{"id":19681,"date":"2025-07-06T20:28:20","date_gmt":"2025-07-06T12:28:20","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=19681"},"modified":"2025-07-07T21:58:46","modified_gmt":"2025-07-07T13:58:46","slug":"konsep-dan-implementasi-ajaran-tamansiswa-dalam-pendidikan-kontemporer-membangun-karakter-melalui-asah-asih-asuh-dan-budi-pekerti","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/konsep-dan-implementasi-ajaran-tamansiswa-dalam-pendidikan-kontemporer-membangun-karakter-melalui-asah-asih-asuh-dan-budi-pekerti\/19681\/","title":{"rendered":"Konsep dan Implementasi Ajaran Tamansiswa dalam Pendidikan Kontemporer: Membangun Karakter melalui Asah, Asih, Asuh dan Budi Pekerti"},"content":{"rendered":"<p>Shintya Intan Ramadhani<sup>1<\/sup>, Zainnur Wijayanto<sup>2<\/sup><br \/>\nEmail: <a href=\"mailto:shintyai075@gmail.com1\">shintyai075@gmail.com<sup>1<\/sup><\/a> , <a href=\"mailto:zainnurw@ustjogja.ac.id2\">zainnurw@ustjogja.ac.id<sup>2<\/sup><\/a><br \/>\nPendidikan Guru Sekolah Dasar<sup>1<\/sup>, Pendidikan Matematika<sup>2<\/sup><br \/>\nUniversitas Sarjnawiyata Tamansiswa<\/p>\n<p><strong>PENDAHULUAN<\/strong><br \/>\n<strong>Latar Belakang<\/strong><br \/>\nPendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban bangsa dan kualitas sumber daya manusia. Di tengah dinamika globalisasi dan kemajuan teknologi yang pesat, pendidikan tidak hanya dituntut menghasilkan individu yang cakap secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter luhur dan kepekaan sosial. Namun, realitas saat ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan mengalami ketimpangan signifikan antara pencapaian kognitif dan kualitas moral peserta didik. Sering kali dijumpai peserta didik yang berprestasi secara akademik, tetapi lemah dalam aspek etika, empati, tanggung jawab, dan kejujuran. Hal ini mencerminkan krisis karakter yang semakin nyata dan mendesak untuk segera diatasi.<\/p>\n<p>Kondisi ini menuntut paradigma baru dalam dunia pendidikan, yaitu pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan manusia seutuhnya: manusia yang berpikir kritis (asah), berperasaan halus dan peduli (asih), serta memiliki perilaku terpuji (asuh). Dalam konteks ini, ajaran Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, beserta sistem pendidikan Tamansiswa yang beliau rintis, kembali relevan dan sangat penting untuk dihidupkan.<\/p>\n<p>Ajaran Tamansiswa, yang lahir dari semangat kemerdekaan dan keprihatinan terhadap sistem pendidikan kolonial, menempatkan nilai-nilai luhur kebudayaan Nusantara sebagai landasan pendidikan. Dengan filosofi \u201cAsah, Asih, Asuh\u201d serta penekanan pada budi pekerti, sistem ini menekankan keseimbangan antara intelektualitas, emosionalitas, dan spiritualitas. Ajaran tersebut mencerminkan pandangan holistik tentang manusia, serta menjawab kebutuhan pendidikan modern yang lebih berorientasi pada pembangunan karakter.<\/p>\n<p>Lebih dari sekadar metode pendidikan, ajaran Tamansiswa adalah gerakan budaya yang memanusiakan manusia. Dalam pendidikan Tamansiswa, proses belajar bukan sekadar kegiatan akademis, tetapi juga proses pembudayaan, pembentukan watak, dan pemanusiaan peserta didik. Prinsip \u201cTut Wuri Handayani\u201d, \u201cIng Madya Mangun Karsa\u201d, dan \u201cIng Ngarsa Sung Tuladha\u201d menjadi simbol praksis dari filosofi pendidikan yang menjunjung tinggi kemerdekaan belajar, dialogis, dan keteladanan.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, pembaruan dan revitalisasi ajaran Tamansiswa menjadi sangat penting dalam rangka menjawab tantangan pendidikan abad ke-21. Dalam dunia yang semakin kompleks dan plural, peserta didik tidak hanya membutuhkan keterampilan abad 21 seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi (4C), tetapi juga fondasi karakter yang kuat agar dapat menjadi warga negara yang bertanggung jawab, adil, dan berintegritas. Maka dari itu, prinsip-prinsip Asah, Asih, dan Asuh menjadi jembatan penting antara pendidikan klasik dan tuntutan kontemporer.<\/p>\n<p><strong>Urgensi<\/strong><br \/>\nRevitalisasi ajaran Tamansiswa sangat penting di tengah krisis karakter yang melanda dunia pendidikan modern. Pendidikan karakter tidak bisa hanya didekati secara normatif atau melalui pembelajaran teoritis, tetapi harus diinternalisasi dalam sistem, proses, dan kultur sekolah. Nilai-nilai dalam Tamansiswa dapat menjadi dasar yang kokoh untuk mengembangkan pendidikan yang berakar pada budaya, relevan dengan konteks zaman, dan membentuk peserta didik yang merdeka lahir batin.<\/p>\n<p><strong>Rumusan Masalah:<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li>Bagaimana implementasi prinsip Asah, Asih, Asuh dalam proses pembelajaran?<\/li>\n<li>Bagaimana internalisasi nilai-nilai budi pekerti dan ajaran Tamansiswa dalam kehidupan sekolah?<\/li>\n<li>Apa relevansi ajaran Ki Hadjar Dewantara dalam pendidikan karakter abad ke-21?<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Tujuan Penelitian:<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li>Mengkaji prinsip Asah, Asih, Asuh sebagai pendekatan pendidikan karakter yang kontekstual.<\/li>\n<li>Mengidentifikasi strategi internalisasi nilai-nilai Tamansiswa dalam praktik pendidikan.<\/li>\n<li>Menemukan relevansi ajaran Ki Hadjar Dewantara dalam membentuk karakter generasi muda abad 21.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Pertanyaan Penelitian (rQs):<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li>Bagaimana implementasi prinsip Asah, Asih, dan Asuh dalam praktik pembelajaran di sekolah pada era pendidikan kontemporer?<\/li>\n<li>Bagaimana strategi dan bentuk internalisasi nilai-nilai budi pekerti dan ajaran Tamansiswa dalam kehidupan sekolah dan budaya belajar peserta didik?<\/li>\n<li>Sejauh mana relevansi ajaran Ki Hadjar Dewantara dan filosofi Tamansiswa dalam menjawab tantangan pembangunan karakter pada pendidikan abad ke-21?<\/li>\n<li>Apa saja persamaan dan perbedaan antara prinsip pendidikan Tamansiswa dengan teori-teori pendidikan modern seperti Montessori, Freire, dan Vygotsky dalam membentuk karakter siswa?<\/li>\n<li>Bagaimana implikasi penerapan ajaran Asah, Asih, Asuh dan budi pekerti terhadap pembentukan kepribadian siswa yang merdeka, bertanggung jawab, dan berintegritas?<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>TINJAUAN PUSTAKA<\/strong><br \/>\n<strong>Ajaran Ki Hadjar Dewantara dan Tamansiswa<\/strong><\/p>\n<p>Tamansiswa adalah lembaga pendidikan yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada 3 Juli 1922, dengan tujuan utama memerdekakan manusia Indonesia dari kebodohan, ketertindasan, dan keterbelakangan. Dalam sistem pendidikan Tamansiswa, dikenal berbagai ajaran penting yang bersumber dari nilai-nilai budaya Nusantara dan falsafah hidup Ki Hadjar.<\/p>\n<p>Beberapa konsep utama Tamansiswa adalah:<\/p>\n<ol>\n<li>Trilogi Kepemimpinan:<\/li>\n<li>Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan),<\/li>\n<li>Ing madya mangun karsa (di tengah membangun semangat),<\/li>\n<li>Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan).<\/li>\n<li>Prinsip Asah, Asih, Asuh:<\/li>\n<li>Asah merujuk pada pengembangan intelektual dan nalar.<\/li>\n<li>Asih berarti membina rasa kasih, empati, dan hubungan emosional.<\/li>\n<li>Asuh menekankan pada pembinaan karakter dan moral melalui pendampingan.<\/li>\n<li>Budi Pekerti: Merupakan nilai inti dalam ajaran Tamansiswa, yang mencakup kejujuran, tanggung jawab, kesopanan, kepedulian sosial, dan etika dalam berperilaku.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Pendidikan Karakter dalam Abad ke-21<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li>Pendidikan abad ke-21 mengedepankan empat pilar kompetensi utama yang dikenal sebagai 4C: Critical Thinking, Creativity, Collaboration, dan Communication. Meskipun penting, kompetensi ini tidak akan bermakna tanpa karakter yang kuat.<\/li>\n<li>Menurut UNESCO (2021), pendidikan masa depan harus mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, keberlanjutan, dan solidaritas global. Oleh karena itu, pendidikan berbasis nilai menjadi keharusan, dan ajaran Tamansiswa sejalan dengan visi pendidikan masa depan tersebut.berperilaku.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Relevansi Filsafat Lokal dalam Pendidikan Modern<\/strong><\/p>\n<p>Pendidikan tidak boleh tercerabut dari akar budayanya. Dalam konteks Indonesia, filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara merupakan warisan luhur yang mencerminkan nilai-nilai lokal, kearifan budaya, dan semangat kebangsaan. Pendidikan harus kontekstual dan menyentuh dimensi sosial dan spiritual peserta didik.<\/p>\n<p><strong>METODOLOGI PENELITIAN<\/strong><br \/>\n<strong>Jenis Penelitian<\/strong><br \/>\nPenelitian ini merupakan penelitian kualitatif eksploratif dengan pendekatan filosofis dan pedagogis. Tujuannya adalah mengeksplorasi secara mendalam makna ajaran Tamansiswa serta aplikasinya dalam pendidikan kontemporer.<\/p>\n<p><strong>Pendekatan<\/strong><\/p>\n<p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan sudut pandang filosofis-pedagogis. Pendekatan ini dipilih karena bertujuan untuk:<\/p>\n<ol>\n<li>Menggali makna mendalam dari ajaran Asah, Asih, Asuh dan budi pekerti dalam konteks pendidikan.<\/li>\n<li>Menjelaskan bagaimana nilai-nilai Tamansiswa diimplementasikan dan diinternalisasi dalam praktik pembelajaran kontemporer.<\/li>\n<li>Menganalisis relevansi ajaran Ki Hadjar Dewantara dalam membentuk karakter peserta didik di abad ke-21.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Dengan pendekatan ini, peneliti berusaha memahami fenomena secara holistik, melalui interpretasi terhadap makna, nilai, dan konteks sosial-budaya yang melatarbelakangi praktik pendidikan berbasis Tamansiswa.<\/p>\n<p><strong>Subjek\/Sumber Data<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li>Data Primer: Naskah-naskah asli Ki Hadjar Dewantara, dokumen ajaran Tamansiswa, semboyan hidup, serta praktik pendidikan Tamansiswa.<\/li>\n<li>Data Sekunder: Literatur akademik, artikel jurnal, buku teks pendidikan, dan dokumen kebijakan kurikulum nasional.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Teknik Pengumpulan Data<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li>Telaah pustaka (literature review)<\/li>\n<li>Analisis dokumen (document analysis)<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Instrument<\/strong><\/p>\n<p>Dalam penelitian kualitatif, peneliti sendiri merupakan instrumen utama (human instrument). Namun, instrumen bantu juga digunakan untuk memandu proses pengumpulan dan analisis data. Adapun instrumen penelitian meliputi:<\/p>\n<ol>\n<li>Panduan Analisis Dokumen<\/li>\n<\/ol>\n<p>Kriteria pemilihan dokumen:<\/p>\n<ol>\n<li>Relevan dengan ajaran Tamansiswa<\/li>\n<li>Memuat konsep Asah, Asih, Asuh dan budi pekerti<\/li>\n<li>Diterbitkan oleh sumber tepercaya<\/li>\n<\/ol>\n<p>Komponen yang dianalisis:<\/p>\n<ol>\n<li>Isi nilai (value content)<\/li>\n<li>Konteks historis dan filosofis<\/li>\n<li>Praktik pedagogis dan penerapannya<\/li>\n<li>Format Kode dan Kategori Tematik<\/li>\n<\/ol>\n<p>Digunakan dalam proses reduksi dan kategorisasi data:<\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"190\"><strong>Kode Tema<\/strong><\/td>\n<td width=\"194\"><strong>Indicator Analisis<\/strong><\/td>\n<td width=\"193\"><strong>Sumber<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"190\">ASH-1<\/td>\n<td width=\"194\">Bentuk kegiatan mengasah nalar (critical thinking)<\/td>\n<td width=\"193\">Dokumen kurikulum, pidato KHD<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"190\">ASI-2<\/td>\n<td width=\"194\">Praktik pembelajaran berbasis kasih sayang<\/td>\n<td width=\"193\">Buku teks, artikel guru<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"190\">ASU-3<\/td>\n<td width=\"194\">Model pendampingan moral dan pembiasaan<\/td>\n<td width=\"193\">Modul guru, observasi kegiatan<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"190\">BPK-4<\/td>\n<td width=\"194\">Nilai-nilai inti budi pekerti<\/td>\n<td width=\"193\">Nilai kejujuran, tanggung jawab, sopan santun<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li>Pedoman Wawancara (jika dilakukan)<\/li>\n<\/ol>\n<p>(Opsional \u2013 jika studi ini dilengkapi wawancara guru\/sekolah)<\/p>\n<p>Contoh pertanyaan:<\/p>\n<ol>\n<li>Bagaimana Anda memahami konsep Asah, Asih, Asuh dalam proses pembelajaran?<\/li>\n<li>Praktik apa yang Anda lakukan untuk membentuk karakter siswa secara utuh?<\/li>\n<li>Sejauh mana nilai-nilai Ki Hadjar Dewantara menjadi inspirasi dalam kegiatan sekolah?<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Validitas Data<\/strong><\/p>\n<p>Dalam penelitian kualitatif, validitas tidak diukur dengan instrumen statistik seperti pada penelitian kuantitatif, melainkan dengan memastikan keabsahan (trustworthiness) data melalui sejumlah strategi dan kriteria seperti yang dikemukakan oleh Lincoln dan Guba (1985), yaitu credibility, transferability, dependability, dan confirmability.<\/p>\n<p>Rangkuman Teknik Validasi:<\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"160\"><strong>Kriteria Validitas<\/strong><\/td>\n<td width=\"425\"><strong>Teknik yang Digunakan<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"160\"><strong>Credibility <\/strong><\/td>\n<td width=\"425\">Triangulasi sumber, triangulasi teori, peer debriefing<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"160\"><strong>Transferbility <\/strong><\/td>\n<td width=\"425\">Deskripsi kontekstual, ilustrasi implementasi konkret<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"160\"><strong>Dependability <\/strong><\/td>\n<td width=\"425\">Catatan proses lengkap, audit trail<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"160\"><strong>Confirmability <\/strong><\/td>\n<td width=\"425\">Analisis berbasis data, jurnal reflektif<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p><strong>HASIL DAN PEMBAHASAN<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li><strong>Implementasi Prinsip Asah, Asih, Asuh<\/strong><\/li>\n<li>Asah:<\/li>\n<\/ol>\n<p>Guru mengasah kemampuan berpikir kritis, logika, dan kreativitas siswa melalui pendekatan konstruktivistik. Misalnya dengan metode problem solving, proyek berbasis riset, atau pemanfaatan teknologi digital secara produktif.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>Asih:<\/li>\n<\/ol>\n<p>Hubungan antara guru dan siswa dibangun berdasarkan rasa cinta dan kasih sayang. Guru tidak memposisikan diri sebagai otoritas tunggal, tetapi sebagai sahabat yang peduli dan memahami kebutuhan serta potensi siswa.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li>Asuh:<\/li>\n<\/ol>\n<p>Proses pengasuhan pendidikan mencakup pembinaan moral, pembiasaan baik, serta keteladanan yang konsisten. Guru menjadi pamong yang menuntun, bukan memerintah. Pendampingan karakter dilakukan melalui kegiatan reflektif, mentoring, dan pembiasaan.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Model Internalisasi Nilai Budi Pekerti: <\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Nilai-nilai budi pekerti diintegrasikan dalam kurikulum dan budaya sekolah melalui:<\/p>\n<ol>\n<li>Keteladanan Guru: Guru menjadi model nyata dalam bersikap jujur, adil, disiplin, dan hormat kepada sesama.<\/li>\n<li>Pembiasaan Positif: Sekolah menerapkan rutinitas seperti menyapa, bersalaman, menjaga kebersihan, dan kegiatan berbasis pelayanan sosial.<\/li>\n<li>Pembelajaran Kontekstual: Nilai-nilai dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata siswa agar bermakna dan mudah diinternalisasi.<\/li>\n<li>Refleksi Diri: Siswa diajak merefleksikan perilaku dan sikapnya setiap hari atau setiap pekan, untuk membangun kesadaran diri (self-awareness).<\/li>\n<li><strong>Relevansi Ajaran Tamansiswa dalam Pendidikan Abad 21<\/strong><\/li>\n<li>Asah, Asih, Asuh sejalan dengan pendidikan sosial-emosional yang dikembangkan oleh CASEL dan berbagai model pendidikan karakter global.<\/li>\n<li>Pendekatan Tut Wuri Handayani mendorong kemandirian belajar (student agency), yang menjadi kunci dalam Merdeka Belajar.<\/li>\n<li>Ajaran budi pekerti Tamansiswa mampu menjawab krisis integritas, intoleransi, dan dekadensi moral dalam masyarakat modern.<\/li>\n<li><strong>Perbandingan dengan Teori Pendidikan Modern<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"200\"><strong>Teori<\/strong><\/td>\n<td width=\"200\"><strong>Fokus<\/strong><\/td>\n<td width=\"200\"><strong>Kesamaan dengan Tamansiswa<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"200\">Montessori<\/td>\n<td width=\"200\">Pembelajaran mandiri dan sensorik<\/td>\n<td width=\"200\">Asah dan Asuh:<\/p>\n<p>Kemandirian dan bimbingan<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"200\">Freire<\/td>\n<td width=\"200\">Pendidikan pembebasan dan dialogis<\/td>\n<td width=\"200\">Asih:<\/p>\n<p>Hubungan empatik dan humanistic<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"200\">Vygotsky<\/td>\n<td width=\"200\">Sosial-konstruktivisme<\/td>\n<td width=\"200\">Asuh:<\/p>\n<p>Peran pendampingan dalam ZPD<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"200\">Ki Hadjar Dewantara<\/td>\n<td width=\"200\">Pembudayaan dan pemanusiaan<\/td>\n<td width=\"200\">Integrasi nilai budaya, karakter, dan kecerdasan<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>SIMPULAN DAN IMPLIKASI<\/strong><\/p>\n<p><strong>Simpulan<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li>Ajaran Asah, Asih, Asuh merupakan pendekatan yang efektif dalam membangun karakter peserta didik secara utuh.<\/li>\n<li>Internalisasi nilai-nilai Tamansiswa harus menjadi bagian integral dari budaya sekolah dan praktik pedagogi.<\/li>\n<li>Filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara memiliki relevansi tinggi dalam menjawab tantangan pendidikan abad ke-21.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Implikasi<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li>Bagi Guru: Perlu memahami filosofi pendidikan Tamansiswa untuk dijadikan pedoman dalam mengajar dan membimbing.<\/li>\n<li>Bagi Sekolah: Perlu membangun lingkungan yang mencerminkan nilai-nilai kasih sayang, keteladanan, dan pendampingan.<\/li>\n<li>Bagi Kebijakan Pendidikan: Integrasi nilai Tamansiswa dalam kurikulum dan pelatihan guru menjadi penting dalam pembangunan karakter bangsa.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><br \/>\nDewantara, K.H. (n.d.). Pemikiran, Perjuangan, dan Keteladanan Ki Hadjar Dewantara. Yogyakarta: Majelis Luhur Tamansiswa.<br \/>\nZubaedi. (2021). Pendidikan Karakter dalam Perspektif Pendidikan Islam dan Multikultural. Jakarta: Prenada.<br \/>\nSuryasa, W. et al. (2022). \u201cRevitalization of Local Wisdom in Character Education: A Philosophical Perspective.\u201d International Journal of Instruction.<br \/>\nUNESCO. (2021). Reimagining Our Futures Together: A New Social Contract for Education.<br \/>\nSuparlan, P. (2018). Nilai dan Pendidikan: Perspektif Kearifan Lokal. Yogyakarta: LKiS.<br \/>\nKemdikbudristek. (2023). Panduan Implementasi Kurikulum Merdeka. Jakarta: Balitbang.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Shintya Intan Ramadhani1, Zainnur Wijayanto2 Email: shintyai075@gmail.com1 , zainnurw@ustjogja.ac.id2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar1, Pendidikan Matematika2 Universitas Sarjnawiyata Tamansiswa PENDAHULUAN Latar Belakang Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban bangsa dan kualitas sumber daya manusia. Di tengah dinamika globalisasi dan kemajuan teknologi yang pesat, pendidikan tidak hanya dituntut menghasilkan individu yang cakap secara intelektual, tetapi juga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"hide","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"0","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","number_popup_post":"3","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"1","override_template":"1","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-19681","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19681","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19681"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19681\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19681"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19681"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19681"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}