{"id":19732,"date":"2025-07-07T22:23:59","date_gmt":"2025-07-07T14:23:59","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=19732"},"modified":"2025-07-07T22:23:59","modified_gmt":"2025-07-07T14:23:59","slug":"media-populer-webtoon-lookism-terhadap-representasi-dan-identitas-menurut-stuart-hall","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/media-populer-webtoon-lookism-terhadap-representasi-dan-identitas-menurut-stuart-hall\/19732\/","title":{"rendered":"Media Populer Webtoon Lookism terhadap Representasi dan Identitas Menurut Stuart Hall"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar1-5.png\" alt=\"\" width=\"602\" height=\"338\" class=\"aligncenter size-full wp-image-19733\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar1-5.png 602w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar1-5-300x168.png 300w\" sizes=\"(max-width: 602px) 100vw, 602px\" \/><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong>  Budaya Pop atau bisa disebut dengan Pop Culture merupakan tradisi atau budaya material di suatu masyarakat tertentu yang disukai oleh banyak orang dan mencerminkan dinamika sosial, nilai &#8211; nilai serta isu &#8211; isu sosial yang berkembang dalam masyarakat. Salah satu budaya populer yang berkembang di masyarakat ialah Webtoon. Komik webtoon biasanya melakukan cara dengan mengangkat berbagai isu sosial dalam cerita-ceritanya. Pada saat ini komik Webtoon sangat mendapat perhatian global ialah <em>\u201cLookism\u201d, <\/em>komik ini merupakan salah satu komik Korea Selatan karya Park Tae Jun yang dipublikasi pada tahun 2014 melalui platform Webtoon.<\/p>\n<p><strong>Representasi Menurut Stuart Hall Terhadap Komik <em>Lookism<\/em><\/strong><br \/>\nMenurut Stuart Hall, \u201crepresentasi merupakan kemampuan dalam mengambarkan suatu fenomena atau isu yang terjadi di masyarakat\u201d. Dalam hal ini, Lookism secara umum mengambarkan realitas sosial khususnya di Korea Selatan, salah satu nya ialah tentang tekanan keras pada standar kecantikan. Komik ini dengan jelas menyindir bahwa hidup akan lebih damai ketika kamu lahir dengan ganteng maupun kaya, dan sebaliknya hidup kamu akan terasa lebih berat ketika kamu lahir dalam kondisi yang dianggap \u201cbiasa saja\u201d memiliki wajah jelek dan juga ekonomi dibawah rata &#8211; rata. Hal ini, sejalan dengan pendapat Hall (1997 : 15) yang mengatakan bahwa representasi reflektif merupakan bahasa maupun simbol yang mencerminkan makna. Dalam konteks Lookism, representasi mengenai status sosial dan tubuh ideal tidak hanya mengambarkan realitas di masyarakat sosial, tetapi juga dapat\u00a0 membentuk cara pandang pembaca terhadap, benarkah kelas sosial sosial itu penting?, tubuh dan identitas diri apakah sepenting itu? Dan kita mulai percaya mereka yang dianggap diluar dari standart itu? Ya akan dianggap kurang.<\/p>\n<p><strong>Saat Tubuh Menentukan Siapa Kita? <\/strong><br \/>\nMelalui karakter utama yang dibikin oleh Park Tae Jun bernama Park Hyung Seok, pembaca disuguhkan dengan gambaran nyata tentang bagaimana makna antara \u201cberharga\u201d dan \u201ctidak berharga\u201d dibentuk oleh masyarakat berdasarkan dengan penampilan fisik?, ketika hyung seok memakai tubuh nya yang asli dia akan sering dilecehkan dan dianggap tidak dihormati, sedangkan ketika ia menggunakan tubuh kedua yang \u201cideal\u201d, ia tiba tiba menjadi dihormati. Dalam fenomena ini, dapat ditunjukan bahwa media populer seperti komik Lookism tidak hanya memotret realitas sosial, namun juga mengkritis sistem nilai yang berlaku di masyarakat, temasuk pada standar kecantikan yang toxic. Contoh lainya terlihat pada karakter bernama Vasco, karakter ini memiliki tubuh layaknya seperti preman. Dalam hal ini, orang yang memiliki identitas seperti Vasco akan digambarkan sebagai orang yang aneh, kasar, dan berbuat onar. Namun, pada kenyataannya Vasco memiliki sosok yang sangat lembut, peduli, dan penuh empati. Sayang nya pada realitas sosialnya mereka akan melihat identitas seseorang cuman dari luar.<\/p>\n<p><strong>Lookism Menjadi Refleksi Terhadap Identitas Sosial <\/strong><br \/>\nDalam hal ini, realitas yang dibangun dalam komik <em>Lookism<\/em> akan mengajak kita untuk merefleksikan sejauh mana kita, sebagai orang yang membentuk dan menilai identitas orang lain berdasarkan tampilan dari luar? Dalam Cultural Studies, karya dari <em>Park Tae Jun<\/em> menunjukan\u00a0 bahwa identitas bukanlah sesuatu yang tetap, namun di buat dan diproses secara terus menerus melalui representasi dan penerimaan masyarakat. Komik <em>Lookism<\/em> menjadi kritik tajam khususnya di Korea Selatan terhadap standar kecantikan yang hegemonik masih melekat kuat dan menjadi bentuk kekuasaan siapa yang layak untuk dihargai, dihormati dan dicintai?.<\/p>\n<p>Menurut Stuart Hall, representasi dalam media bukan hanya mencerminkan realitas, tetapi juga membentuk makna dan mempengaruhi cara masyarakat memandang identitas. Dalam hal ini, komik <em>Lookism<\/em> menyadarkan kita bahwa identitas bukanlah sesuatu yang tetap. namun di buat dan diproses secara terus menerus melalui representasi dan penerimaan masyarakat.<\/p>\n<p><strong>Revolusi Kecil<\/strong><br \/>\nMenurut saya, kita perlu mengedukasi masyarakat dalam menilai seseorang tidak pada penampilan fisik maupun kekayaan semata. Namun juga harus digeser melalui nilai &#8211; nilai seperti empati terhadap lingkungan sosial.<\/p>\n<p><strong>Daftar Isi<\/strong><br \/>\nLISTYA CITRA OCTORA, D. N. (2017). IDEALISME, IMPLEMENTASI DAN DISKRIMINASI MASYARAKAT KOREA TERHADAP PENAMPILAN DALAM WEBTOON LOOKISM (WAEMOJISANGJUEUI): KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA. <em>Universitas Gajah Mada<\/em>, 1-178.<\/p>\n<p>R, A. (2022, Juni 18). <em>Lookism: Webtun yang Menyajikan Sisi Gelap Korea Selatan dengan Gamblang<\/em>. Diambil kembali dari Mojok.co: https:\/\/mojok.co\/terminal\/lookism-webtun-yang-menyajikan-sisi-gelap-korea-selatan-dengan-gamblang\/<\/p>\n<p>Nugroho, W. B. (t.thn.). <em>Sekilas \u201cREPRESENTASI\u201d menurut Stuart Hall <\/em>. Diambil kembali dari Sanglah Institute: https:\/\/www.sanglah-institute.org\/2020\/04\/sekilas-representasi-menurut-stuart-hall.html<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com Budaya Pop atau bisa disebut dengan Pop Culture merupakan tradisi atau budaya material di suatu masyarakat tertentu yang disukai oleh banyak orang dan mencerminkan dinamika sosial, nilai &#8211; nilai serta isu &#8211; isu sosial yang berkembang dalam masyarakat. Salah satu budaya populer yang berkembang di masyarakat ialah Webtoon. Komik webtoon biasanya melakukan cara dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":19733,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-19732","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19732","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19732"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19732\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19733"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19732"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19732"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19732"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}