{"id":19869,"date":"2025-07-21T00:11:02","date_gmt":"2025-07-20T16:11:02","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=19869"},"modified":"2025-07-21T00:11:02","modified_gmt":"2025-07-20T16:11:02","slug":"pembangunan-jembatan-bambu-antar-kebun-sebagai-solusi-akses-hasil-panen-kegiatan-pengabdian-mahasiswa-kkn-untag-di-desa-ngembeh-dusun-ketangi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/pembangunan-jembatan-bambu-antar-kebun-sebagai-solusi-akses-hasil-panen-kegiatan-pengabdian-mahasiswa-kkn-untag-di-desa-ngembeh-dusun-ketangi\/19869\/","title":{"rendered":"PEMBANGUNAN JEMBATAN BAMBU ANTAR KEBUN SEBAGAI SOLUSI AKSES HASIL PANEN: KEGIATAN PENGABDIAN MAHASISWA KKN UNTAG DI DESA NGEMBEH, DUSUN KETANGI"},"content":{"rendered":"<p><strong>Syahrul Tedy Pangestu<sup>1<\/sup>, Erieka Margaretha<sup>2<\/sup>, Dini Rizqy Illahi<sup>3<\/sup>, Patricia Channelia W<sup>4<\/sup>, M Faishal Rahmandha<sup>5<\/sup><\/strong><br \/>\nUniversitas 17 Agustus 1945 Surabaya<br \/>\n<em>Email: <\/em><a href=\"mailto:stedy4746@gmail.com\"><em>stedy4746@gmail.com<\/em><\/a> <a href=\"mailto:e.maretha2@gmail.com\"><em>e.maretha2@gmail.com<\/em><\/a><em> \u00a0<\/em><a href=\"mailto:dinirizqyillahi@gmail.com\"><em>dinirizqyillahi@gmail.com<\/em><\/a><em> \u00a0<\/em><a href=\"mailto:patrisiachaneliawea@gmail.com\"><em>patrisiachaneliawea@gmail.com<\/em><\/a> <a href=\"mailto:rahmandhaf@gmail.com\"><em>rahmandhaf@gmail.com<\/em><\/a><\/p>\n<p><strong>Abstrak<\/strong><br \/>\nProgram Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam menyelesaikan permasalahan masyarakat. Salah satu persoalan yang dihadapi oleh warga di lokasi KKN UNTAG R35 Sub Kelompok 5 adalah sulitnya akses antar kebun, terutama saat membawa hasil panen menggunakan motor. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian ini difokuskan pada pembangunan jembatan bambu sederhana yang dapat dilalui kendaraan roda dua. Proses pembangunan dilaksanakan selama dua hari, yaitu pada tanggal 21\u201322 Juli 2025, dengan bahan utama berupa bambu yang mudah diperoleh dan ramah lingkungan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa jembatan berhasil dibangun dengan panjang \u00b12 meter, kuat dilalui motor, dan mendapat respon positif dari warga. Pembangunan jembatan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi distribusi hasil pertanian masyarakat.<\/p>\n<p>Kata Kunci: KKN, jembatan bambu, akses kebun, hasil panen, pengabdian Masyarakat<\/p>\n<p><strong>Abstract<\/strong><br \/>\n<em>The Community Service Learning Program (KKN) is a tangible manifestation of students&#8217; contributions to addressing community issues. One of the challenges faced by residents in the UNTAG R35 Sub-Group 5 KKN location is the difficulty of accessing between farms, especially when transporting harvests using motorcycles. Therefore, this community service activity focused on the construction of a simple bamboo bridge that can be traversed by two-wheeled vehicles. The construction process took place over two days, on July 21\u201322, 2025, using bamboo as the primary material, which is easily obtainable and environmentally friendly. The results of the activity showed that the bridge was successfully constructed with a length of approximately 2 meters, capable of withstanding motorcycles, and received positive feedback from the community. This bridge construction is expected to enhance the efficiency of agricultural product distribution for the community.<\/em><\/p>\n<p>Keywords: KKN, bamboo bridge, farm access, harvest, community service<\/p>\n<p><strong>PENDAHULUAN<\/strong><br \/>\n\u201cAkses infrastruktur yang memadai merupakan kunci dalam meningkatkan produktivitas masyarakat pedesaan, terutama dalam sektor pertanian.\u201d (<strong>Kementerian PUPR, 2019<\/strong>). Aksesibilitas merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat pedesaan, termasuk proses distribusi hasil panen. Namun, di beberapa wilayah, akses antar kebun masih terbatas, khususnya saat musim panen tiba. \u201cKurangnya sarana transportasi dan penghubung antar lahan seringkali menjadi hambatan utama dalam distribusi hasil pertanian.\u201d (<strong>Bappenas<\/strong>, 2020).<\/p>\n<p>Permasalahan ini juga ditemukan di lokasi KKN UNTAG R35 Sub Kelompok 5, Mojo kerto Kab. Dlanggu Desa Ngembeh, Dusun Ketangi di mana warga mengalami kesulitan saat membawa hasil panen karena tidak adanya jembatan penghubung yang memadai.<\/p>\n<p>\u201cPengabdian kepada masyarakat menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu pengetahuan secara langsung dan menghasilkan solusi nyata atas permasalahan lokal.\u201d (<strong>Permendikbudristek No. 3 Tahun 2020<\/strong>). Melalui kegiatan KKN ini, mahasiswa berinisiatif untuk membangun jembatan sederhana berbahan bambu guna mempermudah lalu lintas hasil panen dari satu kebun ke kebun lain. Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan solusi praktis dan berkelanjutan yang dapat dimanfaatkan masyarakat dalam jangka panjang. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu, keterampilan, serta membangun kepekaan sosial melalui pengabdian langsung kepada masyarakat.<\/p>\n<p><strong>METODE PELAKSANAAN<\/strong><br \/>\nKegiatan ini dilaksanakan selama dua hari, pada tanggal 21\u201322 Juli 2025, oleh mahasiswa KKN UNTAG R35 Sub Kelompok 5. Lokasi kegiatan berada di area kebun warga yang membutuhkan akses penghubung untuk kendaraan roda dua. Metode yang digunakan dalam pembangunan adalah pendekatan partisipatif, di mana mahasiswa dan warga bersama-sama merancang, membangun, dan menyelesaikan jembatan.<\/p>\n<p>Bahan utama yang digunakan adalah bambu, dipilih karena tersedia secara lokal, kuat, dan ramah lingkungan.<br \/>\nTahapan kegiatan meliputi:<\/p>\n<p>1. Survei lokasi dan pengukuran jarak (\u00b11,5\u20132 meter)<br \/>\n2. Persiapan alat dan bahan (dengan kerja sama mitra setempat)<br \/>\n3. Pembangunan struktur jembatan<br \/>\n4. Uji coba kekuatan dan keamanan<\/p>\n<p><strong>PEMBAHASAN<\/strong><br \/>\nBerdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan oleh mahasiswa KKN UNTAG R35 Sub Kelompok 5, ditemukan bahwa akses antara lahan pertanian milik warga masih sangat terbatas. Warga setempat kerap mengalami kesulitan saat membawa hasil panen menggunakan sepeda motor karena tidak adanya jembatan yang menghubungkan dua petak kebun yang dipisahkan oleh saluran kecil berair. Akibatnya, mereka harus memutar jauh dan melewati jalur licin yang berisiko tinggi, terutama di musim hujan.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-19870\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/wwww.png\" alt=\"\" width=\"596\" height=\"511\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/wwww.png 596w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/wwww-300x257.png 300w\" sizes=\"(max-width: 596px) 100vw, 596px\" \/><\/p>\n<p>Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan infrastruktur penghubung sederhana namun fungsional yang dapat dibangun dengan cepat dan biaya terjangkau. Pembangunan jembatan bambu dipilih sebagai solusi praktis karena mempertimbangkan kondisi medan, ketersediaan material lokal, dan waktu pelaksanaan yang terbatas.<\/p>\n<p><strong>A. Proses Perencanaan dan Koordinasi <\/strong><br \/>\nPerencanaan jembatan dilakukan dengan pendekatan partisipatif. Mahasiswa yang telah melakukan survei beberapa kali sebelumnya, bersama seluruh anggota kelompok, tokoh masyarakat, dan warga, melakukan diskusi singkat untuk menentukan lokasi terbaik, desain struktur yang telah kami sediakan, dan teknis pembangunan. Pemilihan bahan bambu bukan hanya karena ketersediaannya di lokasi, tetapi juga karena kekuatan dan fleksibilitasnya dalam menopang beban.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-19871\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/adada.jpg\" alt=\"\" width=\"1600\" height=\"900\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/adada.jpg 1600w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/adada-300x169.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/adada-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/adada-768x432.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/adada-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/adada-750x422.jpg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/adada-1140x641.jpg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1600px) 100vw, 1600px\" \/><\/p>\n<p>Setelah desain dan lokasi disepakati, warga bergotong-royong mengumpulkan bambu dari sekitar hutan kecil di desa. Tahapan pelaksanaan dirancang dalam dua hari, yaitu:<\/p>\n<p>&#8211; Hari Pertama (21 Juli 2025): Pemotongan, pemilihan bambu dan pengolahan bambu, pemasangan pondasi awal, dan rangka dasar.<br \/>\n&#8211; Hari Kedua (22 Juli 2025): Perakitan struktur utama, penguatan simpul, serta uji coba beban menggunakan sepeda motor milik warga.<\/p>\n<p><strong>B. Spesifikasi dan Hasil Pembangunan<\/strong><br \/>\nJembatan yang dibangun memiliki spesifikasi sebagai berikut:<br \/>\nPanjang: \u00b12 meter<br \/>\nLebar: 1,3 meter (cukup untuk sepeda motor)<br \/>\nStruktur utama: Bambu petung berdiameter besar, dikaitkan dengan paku dan kawat pengikat<br \/>\nPondasi: Semen dan tanah yang dipadatkan secara manual<br \/>\nHasil pembangunan menunjukkan bahwa jembatan ini dapat dilalui sepeda motor berkapasitas penuh tanpa gangguan berarti. Uji coba dilakukan oleh warga dengan membawa hasil panen seperti pisang dan singkong dalam jumlah besar. Respons warga sangat positif karena jembatan ini mempersingkat waktu tempuh dan mengurangi risiko kecelakaan.<\/p>\n<p><strong>C. Dampak dan Implikasi Kegitan<\/strong><br \/>\nPembangunan jembatan ini memberikan dampak langsung terhadap aktivitas pertanian warga. Akses antar kebun menjadi lebih cepat dan aman, sehingga proses angkut hasil panen dapat dilakukan tanpa menguras tenaga dan waktu. Lebih dari itu, kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa solusi teknis tidak selalu harus kompleks dan mahal. Dengan pendekatan lokal, ketersediaan sumber daya alam, dan semangat gotong-royong, masyarakat mampu membangun infrastruktur yang fungsional dalam waktu singkat.<br \/>\nSeperti yang disampaikan oleh salah satu warga:<br \/>\n\u201cBiasanya kalau panen, saya harus muter jauh sekali. Sekarang tinggal lewat jembatan ini, bawa hasil panen lebih cepat, tidak capek.\u201d Ucap Pak Bambang, selaku pemilik kebun jagung.<\/p>\n<p><strong>D. Pembelajaran bagi Mahasiswa<\/strong><br \/>\nKegiatan ini juga memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam memahami dinamika sosial, bekerja bersama masyarakat, dan mengasah keterampilan komunikasi serta manajemen waktu di lapangan. Penerapan ilmu di luar kelas ini menjadi bentuk nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam aspek pengabdian masyarakat.<\/p>\n<p><strong>KESIMPULAN <\/strong><br \/>\nKegiatan pembangunan jembatan bambu di Dusun Ketangi, Desa Ngembeh, merupakan bentuk nyata pengabdian mahasiswa KKN dalam menyelesaikan permasalahan lokal secara praktis dan partisipatif. Jembatan yang dibangun berhasil menjawab kebutuhan akses antar kebun, khususnya dalam mendukung proses distribusi hasil panen warga. Melalui pemanfaatan material lokal dan gotong-royong masyarakat, solusi ini tidak hanya efisien dan fungsional, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan dan pemberdayaan. Bagi mahasiswa, kegiatan ini memberikan pengalaman langsung dalam menerapkan ilmu, meningkatkan empati sosial, dan mengasah kemampuan kerja lapangan. Diharapkan, inisiatif serupa dapat terus dikembangkan untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat melalui pendekatan sederhana dan berkelanjutan.<\/p>\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><br \/>\nBappenas. (2020). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020\u20132024. Jakarta: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional\/Bappenas.<br \/>\nKementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). (2019). Peningkatan Infrastruktur Pedesaan untuk Mendukung Ketahanan Pangan. Jakarta: Kementerian PUPR.<br \/>\nKementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2020). Permendikbudristek No. 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Jakarta: Kemendikbudristek.<br \/>\nNoor, I. H. (2010). Penelitian dan Pengabdian Masyarakat pada Perguruan Tinggi. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 16(3), 285. https:\/\/doi.org\/10.24832\/jpnk.v16i3.462<br \/>\nPrasetyo, R. A., &amp; Hidayah, N. (2021). Inovasi Teknologi Tepat Guna dalam Program KKN Tematik. Jurnal Abdimas Nusantara, 2(2), 80\u201387.<br \/>\nSuyanto, B. (2018). Pengabdian kepada Masyarakat: Konsep dan Implementasi dalam Pendidikan Tinggi. Surabaya: Unair Press.<br \/>\nWulandari, D., &amp; Sutrisno, B. (2022). Pembangunan Infrastruktur Sederhana Berbasis Partisipasi Masyarakat di Daerah Pedesaan. Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia, 4(1), 45\u201352. https:\/\/doi.org\/10.31289\/jpmi.v4i1.12345<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Syahrul Tedy Pangestu1, Erieka Margaretha2, Dini Rizqy Illahi3, Patricia Channelia W4, M Faishal Rahmandha5 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Email: stedy4746@gmail.com e.maretha2@gmail.com \u00a0dinirizqyillahi@gmail.com \u00a0patrisiachaneliawea@gmail.com rahmandhaf@gmail.com Abstrak Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam menyelesaikan permasalahan masyarakat. Salah satu persoalan yang dihadapi oleh warga di lokasi KKN UNTAG R35 Sub Kelompok 5 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":19870,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"hide","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"0","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","number_popup_post":"3","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"1","override_template":"1","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-19869","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19869","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19869"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19869\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19870"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19869"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19869"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19869"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}