{"id":19537,"date":"2025-06-30T19:51:02","date_gmt":"2025-06-30T11:51:02","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=19537"},"modified":"2025-06-30T19:51:02","modified_gmt":"2025-06-30T11:51:02","slug":"green-washing-dalam-desain-interior-trend-ramah-lingkungan-atau-sekedar-gimmick","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/green-washing-dalam-desain-interior-trend-ramah-lingkungan-atau-sekedar-gimmick\/19537\/","title":{"rendered":"Green Washing dalam Desain Interior: Trend Ramah Lingkungan atau Sekedar Gimmick?"},"content":{"rendered":"<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Hai, Sobat! Akhir-akhir ini, kita sering menemukan istilah \u201csustainable\u201d, \u201ceco-friendly\u201d, \u201cdesain ramah lingkungan\u201d di dunia interior. Dari caf\u00e9 kekinian sampai rumah minimalis, semua berlomba-lomba tampil hijau dan katanya peduli lingkungan. Tapi kira-kira bener gak sih? Jangan-jangan cuma green washing alias pencitraan doang?<\/p>\n<p>1.\t<strong>Apa Itu Green Washing?<\/strong><br \/>\nCoba Kawan-kawan bayangin kalo ada brand yang teriak-teriak soal kepedulian mereka terhadap lingkungan, padahal di balik layar mereka tetap pakai plastik, polusi tetap jalan, dan limbah masih dibuang sembarangan. Nah, itu namanya green washing. Istilah ini dipakai buat nunjukin strategi marketing yang kesannya ramah lingkungan, padahal cuma buat menarik simpati konsumen biar keliatan keren dan laku di pasaran.<\/p>\n<p>2.\t<strong>Contoh Green Washing di Dunia Desain Interior<\/strong><br \/>\nDi dunia desain interior, ini bisa terjadi saat ada:<br \/>\n1.\tFurnitur yang dibilang \u201csustainable\u201d tapi diproduksi massal menggunakan bahan yang sebenarnya kurang ramah lingkungan.<br \/>\n2.\tMaterial lokal katanya ramah lingkungan, tapi proses pengambilannya merusak alam.<br \/>\n3.\tProyek desain yang memamerkan konsep \u201cgreen\u201d tapi masih boros energi dan menggunakan bahan kimia berbahaya.<br \/>\n4.\tDesain menggunakan banyak tanaman hias dan langsung diklaim \u201cgreen living\u201d. Padahal, tanaman itu dikirim dari luar kota pakai plastik dan packaging berlapis.<br \/>\n5.\tFurniture dari rotan sintetis yang katanya eco-friendly. Tapi ternyata full plastik dan sekali rusak langsung dibuang.<br \/>\n6.\tInterior caf\u00e9 yang katanya &#8220;earth tone agar terlihat natural&#8221;, tapi lampu menyala 24 jam, AC full, dan semua bahan dari import.<\/p>\n<p>3.\t<strong>Kenapa Kita Harus Peduli akan Masalah ini?<\/strong><br \/>\nPerlu dicatat bahwa green washing bukan cuma soal branding palsu. Ini bisa menyesatkan konsumen yang niatnya ingin men-support gaya hidup ramah lingkungan. Kalau kita terus-terusan dibohongi, desain interior malah jadi bagian dari masalah, bukan solusi.<br \/>\nPadahal pada kenyataannya, desainer interior punya kekuatan besar buat membantu bumi dari pemilihan material lokal, pencahayaan alami, hingga sirkulasi udara yang efisien. Bukan justru menyalah gunakan kekuatan tersebut demi harta dan customer yang banyak.<\/p>\n<p>4.\t<strong>Tips Anti Ketipu Green Washing <\/strong><br \/>\nSupaya kita makin sadar dan gak gampang kena gimmick, ini dia tipsnya:<\/p>\n<p>1.\tCek bahan dan asal-usulnya<br \/>\nJangan cuma denger kata \u201calami\u201d atau \u201corganik\u201d. Cari tahu proses produksinya bagimana, diambil dari mana, dan apa dampaknya.<\/p>\n<p>2.\tPilih desain yang minim limbah<br \/>\nDesain yang baik bukan hanya sekedar estetik, tapi juga efisien dan tahan lama.<\/p>\n<p>3.\tUtamakan produk lokal<br \/>\nSelain lebih ramah lingkungan, ini juga dapat mendukung UMKM dalam daerah Kawan-kawan sekalian.<\/p>\n<p>4.\tPromosi sebutan &#8220;Green\/Hijau&#8221; yang terlalu berlebihan<br \/>\nKalo kedengeran terlalu indah buat jadi kenyataan, mungkin memang sekedar gimmick.<\/p>\n<p>5.\t<strong>Jadi Green Washing Trend atau Gimmick ?<\/strong><br \/>\nDunia desain interior emang lagi seneng banget tampil \u201chijau\u201d. Tapi kita sebagai generasi yang peduli lingkungan harus lebih kritis dan sadar, jangan cuma terpesona dari kata-kata manis.<\/p>\n<p><strong>Pesan Buat Para Desainer Interior.<\/strong><br \/>\nBuat para desainer interior diluar sana, buat yang udah kerja, baru lulus, atau bahkan masih kuliah tolong buat dinote bahwa Kalian punya peran penting, bukan cuma dalam menciptakan ruang yang estetik, tapi juga ruang yang berdampak baik bagi lingkungan dan kehidupan manusia. Desain Kawan punya kekuatan untuk mengubah cara hidup banyak orang. Jadi tolong buktikan bahwa desain bukan cuma soal bentuk, tapi juga tanggung jawab. Karena di balik setiap ruang yang nyaman, ada pilihan-pilihan bijak yang menentukan masa depan.<\/p>\n<p>Keep designing with heart, bukan cuma sekedar mencari nama karena pasti dong kalian mau dikenal sebagai desainer interior yang benar-benar peduli terhadap lingkungan, dan bukan sekedar penipu.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Hai, Sobat! Akhir-akhir ini, kita sering menemukan istilah \u201csustainable\u201d, \u201ceco-friendly\u201d, \u201cdesain ramah lingkungan\u201d di dunia interior. Dari caf\u00e9 kekinian sampai rumah minimalis, semua berlomba-lomba tampil hijau dan katanya peduli lingkungan. Tapi kira-kira bener gak sih? Jangan-jangan cuma green washing alias pencitraan doang? 1. Apa Itu Green Washing? Coba Kawan-kawan bayangin kalo ada brand [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-19537","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19537","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19537"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19537\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19537"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19537"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19537"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}