{"id":19723,"date":"2025-07-07T22:06:22","date_gmt":"2025-07-07T14:06:22","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=19723"},"modified":"2025-07-07T22:46:25","modified_gmt":"2025-07-07T14:46:25","slug":"ketika-kostum-menjadi-senjata-kaum-tertindas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/ketika-kostum-menjadi-senjata-kaum-tertindas\/19723\/","title":{"rendered":"Ketika Kostum Menjadi Senjata Kaum Tertindas"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-19726\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar3-1.png\" alt=\"\" width=\"660\" height=\"367\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar3-1.png 660w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar3-1-300x167.png 300w\" sizes=\"(max-width: 660px) 100vw, 660px\" \/><\/p>\n<p><strong><em>Oleh: Louisa Novilia Harsono, <\/em><\/strong><strong>Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial &amp; Ilmu Politik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya untuk menyelesaikan UAS Media &amp; Cultural Studies<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Siapa yang tidak tahu series film korea yang berjudul SquidGame? <em>Squid Game<\/em>\u00a0(2021) adalah serial thriller survival Korea Selatan yang menyihir dunia lewat metafora brutal,dimana serial ini mengisahkan sekelompok orang yang tengah mengalami krisis finansial dan diundang untuk mengikuti serangkaian permainan anak-anak tradisional Korea dengan hadiah utama sebesar 45,6 miliar won. Namun, permainan tersebut ternyata mematikan dimana peserta yang kalah akan dieksekusi di tempat. Lebih dari sekadar tontonan hiburan, Netflix&#8217;s\u00a0<em>Squid Game<\/em>\u00a0bukan sekadar sensasi global, ia adalah fenomena budaya yang memantulkan kegelisahan zaman. Di balik estetika permainan anak-anak yang nostalgis dan kekerasan yang spektakuler, tersembunyi lapisan kompleks relasi kuasa, representasi, dan potensi resistensi yang layak dikupas melalui kacamata Cultural Studies.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-19726\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar3-1.png\" alt=\"\" width=\"660\" height=\"367\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar3-1.png 660w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar3-1-300x167.png 300w\" sizes=\"(max-width: 660px) 100vw, 660px\" \/><\/p>\n<p>Ketika buruh Korea Selatan mengarak peti mati bertuliskan &#8220;456&#8221; (nomor peserta utama\u00a0<em>Squid Game<\/em>) dalam unjuk rasa upah (2021), atau anak-anak di Chili memakai jumpsuit hijau sambil memprotes ketimpangan pendidikan, kita menyaksikan fenomena langka: hiburan populer berubah menjadi amunisi perlawanan. Siapa sangka jumpsuit hijau-merah\u00a0<em>Squid Game<\/em> simbol penindasan dalam serial Netflix itu justru dikenakan buruh Korea Selatan dalam aksi unjuk rasa upah? Fenomena ini bukan sekadar &#8220;viral&#8221;, melainkan bukti nyata\u00a0<strong>budaya populer sebagai medan perang makna<\/strong>. Melalui lensa Dick Hebdige (<em>Subculture: The Meaning of Style<\/em>), kita akan menguak bagaimana simbol komersial dirampas jadi senjata perlawanan.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-19725\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar4.jpg\" alt=\"\" width=\"660\" height=\"343\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar4.jpg 660w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar4-300x156.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 660px) 100vw, 660px\" \/><\/p>\n<p>Simbol series ini dijadikan senjata Melawan Kekuasaan sebagai konflik makna, dimana Series ini mengubah komoditas menjadi Kritik. Perlawanan ini tidak berakhir di Korea. Di Chile, aktivis pendidikan mengenakan topeng karakter Squid Game dan membuat lingkaran yang menyerupai permainan &#8220;Lampu Merah-Lampu Hijau&#8221; atau kita kenal dengan \u201d Red Light \u2013 Green Light\u201d menggunakan simbol Korea untuk mengecam masyarakat setempat. Fenomena ini menunjukkan budaya populer sebagai bentuk perlawanan universal terhadap <strong><em>kapitalisme global.<\/em><\/strong> Di dunia digital, meme <strong><em>&#8220;Jika Squid Game terjadi di negaraku&#8230;&#8221;<\/em><\/strong> yang membandingkan utang fiksi dengan masalah nyata (kartu kredit, KPR), berfungsi sebagai alat untuk menunjukkan kekerasan sistem ekonomi yang telah menjadi hal biasa bahkan mirip bagaimana punk mengubah peniti menjadi simbol perlawanan.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-19728\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar1-8.jpg\" alt=\"\" width=\"692\" height=\"294\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar1-8.jpg 692w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar1-8-300x127.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 692px) 100vw, 692px\" \/><\/p>\n<p>Hebdige mengingatkan <strong><em>\u201dresistensi kultural harus berlanjut ke aksi sistematis\u201d.<\/em><\/strong> Transformasi &#8220;<strong><em>gaya<\/em><\/strong>&#8221; ke <strong><em>politik institusional<\/em><\/strong> diperlukan, seperti koordinasi aksi simbolik dengan gerakan buruh, seperti serikat Korea yang memakai momentum Squid Game untuk negosiasi upah. Masyarakat perlu literasi media kembali, tak sekadar memakai jumpsuit, tapi juga memproduksi konten edukatif Sabotase kreatif terhadap komodifikasi bisa dilakukan dengan membajak tagar <strong><em>#SquidGame <\/em><\/strong>untuk kampanye nyata: <strong><em>&#8220;Donasi untuk korban PHK, bukan beli merchandise Netflix!&#8221;<\/em><\/strong> , Selain itu, Jaringan global aktivis lintas negara (Korea-Chile-Brasil) juga perlu dibangun agar tekanan berskala internasional.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-19724\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar5.jpg\" alt=\"\" width=\"318\" height=\"159\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar5.jpg 318w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Gambar5-300x150.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 318px) 100vw, 318px\" \/><\/p>\n<p>Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga perlu jujur bertanya: apakah kita memakai simbol-simbol perlawanan karena benar-benar memahami maknanya, atau sekadar ikut tren? Jangan sampai kita menjadi penonton pasif yang hanya meniru estetika pemberontakan tanpa memahami konteksnya. Memakai jumpsuit ala Squid Game untuk konten Instagram, tanpa empati pada buruh yang sebenarnya berjuang dengan itu, adalah bentuk pengosongan makna yang justru memperkuat logika konsumsi yang semula dikritik. \u00a0Jangan jadikan perlawanan sekadar kostum. Jadikan ia kompas moral yang menuntun tindakan kita, sekecil apa pun itu.<\/p>\n<p><strong><em>Budaya populer bisa jadi petir yang menyulut api perlawanan. Tugas kita? Memastikan api itu tak sekadar jadi hiburan layar kaca, tapi membakar sistem yang tak adil.<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Artikel ini terinspirasi oleh protes buruh Korea Selatan (2021) dan riset Dick Hebdige tentang subkultur.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Louisa Novilia Harsono, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial &amp; Ilmu Politik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya untuk menyelesaikan UAS Media &amp; Cultural Studies JurnalPost.com &#8211; Siapa yang tidak tahu series film korea yang berjudul SquidGame? Squid Game\u00a0(2021) adalah serial thriller survival Korea Selatan yang menyihir dunia lewat metafora brutal,dimana serial ini mengisahkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":19728,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-19723","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19723","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19723"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19723\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19728"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19723"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19723"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19723"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}