{"id":19720,"date":"2025-07-07T18:48:19","date_gmt":"2025-07-07T10:48:19","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=19720"},"modified":"2025-07-07T18:48:19","modified_gmt":"2025-07-07T10:48:19","slug":"girlpower-di-era-algoritma-feminisme-ala-tiktok","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/girlpower-di-era-algoritma-feminisme-ala-tiktok\/19720\/","title":{"rendered":"#GirlPower di Era Algoritma: Feminisme ala TikTok"},"content":{"rendered":"<p>Oleh : <strong>Ariq Wahyu Eka Putra<\/strong> (Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya) <\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Dalam satu dekade terakhir, TikTok telah menjadi fenomena budaya populer yang mendominasi lanskap media sosial global. Dengan lebih dari satu miliar pengguna aktif bulanan pada tahun 2025, platform ini telah mengubah cara orang mengonsumsi, memproduksi, dan menyebarkan konten budaya. Salah satu tren yang menonjol di TikTok adalah munculnya konten feminis, yang mencakup video pendek tentang isu-isu seperti kesetaraan gender, pelecehan seksual, standar kecantikan, dan perlawanan terhadap patriarki. Tren ini, yang sering disebut sebagai &#8220;TikTok feminis,&#8221; mencerminkan perpaduan unik antara hiburan, aktivisme, dan ekspresi identitas. Namun, sebagai produk budaya populer, tren ini tidak bebas dari kontradiksi dan kompleksitas. Menggunakan perspektif Cultural Studies, tulisan ini akan menganalisis tren TikTok feminis melalui lensa relasi kekuasaan, diskursus media, representasi identitas, dan potensi emansipatorisnya, dengan tujuan memahami bagaimana platform ini merefleksikan, mempertahankan, atau menantang struktur hegemonik dalam masyarakat kontemporer.<\/p>\n<p>TikTok, sebagai platform yang didorong oleh algoritma, menawarkan ruang yang demokratis sekaligus terkontrol untuk ekspresi budaya. Konten feminis di TikTok sering kali muncul dalam bentuk video pendek yang menggunakan humor, lip-sync, tarian, atau narasi langsung untuk menyampaikan pesan-pesan tentang pemberdayaan perempuan, kritik terhadap norma gender, atau pengalaman personal terkait diskriminasi. Namun, popularitas tren ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan gerakan feminis dalam menembus ruang digital, tetapi juga menimbulkan pertanyaan kritis: Apakah TikTok feminis benar-benar merupakan bentuk resistensi terhadap patriarki, atau justru menjadi bagian dari hegemoni kapitalis dan budaya populer yang mengemas feminisme sebagai komoditas? Bagaimana representasi gender, ras, dan kelas dalam tren ini membentuk makna budaya? Dan yang terpenting, apa potensi emansipatoris dari fenomena ini dalam mendorong perubahan sosial yang nyata?<br \/>\nMenurut Antonio Gramsci, hegemoni adalah proses di mana kelompok dominan mempertahankan kekuasaannya melalui persetujuan budaya, bukan hanya melalui kekerasan atau paksaan. Dalam konteks TikTok feminis, hegemoni dapat dilihat dari cara platform ini, sebagai bagian dari industri kapitalis, mengatur produksi dan konsumsi konten. TikTok, yang dimiliki oleh ByteDance, sebuah perusahaan teknologi global, beroperasi dalam logika pasar yang mengutamakan keterlibatan pengguna (engagement) demi keuntungan finansial. Algoritma TikTok, yang dikenal sebagai &#8220;For You Page&#8221; (FYP), memainkan peran sentral dalam menentukan konten mana yang menjadi viral dan mana yang tenggelam. Dengan demikian, pesan-pesan feminis yang muncul di platform ini harus &#8220;diterima&#8221; oleh algoritma untuk mendapatkan visibilitas, yang sering kali berarti menyesuaikan diri dengan estetika dan format yang sesuai dengan selera pasar.<\/p>\n<p>Konten TikTok feminis sering kali mengadopsi pendekatan yang ringan, lucu, atau estetis untuk menarik perhatian audiens. Misalnya, video yang menggunakan tren suara populer atau tarian viral untuk menyampaikan pesan tentang kesetaraan gender cenderung lebih mudah masuk FYP dibandingkan video yang menggunakan pendekatan serius atau akademis. Hal ini mencerminkan hegemoni budaya populer, di mana feminisme harus &#8220;dibungkus&#8221; dalam format yang menghibur untuk diterima secara luas. Proses ini, yang sering disebut sebagai &#8220;commodification of feminism,&#8221; menunjukkan bagaimana kapitalisme menyerap ide-ide radikal dan mengubahnya menjadi produk konsumsi. Sebagai contoh, tagar seperti #GirlPower atau #FeministVibes sering digunakan untuk mempromosikan produk kecantikan atau pakaian, sehingga mengaburkan batas antara aktivisme dan komersialisme.<\/p>\n<p>Namun, hegemoni tidak berarti tidak adanya resistensi. Menurut Dick Hebdige, subkultur dapat menjadi situs perlawanan terhadap norma-norma dominan melalui praktik budaya yang menantang status quo. Dalam konteks TikTok feminis, banyak kreator menggunakan platform ini untuk mengkritik norma patriarkal secara eksplisit. Misalnya, video-video yang membahas pengalaman pelecehan seksual atau ketidaksetaraan upah sering kali menggunakan narasi personal untuk menyoroti isu sistemik. Salah satu contoh populer adalah tren &#8220;storytime&#8221; feminis, di mana pengguna menceritakan pengalaman mereka menghadapi diskriminasi gender di tempat kerja atau ruang publik. Video-video ini tidak hanya meningkatkan kesadaran, tetapi juga menciptakan solidaritas di antara pengguna, terutama perempuan muda, yang merasa terhubung melalui pengalaman bersama.<\/p>\n<p>Namun, resistensi ini tidak selalu murni atau bebas dari kontradiksi. Banyak konten TikTok feminis yang populer cenderung berfokus pada isu-isu yang relevan bagi audiens Barat, kelas menengah, dan kulit putih, sehingga mengabaikan perspektif perempuan dari kelompok marginal seperti perempuan kulit hitam, trans, atau dari negara berkembang. Hal ini mencerminkan hegemoni &#8220;feminisme mainstream&#8221; yang sering dikritik oleh para sarjana postkolonial seperti Chandra Talpade Mohanty, yang berargumen bahwa feminisme Barat cenderung menguniversalisasi pengalaman perempuan tanpa mempertimbangkan perbedaan kelas, ras, atau konteks budaya. Dengan demikian, walaupun TikTok feminis dapat menjadi alat resistensi, ia juga rentan direkuperasi oleh struktur kekuasaan yang lebih luas, baik melalui algoritma platform maupun melalui dinamika pasar.<\/p>\n<p>Menggunakan kerangka Michel Foucault, diskursus dapat dipahami sebagai sistem pengetahuan yang membentuk apa yang dianggap sebagai &#8220;kebenaran&#8221; dalam masyarakat. Dalam konteks TikTok feminis, diskursus media berperan dalam membentuk makna seputar gender, pemberdayaan, dan aktivisme. TikTok bukan hanya platform hiburan, tetapi juga ruang di mana makna budaya diproduksi, dinegosiasikan, dan disebarkan. Konten feminis di TikTok sering kali menggunakan bahasa visual dan naratif yang sederhana untuk menyampaikan pesan kompleks, seperti kritik terhadap budaya patriarkal atau standar kecantikan yang tidak realistis. Namun, format video pendek (15-60 detik) membatasi kedalaman diskusi, sehingga sering kali menghasilkan simplifikasi isu-isu kompleks.<\/p>\n<p>Sebagai contoh, banyak video TikTok feminis menggunakan tagar seperti #SmashThePatriarchy untuk menarik perhatian, tetapi pesan yang disampaikan sering kali terbatas pada slogan-slogan yang mudah dicerna. Hal ini mencerminkan apa yang oleh Foucault disebut sebagai &#8220;rezim kebenaran,&#8221; di mana hanya bentuk pengetahuan tertentu yang dianggap sah atau diterima dalam konteks tertentu. Dalam hal ini, rezim kebenaran TikTok cenderung memprioritaskan konten yang singkat, menarik, dan sesuai dengan tren estetika platform. Akibatnya, diskursus feminis di TikTok sering kali terjebak dalam logika &#8220;pop feminism,&#8221; yang lebih berfokus pada pemberdayaan individu daripada perubahan struktural.<\/p>\n<p>Namun, diskursus media di TikTok juga memiliki potensi untuk mengganggu narasi dominan. Banyak kreator menggunakan platform ini untuk mendekonstruksi stereotip gender melalui humor atau satire. Misalnya, video yang mengejek ekspektasi sosial terhadap Perempuan seperti tekanan untuk selalu tampil sempurna atau menjadi ibu rumah tangga yang ideal mampu menantang norma-norma patriarkal dengan cara yang mudah diakses oleh audiens muda. Selain itu, TikTok memungkinkan pengguna dari kelompok marginal untuk mengambil alih narasi dan memproduksi makna sendiri. Sebagai contoh, kreator trans dan non-biner menggunakan TikTok untuk mendidik audiens tentang identitas gender, menantang diskursus biner yang dominan dalam budaya populer.<\/p>\n<p>Namun, kekuatan diskursif TikTok tidak lepas dari kendali algoritma. Algoritma FYP tidak hanya menentukan visibilitas konten, tetapi juga membentuk jenis diskursus yang dianggap &#8220;layak&#8221; untuk disebarkan. Konten yang dianggap terlalu radikal atau kontroversial misalnya, video yang secara eksplisit mengkritik kapitalisme atau kolonialisme dalam konteks feminism cenderung kurang mendapatkan promosi dibandingkan konten yang lebih &#8220;aman&#8221; atau komersial. Dengan demikian, walaupun TikTok memungkinkan produksi makna yang beragam, ia juga mereproduksi struktur kekuasaan yang membatasi potensi diskursus kritis.<\/p>\n<p>Menurut Stuart Hall, representasi adalah proses di mana makna diciptakan melalui bahasa, gambar, dan simbol. Dalam konteks TikTok feminis, representasi identitas khususnya gender, ras, dan kelas memainkan peran penting dalam membentuk persepsi tentang feminisme itu sendiri. Banyak konten TikTok feminis berfokus pada pemberdayaan perempuan melalui narasi &#8220;self-love&#8221; atau &#8220;confidence,&#8221; yang sering kali diwujudkan melalui estetika visual seperti makeup, fashion, atau tarian. Namun, representasi ini sering kali mencerminkan standar kecantikan Barat yang dominan, yang menekankan tubuh ramping, kulit putih, dan fitur wajah tertentu.<\/p>\n<p>Hal ini menimbulkan masalah representasi, terutama ketika mempertimbangkan interseksionalitas. Kimberl\u00e9 Crenshaw, yang memperkenalkan konsep interseksionalitas, berargumen bahwa pengalaman diskriminasi tidak dapat dipahami hanya melalui satu kategori seperti gender, tetapi juga harus mempertimbangkan ras, kelas, dan faktor lainnya. Dalam konteks TikTok, banyak kreator feminis yang populer adalah perempuan kulit putih dari kelas menengah, yang pengalamannya tidak selalu mewakili realitas perempuan dari kelompok marginal. Misalnya, video tentang &#8220;pemberdayaan perempuan&#8221; yang berfokus pada karier atau kebebasan finansial sering kali mengabaikan realitas perempuan kelas pekerja atau perempuan dari negara berkembang, yang mungkin menghadapi hambatan struktural yang berbeda.<\/p>\n<p>Selain itu, representasi gender di TikTok feminis juga sering kali terjebak dalam biner laki-laki\/perempuan, meskipun ada upaya dari kreator non-biner dan trans untuk menantang norma ini. Video-video yang membahas identitas gender non-biner sering kali harus menggunakan bahasa atau estetika yang lebih &#8220;diterima&#8221; oleh audiens mainstream untuk mendapatkan traksi, yang menunjukkan bagaimana platform ini masih dibatasi oleh norma-norma hegemonik. Selain itu, representasi ras dalam TikTok feminis juga sering kali bermasalah. Banyak kreator kulit hitam atau Asia yang mengkritik bagaimana konten mereka kurang dipromosikan oleh algoritma dibandingkan konten dari kreator kulit putih, meskipun topiknya serupa.<\/p>\n<p>Kelas sosial juga menjadi faktor penting dalam representasi. Banyak konten TikTok feminis yang populer mengasumsikan akses ke sumber daya seperti waktu luang, teknologi, atau produk konsumen, yang tidak selalu tersedia bagi perempuan dari kelas pekerja. Misalnya, tren seperti &#8220;self-care&#8221; sering kali dikaitkan dengan produk-produk mahal seperti skincare atau liburan, yang tidak relevan bagi audiens dari latar belakang ekonomi yang lebih rendah. Dengan demikian, representasi dalam TikTok feminis sering kali mereproduksi hierarki sosial yang ada, meskipun secara tidak sengaja.<\/p>\n<p>Meskipun penuh dengan kontradiksi, tren TikTok feminis memiliki potensi emansipatoris yang signifikan. Salah satu kekuatan utama TikTok adalah kemampuannya untuk mendemokratisasi produksi konten. Tidak seperti media tradisional, yang sering kali dikendalikan oleh elit budaya atau korporasi, TikTok memungkinkan siapa saja dengan ponsel pintar untuk membuat dan menyebarkan konten. Hal ini telah memungkinkan perempuan dari berbagai latar belakang untuk berbagi cerita mereka, meningkatkan kesadaran tentang isu-isu gender, dan membangun komunitas solidaritas.<\/p>\n<p>Sebagai contoh, kampanye seperti #MeToo, yang awalnya muncul di Twitter, telah menemukan kehidupan baru di TikTok melalui video-video yang menceritakan pengalaman pelecehan seksual. Kampanye ini tidak hanya meningkatkan kesadaran, tetapi juga mendorong perubahan nyata, seperti munculnya kebijakan anti-pelecehan di beberapa institusi. Selain itu, TikTok telah menjadi ruang bagi subkultur feminis untuk berkembang, seperti komunitas kreator yang fokus pada isu-isu seperti kesehatan mental perempuan, hak reproduksi, atau kekerasan dalam rumah tangga. Komunitas ini sering kali menggunakan TikTok untuk mengedukasi audiens muda, yang mungkin tidak terpapar pada isu-isu ini melalui pendidikan formal.<\/p>\n<p>Namun, potensi emansipatoris ini tidak bebas dari tantangan. Salah satu masalah utama adalah ketergantungan pada algoritma, yang dapat membatasi jangkauan konten yang dianggap terlalu radikal. Selain itu, sifat sementara dari konten TikTok yang sering kali hilang dari perhatian setelah beberapa hari membuat sulit untuk mempertahankan momentum perubahan sosial. Untuk mengatasi hal ini, kreator perlu menemukan cara untuk mengarahkan audiens dari TikTok ke platform atau gerakan lain yang lebih terorganisir, seperti kampanye offline atau organisasi aktivis.<\/p>\n<p>Tren TikTok feminis adalah cerminan dari kompleksitas budaya populer di era digital. Di satu sisi, ia menawarkan ruang untuk resistensi dan pemberdayaan, memungkinkan perempuan dari berbagai latar belakang untuk menantang norma patriarkal dan membangun solidaritas. Di sisi lain, ia juga rentan terhadap kooptasi oleh kapitalisme dan hegemoni budaya, yang mengemas feminisme sebagai komoditas dan membatasi potensi perubahan struktural. Analisis ini menunjukkan bahwa TikTok, sebagai arena konflik makna, adalah ruang yang penuh dengan kemungkinan sekaligus keterbatasan.<\/p>\n<p>Untuk memaksimalkan potensi emansipatoris TikTok feminis, beberapa tindakan praksis dapat dipertimbangkan. Pertama, kreator perlu lebih sadar akan interseksionalitas, memastikan bahwa konten mereka mencerminkan pengalaman perempuan dari kelompok marginal seperti perempuan kulit hitam, trans, atau kelas pekerja. Kedua, penting untuk membangun jembatan antara aktivisme digital dan offline, misalnya dengan mengarahkan audiens ke organisasi atau gerakan yang bekerja untuk perubahan struktural. Ketiga, kreator dapat menggunakan TikTok untuk mendidik audiens tentang cara kerja algoritma dan mendorong mereka untuk mendukung konten yang lebih kritis atau radikal.<\/p>\n<p>Secara teoretis, pendekatan postkolonial dan interseksional dapat membantu memperluas wacana feminis di TikTok, memastikan bahwa ia tidak hanya mencerminkan pengalaman kelompok dominan. Selain itu, kreator dapat mengadopsi strategi subkultur, seperti yang dijelaskan oleh Hebdige, untuk menciptakan konten yang sengaja menantang norma estetika atau naratif yang diterima oleh algoritma. Dengan demikian, TikTok feminis dapat menjadi lebih dari sekadar tren populer, tetapi juga katalis untuk perubahan sosial yang nyata.<\/p>\n<p>Tren TikTok feminis adalah fenomena budaya yang kaya dan kompleks, yang mencerminkan dinamika kekuasaan, diskursus media, dan representasi identitas dalam masyarakat kontemporer. Melalui lensa Cultural Studies, kita dapat melihat bagaimana tren ini merefleksikan dan menantang hegemoni patriarkal, sekaligus berjuang melawan kooptasi kapitalis. Walaupun memiliki keterbatasan, seperti ketergantungan pada algoritma dan kecenderungan untuk menyederhanakan isu-isu kompleks, TikTok feminis juga menawarkan potensi emansipatoris yang signifikan. Dengan pendekatan yang lebih interseksional dan strategis, tren ini dapat menjadi alat yang kuat untuk mendorong kesadaran, solidaritas, dan perubahan sosial. Dalam dunia yang semakin didominasi oleh media digital, TikTok feminis adalah pengingat bahwa budaya populer bukan hanya tentang hiburan, tetapi juga tentang konflik, resistensi, dan harapan untuk masa depan yang lebih adil.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Ariq Wahyu Eka Putra (Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya) JurnalPost.com &#8211; Dalam satu dekade terakhir, TikTok telah menjadi fenomena budaya populer yang mendominasi lanskap media sosial global. Dengan lebih dari satu miliar pengguna aktif bulanan pada tahun 2025, platform ini telah mengubah cara orang mengonsumsi, memproduksi, dan menyebarkan konten budaya. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-19720","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19720","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19720"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19720\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19720"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19720"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19720"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}