{"id":19377,"date":"2025-06-23T20:11:50","date_gmt":"2025-06-23T12:11:50","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=19377"},"modified":"2025-06-23T20:12:53","modified_gmt":"2025-06-23T12:12:53","slug":"edukasi-anti-bulying-berbasis-pendidikan-berkarakter-di-smp-negri-9-kupang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/edukasi-anti-bulying-berbasis-pendidikan-berkarakter-di-smp-negri-9-kupang\/19377\/","title":{"rendered":"EDUKASI ANTI BULYING BERBASIS PENDIDIKAN BERKARAKTER DI SMP NEGRI 9 KUPANG"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><strong>Vivvian nome<sup>1<\/sup> , Jaky A. Nenoai<sup>2<\/sup> ,Yulsy Marselina Nitte<sup>3<\/sup> ,Britni Secilia Mesah<sup>4<\/sup> , Maria Eudestria Mendeng<sup>5<\/sup> , Yasinta Loli<sup>6<\/sup> , Yutrika Tnunay<sup>7<\/sup><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Universitas Nusa Cendana<br \/>\nJln Adisucipto Penfui, Kupang,NTT<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>E-mail: <\/em><a href=\"mailto:viviannome120926@gmail.com1\"><em>viviannome120926@gmail.com<\/em><\/a><em><sup>1<\/sup>, <\/em><a href=\"mailto:jakynenohai82@gmail.com\"><em>jakynenohai82@gmail.com<\/em><\/a><em><sup>2<\/sup> ,<\/em><br \/>\n<a href=\"mailto:yulsynitte9@gmail.com\"><em>yulsynitte9@gmail.com<\/em><\/a><em><sup>3<\/sup> , <\/em><a href=\"mailto:britnymesah386@gmail.com\"><em>britnymesah386@gmail.com<\/em><\/a><em><sup>4<\/sup> , <\/em><a href=\"mailto:eudestrya@gmail.com\"><em>eudestrya@gmail.com<\/em><\/a><em> <sup>5<\/sup>, <\/em><a href=\"mailto:yloli9745@gmail.com\"><em>yloli9745@gmail.com<\/em><\/a><em><sup>6<\/sup>, <\/em><a href=\"mailto:yutrikatnunay@gmai.com\"><em>yutrikatnunay@gmai.com<\/em><\/a><em><sup>7<\/sup><\/em><\/p>\n<p><strong>Abstract<\/strong><br \/>\n<em>Bullying is a significant problem in educational environments that has the potential to hinderstudents&#8217; psychological and academic development. This study aims to evaluate the effectiveness of anti-bullying socialization based on character education as a preventive measure. Through an educational approach that integrates character values such as empathy, tolerance, and responsibility, this socialization is expected to increase awareness and form positive attitudes in students towards the issue of bullying. The research method used is quantitative with a pre-post test design without a control group. The results of the activity showed an increase in students&#8217; understanding of the dangers of bullying and the formation of a commitment to creating a safe and comfortable school environment. The implications of this study highlight the importance of character education as an effective and sustainable bullying intervention strategy<\/em><\/p>\n<p><em><strong>Keywords: bullying, character education, socialization, anti-bullying, junior high school<\/strong><\/em><\/p>\n<p><strong>ABSTRAK<\/strong><br \/>\nBullying merupakan permasalahan signifikan dalam lingkungan pendidikan yang berpotensi menghambat perkembangan psikologis dan akademik siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas sosialisasi anti-bullying berbasis pendidikan karakter sebagai upaya preventif. Melalui pendekatan edukatif yang mengintegrasikan nilai-nilai karakter seperti empati, toleransi, dan tanggung jawab, sosialisasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan membentuk sikap positif siswa terhadap isu bullying. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain pre-post test tanpa kelompok kontrol. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa mengenai bahaya bullying dan terbentuknya komitmen untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Implikasi dari penelitian ini menyoroti pentingnya pendidikan karakter sebagai strategi intervensi bullying yang efektif dan berkelanjutan.<\/p>\n<p><strong>Kata kunci: bullying, pendidikan karakter, sosialisasi, anti-bullying, sekolah menengah pertama<\/strong><\/p>\n<p><strong>PENDAHULUAN<\/strong><br \/>\nLingkungan sekolah seharusnya menjadi ruang aman dan kondusif bagi perkembangan holistik siswa, meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Namun, praktik bullying yang merajalela menjadi ancaman serius yang dapat merusak iklim belajar dan kesejahteraan siswa. Bullying, didefinisikan sebagai tindakan agresif yang dilakukan secara berulang oleh individu atau kelompok dengan adanya ketidakseimbangan kekuasaan, memiliki dampak merugikan yang luas, mulai dari masalah psikologis seperti kecemasan dan depresi, hingga kesulitan akademik dan sosial (Santrock, 2018). Fenomena ini tidak hanya dialami oleh korban, tetapi juga dapat berdampak negatif pada pelaku dan saksi.<\/p>\n<p>Mengingat dampak destruktif bullying, intervensi yang efektif dan berkelanjutan menjadi sangat penting. Salah satu pendekatan yang dianggap menjanjikan adalah melalui pendidikan karakter. Pendidikan karakter menekankan pada penanaman nilai- nilai moral dan etika yang kuat, yang diharapkan dapat membentuk individu dengan kesadaran sosial yang tinggi dan kemampuan untuk berinteraksi secara positif (Kurniawan, 2021; Wiyani, 2013). Integrasi nilai-nilai seperti empati, toleransi, menghargai perbedaan, dan tanggung jawab dalam program anti- bullying diharapkan dapat membangun pemahaman yang mendalam tentang dampak bullying dan memotivasi siswa untuk menolak segala bentuk perilaku agresif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas sosialisasi anti-bullying berbasis pendidikan karakter yang dilakukan di SMP Negeri 9 Kota Kupang.<\/p>\n<p>Fokus utama adalah untuk mengukur perubahan pemahaman dan sikap siswa terhadap bullying setelah mengikuti kegiatan sosialisasi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi empiris terhadap pengembangan strategi pencegahan bullying yang lebih efektif di lingkungan sekolah.<\/p>\n<p><strong>METODE PENELITIAN<\/strong><br \/>\nSubjek yang dituju adalah siswa-siswi kelas VII di SMP Negeri 9 Kupang, yang berlokasi di Jl. W.J. Lalamentik, Kelurahan Oebobo, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pemilihan siswa kelas VII didasarkan pada pertimbangan bahwa pada usia remaja awal, siswa mulai mengalami perkembangan sosial yang signifikan dan mulai membentuk identitas diri, termasuk dalam cara mereka berinteraksi dengan teman sebaya. Pada tahap ini, risiko terlibat dalam perilaku bullying, baik sebagai pelaku maupun korban, cenderung meningkat karena pengaruh lingkungan, media sosial, dan dinamika kelompok di sekolah.<\/p>\n<p>Metode yang digunakan adalah penyampaian materi interaktif, simulasi, dan penyampaian nilai melalui seserahan informasi. Penyampaian Materi Interaktif dilakukan dengan menggunakan media visual seperti gambar, cerita inspiratif, serta studi kasus yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Komunikasi dua arah digunakan untuk mendorong siswa aktif bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat secara terbuka.<\/p>\n<p>Simulasi dilakukan dalam bentuk role play (peran bermain), di mana siswa diperankan sebagai pelaku, korban, dan saksi bullying dalam berbagai situasi. Tujuannya adalah agar siswa dapat merasakan langsung dampak psikologis bullying dan memahami pentingnya empati serta tindakan positif dalam menyelesaikan konflik.<\/p>\n<p>Penyampaian Nilai Melalui Seserahan Informasi dilakukan dengan memberikan pesan-pesan moral secara langsung melalui pendekatan naratif atau berbagi pengalaman pribadi. Strategi ini bertujuan menyentuh aspek emosional siswa, agar nilai-nilai seperti empati, tanggung jawab, dan rasa hormat lebih mudah dipahami dan diinternalisasi.<\/p>\n<p><strong>HASIL<\/strong><br \/>\nKegiatan sosialisasi anti-bullying di SMP Negeri 9 Kupang menunjukkan hasil<br \/>\nyang sangat menggembirakan. Selama kegiatan berlangsung, siswa terlihat sangat antusias dan bersemangat mengikuti setiap sesi, baik saat penyampaian materi maupun saat diskusi dan simulasi berlangsung. Di awal sesi, siswa diperkenalkan dengan definisi bullying, bentuk-bentuk perilaku bullying, serta dampak negatifnya bagi korban maupun lingkungan sekolah secara umum. Respons awal siswa memperlihatkan bahwa sebagian dari mereka pernah melihat atau mengalami situasi bullying, tetapi belum memahami bahwa hal tersebut termasuk dalam kategori tindakan yang merugikan secara sosial dan psikologis.<\/p>\n<p>Setelah diberikan penjelasan tentang ciri-ciri perilaku bullying, seperti ejekan berulang, pengucilan, intimidasi, serta kekerasan verbal atau fisik, siswa mulai menunjukkan pemahaman yang lebih jelas. Melalui metode interaktif, pemateri memberikan contoh konkret dan cerita pendek yang relevan dengan kehidupan mereka, yang kemudian memicu diskusi aktif di antara siswa. Beberapa siswa mampu mengaitkan materi dengan pengalaman pribadi, baik sebagai saksi maupun pihak yang pernah merasa direndahkan di lingkungan sekolah.<\/p>\n<p>Simulasi yang dilakukan, terutama dalam bentuk peran bermain (role play), memperlihatkan bahwa siswa mulai menyadari dampak emosional dari tindakan bullying. Mereka dapat mengekspresikan empati terhadap korban dan memahami bagaimana perasaan seseorang saat diperlakukan tidak adil oleh teman sebaya. Kegiatan ini mendorong siswa untuk lebih terbuka dalam menyampaikan pendapat serta memperkuat kemampuan mereka dalam menilai situasi sosial secara kritis.<\/p>\n<p>Selama kegiatan berlangsung, siswa juga diajak untuk mengidentifikasi contoh perilaku yang termasuk bullying dan mencari alternatif penyelesaian secara damai. Terjadi peningkatan keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat dan solusi, seperti menyarankan agar teman yang menjadi korban bullying segera melapor kepada guru, atau menyarankan pembentukan tim peer-support di kelas.<\/p>\n<p>Secara keseluruhan, kegiatan ini membuktikan bahwa metode pembelajaran yang komunikatif dan melibatkan siswa secara langsung dapat membangun pemahaman yang mendalam tentang pentingnya menghargai sesama dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Edukasi yang diberikan tidak hanya memperkaya wawasan siswa, tetapi juga menanamkan sikap empati dan tanggung jawab dalam interaksi sosial mereka sehari-hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>DOKUMENTASI<\/strong><\/p>\n<figure id=\"attachment_19378\" aria-describedby=\"caption-attachment-19378\" style=\"width: 269px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-19378\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Gambar1-43.jpg\" alt=\"\" width=\"269\" height=\"152\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-19378\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 1. Pemaparan materi<\/figcaption><\/figure>\n<figure id=\"attachment_19379\" aria-describedby=\"caption-attachment-19379\" style=\"width: 262px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-19379\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Gambar2-15.jpg\" alt=\"\" width=\"262\" height=\"147\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-19379\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 2. Foto bersama siswa-siswi<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>PEMBAHASAN<\/strong><br \/>\nKegiatan sosialisasi edukasi anti-bullying yang dilaksanakan di SMP Negeri 9 Kupang memberikan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan kesadaran siswa mengenai pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari kekerasan verbal maupun fisik. Selama pelaksanaan kegiatan, siswa menunjukkan minat tinggi terhadap materi yang diberikan, terutama ketika membahas bentuk-bentuk bullying, faktor penyebabnya, serta dampaknya terhadap kondisi psikologis korban. Keaktifan siswa dalam mengikuti simulasi peran menunjukkan bahwa metode pembelajaran partisipatif mampu memfasilitasi pemahaman yang lebih dalam tentang isu sosial ini.<\/p>\n<p>Hal ini mendukung pendekatan pendidikan karakter yang menekankan pada nilai empati, penghargaan terhadap sesama, dan tanggung jawab sosial. Menurut Lickona (1991), pendidikan karakter yang efektif tidak hanya menyampaikan pengetahuan moral, tetapi juga melatih keterampilan sosial melalui pengalaman nyata dan refleksi personal. Dalam konteks ini, kegiatan sosialisasi tidak hanya berfungsi sebagai penyampaian informasi, tetapi juga sebagai ruang interaktif di mana siswa dapat merefleksikan sikap dan perilaku mereka sendiri.<\/p>\n<p>Sebelum kegiatan berlangsung, beberapa siswa menganggap perilaku mengejek atau mengucilkan teman adalah bagian biasa dari dinamika sosial remaja. Namun, setelah sosialisasi, muncul kesadaran bahwa tindakan tersebut dapat memberikan dampak emosional yang dalam dan berkepanjangan bagi korban. Transformasi persepsi ini sejalan dengan teori perkembangan moral dari Kohlberg (1984), yang menyatakan bahwa melalui dialog dan pengalaman, individu dapat naik ke tingkat moral yang lebih tinggi, dari sekadar mengikuti aturan ke memahami nilai di balik aturan tersebut.<\/p>\n<p>Diskusi yang terjadi selama sesi sosialisasi menunjukkan dinamika dua arah yang aktif. Siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga terlibat sebagai subjek pembelajar yang aktif. Mereka berbagi pengalaman, menyampaikan pendapat, dan menawarkan solusi terhadap kasus bullying yang disimulasikan. Interaksi semacam ini mencerminkan prinsip konstruktivisme sosial dari Vygotsky (1978), yang menekankan bahwa pengetahuan dibentuk melalui kolaborasi dan dialog yang bermakna.<\/p>\n<p>Dampak langsung dari kegiatan ini adalah meningkatnya kesadaran siswa akan pentingnya sikap saling menghargai dan menyelesaikan konflik secara damai. Beberapa siswa menunjukkan keberanian untuk menyatakan bahwa mereka akan membantu teman yang menjadi korban bullying dan melaporkan kasus yang mereka temui. Ini menunjukkan adanya perkembangan dalam sikap proaktif dan empati yang merupakan fondasi dari komunitas sekolah yang sehat dan harmonis.<\/p>\n<p>Dengan demikian, kegiatan sosialisasi ini tidak hanya memperluas wawasan siswa mengenai bullying, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai karakter positif yang dapat membentuk budaya sekolah yang inklusif dan suportif. Perubahan sikap ini, meskipun pada tahap awal, menjadi indikator kuat bahwa pendidikan berbasis nilai dan partisipasi aktif dapat menjadi strategi efektif dalam pencegahan bullying di lingkungan sekolah.<\/p>\n<p><strong>KESIMPULAN<\/strong><br \/>\nKegiatan sosialisasi anti-bullying di SMP Negeri 9 Kupang terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa mengenai dampak negatif bullying serta pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan mendukung. Melalui pendekatan interaktif dan simulatif, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang bentuk dan dampak bullying, tetapi juga mulai menunjukkan perubahan sikap yang lebih peduli, reflektif, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi dengan teman sebaya.<\/p>\n<p>Transformasi ini mencerminkan pengaruh dari pendekatan pendidikan karakter, pembelajaran berbasis pengalaman, dan teori konstruktivisme sosial, yang menekankan pentingnya keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran. Kegiatan diskusi dan role-play membantu siswa membangun kesadaran diri serta empati terhadap sesama, yang menjadi landasan penting dalam pencegahan perilaku agresif di lingkungan sekolah.<\/p>\n<p>Meskipun perubahan perilaku masih berada pada tahap awal, hasil ini menunjukkan potensi besar dalam membentuk budaya sekolah yang berlandaskan rasa hormat, solidaritas, dan keberanian untuk menolak segala bentuk kekerasan. Upaya edukatif seperti ini perlu dilakukan secara berkelanjutan agar nilai-nilai positif yang ditanamkan dapat berkembang menjadi kebiasaan dan karakter siswa sehari-hari.<\/p>\n<p><strong>PENGAKUAN<\/strong><br \/>\nUcapan terima kasih yang sebesar-besarnya disampaikan kepada SDK Santo Yoseph Noelbaki atas partisipasi aktif dalam pelaksanaan kegiatan edukasi anti hoaks berbasis pendidikan karakter. Terima kasih juga kepada kepala sekolah, para guru, serta seluruh siswa yang telah memberikan dukungan dan kerjasama selama proses kegiatan berlangsung. Dukungan ini sangat berperan dalam kelancaran dan keberhasilan program, sehingga tujuan untuk meningkatkan kesadaran literasi digital serta membentuk sikap kritis terhadap informasi palsu di kalangan siswa dapat tercapai dengan baik.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>DAFTAR REFERENSI<\/strong><\/p>\n<p>Lickona, T. (2013). <em>Pendidikan Karakter: Panduan Lengkap untuk Mendidik Siswa Menjadi Pintar dan Baik. Terjemahan oleh Juma Abdu Wamaungo<\/em>. Jakarta: Bumi Aksara.<\/p>\n<p>Mulyasa, E. (2011). <em>Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: Bumi Aksara<\/em><\/p>\n<p><em>Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&amp;D. Bandung<\/em>: Alfabeta.<\/p>\n<p>Suparno, P. (1997). <em>Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan<\/em>. Yogyakarta: Kanisius.<\/p>\n<p>Suyanto, M. (2010). <em>Menjadi Guru Inspiratif: Membangun Karakter Anak Melalui Keteladanan dan Kreativitas. <\/em>Yogyakarta: Andi.<\/p>\n<p>Wibowo, A. (2012). <em>Pendidikan Karakter: Strategi Membangun Karakter Bangsa Berperadaban. <\/em>Yogyakarta: Pustaka Pelajar<em>.<\/em><\/p>\n<p>Zuchdi, D. (2009). <em>Humanisasi Pendidikan: Menumbuhkan Kemanusiaan dan Memberdayakan Manusia dalam Pendidikan. <\/em>Yogyakarta: Penerbit Insan Madani.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Vivvian nome1 , Jaky A. Nenoai2 ,Yulsy Marselina Nitte3 ,Britni Secilia Mesah4 , Maria Eudestria Mendeng5 , Yasinta Loli6 , Yutrika Tnunay7 Universitas Nusa Cendana Jln Adisucipto Penfui, Kupang,NTT E-mail: viviannome120926@gmail.com1, jakynenohai82@gmail.com2 , yulsynitte9@gmail.com3 , britnymesah386@gmail.com4 , eudestrya@gmail.com 5, yloli9745@gmail.com6, yutrikatnunay@gmai.com7 Abstract Bullying is a significant problem in educational environments that has the potential to [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":19378,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"hide","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"0","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"0","show_prev_next_post":"0","number_popup_post":"3","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"1","override_template":"1","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[25],"tags":[],"class_list":["post-19377","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19377","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19377"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19377\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19378"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19377"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19377"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19377"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}