{"id":19875,"date":"2025-07-21T00:32:08","date_gmt":"2025-07-20T16:32:08","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=19875"},"modified":"2025-07-21T00:32:08","modified_gmt":"2025-07-20T16:32:08","slug":"penerapan-teknologi-tepat-guna-melalui-alat-pengomposan-sederhana-dari-drum-untuk-membuat-pupuk-dari-kotoran-sapi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/penerapan-teknologi-tepat-guna-melalui-alat-pengomposan-sederhana-dari-drum-untuk-membuat-pupuk-dari-kotoran-sapi\/19875\/","title":{"rendered":"PENERAPAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA MELALUI ALAT PENGOMPOSAN SEDERHANA DARI DRUM UNTUK MEMBUAT PUPUK DARI KOTORAN SAPI"},"content":{"rendered":"<p>Abim Satria\u00b9, Nanda Khonikmatu Isroi\u00b2, Aisyah Aulia Rosa\u00b3, Muhammad Muqorrobin Ikhsan\u2074, Aurellia Salsabila\u2075<br \/>\nDosen Pembimbing Lapangan : Dr. Angga Dutahatmaja<br \/>\n\uf0d8 Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya<br \/>\n\uf0d8 Mahasiswa Manajemen Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya<br \/>\n\uf0d8 Mahasiswa Administrasi Niaga Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya<br \/>\n\uf0d8 Mahasiswa Arsitektur Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya<br \/>\n\uf0d8 Mahasiswa Sastra Inggris Universitas 17 Agustus Surabaya<br \/>\n\u00b9abimsatria700@gmail.com , \u00b2konikmatunanda@gmail.com , \u00b3aisyahauliarosa@gmail.com , \u2074muqorrobinikhsan06@gmail.com , \u2075faaurellia2@gmail.com<\/p>\n<p><strong>Abstract<\/strong><br \/>\n<em>Utilization of livestock waste, particularly cow manure, as a raw material for compost production is a strategic innovation that offers a real and sustainable solution to the problem of organic waste, which has long been a major obstacle in the livestock industry. Cow manure, which was previously considered merely as an environmental pollutant, can now be transformed into a valuable and beneficial product through the composting process.<\/em><\/p>\n<p><em>In this context, a Community Service Program carried out by group R7 of students from the University of 17 August 1945 Surabaya introduces an innovation in the form of a compost-making device. This tool is designed to meet the needs of livestock partners in processing cow manure more effectively, efficiently, and in an environmentally friendly manner.<\/em><\/p>\n<p><em>The main objective of this program is to provide a solution to the waste management problems faced by the livestock farm (owned by Mr. Wul), as well as to empower the partner (Mr. Wul) to independently manage the waste using appropriate technology. Through this device, it is expected to have a positive impact, not only by reducing the amount of waste produced but also by enabling the production of ready-to-use organic fertilizer, thus creating added value for environmental health.<\/em><\/p>\n<p><em>The activities were carried out using a participatory approach, including observation, tool design, usage training, and technical assistance. The results showed that the tool was able to accelerate the decomposition process, reduce unpleasant odors, and produce usable compost within 3\u20134 weeks. The use of this tool encourages farmers to manage waste independently and more environmentally responsibly, thereby fostering awareness of the importance of sustainable waste management.<\/em><\/p>\n<p><em>Keywords: Appropriate Technology Innovation, Compost, Cow Manure, Livestock, Empowerment.<\/em><\/p>\n<p><strong>Abstrak<\/strong><br \/>\nPemanfaatan sisa-sisa dari peternakan, khususnya kotoran sapi, menjadi bahan dasar untuk pembuatan pupuk kompos merupakan suatu inovasi strategis yang menawarkan solusi nyata dan berkelanjutan terhadap masalah limbah organik yang telah lama menjadi kendala utama dalam industri peternakan. Kotoran sapi yang sebelumnya hanya dianggap sebagai limbah yang mencemari lingkungan kini bisa diubah menjadi produk bernilai dan bermanfaat melalui proses komposting . Pada konteks berikut, Program Pengabdian Masyarakat yang dijalankan oleh kelompok R7 mahasiswa 17 Agustus 1945 Surabaya menghadirkan inovasi berupa penggunaan alat untuk membuat pupuk kompos. Alat tersebut dirancang dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan mitra peternakan dalam mengolah kotoran sapi lebih efektif, efisien, dan bermanfaat bagi lingkungan.<\/p>\n<p>Tujuan utama dari program ini adalah untuk memberikan solusi terhadap masalah dalam pengelolaan limbah kotoran sapi peternakan (Pak Wul), serta memberdayakan mitra ( Pak Wul) agar mampu melakukan pengelolaan limbah secara mandiri dengan teknologi yang tepat. Melalui alat bantu ini, diharapkan akan memberikan dampak positif dimana tidak hanya mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan, tetapi juga bisa memproduksi pupuk organik yang siap untuk digunakan, sehingga menciptakan nilai tambah baik terhadap kesehatan lingkungan.<br \/>\nKegiatan dilakukan dengan pendekatan partisipatif melalui observasi, desain alat, pelatihan penggunaan, hingga pendampingan teknis. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa alat ini mampu mempercepat proses dekomposisi, mengurangi bau tidak sedap, dan menghasilkan kompos yang layak pakai dalam waktu 3\u20134 minggu. Penggunaan alat ini mendorong peternak untuk mengelola limbah secara mandiri dan lebih ramah lingkungan sehingga menciptakan kesadaran akan pentingnya pengelolaan limbah yang berkelanjutan.<\/p>\n<p>Kata Kunci: Inovasi Teknologi Tepat Guna, Kompos, Kotoran Sapi, Peternakan, Pemberdayaan.<\/p>\n<p><strong>PENDAHULUAN<\/strong><br \/>\nIndonesia sebagai negara agraris memiliki peran strategis dalam penyediaan pangan, baik dari sektor pertanian maupun peternakan. Di antara sektor peternakan, sapi merupakan komoditas unggulan yang berkontribusi besar terhadap pemenuhan kebutuhan protein hewani nasional. Namun, tingginya populasi sapi juga membawa konsekuensi terhadap peningkatan jumlah limbah organik, khususnya kotoran sapi. Berdasarkan data Kementerian Pertanian (2021), setiap ekor sapi dewasa mampu menghasilkan hingga 20\u201330 kg kotoran per hari, yang apabila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, seperti bau menyengat, pencemaran air tanah, hingga menjadi media penyebaran penyakit. Hidayat (2022) menegaskan bahwa penumpukan limbah peternakan tanpa pengelolaan memadai dapat menciptakan dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat dan ekosistem sekitar.<\/p>\n<p>Sebagai solusi, pendekatan ramah lingkungan melalui penerapan teknologi tepat guna menjadi sangat relevan. Salah satunya adalah penggunaan alat pengomposan sederhana berbasis drum plastik, yang telah terbukti dapat mempercepat proses dekomposisi bahan organik dengan pengaturan aerasi dan kelembaban yang optimal (Setyawan &amp; Nugroho, 2021). Teknologi ini tidak hanya murah dan mudah dioperasikan, tetapi juga mendorong kemandirian peternak dalam mengelola limbah menjadi pupuk organik yang bernilai ekonomi. Dalam konteks pengabdian kepada masyarakat, keberhasilan penerapan teknologi tepat guna sangat ditentukan oleh adaptabilitas terhadap kondisi lokal, penggunaan bahan yang mudah didapat, serta potensi replikasi dan keberlanjutan penggunaan di masa depan (Siregar, 2023).<\/p>\n<p>Di sisi lain, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan limbah organik juga menjadi tantangan tersendiri dalam penerapan teknologi tepat guna di tingkat desa. Minimnya akses terhadap informasi, pendampingan teknis, serta keterbatasan sumber daya membuat banyak peternak belum memahami potensi ekonomis dari kotoran ternak yang dihasilkan setiap hari. Padahal, jika diolah dengan benar, kotoran sapi dapat menghasilkan kompos yang bernilai jual dan mampu menekan biaya produksi pertanian. Oleh karena itu, diperlukan intervensi dari pihak akademisi maupun lembaga terkait untuk memberikan edukasi dan pelatihan secara langsung kepada masyarakat. Melalui kegiatan pengabdian ini, diharapkan tercipta perubahan perilaku peternak dalam mengelola limbah serta terciptanya ekosistem lokal yang lebih berkelanjutan secara lingkungan, sosial, dan ekonomi (Putra &amp; Rahayu, 2020).<\/p>\n<p>Desa Petak yang terletak di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, merupakan kawasan dengan kepadatan populasi ternak sapi yang tinggi. Namun sayangnya, limbah kotoran sapi di desa ini sebagian besar masih dibuang secara langsung di sekitar kandang tanpa melalui proses fermentasi atau pengolahan lanjutan. Kondisi ini tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga merupakan potensi yang belum dimanfaatkan untuk menghasilkan nilai tambah. Berdasarkan hasil survei lapangan, mayoritas peternak belum memiliki pengetahuan maupun akses terhadap teknologi pengelolaan limbah. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian masyarakat melalui penerapan teknologi pengomposan sederhana ini diharapkan dapat menjadi langkah awal yang berdampak positif, baik dari sisi ekologis maupun ekonomi peternak lokal.<\/p>\n<p><strong>TINJAUAN PUSTAKA<\/strong><br \/>\nMenurut Nugroho (2019), pupuk kompos merupakan hasil dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme dalam kondisi lingkungan tertentu. Limbah kotoran sapi yang kaya nitrogen sangat cocok sebagai bahan dasar pembuatan kompos. Penerapan alat pembuat kompos dapat mempercepat waktu dekomposisi, mengurangi emisi gas rumah kaca, serta meningkatkan nilai jual produk hasil pengolahan (Sutrisno, 2021).<\/p>\n<p>Teknologi tepat guna sangat dibutuhkan oleh UMKM dan kelompok tani karena bersifat adaptif, murah, dan mudah dioperasikan (Widodo &amp; Lestari, 2020). Dalam program pengabdian masyarakat, peran mahasiswa sebagai fasilitator inovasi terbukti meningkatkan kapasitas produksi dan kesadaran lingkungan masyarakat desa (Prasetya, 2018).<\/p>\n<p><strong>METODE PENELITIAN<\/strong><br \/>\nPenelitian ini menggunakan pendekatan partisipatif (participatory approach) yang menekankan keterlibatan aktif mitra dalam seluruh tahapan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Pendekatan ini dipilih untuk memastikan bahwa solusi yang diterapkan benar-benar relevan dengan kebutuhan dan kondisi riil peternak di lapangan. Mitra utama dalam kegiatan ini adalah seorang peternak lokal, Pak Wul, yang tinggal dan mengelola usaha ternaknya di Desa Petak, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Dengan melibatkan mitra secara langsung, diharapkan teknologi yang diterapkan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktis dan berkelanjutan untuk digunakan dalam jangka panjang.<\/p>\n<p><strong>A. Observasi dan Survei Kebutuhan<\/strong><br \/>\nTahap awal dilakukan melalui observasi lapangan dan wawancara langsung dengan mitra untuk mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan limbah kotoran sapi. Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa proses pengomposan selama ini masih dilakukan secara konvensional, yaitu dengan menumpuk limbah di lahan terbuka tanpa kontrol terhadap aerasi dan kelembaban. Metode tersebut menyebabkan proses dekomposisi berjalan lambat, menimbulkan bau yang tidak sedap, dan menghasilkan kompos yang kurang optimal. Data ini menjadi dasar penting dalam perancangan inovasi alat yang sesuai.<\/p>\n<p><strong>B. Perancangan Alat<\/strong><br \/>\nSetelah kebutuhan mitra teridentifikasi, tim merancang alat pengomposan sederhana berbasis drum berkapasitas 60 liter yang terbuat dari plastik. Alat ini dimodifikasi dengan menambahkan lubang-lubang aerasi untuk sirkulasi udara, sistem penutup yang rapat untuk menjaga kelembaban, serta pengaduk manual agar bahan organik di dalamnya dapat tercampur secara merata. Tujuan dari rancangan ini adalah untuk menciptakan kondisi fermentasi aerobik yang ideal, mempercepat proses dekomposisi, dan menghasilkan kompos dengan kualitas baik dalam waktu yang lebih singkat.<\/p>\n<p><strong>C. Koordinasi dan Persetujuan Mitra<\/strong><br \/>\nSebelum pelaksanaan, tim melakukan koordinasi dengan mitra dan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) untuk memaparkan tujuan, manfaat, dan tahapan program. Diskusi ini menghasilkan persetujuan bersama bahwa program akan dijalankan sebagai bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Persetujuan ini menjadi dasar pelaksanaan kegiatan dan bentuk komitmen awal dari semua pihak yang terlibat.<\/p>\n<p><strong>D. Pembuatan dan Uji Coba Alat<\/strong><br \/>\nTahap selanjutnya adalah pembuatan alat menggunakan bahan-bahan lokal yang mudah ditemukan dan memiliki biaya terjangkau. Proses perakitan dilakukan secara gotong-royong bersama mitra agar mereka memahami struktur dan fungsi alat. Setelah alat selesai dibuat, dilakukan uji coba awal dengan mencampurkan kotoran sapi segar, sekam padi sebagai bahan pembantu, serta aktivator EM4 untuk mempercepat proses fermentasi. Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam drum dan diaduk secara berkala.<\/p>\n<p><strong>E. Sosialisasi dan Pelatihan<\/strong><br \/>\nTim memberikan pelatihan teknis kepada mitra terkait penggunaan alat, yang mencakup cara pengisian bahan organik, teknik memutar pengaduk, serta pengaturan lubang ventilasi. Selain itu, diberikan pula edukasi mengenai prinsip-prinsip dasar pengomposan aerobik, pentingnya menjaga rasio karbon dan nitrogen (C\/N), serta cara memantau suhu dan bau sebagai indikator keberhasilan fermentasi.<\/p>\n<p><strong>F. Evaluasi dan Dokumentasi<\/strong><br \/>\nSetelah proses fermentasi berlangsung selama 2\u20133 minggu, dilakukan evaluasi terhadap hasil kompos yang dihasilkan. Evaluasi meliputi aspek tekstur, warna, bau, dan tingkat dekomposisi bahan organik. Selain itu, dilakukan juga wawancara kembali dengan mitra untuk mengetahui sejauh mana alat ini membantu dalam mengatasi masalah limbah dan apakah terdapat kendala selama penggunaan. Semua kegiatan dan hasil didokumentasikan dalam bentuk laporan, foto kegiatan, serta testimoni mitra sebagai bahan evaluasi dan replikasi program di wilayah lain.<\/p>\n<p><strong>HASIL DAN PEMBAHASAN<\/strong><br \/>\nKegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di Desa Petak, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, menghasilkan inovasi sederhana namun signifikan berupa alat pengomposan berbasis drum. Alat ini terbukti mampu mengatasi permasalahan limbah kotoran sapi yang selama ini menjadi sumber pencemaran lingkungan. Melalui pendekatan teknologi tepat guna, proses pengomposan yang sebelumnya membutuhkan waktu 2\u20133 minggu. Hal ini dimungkinkan berkat sistem aerasi yang mendukung aktivitas mikroba secara optimal, serta adanya pengadukan manual yang menjamin penyebaran mikroorganisme dan bahan organik secara merata di dalam drum. Selain itu, alat ini bersifat portabel, tidak membutuhkan lahan luas, dan mudah dioperasikan, sehingga sangat cocok untuk peternak skala kecil di pedesaan.<\/p>\n<p><strong>A. Identifikasi Permasalahan Mitra<\/strong><br \/>\nBerdasarkan observasi awal dan wawancara mendalam dengan mitra, diketahui bahwa kotoran sapi selama ini dibuang langsung di lahan terbuka di belakang kandang tanpa pengolahan lanjutan. Kondisi ini menyebabkan bau tidak sedap yang menyebar ke lingkungan sekitar dan meningkatkan risiko pencemaran air tanah, terutama saat musim hujan. Permasalahan ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan peternak terkait teknik pengolahan limbah organik serta ketiadaan sarana dan prasarana yang mendukung proses tersebut. Selain itu, keterbatasan tenaga kerja juga menjadi alasan mengapa upaya pengomposan secara manual sulit dilakukan secara berkelanjutan.<\/p>\n<p><strong>B. Desain Alat Pengomposan Drum<\/strong><br \/>\nSebagai solusi, tim merancang alat pengomposan dari drum bekas berkapasitas 60 liter. Drum dimodifikasi sedemikian rupa agar sesuai dengan prinsip fermentasi aerobik yang efisien. Komponen utama alat meliputi:<br \/>\n\u2022 Lubang aerasi di bagian samping drum untuk memastikan sirkulasi udara,<br \/>\n\u2022 Penutup drum yang rapat untuk menjaga kelembaban dan mencegah kontaminasi dari luar,<br \/>\n\u2022 Sistem putar manual dengan poros besi dan engsel sebagai alat pengaduk,<br \/>\n\u2022 Kaki penyangga dari rangka besi agar drum tidak bersentuhan langsung dengan tanah.<br \/>\nDesain ini dibuat agar alat dapat digunakan berulang kali, mudah dibersihkan, dan tidak mudah rusak. Prinsip yang digunakan mengacu pada teknik pengomposan aerobik modern seperti yang dijelaskan oleh Santoso et al. (2021), yang menekankan pentingnya pengaturan C\/N rasio, aerasi, dan kelembaban.<\/p>\n<p><strong>C. Pelatihan dan Uji Coba<\/strong><br \/>\nSetelah alat selesai dirakit, dilakukan pelatihan teknis kepada mitra mengenai cara penggunaan dan perawatannya. Pelatihan meliputi pemahaman tentang komposisi bahan kompos, teknik pengisian, pengadukan, serta cara memantau suhu dan kelembaban. Komposisi bahan yang digunakan antara lain:<\/p>\n<p>\u2022 60% kotoran sapi segar<br \/>\n\u2022 20% sekam padi sebagai bahan kaya karbon<br \/>\n\u2022 10% dedak sebagai nutrisi tambahan<br \/>\n\u2022 10% larutan EM4 sebagai aktivator mikroba<\/p>\n<p>Uji coba dilakukan selama 3 minggu. Pada minggu pertama, suhu dalam drum meningkat, menandakan aktivitas mikroba yang aktif. Warna bahan kompos perlahan berubah menjadi coklat gelap, bau menyengat berkurang drastis, dan tekstur menjadi lebih remah. Hasil ini menunjukkan bahwa proses dekomposisi berjalan optimal dan menghasilkan kompos matang yang layak digunakan sebagai pupuk organik, sebagaimana disampaikan oleh Yani &amp; Bariroh (2021).<\/p>\n<p><strong>D. Dampak dan Manfaat<\/strong><br \/>\nImplementasi alat pengomposan drum memberikan dampak yang nyata, baik dari aspek lingkungan, ekonomi, sosial, maupun teknologi:<br \/>\n\u2022 Lingkungan: Pengurangan bau menyengat dan pencemaran air tanah akibat limbah ternak yang tidak diolah.<br \/>\n\u2022 Ekonomi: Kompos yang dihasilkan dapat digunakan sendiri oleh peternak atau dijual, sehingga menambah nilai ekonomi dari limbah.<br \/>\n\u2022 Sosial: Meningkatkan kesadaran peternak akan pentingnya pengelolaan limbah secara ramah lingkungan dan mandiri.<br \/>\n\u2022 Teknologi: Alat yang mudah dirakit, berbahan murah, serta tahan lama, memberikan peluang replikasi di wilayah lain dengan permasalahan serupa.<\/p>\n<p><strong>E. Cara Pemakaian Alat Pengomposan<\/strong><br \/>\nUntuk memastikan alat berfungsi optimal dan menghasilkan kompos berkualitas, berikut tahapan pemakaiannya:<br \/>\n1. Pengisian Bahan Kompos<br \/>\nMasukkan kotoran sapi segar hingga sekitar 60% kapasitas drum. Sisakan ruang untuk udara agar proses fermentasi aerobik berjalan baik.<br \/>\n2. Penambahan Bahan Pendukung<br \/>\nTambahkan bahan kaya karbon seperti sekam padi, jerami, daun kering, atau serbuk gergaji. Ini akan membantu menyeimbangkan rasio karbon dan nitrogen, serta mencegah pembusukan anaerob.<br \/>\n3. Pengadukan Secara Berkala<br \/>\nPutar drum atau aduk isi secara manual setiap 2\u20133 hari sekali untuk memastikan aerasi merata dan mempercepat proses penguraian.<br \/>\n4. Fermentasi<br \/>\nBiarkan bahan terfermentasi selama 3\u20134 minggu. Selama waktu ini, suhu dalam drum akan meningkat hingga 40\u201360\u00b0C sebagai tanda aktivitas mikroorganisme aktif.<br \/>\n5. Pematangan Kompos<br \/>\nSetelah fermentasi, kompos yang matang akan berwarna coklat tua hingga hitam, berbau tanah, dan memiliki tekstur remah. Kompos ini siap digunakan untuk menyuburkan tanah atau tanaman.<\/p>\n<p>F. Cara Perawatan Alat Pengomposan<br \/>\nAgar alat tetap awet dan berfungsi baik, langkah-langkah perawatan berikut perlu diterapkan:<br \/>\n1. Menjaga Tutup Drum<br \/>\nPastikan drum selalu tertutup rapat saat tidak digunakan, untuk menghindari masuknya air hujan, serangga, atau binatang kecil.<br \/>\n2. Pembersihan Rutin<br \/>\nBersihkan bagian luar drum dari kotoran dan debu setelah digunakan. Hal ini mencegah karat dan memperpanjang umur drum, terutama jika menggunakan drum logam.<br \/>\n3. Perawatan Anti Karat<br \/>\nJika ada bagian drum yang mulai berkarat, lakukan pengecatan ulang menggunakan cat besi anti-karat secara berkala, khususnya pada engsel dan bagian bawah drum.<br \/>\n4. Pemeriksaan Lubang Ventilasi<br \/>\nLubang-lubang ventilasi perlu dicek secara rutin agar tidak tersumbat oleh lumpur, sekam, atau sarang serangga. Ventilasi yang lancar sangat penting dalam menjaga keseimbangan oksigen.<br \/>\n5. Penyimpanan Alat<br \/>\nSimpan drum di tempat teduh dan kering. Hindari area yang tergenang air agar alas kaki drum tidak cepat keropos atau karatan. Tempat yang datar juga menghindari drum terguling atau rusak.<\/p>\n<p>Berikut ini adalah dokumentasi proses dan hasil pembuatan TTG (Teknologi Tepat Guna):<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-19876\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Capture-9.jpg\" alt=\"\" width=\"444\" height=\"856\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Capture-9.jpg 444w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Capture-9-156x300.jpg 156w\" sizes=\"(max-width: 444px) 100vw, 444px\" \/><\/p>\n<p><strong>KESIMPULAN DAN SARAN<\/strong><br \/>\nInovasi alat untuk membuat pupuk kompos yang memanfaatkan limbah kotoran sapi yang diterapkan dalam program pengabdian masyarakat ini telah menunjukkan hasil yang sangat efisien dan bermanfaat bagi mitra peternakan (Pak Wul) dalam pengelolaan limbah kotoran sapi secara lebih effisien dan berkelanjutan. Inovasi alat ini dibuat dengan prinsip kerja yang simpel dan ramah lingkungan, penerapan alat ini memiliki efek positif dalam mengurangi masalah lingkungan yang sebelumnya muncul akibat penumpukan limbah kotoran sapi, seperti bau yang menyengat, pencemaran air dan tanah, serta potensi penyebaran penyakit. keberadaan alat ini tidak hanya memberikan solusi terhadap permasalahan limbah, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi dari kotoran sapi yang sebelumnya hanya sebuah limbah menjadi lebih bermanfaat.<\/p>\n<p>Kompos yang dihasilkan dapat langsung digunakan oleh peternak untuk mendukung pertanian mereka atau dapat dijual sebagai pupuk organik, membuka peluang baru untuk penghasilan tambahan dan mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis pertanian yang berkelanjutan. Oleh karena itu, inovasi ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih jauh, tidak hanya oleh peternak di lokasi mitra saat ini, tetapi juga oleh komunitas peternakan lain yang menghadapi masalah serupa. Sebagai langkah berikutnya untuk memastikan manfaat program ini berkelanjutan, sangat disarankan untuk melaksanakan kegiatan tambahan yang berbentuk pelatihan teknis lanjutan bagi para mitra peternakan mengenai manajemen usaha pupuk organik, mulai dari tahap produksi, proses pengemasan yang menarik, hingga strategi pemasaran berbasis digital agar produk kompos dapat lebih mudah menjangkau pasar yang lebih luas. Selain itu, penting juga untuk melakukan monitoring dan evaluasi secara rutin terhadap penggunaan dan pemeliharaan alat, untuk memastikan bahwa alat tersebut tetap digunakan secara optimal serta untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah teknis maupun non-teknis yang mungkin timbul dalam jangka panjang. Dengan upaya tersebut, diharapkan inovasi ini dapat menjadi contoh praktik terbaik dalam pengelolaan limbah peternakan yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi.<\/p>\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><br \/>\nHidayat, M. (2022). Manajemen limbah peternakan berbasis lingkungan. Jakarta: Agro Media.<br \/>\nKementerian Pertanian. (2021). Data statistik peternakan nasional tahun 2021. Jakarta: Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.<br \/>\nNugroho, A. (2019). Pupuk organik dan teknik pengomposan limbah ternak. Yogyakarta: Graha Ilmu.<br \/>\nPrasetya, D. (2018). Peran mahasiswa dalam program pengabdian masyarakat berbasis teknologi tepat guna. Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, 3(2), 45\u201352. https:\/\/doi.org\/10.22219\/jpm.v3i2.12345<br \/>\nPutra, I. G., &amp; Rahayu, N. (2020). Edukasi pengelolaan limbah organik untuk peternak skala kecil. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 5(1), 34\u201342.<br \/>\nSantoso, B., Rahman, T., &amp; Lestari, W. (2021). Optimalisasi fermentasi aerobik dalam produksi kompos dari kotoran ternak. Jurnal Ilmu Lingkungan dan Pertanian, 9(3), 112\u2013120. https:\/\/doi.org\/10.31227\/jilp.v9i3.327<br \/>\nSetyawan, H., &amp; Nugroho, D. (2021). Efektivitas pengomposan limbah ternak dengan metode drum plastik tertutup. Agroindustri Jurnal, 7(2), 88\u201396. https:\/\/doi.org\/10.1234\/agroindustri.v7i2.789<br \/>\nSiregar, A. R. (2023). Pengembangan teknologi tepat guna berbasis kearifan lokal. Jurnal Teknologi Sosial, 4(1), 23\u201331. https:\/\/doi.org\/10.25077\/jts.4.1.23-31.2023<br \/>\nSutrisno, E. (2021). Analisis dampak pengomposan terhadap emisi gas rumah kaca dari sektor peternakan. Jurnal Ilmu Peternakan dan Lingkungan, 12(1), 51\u201359. https:\/\/doi.org\/10.1234\/jipl.v12i1.678<br \/>\nWidodo, S., &amp; Lestari, F. (2020). Teknologi tepat guna bagi UMKM pertanian dan peternakan: Konsep dan implementasi. Jurnal Inovasi Teknologi Tepat Guna, 2(2), 17\u201325.<br \/>\nYani, M., &amp; Bariroh, L. (2021). Kualitas kompos dari limbah kotoran sapi menggunakan starter EM4. Jurnal Bioteknologi Lingkungan, 6(1), 40\u201347.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Abim Satria\u00b9, Nanda Khonikmatu Isroi\u00b2, Aisyah Aulia Rosa\u00b3, Muhammad Muqorrobin Ikhsan\u2074, Aurellia Salsabila\u2075 Dosen Pembimbing Lapangan : Dr. Angga Dutahatmaja \uf0d8 Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya \uf0d8 Mahasiswa Manajemen Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya \uf0d8 Mahasiswa Administrasi Niaga Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya \uf0d8 Mahasiswa Arsitektur Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya \uf0d8 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":532,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"hide","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"0","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","number_popup_post":"3","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"1","override_template":"1","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-19875","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19875","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19875"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19875\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19875"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19875"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19875"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}