{"id":19780,"date":"2025-07-10T09:19:03","date_gmt":"2025-07-10T01:19:03","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=19780"},"modified":"2025-07-10T09:19:03","modified_gmt":"2025-07-10T01:19:03","slug":"kontainer-kamera-dan-kelas-sosial-narasi-para-eksportir-dalam-perspektif-cultural-studies","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/kontainer-kamera-dan-kelas-sosial-narasi-para-eksportir-dalam-perspektif-cultural-studies\/19780\/","title":{"rendered":"Kontainer, Kamera, dan Kelas Sosial: Narasi Para Eksportir dalam Perspektif Cultural Studies"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_19781\" aria-describedby=\"caption-attachment-19781\" style=\"width: 1025px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar1-13.jpg\" alt=\"\" width=\"1025\" height=\"683\" class=\"size-full wp-image-19781\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar1-13.jpg 1025w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar1-13-300x200.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar1-13-768x512.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar1-13-750x500.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 1025px) 100vw, 1025px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-19781\" class=\"wp-caption-text\">Sumber : Google<\/figcaption><\/figure>\n<p>Oleh: <strong>Muhammad Rafi Syafruddin<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Saat ini, media sosial tidak hanya tempat untuk hiburan atau pamer gaya hidup. Banyak anak muda justru menjadikannya sebagai panggung untuk menunjukkan jati diri dan ambisi. Salah satu tren yang menarik adalah kemunculan anak-anak muda yang menjadi seorang eksportir khususnya di komoditi arang. Mereka sering muncul di TikTok, YouTube, atau Instagram, membagikan aktivitas mereka mulai dari memuat kontainer, kirim-kirim ke luar negeri, sampai tips ekspor dengan modal kecil atau bahkan tanpa modal. Gaya yang mereka tampilkan sangatlah khas, yaitu mengenakan rompi dan helm proyek, senyum penuh percaya diri di depan kontainer, dengan menggunakan caption motivasi seperti \u201canak desa bisa ekspor?\u201d. Dari sini, terlihat jelas bahwa mereka ingin membentuk citra diri sebagai anak muda sukses yang bisa bersaing di pasar global, langsung dari desa. Ini yang disebut oleh Stuart Hall sebagai \u201crepresentasi identitas\u201d cara seseorang menunjukkan siapa dirinya lewat simbol, bahasa, dan aksi.<\/p>\n<p>Tapi, kita juga perlu jeli dalam melihat, bahwa tidak semua orang dapat melakukan hal tersebut. Seperti kata Gramsci, ada sistem kekuasaan yang tersembunyi di balik narasi sukses. Kesannya semua orang bisa jadi eksportir jika mereka rajin dan mau belajar. Akan tetapi, kenyataannya tidak semua orang memiliki akses jaringan, modal, atau fasilitas produksi. Jadi, walaupun inspiratif, cerita sukses ini dapat menutupi realita bahwa banyak anak muda lain masih kesulitan memulai. Mengutip dari perkataan Foucault bahwa kekuasaan itu tidak hanya menekan, tetapi juga membentuk cara kita berpikir dan bertindak. Nah, anak-anak muda ini secara tidak langsung menjadi contoh ideal anak muda produktif zaman sekarang, yaitu aktif, kreatif, melek teknologi, dan dapat monetisasi lewat konten. Tapi di balik itu semua, mereka tetap bermain di sistem yang dikendalikan algoritma dan pasar digital.<\/p>\n<p>Menariknya, komunitas eksportir ini juga memiliki gaya dan istilah khas. Mereka menggunakan bahasa-bahasa seperti \u201cFOB\u201d, \u201cbuyer luar\u201d, \u201ccopy BL\u201d, \u201cLOI\u201d yang membuat mereka memiliki identitas sendiri. Ini mirip seperti subkultur, di mana sekelompok orang punya gaya dan cara berpikir yang berbeda dari arus utama. Tapi seperti subkultur lainnya, lama-lama gaya ini bisa dikomersialisasi. Misalnya, banyak yang ikut-ikutan bikin konten ekspor demi viral, bukan karena benar-benar jalani prosesnya. Fenomena ini jadi contoh bahwa budaya populer itu tempat perebutan makna. Di satu sisi, anak muda yang menjadi eksportir dapat dilihat sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem lama , mereka tidak bekerja di kantor, tapi bisa punya penghasilan besar dari desa. Tapi di sisi lain, jika semua hanya fokus pada kesuksesan pribadi, kita bisa lupa bahwa tidak semua orang memiliki peluang yang sama.<\/p>\n<p>Maka dari itu, penting bagi kita untuk tetap kritis. Tidak hanya melihat dan kagum, akantetapi juga diimbangi dengan pertanyaan yang realistis seperti \u201ckenapa bisa mereka sukses?\u201d, \u201cApa yang bikin orang lain nggak bisa?\u201d, \u201cApa yang perlu diperbaiki dari sistem supaya lebih banyak anak muda bisa ikut ekspor?\u201d. Sebagai langkah nyata, kita bisa mendorong pemerintah dan lembaga pendidikan untuk membantu membuka akses yang luas seperti mengadakan pelatihan, membuka jalur distribusi, dan memberi ruang untuk anak muda dari berbagai latar belakang. Jangan hanya memberikan motivasi, tapi juga solusi. Karena di balik setiap video kontainer para eksportir yang viral, ada cerita lebih besar yang perlu kita pahami, yakni soal siapa yang punya kesempatan, dan siapa yang masih harus berjuang lebih keras.<\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong><br \/>\nAmrina, D. H. (2024, Maret 25). <em>Kisah Sukses Ella Rizki Berdayakan para Ibu di Desa Hingga Ekspor ke Luar Negeri<\/em>. Diambil kembali dari Surat Dunia: https:\/\/suratdunia.com\/2024\/03\/25\/kisah-sukses-ella-rizki-berdayakan-para-ibu-di-desa-hingga-ekspor-ke-luar-negeri\/<\/p>\n<p>Nadya, K. (2023, 10 03). <em>Kisah Inspiratif Pemuda 18 Tahun Berani Jadi Eksportir dan Meraup Omzet Rp500 Juta<\/em>. Diambil kembali dari IDX Chanel: https:\/\/www.idxchannel.com\/inspirator\/kisah-inspiratif-pemuda-18-tahun-berani-jadi-eksportir-dan-meraup-omzet-rp500-juta<\/p>\n<p>Nalida, N. (2025, Juni 02). <em>Ekspor Butuh Modal?<\/em> Diambil kembali dari Tiktok: https:\/\/vt.tiktok.com\/ZSHbXnKgn5GvQ-WTt69\/<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Muhammad Rafi Syafruddin JurnalPost.com &#8211; Saat ini, media sosial tidak hanya tempat untuk hiburan atau pamer gaya hidup. Banyak anak muda justru menjadikannya sebagai panggung untuk menunjukkan jati diri dan ambisi. Salah satu tren yang menarik adalah kemunculan anak-anak muda yang menjadi seorang eksportir khususnya di komoditi arang. Mereka sering muncul di TikTok, YouTube, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":19781,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-19780","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19780","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19780"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19780\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19781"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19780"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19780"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19780"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}