{"id":1895,"date":"2023-07-07T12:50:24","date_gmt":"2023-07-07T04:50:24","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=1895"},"modified":"2023-07-07T12:50:24","modified_gmt":"2023-07-07T04:50:24","slug":"mengungkap-keunikan-ampiang-dadiah-yogurt-khas-bukittinggi-vs-yogurt-asli-turki","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/mengungkap-keunikan-ampiang-dadiah-yogurt-khas-bukittinggi-vs-yogurt-asli-turki\/1895\/","title":{"rendered":"Mengungkap Keunikan Ampiang Dadiah Yogurt Khas Bukittinggi VS Yogurt Asli Turki"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: <strong>Hanifati Nadhilah<\/strong> (<strong>Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Andalas<\/strong>)<\/p>\n<p><strong>Bukittinggi, JurnalPost.com<\/strong> \u2013 Indonesia dan Turki, dua negara yang terpisah jarak ribuan mil, memiliki kekayaan kuliner yang tak ternilai. Di antara makanan dan minuman khas yang menarik perhatian, kedua tempat ini menawarkan sebuah daya tarik kuliner yang menjadi identitas wilayahnya, salah satunya melalui kuliner fermentasi susu.<\/p>\n<p>Di Turki, kuliner fermentasi susu diberi nama Yogurt, karena Turki sendiri merupakan negara yang diyakini asal dari yogurt. Sedangkan di Indonesia, kita punya Ampiang Dadiah dari Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, diistilahkan \u2018yogurt urang awak\u2019.<\/p>\n<p>Perbedaan keunikan Ampiang Dadiah dan Yogurt Turki dapat ditemukan dari bahan baku, pengolahan, karakteristik dan cara penyajiannya.<\/p>\n<p>Ampiang Dadiah, merupakan produk fermentasi susu kerbau murni dan diolah secara keseluruhan dengan cara tradisional. Difermantasi menggunakan cetakan bambu dengan memanfaatkan ragi yang diturunkan secara turun-temurun, Ampiang Dadiah menawarkan cita rasa khas memukau. Dikenal karena teksturnya yang kental, aroma khas, dan cenderung mempunyai lebih rasa manis dan asam yang lezat. Cara penyajian kuliner susu fermentasi kerbau ini biasanya ditambah dengan ampiang, parutan kelapa (karambia), dan gula merah di atas es serut yang membuatnya semakin segar. Olahan ini biasanya disajikan sebagai jajan manis ataupun sajian pada acara-acara budaya.<\/p>\n<p>Di sisi lain, Yogurt khas Turki terbuat dari bahan yang berbeda yaitu, susu sapi. Pengolahnnya pun memadukan antara tradisi dan inovasi, mengadaptasi sentuhan modern dan beragam rasa yang unik. Dikenal karena teksturnya sedikit cair dan creamy, rasa aslinya asam yang lebih kuat dibandingkan dadiah, serta diinovasi dengan berbagai varian rasa yang menggoda lidah. Yogurt khas Turki saat ini sering disajikan dalam kemasan modern yang mudah dibawa dan dikonsumsi. Biasanya dihidangkan sebagai makanan sehari-hari, camilan, saus, atau bahan dasar untuk hidangan khas seperi kebab. Yogurt khas Turki menjadi ikon tersendiri pula bagi kuliner negara ini.<\/p>\n<p>Meskipun menjadi ikon dari dua wilayah berbeda, Ampiang Dadiah dan Yogurt memiliki kesamaan dalam metode fermentasinya. Keduanya melibatkan pemakaian bakteri tertentu yang memberikan manfaat kesehatan bagi konsumennya. Kedua produk ini juga menunjukkan bagaimana makanan dan minuman fermentasi telah menjadi branding dari suatu kawasan.<\/p>\n<p>Melalui keunikan dan keistimewaan budaya, Ampiang Dadiah dan Yogurt telah menjadi identitas istimewa bagi Bukittinggi maupun Turki. Ini adalah contoh nyata tentang bagaimana makan dan minuman dapat menjadi \u2018tanda pengenal\u2019 wilayah yang menghubungkan manusia melalui kenikmatan kuliner.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Hanifati Nadhilah (Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Andalas) Bukittinggi, JurnalPost.com \u2013 Indonesia dan Turki, dua negara yang terpisah jarak ribuan mil, memiliki kekayaan kuliner yang tak ternilai. Di antara makanan dan minuman khas yang menarik perhatian, kedua tempat ini menawarkan sebuah daya tarik kuliner yang menjadi identitas wilayahnya, salah satunya melalui kuliner fermentasi susu. Di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1896,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-1895","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-citizen-reporter"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1895","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1895"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1895\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1896"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1895"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1895"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1895"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}