kadar DO naik dari rata-rata 3,2 mg\/L menjadi 5,8 mg\/L. Hal ini berdampak positif pada kondisi ikan, yang terlihat lebih aktif, tidak mengambang di permukaan, dan tidak mengalami kematian selama masa penampungan.<\/p>\n<p>Selain itu, alat bekerja secara stabil tanpa kendala teknis, dan dapat digunakan oleh masyarakat tanpa pelatihan khusus. Penggunaan energi juga efisien karena alat menggunakan daya listrik rendah atau panel surya sebagai alternatif. Berdasarkan pengamatan, alat ini terbukti efektif sebagai solusi menjaga kesehatan ikan sebelum dipindahkan ke kolam pemancingan.<\/p>\n<p>1.Peningkatan Kualitas Tandon<br \/>\nPenerapan alat aerasi di kolam penampungan ikan berhasil meningkatkan kualitas air secara signifikan. Kadar oksigen terlarut (DO) naik dari sekitar 3 mg\/L menjadi 5\u20136 mg\/L setelah alat digunakan, sehingga menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi ikan. Selain itu, aerasi juga membantu menjaga suhu air tetap stabil dan mencegah pengendapan kotoran di dasar kolam, sehingga air menjadi lebih jernih.<\/p>\n<p>Peningkatan kualitas air ini berdampak langsung pada kondisi ikan, yang menjadi lebih sehat, aktif, dan resiko kematian berkurang. Dengan kualitas air yang membaik, ikan siap dilepas ke kolam pemancingan dengan kondisi optimal.<\/p>\n<p>Hasil evaluasi menunjukkan bahwa alat aerasi yang diterapkan mampu meningkatkan kadar oksigen terlarut di kolam penampungan ikan secara signifikan. Hal ini terlihat dari peningkatan DO rata-rata dari 3,2 mg\/L menjadi 5,8 mg\/L setelah penggunaan alat selama 5 hari. Selain itu, kondisi ikan juga membaik, ditandai dengan aktivitas yang lebih aktif dan menurunnya tingkat kematian.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>Respon dan Dampak Sosial<\/li>\n<\/ol>\n<p>Setelah penerapan alat aerasi di kolam penampungan ikan, masyarakat desa memberikan respon yang positif. Mereka merasa lebih terbantu karena alat ini mampu menjaga kesehatan ikan sehingga menurunkan tingkat kematian. Selain itu, alat yang mudah digunakan dan murah membuat para pengelola kolam merasa yakin untuk terus memanfaatkan teknologi ini.<\/p>\n<p>Dampak sosialnya, keberadaan alat aerasi ini mendorong peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kualitas air dan kesehatan ikan. Hal ini juga memicu semangat gotong royong dan kolaborasi antar warga dalam merawat kolam pemancingan. Dengan demikian, alat aerasi tidak hanya berdampak pada aspek teknis, tetapi juga memperkuat hubungan sosial dan pemberdayaan Kesimpulan:<\/p>\n<p><strong>SIMPULAN<\/strong><br \/>\nPenerapan alat aerasi di kolam penampungan ikan merupakan solusi yang tepat untuk menjaga kesehatan ikan sebelum dipindahkan ke kolam pemancingan, terutama di lingkungan desa. Dengan adanya aliran udara yang cukup ke dalam air, kadar oksigen tetap terjaga sehingga ikan tidak mudah stres atau mati. Alat ini bisa dibuat secara sederhana, menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat, dan bisa dijalankan dengan listrik atau tenaga surya. Selain murah, teknologi ini juga mudah diterapkan oleh masyarakat desa dan sangat membantu dalam menjaga kualitas air dan kondisi ikan.<\/p>\n<p><strong>Daftar Pustaka<\/strong><br \/>\nDepartemen Kelautan dan Perikanan. (2017). Pedoman Teknologi Tepat Guna Bidang Perikanan. Jakarta: Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.<br \/>\nSuyanto, A. (2018). Teknologi Aerasi untuk Budidaya Ikan Air Tawar. Yogyakarta: Pustaka Agro Mandiri.<br \/>\nSudaryono, E. A., &amp; Wibowo, D. S. (2020). Pengaruh Aerasi terhadap Kualitas Air dan Kelangsungan Hidup Ikan Nila. Jurnal Perikanan dan Kelautan, 12(1), 45\u201352.<br \/>\nBadan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). (2021). Teknologi Tepat Guna di Bidang Perikanan untuk Pemberdayaan Masyarakat Desa. Jakarta: BRIN Press.<br \/>\nFAO. (2020). Aeration in Fish Ponds \u2013 Guidelines for Sustainable Aquaculture. Rome: Food and Agriculture Organization of the\u00a0United\u00a0Nations.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dr. Estik Hari Prastiwi, SE.,\u00a0MM Email : estik@untag-sby.ac.id\u00a0 Angelin Mahesa Putri\u00b9, Salsa Bila Fitri R\u00b2, Renita Eka Ferahma\u00b3, Januarta Putra Wicaksono\u2074, Muhammad Faysal Indrianto\u2075 Fakultas Ilmu Sosial dan Politik\u00b9, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik\u00b2, Fakultas Ekonomi dan Bisnis\u00b3, Fakultas Teknik\u2074, Fakultas Teknik\u2075 Email : angelinamahesaputri09@gmail.com\u00b9, salsabilafitri447@gmail.com\u00b2, renitaferahma18@gmail.com\u00b3, putraw769@gmail.com\u2074, \u2075 Abstract This community service project, conducted [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"hide","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"0","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"0","show_prev_next_post":"0","number_popup_post":"3","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"1","override_template":"1","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-19882","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19882","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19882"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19882\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19882"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19882"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19882"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}