{"id":19369,"date":"2025-06-23T15:12:08","date_gmt":"2025-06-23T07:12:08","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=19369"},"modified":"2025-06-23T15:12:08","modified_gmt":"2025-06-23T07:12:08","slug":"pengalaman-pertama-di-simposium-internasional-suarakan-femisida","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/pengalaman-pertama-di-simposium-internasional-suarakan-femisida\/19369\/","title":{"rendered":"Pengalaman Pertama di Simposium Internasional: Suarakan Femisida"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_19371\" aria-describedby=\"caption-attachment-19371\" style=\"width: 602px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Gambar1-42.jpg\" alt=\"\" width=\"602\" height=\"334\" class=\"size-full wp-image-19371\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Gambar1-42.jpg 602w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Gambar1-42-300x166.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 602px) 100vw, 602px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-19371\" class=\"wp-caption-text\">Tangkapan layar saat presentasi(28\/05\/2025). Sumber: koleksi pribadi.<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Surabaya, JurnalPost.com<\/strong>  \u2013 Tanggal 28 Mei 2025, pukul 14.00 WIB, Febrianti Dewi, lebih sering dipanggil Dewi, seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (Untag Surabaya). Sebagai salah satu dari lima mahasiswa Untag Surabaya yang berpartisipasi, Dewi memperoleh kesempatan istimewa untuk mempresentasikan hasil penelitiannya dalam \u201cThe 4th Undergraduate Research Symposium\u201d. Acara ini diselenggarakan secara daring, merupakan hasil kolaborasi antara Untag Surabaya dan Xavier University &#8211; Ateneo de Cagayan, Filipina.<\/p>\n<p>Partisipasi ini menandai pengalaman presentasi internasional perdana bagi Dewi. Jujur diakui, terdapat kecemasan yang mendalam menjelang acara tersebut. Dewi teringat jelas pada tanggal 22 Mei 2025 sekitar pukul 13.30 WIB, usai sesi bimbingan skripsi, dosen pembimbingnya, Pak Dey, menganjurkan Dewi untuk mengikuti kegiatan ini. Meskipun dalam hati merasa belum sepenuhnya siap, mengingat penelitian yang akan dipresentasikan masih dalam tahap awal, Dewi menyanggupinya. Terkadang, terdapat ketidakselarasan antara perasaan dan pikiran; di satu sisi hati merasa tidak siap, namun di sisi lain pikiran menyerukan, \u201cAyo Dewi, kesempatan ini tidak datang dua kali\u201d.<\/p>\n<p><strong>HARI H <\/strong><\/p>\n<figure id=\"attachment_19370\" aria-describedby=\"caption-attachment-19370\" style=\"width: 602px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Gambar2-14.jpg\" alt=\"\" width=\"602\" height=\"370\" class=\"size-full wp-image-19370\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Gambar2-14.jpg 602w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Gambar2-14-300x184.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 602px) 100vw, 602px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-19370\" class=\"wp-caption-text\">Tangkapan layar room 1. Sumber: koleksi pribadi (28\/05\/2025).<\/figcaption><\/figure>\n<p>Pada hari-H, Dewi mempresentasikan penelitiannya yang berjudul \u201cFeminist Activist\u2019s Resistance Against Femicide (A Content Analysis of Instagram Account @indonesiahapusfemisida Posts)\u201d. Dalam presentasi yang diselenggarakan secara daring melalui platform Zoom ini, Dewi menguraikan alasan di balik pemilihan topik penelitiannya yang sederhana namun memiliki makna mendalam. Selama periode 2023-2025, Dewi mengamati peningkatan drastis fenomena kasus femisida di Indonesia, selanjutnya, Dewi menemukan akun Instagram @indonesiahapusfemisida yang secara aktif menyuarakan isu ini. Dewi merasa perlu untuk menggali lebih dalam, memahami bagaimana akun tersebut melakukan perlawanan terhadap femisida, dan berharap penelitiannya dapat menjadi kontribusi kecil dalam upaya besar tersebut.<\/p>\n<p>Simposium ini merupakan hasil kerja sama antara Untag Surabaya dan Xavier University-Ateneo de Cagayan. Selain itu, turut berpartisipasi pula mahasiswa dari TAT UMT dan Walailak University, dengan total 14 presentasi. Karena pelaksanaannya secara daring, sesi dibagi ke dalam tiga ruang virtual. Dewi ditempatkan di Ruang 1, bersama empat presenter lainnya; dua dari Xavier University, satu dari TAR UMT, dan Dewi sebagai perwakilan Untag Surabaya. Setiap presenter diberikan waktu 10 menit untuk memaparkan penelitiannya, memfasilitasi pertukaran ide yang berharga antar peserta dari berbagai negara.<\/p>\n<p>Acara dimulai pukul 14.00 WIB dan berakhir pukul 16.00 WIB. Dewi berupaya menyampaikan seluruh hasil penelitiannya secara jelas, termasuk alasan kuat di balik pemilihan topik ini. Diketahui bahwa dalam akun Instagram @indonesiahapusfemisida pada periode Januari-April 2025, banyak dilakukan kampanye digital perlawanan terhadap faktor ideologis, sosiologis, dan paksaan yang berakar pada budaya patriarki, penyebab utama femisida. Beberapa faktor yang disoroti meliputi pembentukan laki-laki sebagai sosok dominan dalam budaya patriarki, objektifikasi perempuan, relasi kuasa yang timpang antara perempuan dan laki-laki, serta pemaksaan terhadap perempuan untuk menerima kekerasan berbasis gender yang berujung pada kematian perempuan atau femisida oleh laki-laki. Dewi berharap, melalui presentasi ini, kesadaran akan bahaya femisida dan urgensi perlawanan terhadapnya dapat meningkat di kalangan masyarakat luas.<\/p>\n<p>Setelah presentasi selesai, Dewi merasakan kelegaan dan kebanggaan yang luar biasa. Ini bukan sekadar penyelesaian tugas akademik, melainkan juga kontribusi nyata, sekecil apa pun, terhadap isu yang sangat Dewi yakini. Pengalaman ini memperkaya wawasan Dewi dan menambah pengalaman baru, khususnya dalam melakukan presentasi berbahasa Inggris untuk pertama kalinya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Surabaya, JurnalPost.com \u2013 Tanggal 28 Mei 2025, pukul 14.00 WIB, Febrianti Dewi, lebih sering dipanggil Dewi, seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (Untag Surabaya). Sebagai salah satu dari lima mahasiswa Untag Surabaya yang berpartisipasi, Dewi memperoleh kesempatan istimewa untuk mempresentasikan hasil penelitiannya dalam \u201cThe 4th Undergraduate Research Symposium\u201d. Acara ini diselenggarakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":19371,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[244],"tags":[],"class_list":["post-19369","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19369","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19369"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19369\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19371"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19369"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19369"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19369"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}